Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
nasi kepal


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Pagi hari ini sangatlah cerah. Pukul enam pagi sudah terasa seperti pukul delapan saja.


"Nis, Nisa! Bangun, kamu sekolah nggak?" Suara pintu kamar yang diketuk Santi mengagetkan Annisa yang masih terlelap.


"Iya, Mbak. Nisa mau mandi dulu." Cepat-cepat Annisa merapikan peralatan salatnya. Rupanya ia tertidur di atas sajadah, dan dinginnya lantai membuat badan Annisa merasa kurang nyaman.


Di rumah utama, membangunkan Rayhan dan Raydita sudah jadi rutinitas Rianti. Suasana pagi di rumah itu selalu diawali dengan pekikan Rianti memanggil anak-anaknya. Setelah memastikan keduanya bangun, Rianti menuruni tangga hendak membuatkan kopi untuk suaminya.


"Pagi, Nyonya," sapa Hani, sedangkan Bi Susi yang sedang membuatkan roti bakar hanya mengangguk hormat.


"Bi, tolong buatkan saya wedang jahe. Saya nggak enak badan, mungkin masuk angin."


"Baik, Nya."


"Kamu, bersihkan kamar tamu yang di sana." Titahnya pada Hani, dan dijawab anggukan oleh ART-nya tersebut.


Rianti memijit pelipisnya, sambil membuatkan kopi untuk Adisurya. Dari arah tangga, suaminya menghampiri sambil menatap heran.


"Kenapa, Sayang? Pusing?" Adisurya menarik kursi dan meminta Rianti untuk duduk. Pria itu berdiri di belakang Rianti dan mulai memijit kening istrinya.


"Kamu kurang tidur?" Rianti mengangguk pelan.


"Kenapa, Sayang? Jangan banyak pikiran."


Suara langkah Rayhan dan Raydita terdengar menuruni tangga.


"Udah, Mas."


"Setelah ini istirahat ya." Rianti kembali mengangguk.


"Mama kenapa, Pa?" tanya Rayhan sambil menarik kursi.


"Nggak enak badan, Han. Hai, Sayang!" Adisurya membalas pelukan Raydita.


Ada yang berbeda di hati Rianti melihat kedekatan Adisurya dan Raydita. Padahal hal itu pemandangan sehari-hari. Namun entah mengapa hari ini hatinya terasa hampa.


"Mama, kok melamun?" tegur Raydita yang mencium pipinya.


"Mama sedang tidak enak badan, Dita."


"Mama sakit? Panggil aja Tante Rika ke sini," saran Raydita.


"Ide bagus tuh," sahut Papa Adi.


"Nggak usah. Mama mau istirahat aja. Nanti kalau belum enak, mama chat Rika."


"Oke. Terserah mama, yang penting mama sehat." Rianti menatap sendu pada Raydita. Ia tak bisa membayangkan betapa anak itu akan merasa sakit hati jika kebenaran tentang dirinya terungkap.


"Kamarnya sudah saya bersihkan, Nya," ujar Hani.


"Jendelanya di buka nggak?"


"Sudah," angguk Hani. Rianti membari isyarat agar Hani meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


"Kamar mana, Ma?" tanya Adisurya.


"Mau ada tamu, siapa?" tanya Raydita disela kunyahannya.


"Bukan untuk siapa-siapa. Untuk Nisa," sahut Rianti pelan.


"Hah? Untuk Nisa?" Raydita dan Rayhan saling menatap heran. Rayhan mengangkat bahunya sedikit saat Raydita bertanya dengan isyarat mata. Sedangkan Adisurya mengulumkan senyum sambil menundukkan kepala.


"Ini wedang jahenya, Nya."


"Terima kasih, Bi."


"Nisa sudah sarapan, Bi?" tanya Adisurya.


"Cuma minum teh manis, Tuan. Katanya sedang tidak nafsu makan."


"Kenapa? Dia sakit?" tanya Rianti cepat.


"Tadi setelah salat subuh ketiduran. Mungkin karena lantainya dingin, jadi masuk angin," sahut Bibi.


"Suruh dia minum wedang jahe. Masih ada nggak?"


"Ada, Nyonya."


Sikap Rianti yang berbeda dari biasanya menghadirkan tanya di benak dua remaja yang ada di ruangan itu, terutama Raydita. Ada rasa cemburu dalam hatinya mengetahui mamanya juga membagi perhatian pada Annisa. Terlebih Papa Adi, yang beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan ruang makan. Bisa dipastikan papa akan menghampiri Annisa di kamarnya.


"Ada apa dengan mama? Dan papa, apa itu tidak berlebihan?" batin Raydita kesal.


Benar saja, Adisurya berjalan menuju kamar Annisa. Raut wajahnya terlihat cemas dan langsung membuka kamar putrinya itu.


"Tidak apa-apa, Yah. Hanya pusing sedikit," sahut Annisa pelan sambil meraih tasnya.


"Ke dokter yuk." Adisurya menempelkan punggung tangannya di kening Annisa.


"Enggak ah, Nisa nggak pernah ke doktee. Takut di suntik," sahut Annisa polos.


