Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
ruang ICU


__ADS_3

Happy reading ....


*


Lembut belainya masih terasa. Tutur katanya pun masih menggema dalam ingatan Raydita. Di tengah malam saat Rida meminta ditemani tidur, Raydita merasakan dadanya teramat sesak namun sebisa mungkin ia sembunyikan dibalik kedua mata yang terpejam.


'Sayang, Mama bukanlah wanita dengan masa lalu yang baik. Tapi izinkan Mama memberitahu bagaimana seharusnya menjadi seorang wanita yang baik. Meskipun hadir dari sebuah dosa, seorang anak tetaplah terlahir suci. Dosa Mama, biarlah Mama yang menanggungnya. Karena dosa orang tua itu tidak diwariskan pada anaknya. Dita ... jangan pernah lakukan apa yang pernah Mama lakukan, Nak. Jika nanti kamu dan Yuda, atau siapapun pria yang dengannya kamu merasa bahagia, menikahlah. Jangan sampai ada Raydita lain yang akan membuat Rida lain menyesal di sisa hidupnya. Mama menyayangimu. Mama ingin menemanimu hingga punya cucu. Tapi Mama sudah tidak sanggup lagi, Dita. Mama sudah lelah dengan semua ini ....'


Ingin rasanya Raydita meraung, atau sekedar menyela ucapan lirih mamanya. Tapi tidak. Seperti saat ini, Raydita yang saat itu tidur dalam posisi membelakangi Rida pun hanya bisa menekan kelopak mata dan mengatupkan bibirnya kuat-kuat.


"Sayang?" Yuda menoleh pada Raydita yang dirasa memeluknya sangat erat.


Perlahan Raydita membuka kelopak matanya dan menyadari bahwa saat ini mereka sedang berada di lampu merah.


Raydita tidak menjawab panggilan Yuda. Ia juga tidak perduli pada tatapan beberapa pengendara karena posisinya yang terlalu menempel pada Yuda. Raydita cukup lega, karena masih bisa menyembunyikan air matanya di balik kaca helm yang dikenakannya.


Motor yang dikemudikan Yuda kembali melaju. Raydita merasakan punggung tangannya diusap Yuda. Raydita menarik satu tangannya untuk mengusap sisa air mata. Setelahnya, ia kembali melingkarkan tangannya dan berharap segera tiba di tempat tujuan mereka.


"Non, satu jam yang lalu ibu tiba-tiba tidak sadarkan diri. Saya membawa ibu ke rumah sakit, dan menghubungi Nyonya Rianti. Maaf, baru memberitahu Non Dita. Sebenarnya, Nyonya Rianti meminta saya untuk tidak memberitahu dulu, tapi saya khawatir terjadi sesuatu dengan Bu Rida. Dan sekarang Bu Rida sedang di ruang ICU, Non."


Penjelasan perawat itu kembali menggema di benak Raydita. Memang, sejak kepergian Rika, Rianti seakan mengambil alih tanggung jawab terhadap Rida. Meskipun tidak maksimal, Rianti sering bertanya jadwal check-up untuk sekedar mengingatkan.


Tiba di depan rumah sakit, Yuda memarkirkan motornya. Raydita sepertinya sudah tidak sabar ingin segera masuk ke dalam.


Raydita turun dari motor dan melepas helm-nya.


"Gue duluan ya, Yud. Lo nyusul aja ke ruangan ICU," ujarnya.


"Oke," sahut Yuda.


Sekilas Yuda menatap nanar punggung Raydita. Kemudian ia merogoh ponsel untuk menelpon Raka. Setelahnya, Yuda bergegas menyusul Raydita.


Keluar dari lift, tatapan Raydita langsung tertuju pada Annisa yang sedang menelpon Ghaisan.


"Dit."


"Nis, bagaimana keadaan mamaku?" tanyanya.

__ADS_1


"Bu Rida ...."


Raydita tak menunggu Annisa menyelesaikan kalimatnya. Ia berlari menuju Rianti yang sedang menunggu di depan ruang ICU.


"Sayang." Rianti berdiri dari duduknya saat melihat Raydita.


"Sayang, tunggu dulu di sini," cegah Rianti sambil menahan lengan Raydita yang ingin membuka pintu ruangan ICU.


"Dita mau ketemu Mama, Ma," pinta Raydita manja.


"Sabar dulu, Sayang. Kita nunggu kabar dari dokter ya. Kita doakan yang terbaik untuk Rida," ujar Rianti sembari memeluk Raydita.


Raydita tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia menangis di pundak Rianti. Annisa dan Yuda datang mengahampiri. Mereka ikut merasakan kesedihan Raydita sambil mengusap punggung dan rambutnya.


