Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Rayhan-Isti (hari-H)-part 1


__ADS_3

Happy reading ....


*


Aroma barbeque yang menguar dari taman yang berada di samping rumah Ghaisan. Malam ini, mereka berkumpul di rumah itu untuk sekedar menikmati kebebasan Rayhan diakhir masa lajangnya.


Sore tadi, Rayhan datang bersama Annisa dan Yuli. Tak lama kemudian Yuda juga datang ke sana. Sejak kepulangan Ghaisan, Raka dan Raydita menginap di rumah itu. Bahkan Yuda juga menginap di sana. Sedangkan Yuli, memilih menginap di kediaman Adisurya. Tapi malam ini, Annisa dan Yuli akan menginap di sana juga.


Gelak tawa terdengar bersahutan dari Raka dan Yuda. Selalu saja ada topik untuk dijadikan bahan candaan oleh mereka. Yuli dan Raydita sampai geleng kepala melihat tingkah keduanya. Sedangkan Rayhan, terlihat asik bertukar pesan dengan kekasih hati yang esok akan dinikahi. Wajah putra Adisurya itu tak bisa menyembunyikan bahagia dan menganggap keramaian di sekitarnya hanya angin lalu saja.


Di sisi lain, Annisa terkekeh melihat senda gurau teman-temannya. Sesekali ia menoleh pada Ghiasan yang sepertinya lebih menyukai aroma rambut Annisa dari pada potongan daging yang dibakar Raka dan Yuda.


"Nis, orang dari salon mau nginep di sini juga?" tanya Yuli.


"Iya," angguk Annisa.


"Oh, jadi besok kita didandanin sama mereka ya?" tanya Yuli lagi seraya melihat ke dalam rumah dari pintu yang terbuka.


Memang, Rianti meminta mereka untuk berangkat bersama dari tempat yang sama juga. Rianti meminta pihak salon mengirimkan satu tim untuk mereka. Hal itu karena di kediaman Adisurya banyak sekali kerabat jauh yang datang di hari spesial Rayhan.


"Kak Ehan, jangan terlalu malam pulangnya," ujar Raydita.


"Kenapa?" tanya Rayhan tanpa menoleh pada Raydita.


"Yee nggak peka. Kita di sini berpasangan. Nah lo?" timpal Yuda.


"Gue kenapa? Eh, kalian paling banter cuma *****-***** doang. Kalau gue, mulai besok dan seterusnya udah bisa ... hehe, sorry ya, udah nggak level main solo dengan posisi yang gitu-gitu aja," seloroh Rayhan.


"Sialan, Lo. Imajinasi gue jadi kemana-kemana," umpat Raka.


"Diikat dong biar nggak kemana-mana," seloroh Yuda.


"Pakai apa ngiketnya?" tanya Raydita polos.


"Pakai kond-. Ups, mulut gue ember kalau ngomongin begituan." Raka menepuk bibirnya sendiri.


"Kak Raka maniak deh kayanya. Lo kudu hati-hati, Yul," ujar Raydita sekenanya.


"Yee fitnah itu lebih kejam dari pembuahan," ucap Raka asal.


"Pembunuhan, b*go!" timpal Rayhan.

__ADS_1


"Iya nih kebiasaan banget Kak Raka," gerutu Raydita.


"Yaa siapa tahu ada yang mau 'dibuahi', hihihi," seloroh Raka seraya melirik pada kekasihnya.


"Hi-hi-hi, udah kaya kunti, lo. Kalau berani bilang," tantang Yuda.


"Berani. Siapa takut?" ujar Raka.


"Coba, bilang apa?" tanya Yuda sembari mengulukan tawa.


"Ayang Mbeb, bobo gih. Biar besok fresh," ujar Raka.


"Jiaaah, gitu doang?" ejek Yuda.


"Emang Lo berani?" tanya Ghaisan.


"Enggak," geleng Yuda cepat.


"Huuu, dasar." Raka mengapit kepala Yuda dengan satu tangannya sedangkan tangan satunya menjitak pucuk kepala.


