Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
berat meninggalkan


__ADS_3

Happy reading ....


Hijaunya alam yang membentang dengan udara sejuk khas pedesaan membuat keempat remaja itu enggan untuk meninggalkan desa tempat Annisa dibesarkan. Selain suasana alam yang memanjakan mata, keramahan masyarakatnya juga membuat mereka merasa betah.


Sebelum pulang, Annisa kembali mengunjungi rumah lamanya. Meski berat Annisa harus bisa meninggalkan itu semua. Pada Bi Titin, Annisa menitipkan rumahnya. Meskipun ia tahu tetangganya itu akan melakukan tanpa harus diminta.


"Bi, ini ada sedikit uang. Tolong diterima," ujar Annisa sambil meletakkan uang yang digenggamnya di telapak tangan Bi Titin.


"Ini terlalu banyak, Nisa. Ini uang siapa? Dan, untuk apa uang sebanyak ini?" Bukannya senang, Bi Titin justru merasa risih.


"Ini untuk Bibi dari Nisa. Uang ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang sudah bibi lakukan untuk Nisa dan almarhumah Ibu selama ini. Terima kasih, Bi. Sampai kapanpun Nisa tidak akan pernah melupakan kebaikan Bibi." Annisa memeluk erat wanita yang sudah seperti saudara bagi ibunya itu.


"Apa mereka menyayangimu? Juragan Adi dan Nyonya," tanya Bi Titin pelan.


Annisa terperanjat. Ia tidak menyangka Bi Titin tahu tentang orang tua kandungnya.


"Apa ibu pernah cerita sesuatu pada Bibi?" tanya Annisa menyelidik.


Bi Titin mengangguk kecil. Wanita itu tersenyum sambil berucap, "Ibumu menceritakan semuanya. Asih juga mengatakan bahwa dia merasa bersalah karena sudah membuat kehidupanmu sangat sulit. Asih berpesan, semoga kamu tidak membenci siapapun setelah semua terungkap. Tidak pada Asih, apalagi pada orang tua kandungmu. Nisa, Bibi percaya kamu anak yang sangat baik. Kamu tidak sedang membenci siapapun juga, kan?"


Annisa tertunduk sangat dalam. "Nisa sedang berusaha untuk tidak membenci siapapun juga, Bi." Ujarnya pelan.


"Kamu pasti bisa, Nak. Kebencian tidak akan memperbaiki apapun, apalagi masa lalu. Cara terbaik untuk membalas perlakuan seseorang adalah tidak membenci dan berbuat baik padanya. Bibi yakin itu lebih baik untuk masa depanmu," nasihat Bi Titin.


"Iya, Bi. Nisa akan ingat itu. Terima kasih."


Bi Titin memeluk erat Annisa yang masih tertunduk.


Sementara itu di sisi lain, Rayhan terpaku tanpa berucap sepatah katapun juga. Ghaisan dan Raka saling menyenggol siku tanpa ada yang berani bertanya.


"Gue nggak nyangka kehidupan Nisa sesulit ini. Jujur gue nggak bisa bayangain gimana susahnya dia dulu," ujar Rayhan pelan. Baru saja Raka akan berucap, terdengar suara Annisa mendahuluinya.


"Nisa nggak susah kok, Kak. Coba Nisa mau nanya, kalian senang nggak di sini?"


"Senang banget," sahut Raka cepat.


"Tuh, kan. Tinggal di desa nggak melulu susah, Kak. Meskipun kita ini hidup butuh materi, tapi kebahagiaan seseorang tidak bisa diukur dari sedikit banyaknya materi yang dimiliki. Percaya deh, tinggal di sini itu banyak senangnya," papar Annisa.


"Gue percaya. Malahan gue juga pengen tinggal di sini," ujar Raka.


"Benar tuh, Kak. Tinggal di desa enak, kan?" Raka mengangguk, sedangkan Ghaisan hanya tersenyum tipis.


"Iya deh, gimana kamu aja." Rayhan menghampiri Annisa dan mengacak pelan rambutnya.


"Bi, terima kasih ya," ucap Rayhan sambil bersalaman dengan Bi Titin.


"Sama-sama, Den." Sahutnya.


Satu persatu mereka berpamitan pada Bi Titin. Setelahnya, mereka kembali ke rumah Pak Indra. Sayangnya Yuli tidak bersama mereka karena sedang sekolah. Sebelum benar-benar meninggalkan desa, mereka berziarah ke makam Bu Asih.

__ADS_1


"Bu, semoga Nisa bisa membanggakan ibu suatu hari nanti, dan semoga Nisa bisa seperti yang ibu harapkan." Lirihnya. Setelah berdoa, Annisa, Rayhan, dan kedua sahabat Rayhan pun meningalkan desa.


***


Di sekolah, seperti biasa Yuda menikmati bekal yang dibawa Isti. Yuda terlihat sangat lahap, sedangkan Isti justru sedari tadi hanya diam saja.


"Kenapa sih? Jangan mikirin Nisa, dia lagi senang-senang di desa. Nih, kalau nggak percaya." Yuda memperlihatkan foto yang dikirim Raka pada ponselnya.


"Aku tahu," ujar Isti pelan.


"Terus, kok masih melamun? Kangen? Jangan sama yang nggak ada. Kangennya sama aku aja deh, hmm?" canda Yuda.


"Ck, kalau ada ngapain dikangenin," delik Isti."


