Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
garis dua


__ADS_3

Air mata yang menetes di pipi Isti bukan karena sesuatu yang bersifat duka. Tapi sebaliknya, yakni hal yang sangat membahagiakan. Garis dua yang diperlihatkan test pack membuat wanita berparas ayu itu sampai tak bisa berkata-kata.


Bukannya langsung membangunkan Rayhan untuk mengabarkan kabar gembira tersebut, Isti justru mengambil air wudhu, lalu melaksanakan shalat tahajud.


“Ya Allah, alhamdulillah. Hamba terima titipan ini. Semoga hamba bisa menjaganya sampai waktunya lahir nanti. Semoga selalu ada dalam penjagaanmu, Ya Allah. Sehatkanlah ia, cukupkanlah ia, dan sempurnakanlah ia. Sungguh hanya Engkau sebaik-baiknya Pencipta. Aamiin.”


Do’a itu terpanjat lirih dari bibir Isti sebagai ungkapan rasa syukur. Tak ada yang lebih membahagiakan baginya saat ini selain sebuah karunia yang membuatnya merasa sempurna sebagai seorang wanita. Ia sadar tidak semua wanita diberi kesempatan ini, karenanya ia sangat bersyukur, dan akan berusaha menjaganya dengan baik.


Sujud syukur menutup ibadah malamnya. Setelah membereskan peralatan sholat, Isti berjalan mendekati ranjang hendak membangunkan Rayhan.


Isti duduk di sisi ranjang yang mana Raihan terlelap. Ditatapnya wajah suami yang nampak tenang, dan damai itu. Terbayang olehnya bagaimana pertemuan mereka di masa sekolah. Bersuamikan Rayhan, satu dari sekian banyak hal yang selalu ia syukuri.


Entah jam berapa Rayhan bisa tertidur. Karenanya melihat suaminya terlelap, Isti merasa ragu membangunkan. Akan tetapi karena tak ingin menunda kabar bahagia itu, perlahan ia pun mengguncang lengan Rayhan.


“Kak. Kak Ray, bangun sayang …,” ucapnya pelan di telinga Rayhan.


Rayhan melenguh pelan, namun kedua matanya masih terpejam. Isti yang merasa gemas dengan ekspresi wajah suaminya itupun mengungkung, lalu menggerakkan telunjuknya di bibir Rayhan. Mengusap-usap lembut berkali-kali, karena hanya dengan cara itu ia membangunkan Rayhan selama ini.


Tak lama kemudian bibir Rayhan menyunggingkan senyuman meski kedua matanya masih terpejam, dan tanpa diduga kedua bibirnya bergerak cepat mengapit telunjuk Isti.


Rayhan tersenyum lebar, membuka kelopak matanya, sambil melingkarkan tangannya di pinggang Isti. Rayhan menoleh ke salah satu sisi kamar yang mana ada ventilasi di sana. Salah satu ujung bibirnya terangkat melihat di luar masih gelap.


“Ouh, jadi sayangku ini sedang ingin ya. Sini dong, Sayang. Kenapa duduk di situ? Kamu habis shalat?” tanya Rayhan masih dengan ekspresi wajah menyesuaikan dengan cahaya lampu yang membuatnya silau. Kening Rayhan berkerut melihat gelengan dan anggukan kepala Isti yang hampir bersamaan.


“Ada apa, Sayang?” tanyanya dengan alis yang ditautkan. Rayhan coba menduga-duga, pria itu sepertinya lupa.


“Kak Ray tutup mata,” pinta Isti.

__ADS_1


“Eh? Oke. Begini?” tanyanya dengan salah satu mata yang sedikit terbuka.


“Iih, yang benar, Kak. Ditutup rapat dua-duanya,” pinta Isti manja.


“Hehehe, oke-oke.”


Rayhan menutup kedua matanya, menunggu Isti memberi perintah untuknya membuka mata. Tak lama kemudian ….


“Buka, Kak.”


Kelopak mata Rayhan yang baru terbuka itupun seketika terbelalak melihat test pack di hadapannya. Garis dua yang terlihat di sana membuat Rayhan menganga tak percaya.