Tak lama Dokter Edwin keluar dari ruangan itu. Mereka yang sudah menunggu pun segera menghampiri.


"Bagaimana, Dok?" tanya Rianti.


"Pasien ingin bertemu. Dua orang boleh masuk, tidak lebih," ujar Dokter itu pelan. Ekspresi wajahnya yang sendu seakan memberitahu bahwa keadaan Rida tidak baik-baik saja.


Rianti dan Raydita pun masuk ke ruangan itu. Setelah perawat memastikan mereka sudah siap dengan perlengkapan ruangan itu, keduanya dipersilakan mendekati ranjang pasien.


"Ma, ini Dita," bisik Raydita sembari menciumi wajah Rida. Susah payah ia menahan air mata yang sudah menggenang. Raydita mencium kening Rida cukup lama dengan kedua mata yang terpejam. Air mata pun meleleh di kedua ujung matanya.


"Dita," lirih Rida.


Raydita mengangkat wajahnya dan menghapus air mata. "Iya, Ma," sahutnya dengan senyum yang dipaksakan.


Rida menatap sendu Raydita yang justru membuat gadis itu ingin meraung. Rida melirik pada Rianti yang mengusap lengannya. Rianti mengangguk pelan seakan ingin mengatakan semua akan baik-baik saja. Ya, Rida tidak perlu mengkhawatirkan Raydita, karena Rianti akan selalu ada untuknya.


Rida menggerakkan jarinya, yang disambut genggaman Rianti.


"Kamu kuat, Rida. Tetaplah bertahan untuk Dita," ujar Rianti pelan.


Rida mencoba tersenyum tipis walau terlihat samar. "Raka," lirihnya kemudian sambil menggerakan matanya untuk menatap Raydita.


"Kak Raka?" Raydita menghapus air matanya.

__ADS_1


"Coba video call Raka, Dit," ujar Rianti.


"I-iya, Ma." Tangan Raydita terlihat gemetar saat mencoba menghubungi Raka. Perasaannya saat ini sulit untuk digambarkan.


"Halo, Dit. Bagaimana keadaan Mama? Tadi kata Yuda ...."


Raka langsung berhenti bicara saat kamera diarahkan pada Rida. Wajahnya berubah sendu saat bertatap mata dengan Rida.


"Ma. Maaf, Raka baru mau jalan pulang. Mama yang kuat ya, Raka nggak lama kok. Mudah-mudahan nggak macet," ujar Raka dengan suara berat. Bisa dipastikan di sana Raka sedang menahan air matanya agar tidak terlihat oleh Rida.


Rida menatap lekat pada Raka. Dibiarkannya Raydita mengusap air mata di kedua ujungnya.


Raydita mendekatkan wajahnya pada Rida. Raka menatap sendu dua wajah yang hampir serupa itu.


"Kak Raka hati-hati di perjalanan ya," pesan Raydita.


"Iya. Ma, Raka jalan dulu ya. I love you," ujarnya yang dibalas senyuman dan deraian air mata Rida.


Panggilan pun di akhiri. Perlahan, senyuman Rida mulai memudar. Sorot matanya semakin sayu, dan mulai menutup. Rianti yang merasa itu pertanda buruk, berjalan cepat mendekati Dokter Edwin yang sedang memperhatikan berkas pasien di salah satu sudut ruangan.


"Dok." Dokter Edwin menoleh dan langsung meletakkan berkas yang ia pegang. Dengan isyarat tangan, dokter itu meminta perawat yang ada di sana memanggil dokter lain.


Sementara itu, Raydita mulai panik melihat mata Rida yang tertutup. Lengkingan monitor pasien menambah kepanikan gadis itu.


"Ma. Ma! Mama bangun, Ma. Ma!" Raydita histeris dn menangis sambil memeluk Rida yang sudah tak bernyawa.


Rianti menarik Raydita ke dalam pelukannya untuk memberi kesempatan pada Dokter dan perawat mencoba usaha terakhir yang mungkin bisa dilakukan. Sayangnya, Rida benar-benar sudah tak ada. Ia pergi meninggalkan dunia dan juga Raydita.


"Kami turut berduka," ujar Dokter Edwin pelan.


Raungan Raydita yang terdengar ke luar membuat Annisa dan Yuda sontak menoleh. Keduanya pun masuk dan seketika merasa lemas melihat Raydita yang menangis sembari memanggil-manggil mamanya.


"Innalillahi wa innailairoji'un," lirih Annisa.


Tak ada yang bisa menahan air mata saat mendengar pilunya tangisan Raydita. Yuda bahkan tertunduk sangat dalam karena tak tega melihat kondisi Raydita.


"Selamat jalan, Tante," batinnya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2