Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
OTW belah duren


__ADS_3

Senja mulai menghilang. Suasana kediaman Adisurya tak seramai tadi siang. Para tamu sudah mulai berhenti berdatangan sampai jam dua siang. Hanya beberapa orang yang memang berhalangan di jam siang datang pada sore hari, terutama teman-teman Raydita dan beberapa dokter kenalannya.


Raydita sengaja membatasi waktu dalam undangan pernikahannya karena tak mau berbalut gaun sampai batas waktu yang tidak pasti. Bahkan saat ini dengan cueknya wanita yang baru mendapat status sebagai istri Yuda itu mengenakan hot pants yang dipadukan dengan kaos oblong longgar berkeliaran di dalam rumah. Ia bahkan tak memperdulikan teguran Rianti dengan alasan lebih nyaman seperti itu. 


Setelah makan malam bersama, Yopi dan keluarganya berpamitan. Tak hanya mereka, Dahlan dan Ikah juga. Bersama mereka, pasangan Isti-Rayhan turut serta. Malam ini Isti ingin menginap di rumah orang tuanya.


“Besok di sini ya, Sayang,” pesan Rianti sebelum mobil Rayhan berlalu.


“InsyaAllah, Ma,” sahut Isti sambil mengangguk pelan.


“Hati-hati, Han,” ucapnya sambil melambaikan tangan.


“Siap, Ma,” sahut Rayhan.


“Daah semua. Assalamu’alaikum,” pungkas Isti.


“Wa’alaikumsalam,” sahut yang lain hampir bersamaan.


Mobil Rayhan berlalu meninggalkan rumah itu. Sebelumnya mobil Dahlan lebih dulu meninggalkan tempat itu.


Adisurya menggandeng Annisa masuk ke rumah, sementara Rianti menghampiri orang WO yang sedang sibuk berbenah.


“Kita kapan ke sana, Yang?” tanya Yuda setengah berbisik pada Raydita yang saat ini sedang digandeng ke dalam rumah.


“Bentar lagi deh. Baju lo udah di mobil ‘kan?” Raydita balik bertanya dan mendapat anggukan cepat Yuda.


Raydita berjalan mendahului Yuda dan mengarahkan langkahnya mendekati Adisurya yang saat ini sedang menanyakan sesuatu pada seorang pelayan laki-laki di teras belakang rumah.


“Pa ….” Raydita menghampiri Adisurya, lalu memeluknya manja.


“Udah siap?” tanya Adisurya.


“Aah papa, jangan nanya begituan,” ucapnya dengan wajah merona.


“Memangnya papa nanya apa?” Adisurya balik bertanya dengan raut menggoda. Raydita yang merasa malu itupun membenamkan wajahnya di ketiak sang Ayah.


Adisurya terkekeh sambil berkata, “Selamat menempuh perjalanan baru dalam hidupmu, Nak. Seterjal apapun jalannya nanti, usahakan tetap berpegangan dengan suamimu. Ingatlah, seperti halnya dirimu, pasanganmu bukan seseorang yang sempurna. Banyak hal baru akan kau lihat pada dirinya yang mungkin sebelumnya belum pernah kau lihat. Entah itu kelebihan ataupun kekurangannya.”


Raydita mengangguk pelan sembari mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Adisurya. Di belakang mereka Yuda tersenyum tipis melihat tingkah manja Raydita. Ia pun memilih mundur dan berniat menghampiri Annisa yang sedang asik ngobrol dengan beberapa orang ART keluarga Adisurya di bagian samping rumah itu.


“Si Yuli sama Agas kemana? Perasaan dari tadi mereka nggak ada. Apa di kamar Nisa?” batin Yuda bertanya-tanya. 


“Nis. Agas mana?” tanya Yuda dari ambang pintu.


“Di kamarku. Masuk aja,” sahut Annisa.

__ADS_1


“Oke,” angguk Yuda yang kemudian berlalu ke kamar Annisa yang ternyata pintunya dibiarkan sedikit terbuka.


Dari dalam kamar itu terdengar suara Ghaisan yang berbicara dalam bahasa Inggris. Kemungkinan kekasih Annisa itu sedang ngobrol di telepon dengan seseorang di Amerika. Karena tak ingin mengganggu Ghaisan, Yuda pun memutuskan ke kamar Raydita yang ada di lantai dua.


Sesampainya di ujung tangga di lantai dua, tanpa sengaja Yuda melihat Yuli sedang duduk sambil menelepon seseorang. Tak ingin merasa jenuh seorang diri, Yuda mengarahkan langkahnya dan berniat sekedar ngobrol dengan sahabat Annisa tersebut. 


“Awas aja kalau Kak Raka bahas pertunangan atau pernikahan sama ayah. Aku nggak mau kita nikah buru-buru, Kak.”


Yuda tersenyum lebar mendengarnya. Ia berniat menggoda pasangan itu. Namun kemudian urung saat mendengar kelanjutan obrolan mereka.


“Lagian belum tentu juga aku hamil, Kak. Udah ah, males banget yang diomongin ini mulu dari kemarin,” dengus Yuli. 


“Hamil?” batin Yuda.


Yuda terperanjat saat mendengar Raydita bertanya dari arah tangga. “Lo lagi ngapain di situ?”