“Alhamdulillah yaa Allah. Garis dua,” ucapnya sembari mengambil alat uji kehamilan itu. Ditatapnya lekat, kemudian menoleh pada Isti.


Rayhan meraih pinggang Isti yang masih mengungkungnya, dan dengan gerakan cepat membalikkan posisi.


“Astagfirullah. Sampai kaget,” ucap Isti sambil mengulumkan senyum.


“Nggak pa-pa, Kak. Cuma kaget,” sahut Isti sembari menatap lembut.


“Terima kasih, Sayang. Ini akan jadi kabar paling membahagiakan untuk keluarga kita. Sehat-sehat ya, Sayang. Ahebbak,” ucapnya sembari tersenyum tipis, kemudian mengarahkan bibirnya ke bibir Isti. Bibir keduanya saling bertautan, bergerak lembut nan manja sebagai ungkapan rasa sayang.


**


Kabar kehamilan Isti tak hanya mendatangkan kebahagiaan dalam dua keluarga, tapi juga kehebohan di keluarga Adisurya. Bagaimana tidak, H-1 pernikahan Raydita dan Yuda, mereka mendapat kabar bahagia. Cucu pertama akan segera hadir dalam keluarga mereka.


“Terima kasih ya Allah sudah memberikan anugerah terindah dalam keluarga kami. Jaga kesehatan ya, Sayang,” ucapnya sambil merengkuh pundak Isti lalu mencium pipinya.

__ADS_1


“Iya, Ma,” angguk Isti pelan.


“Selamat ya, Ray. Akhirnya tokcer juga…,” ucap Ghaisan setengah berseloroh.


“Thank you. Semoga lo cepat nyusul, biar anak gue ada temannya,” ujar Rayhan yang tak lepas dari wajahnya yang sumringah.


Ghaisan menoleh pada Annisa yang mengulumkan senyum, kemudian menutupi wajahnya dengan telapak tangan kekasihnya tersebut. "InsyaAllah, Kak," ujar Annisa.


Kabar bahagia itu dibagikan Rayhan di grup chat sahabatnya. Mengundang histeria dua sahabat lainnya, yakni Raka dan Yuda.


-kediaman Rika-


“Yang, lihat deh. Si Raka sama Isti bakalan punya baby.” Raka memperlihatkan chat-nya dengan yang lain pada Yuli.


Yuli tersenyum masam. Kabar itu justru membuatnya merasa semakin deg-degan.


“Yul. Aku akan bertanggung jawab. Setelah acara Dita sama Yuda selesai, aku akan bicara pada orang tuamu sambil mengantar pulang,” ujar Raka yang sedari tadi coba meyakinkan Yuli.


“Kakak mau bilang kita udah kebablasan?”


“Y-ya enggak sih.” Ekspresi Raka yang kurang meyakinkan membuat Yuli mendelik kesal.


“Bapak nggak akan izinkan kita menikah begitu aja, Kak. Apalagi Yuli sebentar lagi lulus kuliah. Kalaupun mengizinkan, nanti setelah Yuli lulus. Dan saat itu, perut Yuli udah membesar, bahkan mungkin udah mau lahiran. Mau ditaruh di mana muka keluarga Yuli, Kak?”


Raka menatap nanar wajah Yuli yang sedang menahan tangis dengan kedua mata berkaca-kaca. Terlihat jelas kekhawatiran di sana.


“Kita bisa pikirkan lagi jalan keluarnya, Yul. Lagian juga belum tentu kamu hamil. Iya, ‘kan? Ray aja yang pastinya udah puluhan kali ML (m*king love) Istinya baru hamil sekarang. Apalagi kita yang baru satu kali. Udahlah, Sayang. Positif thinking aja dulu. Kalau memang nantinya kamu hamil, ya kita bilang sama bapak. Aku yakin beliau akan setuju. Namanya juga darurat.”

__ADS_1


Yuli menatap datar wajah Raka. Ada raut kecewa di wajahnya.


Enteng sekali pria itu mengucapkannya. Sepertinya Raka mendadak amnesia, bahwasanya kehormatan Isti hilang sebelum wanita itu menikah. Sesal pun percuma, karena semua tak akan kembali seperti semula.


__ADS_2