"Wah, kalau gitu besok aku nggak sekolah deh. Biar kamu kangen, hehe."


"Nggak lucu." Isti memutar bola matanya malas.


"Yee Bu Haji jangan cemberut gitu dong. Terus kamu kenapa, lagi PMS?" tanya Yuda dengan cueknya.


"Ish, kamu nyebelin tahu nggak sih, Yud?"


"Nggak tahu. Aku tahunya kata mamaku, aku tuh anak paling ganteng. Gimana?" Yuda meletakkan telunjuk dan jempol yang membentuk tanda ceklis di dagu.


"Hueeek. Semua mama juga bilang begitu."


"Ya enggak lah, Dodol. Aku kan cewek," ujar Isti kesal.


"Ya kali, tadi kamu bilang semua mama," kilah Yuda.


"Nyebelin!"


"Ngangenin, gitu."


"Bodo, ah."


Yuda terkekeh melihat wajah Isti yang ditekuk. Kemudian dengan mimik serius Yuda kembali bertanya, "Serius nanya, kamu kenapa?"


"Yud, kamu sudah tahu belum kalau ternyata Nisa itu anak Pak Adi dan Bu Rianti?" tanya Isti pelan dan hati-hati.


"Nggak tahu. Emang iya?" Yuda balik bertanya.


Isti mengangguk sambil berkata, "Kata Umi-ku begitu. Umi tahu dari nenek. Kamu belum tahu kan, kalau nenek dan kakekku penjaga vila yang kemarin kalian datangi?"


"Ah yang benar? Kau cucu Bi Marni?" Isti menganguk.


"Kok Nisa nggak bilang?"


"Nisa nggak mau kalau sampai kamu memandang rendah aku. Makanya dia nggak cerita sama siapa-siapa."

__ADS_1


"Kok gitu? Aku kan teman kalian. Pantesan kemarin Mamanya Rayhan sama Umi kamu akrab. Aku sempat bingung lho. Kok bisa kenal ya? Ternyata begitu. Terus, kalau Nisa adiknya Rayhan, Dita siapanya, adiknya juga?"


"Aku belum tahu. Nisa belum cerita," sahut Isti. Mereka tidak meneruskan obrolan karena beberapa teman mereka ada yang masuk ke kelas. Termasuk diantaranya, Tasya dan Mela. Kedua sahabat Raydita itu mendelik pada Yuda dan Isti.


"Aku ke toilet dulu ya. Takut keburu masuk," pamit Yuda.


Isti yang sedang menutup kotak bekalnya mengangguk kecil. Kemudian bertanya pada Tasya dan Mela, "Kalian udah menjenguk Dita, belum?"


"Bukan urusan Lo," delik Mela.


"Kemarin aku dari rumah Dita. Sepertinya dia butuh teman bicara. Kalau kalian menjenguk, Dita pasti senang," ujar Isti.


Tasya dan Mela saling menatap, kemudian duduk di kursi masing-masing sambil bertukar pesan. Isti membuang pelan nafasnya sambil memasukan kotak bekal ke dalam tas.


***


Sepulang sekolah, Tasya dan Mela pun mengikuti saran Isti. Mereka menjenguk Raydita.


Di depan rumah, mereka berpapasan dengan Rianti. Pada mereka, Rianti berpamitan ke supermarket sebentar saja.


"Hai, Dit! Gimana keadaan Lo?" tanya Tasya setibanya mereka di ambang pintu kamar Raydita.


"Mau ngapain kalian kesini?" Raydita balik bertanya dengan nada ketus.


"Ya mau jenguk Lo dong. Memangnya mau ngapain?" tanya Tasya lagi. Mereka terduduk di kursi yang ada di kamar itu.


"Kali aja kalian kesini mau ngetawaain gue," ujar Raydita datar.


"Kita ini sahabat Lo, Dita. Nggak mungkin ngetawaain Lo. Kalau Viola sih mungkin aja," ujar Tasya.


"Kalian yakin masih mau jadi sahabat gue? Nggak lagi pada amnesia, kan? Pura-pura lupa, terus nanti mempermalukan gue di depan anak-anak. Bilang gue anak angkat, nggak selevel sama kalian," tuduh Raydita berprasangka.


"Ya ampun, Dita. Kita nggak sejahat itu sama Lo. Kita ini tulus temenan sama Lo," ujar Tasya yang terlihat kecewa dengan cara berpikir Raydita.


"Gue juga bilang apa, Sya. Kayanya disini cuma kita yang tulus, Dita enggak. Eh, Dit. Kalau emang kita sejahat yang Lo pikirkan, udah dari kemarin gue sebar video yang gue punya," geram Mela.


"Mel." Tasya memberi isyarat agar Mela tak membicarakannya.


"Video apa? Lo ngancam gue, hah?" tanya Raydita yang mulai berang.


"Terserah Lo mau nganggap ucapan gue apa. Yang pasti, gue punya video waktu Lo mojokin si Nisa. Kalau Lo udah nggak nganggap gue sama Tasya sahabat lagi, oke. Nggak masalah. Lo akan lihat sebentar lagi video ini akan tersebar di semua grup chats yang ada di sekolah. Gimana, udah jahat belum gue?"


"VIdeo apa yang kamu bicarakan?"


Sontak ketiganya menoleh ke arah suara. Mereka terbelalak melihat Adisurya berdiri di ambang pintu kamar Raydita.


"Mela. Om tanya, video apa yang mau kamu sebarin?"


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2