"Kenapa takut, Sayang? Dokternya juga, Dokter Rika-Mama Agas. Kalau kamu nggak pernah ke dokter, kalau sakit gimana? Minum obat warung?" Adisurya menatap sendu pada Annisa.


"Nisa jarang sakit, Yah. Sebelum berangkat sekolah, ibu mengharuskan Nisa makan nasi. Walaupun cuma 2 atau 3 suap, nasi hangat pakai garam, terus dikepal-kepal. Enak, jadi kangen ibu." Tuturnya.


Adisurya merasa terenyuh mendengarnya. Ternyata Asih memegang kata-katanya dalam surat itu. Wanita itu sangat menyayangi Annisa walau dalam kesederhanaan.


"Ayah nggak ke kantor?"


"Nanti siang. Ayah akan mengantar kalian ke sekolah."


"Ya sudah, yuk!"


Adisurya merangkul pundak Annisa. Mengajak ke dapur, membuat Annisa mengerutkan keningnya.


"Ada nasi, Bi?" tanya Adisurya.


"Ada, Tuan. Baru saja matang. Tuan mau makan sekarang? Maaf, Bibi akan masak secepatnya."


"Tidak usah. Duduk, Sayang. Minta piring sama garam, Bi." Ucapnya sambil mencuci tangan. Bi Susi merasa semakin heran. Sementara Annisa merasa bingung.


"Ayah mau buat nasi kepal?"

__ADS_1


"Iya. Kalau cuma nasi sama garam, terus dikepal sih ayah juga bisa." Bi Susi tersenyum tipis sambil memberikan piring pada tuannya.


Adisurya menyendok nasi, lalu ditaburi garam. Saat ia akan mengepal nasi itu, Adisurya mengaduh kepanasan.


"Pakai sarung tangan plastik, Tuan."


"Kenapa bibi nggak bilang dari tadi?"


"Maaf. Bibi baru ingat."


"Sama Nisa aja, Yah." Nisa menggunakan sarung tangan plastik itu dan mulai mengepalkan nasi.


"Udah kamu satu aja, kan ayah yang mau bikin untuk kamu." Adisurya yang sudah menggunakan sarung tangan plastik, mulai mengepal-ngepalkan dan menyuapkannya pada Annisa.


"Ayah coba deh, enak kok."


Mau tak mau, Adisurya menyuapkan sedikit. Lalu kemudian membuka lagi mulutnya dengan suapan yang lebih besar.


"Enak kan?" Adisurya mengangguk cepat.


"Nyonya, membutuhkan sesuatu?" Pertanyaan Bibi membuat Adisurya dan Annisa menoleh. Baik Annisa maupun Adisurya tidak mengetahui sejak kapan Rianti berdiri di belakang mereka.


Rianti menggeleng sambil menyodorkan cangkirnya yang kosong. Ia pun kemudian berkata, "Mas, katanya mau mengantar anak-anak. Ini sudah siang."


"Oh iya ya. Ayo Nisa, kita berangkat. Minum dulu," ucap Adisurya sambil menuangkan air untuk Annisa. Rianti berlalu sambil berdehem. Rayhan sudah memanaskan mesin motornya, sementara Raydita sedang menalikan sepatunya.


"Han, kenapa bawa motor? Papa yang antar kalian."


"Tapi, Pa. Pulangnya Ehan mau latihan basket."


"Bisa diantar Agas atau Raka. Ayo, naik mobil aja."


Dengan berat hati Rayhan mematikan lagi mesin motornya. Dengan malas, diberikannya kunci itu pada Mamanya. Rianti mengusap lembut rambut putranya sambil mengulumkan senyum, sementara Raydita mengejek dengan memeletkan lidahnya.


"Yaa, sama dia dong." Raydita pun kecewa, saat mengetahui Annisa pasti ikut bersama mereka. Kini giliran Rayhan yang balas mengejeknya.


"Nisa berangkat, Bu." Pamitnya sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


Dengan ragu Rianti menyambut uluran tangan itu. Annisa terlihat senang, dan dengan riangnya mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Sahutnya pelan.


Selama perjalanan, ketiga anak itu lebih banyak diam. Terlebih karena Adisurya menerima panggilan telepon menggunakan earphone.


Sesampainya di depan sekolah, setelah mobilnya menepi, Adisurya mengantar hingga ke depan pintu gerbang. Beberapa siswa juga baru datang. Ada yang diantar, ada juga yang membawa motor sendiri. Seperti Yuda yang menyaoa Annisa saat bertemu di depan sekolah.


"Hai, Nisa! Tungguin aku di sana ya. Aku mau parkir dulu." Annisa mengangguk ragu.


"Siapa? Kok sepertinya ayah pernah lihat."


"Teman sekelas Nisa sama Dita, Yah."


"Teman kamu, bukan teman aku. Sorry ya." Deliknya. Adisurya terkekeh pelan dan mengusap pucuk kepala Raydita. Mereka tidak menyadari seorang pengendara lain memperhatikan sedari tadi.


"Oh, jadi itu putri Adisurya." Gumamnya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2