
Happy reading ....
*
Sepulang dari rumah Annisa, Isti merasa sangat bahagia. Orang tuanya sampai terheran-heran dengan sikap Isti. Tidak biasanya putri Dahlan itu bersikap demikian.
"Umi perhatikan dari tadi kamu senyum-senyum sendiri. Cerita dong sama Umi, ada apa sih?" tanya Ikah menggoda putrinya.
"Jangan bilang karena di rumah Annisa tadi banyak anak cowok ganteng. Ingat ya, Sayang. Abi tidak memberimu izin pacaran," ujar Dahlan.
"Iya, Abi. Isti juga ingat," sahut Isti pelan.
"Tapi kalau cuma suka boleh dong, Bi. Itu kan manusiawi," timpal Ikah. Ibunda Isti itu langsung menangkap wajah cemberut putrinya mendengar ucapan sang ayah.
"Boleh aja. Selama itu tidak berlebihan," sahut Dahlan.
Ponsel Isti berdering. Kedua manik Isti berbinar melihat foto profil orang yang meneleponnya. "Kak Ray!" pekik Isti di dalam hati.
Isti langsung salah tingkah, membuat kedua orang tuanya menatap aneh padanya.
"Siapa, Sayang? Senang banget," tanya Ikah.
"Nisa, Umi. Isti ke kamar dulu ya." Dustanya.
Ikah menatap langkah putrinya yang tergesa-gesa. Ikah tersenyum tipis sambil mengusap lengan suaminya. "Jangan terlalu mengekang, Bi." Ujarnya.
"Bukan mengekang, Mi. Anak kita harus tahu batasannya. Abi khawatir melihat pergaulan anak zaman sekarang, apalagi kalangan atas seperti teman-temannya," tutur Dahlan.
"Makanya masukkan ke pesantren. Dari awal juga kan, Abi yang ngotot menyekolahkan di sana," gerutu Ikah sembari beranjak dari sofa dan berjalan ke dapur.
Sementara itu di kamar Isti ....
Dengan wajah merona dan malu-malu Isti menjawab panggilan Rayhan. Sikapnya yang seperti itu, seolah-olah lawan bicaranya ada di depan mata.
"Kak Ray tahu dari mana nomer Isti?" tanyanya basa-basi.
"Dari Nisa. Kamu sudah sampai?"
"Udah. Ini lagi di kamar."
"Video ya?"
Isti tidak sempat menolak. Rayhan sudah mengalihkan ke panggilan video. Isti mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. Setelah berdehem, Isti pun memperlihatkan wajahnya yang merona pada Rayhan.
"Di rumah juga pakai jilbab?" tanya Rayhan dan diangguki Isti.
"Kan lagi telponan sama Kak Ray. Ada apa, Kak?"
"Oh iya. Nggak ada apa-apa. Pengen aja nelpon kamu."
"Hehe, Isti kira ada yang mau dibicarakan."
"Apa ya? Aku juga bingung. Kok pengen nelpon kamu."
Rayhan menatap lekat pada Isti yang salah tingkah. Namun begitu, sesekali tatapan mereka beradu.
"Isti, mau nggak jadi pacarku?" todong Rayhan.
Isti terperangah dan menatap Rayhan seakan tak percaya. Wajah Rayhan terlihat tampan dengan senyumnya yang menawan.
__ADS_1
"Kak Ray nembak Isti?" Sahabat Annisa itu balik bertanya.
"Iya. Kamu mau nggak jadi pacarku? Kamu beda sama anak cewek lain, dan aku suka itu," ujar Rayhan.
Isti tentu senang mendengarnya. Akan tetapi saat mengingat perkataan sang ayah, raut wajah Isti jadi muram.
"Kenapa? Aku ditolak ya?" tanya Rayhan pelan.
Isti dalam dilema. Di satu sisi ia tak ingin membangkang pada ayahnya, tapi di sisi lain Isti tak mau menyia-nyiakan kesempatan langka yang mungkin tidak akan datang dua kali.
"Kak Ray, sebenarnya Isti mau. Tapi ...."
"Tapi apa? Kalau mau ya jawab iya dong. Aku deg-degan nih nungguin jawaban kamu," ujar Rayhan yang membuat Isti semakin merona dan tersipu.
"Kalau backstreet gimana, Kak?" tanya Isti ragu-ragu.
"Backstreet? Mmm kamu yakin? Kenapa?" cecar Rayhan.
"Isti nggak dibolehin pacaran sama Abi," sahut Isti pelan.
"Oh, begitu." Nada suara Rayhan terdengar lesu.
"Tapi Isti suka sama Kak Ray." Imbuhnya cepat, lalu menunduk karena malu.
Rayhan menatap pucuk kepala Isti dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian Rayhan meminta Isti mengangkat wajahnya.
"Kita pacaran?" tanya Rayhan yang mengacungkan satu jari kelingkingnya.
Isti mengangguk cepat dan mengangkat kelingkingnya yang di tempelkan di layar ponsel. Keduanya saling menatap dan tersenyum lebar.
"Muka kamu merah banget, jadi pengen nyubit deh," goda Rayhan.
