
Happy reading ....
*
Sementara itu di tempat lain. Raka mengarahkan kemudinya ke perusahaan yang kini dipegang mamanya. Hanya sebentar ia berada di apartemen Rida, karena banyak yang harus ia lakukan sebelum kembali kuliah di akhir pekan ini.
Raka sangat beruntung, Fany tidak melarangnya dekat dengan Rida dan juga Raydita. Bagi Fany, selama putranya nyaman dan bahagia, ia tidak keberatan tentang apapun juga. Terlebih, Raka menceritakan kondisi Rida saat ini pada sang mama.
Ponsel Raka berdering tepat ketika mobilnya menepi di depan gedung perusahaan. Ia pun mengangkatnya karena itu panggilan dari Rayhan. Setelah berbicara sebentar, Rayhan pun mengatakan akan datang menyusulnya ke tempat itu.
Raka turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu lobi. Beberapa karyawan menyapanya dengan hormat. Raka pun menuju lift yang akan membawanya ruangan sang mama.
"Mbak Sinta, mama ada?" tanya Raka pada sekretaris Fany.
"Sedang di luar, Mas." Sahutnya.
"Oh, oke." Raka pun masuk ke dalam ruangan itu.
Fany memang hanya sementara menempati posisi itu. Kehadirannya hanya untuk mengisi posisi di kursi tertinggi perusahaan sampai Raka siap dan mau menempatinya.
Raka terduduk di kursi kerja dan menoleh pada pigura foto yang berada di atas meja. Ia tersenyum tipis melihat senyum ibunya yang terlihat bahagia saat berdampingan dengannya.
Raka sangat mengagumi sosok ibunya. Wanita kuat yang bertahan dalam pernikahan tanpa cinta, dan mencintai putranya sepenuh hati meski harus dihadapkan pada sikap suami yang menghianatinya dan menikmati kekayaan keluarganya. Baginya, Fany merupakan seorang ibu yang luar biasa.
Tok ... tok ... tok. "Silahkan Mas," ujar Sinta saat pintu terbuka.
"Thank you."
Raka mengernyitkan keningnya menatap sahabatnya yang melangkah malas mendekati meja.
"Kenapa lo? Lemes banget. Cewek lo nggak ngasih jatah ya," seloroh Raka. Saat meneleponnya tadi, Rayhan mengatakan bahwa ia baru saja meninggalkan rumah Isti.
__ADS_1
"Boro-boro ngasih jatah, ngasih kabar aja enggak. Heran gue," gerutu Rayhan sambil menekuk wajahnya.
Lagi-lagi kening Raka berkerut saat menatap Rayhan yang menjatuhkan bokongnya di kursi di hadapan Raka.
"Hehe, ada yang lagi ribut nih ceritanya? Lain kali kalau ribut tuh di ranjang. Biar 'gelud' sekalian. Happy ending kan jadinya," kelakar Raka.
"Bangs*t lo. Gue lagi bad mood, nggak usah bercanda," delik Rayhan.
Raka menghentikan kekehannya dan bertanya, "Memangnya apa sih yang kalian ributin? Kalian tuh harusnya kangen-kangenan, selama ini LDR-an. Ini kok malah ribut."
"Nah itu, lo aja yang jomlo ngerti iya, kan? Ini cewek gue kok nggak ngerti."
"Yee, apa hubungannya dengan kejomloan gue? Sialan lo," umpat Raka.
"Canda, Bro. Gue lagi kesal."
"Kenapa sih emangnya? Nggak si Agas, nggak lo. Pulang-pulang bukannya senang-senang malah ada aja masalahnya."
"Lo tenang aja, Agas aman."
"Aman-aman, awas aja lo kalau ending-nya adek gue nangis."
"Enggak lah, Ray. Dia itu lebih bucin dari lo, percaya deh. Terus masalah lo sama Bu Haji apa sih?"
Rayhan menghela nafasnya, kemudian menceritakan yang terjadi ketika terakhir kali ia dan Isti bersama. Rayhan mengerutkan kening melihat Raka menepuk keningnya sendiri.
"Kenapa lo?" tanya Rayhan.
"Parah lo, Ray. Emang nggak bisa ya nahan diri dikit? Gila, Bro. Kalian kissing depan rumahnya? Woy! Lo nggak mikir apa, gimana kalau security lihat? Apalagi ini? Kalau sejak saat itu kalian lost cantact, fix ortunya lihat kegilaan lo."
"Jadi maksud lo, cewek gue dihukum?"
__ADS_1
"Bisa jadi. Masa iya lo nggak bisa menilai gimana ortunya Isti, Ray?"
"Iya juga ya. Huft. Gue yang salah, Ayang gue yang dapat hukumannya," sahut Rayhan merutuki diri.
"Terus, dia nggak ada di rumahnya?" Rayhan menggeleng pelan.
"Bohong kali ah. Dia pasti ada, cuma nggak boleh ketemu aja sama lo," ujar Raka.
"Apa iya gitu, Ka?" tanya Rayhan.
"Bisa jadi, Kan? Eh- eh, lo mau kemana?" tanya Raka pada Rayhan yang langsung beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Ke rumah cewek gue laah. Thanks ya, bye!" Rayhan berlalu tanpa menghiraukan Raka yang melongo, lalu menggelengkan kepala.
Rayhan mengemudikan motornya kembali ke rumah Isti. Jika benar pacarnya itu ada di rumah, setega itukah padanya hingga tak memberi kabar sedikitpun juga? Setidaknya, Isti memberitahukan yang terjadi, mungkin ia tidak akan sefrustasi saat ini.
Di kediaman Dahlan, Isti hanya bisa terisak untuk kesekian kalinya setelah keputusannya menjauhi Rayhan. Tadi, mendengar suara motor Rayhan, Isti yang menghabiskan waktu dengan membaca buku itupun sontak berlari menuju pintu balkon kamarnya. Namun kemudian langkahnya langsung terhenti, saat ia tersadar dan memilih mengintip Rayhan dari balik kaca jendela kamarnya.
Meski sejak pagi abinya tidak di rumah, bukan berarti dia bisa menghampiri Rayhan yang datang mencarinya. Ia sudah berjanji, dan tak ingin mengingkarinya meskipun itu menyiksa hati.
Isti terperanjat mendengar suara motor Rayhan lagi. Apakah ini hanya halusinasinya saja, ataukah memang nyata? Mungkinkah Rayhan kembali?
Isti mengusap air matanya dan beringsut dari tempat tidur. Saat mesin motor itu berhenti, Isti mulai ragu itu hanya ada dalam halusinasinya.
"Apa itu benar-benar Kak Ray?" gumamnya.
Dengan malas Isti membalikkan badan hendak kembali ke tempat tidurnya. Bukannya tak ingin melihat wajah Rayhan, hanya saja ia tak ingin merasa semakin sedih jika melihat lagi, dan lagi.
Isti kembali terperanjat mendengar suara klakson mobil ayahnya. Cepat-cepat ia membalikkan badannya lagi dan berlari ke balkon kamar. Namun saat di ambang pintu, Isti bingung antara meneruskan langkah untuk menunjukkan diri pada Rayhan atau kembali bersembunyi di dalam kamar.
"Duh, gimana ini? Gimana kalau Kak Ray dimarahin abi?" gumamnya dengan wajah yang khawatir.
__ADS_1
_bersambung_