"Kalau diurutkan setelah gue, 'kan Nisa-Agas nih. Kalau mereka udah, sipa duluan? Lo apa Lo?" tunjuk Rayhan pada Yuda dan Raka.


"Enak aja," delik Raka.


"Maksud gue, kita barengan. Gue sama Dita, nebeng gitu, lumayan 'kan irit di budget," kelakar Yuda.


"Idih nggak modal," delik Raydita.


"Denger tuh! Modal dong kalau mau ngawinin anak orang," pekik Raka di telinga Raka.


Yuda nyengir pada Raydita yang memutar bola mata malas. Sedangkan yang lain terkekeh dengan tingkah keduanya yang masih saja sama sejak pertama jadian.


***


Meski ramai dengan kerabat yang berdatangan sejak beberapa hari kebelakang, aura rumah Dahlan terasa menyejukkan. Sejak matahari menampakkan diri, shalawat terdengar bersahutan dari sound sistem yang menggema di dalam ruangan.


Kakek Istiqomah terlihat santai duduk di kelilingi cucu dan cicitnya yang masih kecil. Mereka secara bergantian melantunkan puji-pujian pada sosok panutan umat islam, Baginda Nabi Shalallahu alaihi wasallam.


Dengan mendengarkan shalawat, hati menjadi tenang. Begitulah yang dirasakan sang calon mempelai. Di depan cermin, Isti menatap pantulan wajahnya yang sedang dipasangkan jilbab oleh perias. Sembari tersenyum, sesekali Isti pun ikut melantunkan shalawat yang didengarnya.


"Bahagia bener, Neng. Nikahnya sama pria idaman ya?" tanya perias itu disertai senyuman menggoda.

__ADS_1


"Hehe. Iya, Mbak. Idaman banget," sahut Isti dengan wajah merona saat membayangkan wajah tampan Rayhan.


"Pacar?" tanyanya lagi. Isti mengangguk malu.


"Oh. Saya kira dijodohkan. Atau belum lama ta'aruf dan sudah diajak nikah. Berapa lama pacarannya?"


"Berapa lama ya? Mmm dari kelas 2 SMA kalau saya nggak salah ngitung," sahut Isti seraya tersenyum lebar.


"Wah! Lama juga."


Perias itu menatap sesaat pantulan wajah Isti di cermin. Maklumlah, calon wanita merupakan cucu seorang kiyai, sedangkan calon pria dari keluarga pengusaha kaya. Jadi, kebanyakan dari mereka berpikir bahwa pernikahan itu hasil perjodohan. Terlebih, sebelumnya kedekatan keduanya tidak di publikasikan.


'Ah, paling juga yang cowok playboy. Biar insyaf dijodohin sama si cewek yang alim. Ujung-ujungnya kaya di sinetron deh. Cowoknya ternyata punya pacar, istrinya diselingkuhin, dan endingnya, kumenangis ....'


Begitulah kira-kira ghibahan perias itu dan teman-temannya saat mengetahui klien mereka berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang berbeda.


Isti melirik pada pintu kamarnya. Julaikah tersenyum lebar pada putrinya sambil melangkah mendekati mereka.


"MasyaAllah, cantiknya anak Umi," puji Ikah.


"Alhamdulillah, Umi. Terima kasih," sahut Isti pelan.


"Tinggal apa yang belum, Mbak?" tanya Ikah pada perias itu.


"Sudah, Bu."


"Alhamdulillah. Mereka sedang menuju ke sini. Siap?" goda Ikah.


Isti mengulumkan senyum malu-malu.


"Siap dari dulu sepertinya ya, Bu?" timpal perias.


"Hehehe. Soalnya mereka LDR-nya lama banget, Mbak," seloroh Ikah.


"Nggak kebayang ya nanti malam pertamanya gimana. Sepertinya semua harus ngungsi dulu, Bu. Karena diperkirakan gempa besar akan terjadi di rumah ini," kelakar Perias itu.


Ikah terkekeh mendengarnya. Sedangkan Isti tak kuasa menahan rasa malu dan memilih untuk menundukkan kepalanya.


*


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2