Cepat-cepat Yuda berjalan mendekati Raydita sambil meletakkan telunjuknya di tengah bibir yang dimajukan. Tak ingin Yuli menyadari keberadaan mereka, Yuda menangkup wajah Raydita, lalu menciumnya dengan cepat berkali-kali.


“Muach muach muach. Sekarang yuk, Yang …,” bujuknya bernada manja. Yuda menarik tangan Raydita, menggerakan dua jarinya dari ujung hingga pangkal tangan sang istri dengan raut wajah menggoda dan gerakan wajah mengajak masuk ke kamar.


“Lo nggak lagi kesambet ‘kan?” tanya Raydita dengan tatapan horor.


Yuda tersenyum devil sambil menyipitkan ujung matanya, kemudian …. “Rawr!!!”


Sekilas Yuda melihat Yuli yang menoleh ke dalam rumah dari balik kaca. Yuda menutup pintu kamar dan membiarkan Raydita mencubit pinggangnya.


Sementara itu di lantai bawah, Adisurya menggelengkan kepala sambil berujar, “Untung Yuda. Kalau bukan dia nggak tau akan seperti apa.”


“Mama perhatikan kalau ke orang lain bisa kok Dita ngomongnya sopan. Tapi kenapa sama Yuda gitu ya?” timpal Rianti.


“Dita nyaman sama Yuda, Bu. Makanya dia bisa secuek itu,” bela Annisa.


“Ck. Nggak gitu juga.” Rianti membuang kasar napasnya, kemudian menoleh pada Ghaisan yang berjalan mendekati mereka.


“Agas. Kamu nginep di sini ‘kan?” tanyanya.


Ghaisan tak lantas menjawab. Pria berwajah rupawan pemilik senyum menawan itu justru menoleh pada Annisa yang memberinya senyuman lebar.


“Memangnya boleh, Ma?” tanya Ghaisan.


“Boleh dong. Kamar tamu ada yang kosong. Daripada di rumah sendirian,” sahut Rianti enteng.


“Nggak sendiri juga, Bu. Di sana ‘kan ada ART,” timpal Annisa.


“Eh ini anak. Gadis lain tuh seneng loh pacarnya dibolehin nginep. Ini malah disuruh pulang ketemu ART,” delik Rianti.

__ADS_1


“Nggak gitu juga, Bu,” kilah Annisa.


“Takut malam-malam ada yang ngetuk pintu ya?” goda Adisurya.


“Enggak, Yah. Nisa ‘kan tidurnya sama Yuli.”


“O-iya. Ibu nggak lihat Yuli. Kemana?” 


“Tadi sih katanya ada telpon dari Kak Raka. Mungkin di balkon,” jawab Annisa.


Rianti mendongak ke lantai dua, lalu kembali berkata dengan suara pelan, “Ibu perhatikan Yuli agak muram. Kamu ngerasa nggak, Nis?”


“Itu hanya perasaan ibu aja,” sahut Annisa.


“Ssstt udah ah. Nggak baik ngomongin orang. Nanti kalau kedengeran disangka ngomongin yang enggak-enggak," tegur Adisurya.


“Ya udah lah. Ibu capek. Istirahat yuk,” ajak Rianti sambil menoleh pada suaminya.


“Terus itu penganten baru gimana?” tanya Adisurya.


“Iya ya. Mereka mau di sini apa di apartemen. Lagian kenapa harus di sana segala sih? Di sini juga sama aja,” ucap Rianti yang kemudian memanggil Raydita.


“Dit. Dita!” panggilnya.


Terdengar suara pintu dibuka. Tak lama terlihat Raydita dan Yuda berjalan beriringan di tangga.


“Jadi ke sana? Kenapa nggak di sini aja?” tanya Rianti sambil menatap pada tas berukuran sedang yang ditenteng Yuda.


“Di sana aja ah, Ma. Kalau di sini ntar ada yang pengen,” ujar Raydita sambil melirik pada Annisa.


“Yee, siapa juga yang pengen,” delik Annisa.


“Kak Agas, bukan lo. Dih ge-er,” balas Raydita.


“Santai aja. Gue juga nginep di sini kok. Kalau pengen tinggal ngasih kode, ting-ting,” timpal Ghaisan yang diakhiri dua kali kedipan mata.


“Jiaah. Kode keras tuh, Nis. Cepetan dihalalin. Nggak kasian sama Kak Agas? Yang lain udah punya teman duet, dia masih main solo. Ka-si-an,” ujar Raydita yang kemudian mendekati kedua orang tuanya untuk bersalaman.


“Siapa bilang Kak Agas sendiri? Kamu lupa ya? Kak Raka juga masih sendiri,” ucap Annisa.


“Ya terus? Mereka disuruh main pedang-pedangan?” tanya Raydita sekenanya.


“Dih, amit-amit. Ya kali gue hombreng,” delik Ghaisan dengan wajah ditekuk.


Annisa mengulumkan senyum melihat ekspresi Ghaisan. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tak menyadari obrolan itu membuat Yuli mengurungkan niat menuruni tangga. Entah mengapa Yuli jadi tak nyaman dengan dirinya, juga sekitarnya setelah kejadian malam itu. Akan tetapi sampai kapan Yuli terus merutuki kejadian tersebut. Toh semua sudah terjadi, dan tak mungkin kesuciannya kembali lagi.

__ADS_1


__ADS_2