"Udah dulu ya. Setelah ini kamu mau ngapain?"
"Mau belajar, Kak. Mengulang lagi untuk besok."
"Oke deh. Selamat belajar, Sayang. Aku tutup ya, bye. Mmuach."
Rayhan langsung mematikan ponselnya. Membiarkan Isti yang terkesiap jadi salah tingkah.
"Aku sama Kak Ray sekarang pacaran? Yeeaah!" sorak Isti namun tak lama. Isti langsung menutup mulutnya saat menyadari bisa saja kedua orang tuanya mendengarnya.
Sementara itu di tempat lain ....
Rayhan merasakan dirinya jadi salah tingkah. Ingin berjingkrak, juga bersorak. Tapi ia tahan, dan akhirnya hanya menjatukan diri di tempat tidur sambil menatap ponsel yang tidak menyala.
"Demi apa, sekarang gue punya pacar. Oh My God! Ini bukan mimpi, kan?" gumamnya seakan tak percaya.
"Kak Ehan! Lagi ngapain sih? Turun dong! Ini pizza-nya bayar dulu."
Tanya Rayhan terjawab sudah. Pekikan Raydita menjawabnya. Ini nyata. Ia dan Isti sekarang menjalin hubungan meski harus disembunyikan.
Rayhan langsung terduduk dan menggerakkan kedua tangannya yang menyiku secara bergantian. "Yes! Yes! Yes!" ujarnya riang.
"Kak!" Pekikan Raydita terdengar lagi.
"Iya, bawel. Bayar dulu pakai duit Lo aja kenapa sih? Ntar juga gue ganti," gurutu Rayhan yang kini menuruni tangga sambil merogoh sakunya.
"Nisa mana?" tanya Rayhan.
__ADS_1
"Ke kamar. Tadi Isti nelpon."
"Oh ya? Gue ke depan dulu deh. Eh mana bill-nya?"
Raydita menyodorkan bill untuk dua box pizza yang mereka pesan. Rayhan mengmbilnya dan bergegas keluar rumah.
Malam ini, tiga bersaudara itu menikmati makan malam yang mereka pesan. Sesekali Rayhan menoleh pada Annisa.
Rayhan merasa heran karena Annisa bersikap biasa saja. Tak lama ia pun bertanya, "Isti ngomong sesuatu nggak, Nis?"
"Enggak, Kak. Memangnya kenapa?" Annisa balik bertanya.
"Ya kali, dia ke-GR-an seharian ini digoda terus sama Kakak. Coba kalau yang digodanya si Viola, langsung nempel," timpal Raydita di sela kunyahannya.
"Iya ih, Kak Ehan kok godain Isti sih? Memangnya beneran suka?" tanya Annisa.
"Rahasia," sahut Rayhan cuek sambil meneruskan makan malamnya. Kini Rayhan tahu, Isti memang ingin hubungan mereka dirahasiakan. Bahkan pada Annisa, Isti tidak mengatakannya.
Setelah makan malam, Annisa dan Raydita kembali k kamar masing-masing. Sedangkan Rayhan yang masih terduduk di sofa terlihat asik dengan ponselnya.
Jika Annisa saat ini sedang belajar, Raydita justru sedang menelepon Rianti. Setelah menceritakan kegiatan mereka hari ini, Raydita meminta izin pada Rianti untuk bertemu Rida besok sepulang sekolah.
Raydita menceritakan apa yang didengarnya dari Rika. Sepertinya Rianti sangat terkejut mendengar kabar itu.
"Besok diantar Mang Asep ya."
"Nggak usah, Ma. Dita mau sekalian sama Kak Agas pulang, Ma. Kata Tante Rika, dia sering ada di rumah."
"Dita. Belajar memanggilnya mama, Sayang. Atau kalau nggak 'ibu', seperti Annisa. Jadi nggak ketukar sama mama."
"Entahlah, Ma. Dita belum bisa," sahut Raydita pelan.
"Ya sudah nggak apa-apa. Mama senang, kamu sudah terpikir untuk dekat dengan Rida. Kedepannya, semoga kamu bisa memaafkan dia dan menerima dengan lapang dada. Sudah belajar belum?"
"Malas, Ma."
"Belajar dong. Kata papa, setelah kalian ujian kita akan liburan. Biasanya ada jeda, kan?"
"Beneran, Ma. Kemana?" Raydita langsung antusias.
"Terserah kalian. Nanti kita ambil keputusan suara terbanyak. Oke?"
"Luar negeri kan, Ma?"
"Iya."
"Asik."
"Makanya belajar dong, Dita. Barikan hasil terbaik dari usahamu."
"Siap, Ma."
"Besok, sebisa mungkin bersikaplah sopan ya. Kalau kamu ingin meminta penjelasan, dengarkan dulu sampai selesai," pesan Rianti.
"Iya, Ma," sahut Raydita pelan. Setelahnya, panggilan pun diakhiri.
Raydita menghela napasnya. Tak hanya bersiap untuk ujian sekolah, besok ia juga harus siap dengan ujian hidup yang sesungguhnya. Dimana tidak semua hal terjadi sesuai keinginannya.
_bersambung_
__ADS_1