
Happy reading ....
*
Rianti dan Annisa cukup kesulitan membujuk Raydita untuk pulang. Raydita ingin menemani Rida meskipun itu di luar ruangan. Barulah setelah dibujuk Adisurya, Raydita luluh dan mau pulang ke rumah mereka. Terlebih ada Raka yang kembali sore itu juga dari kota B setelah mengetahui kondisi Rida. Menjelang isya, Raka baru tiba di sana.
"Gue akan di sini. Lo istirahat ya," bujuk Raka.
"Tapi Dita juga ma-."
"Kita bisa gantian, Dit. Malam ini, gue. Lo bisa besok, kan?" ujar Raka.
"Lagian gue nggak sendiri. Mamanya Agas juga pastinya stand by di sini," imbuh Raka. Raydita pun menurut. Ia ikut pulang bersama Annisa dan Rianti.
***
Annisa menemani Raydita tidur di kamarnya. Ia terbangunkan oleh isakan tertahan Raydita. Raydita terperanjat saat Annisa memeluknya dari belakang. Raydita berbalik dan memeluk Annisa sambil terisak.
Mereka tidak menyadari, di luar ruangan Rianti berdiri mendengarkan. Wajahnya sendu dan sambil tertunduk ia kembali ke kamar.
"Mama dari mana?" tanya Adisurya yang sedang bersandar pada tempat tidur.
"Mas, kapan dokternya datang? Kasihan Dita. Dia pasti tidak bisa tidur memikirkan kondisi Rida," ujar Rianti sambil naik ke tempat tidur.
"Sabar dong, Ma. Malam ini baru take off. Mudah-mudahan besok malam sudah tiba. Menurut dokter kepala, kalau dokter itu tiba sesuai perkiraan, kemungkinan lusa pagi bisa dilakukan operasi," jelas Adisurya.
"Semoga saja ya, Mas. Mama nggak tega lihat Dita begitu," ujar Rianti pelan sambil menyandarkan kepalanya di pundak Adisurya.
Rika dan Raydita boleh sedikit merasa lega saat mengetahui Rida kemungkinan bisa diselamatkan. Selain penjemputan Dokter James, detak jantung Rida mulai stabil meskipun masih sangat lemah.
Keesokkan harinya ....
Sepulang sekolah, tidak hanya Annisa yang menemani Raydita ke rumah sakit. Yuda dan Isti juga ikut menemani meski mereka tidak diperkenankan masuk ke dalam. Ketiganya hanya bisa menguatkan Raydita yang akan kembali menemui mamanya setelah malam tadi.
__ADS_1
Raydita berdehem berkali-kali sebelum masuk ke dalam ruang ICU. Ia mencoba menguatkan diri agar tak menangis saat bicara pada Rida nanti. Raydita mulas masuk dan mengenakan pakaian khusus untuk mengunjungi pasien dalam ruangan itu. Setelah selesai, ia mulai melangkah mendekati tempat tidur.
Raydita menatap sendu pada Rida yang terbaring tak berdaya. Meski ia mencoba menahannya, air mata itu pun luruh juga. Raydita menutup mulutnya agar isakannya tidak terdengar Rida. Ia mendekat pada bagian kepala Rida dan mencium keningnya.
"Ma, tadi nilai ulangan Dita bagus lho. Mela sama Tasya sampai nggak percaya. Dikiranya Dita nyontek. Padahal Dita kan belajar ya, Ma. Mama juga tahu kok. Aah dasar mereka ... mama cepat sembuh ya, Dita kangen pancake buatan mama. Dita juga kangen tidur sama mama. Dita ...."
Raydita menjeda kalimatnya. Ia menengadahkan wajahnya agar air mata itu tidak terus meluncur bebas membasahi pipinya.
"Ehhem. Ma, Dita sekarang tinggal sama Mama Rianti. Mama jangan marah ya. Nanti, kalau mama udah sembuh kita tinggal bareng lagi di apartemen. Dita janji deh, mau belajar masak. Biar Dita nanti yang masakin buat mama. Mama harus sembuh, please ...." Ujarnya dengan suara gemetar.
Cukup lama Raydita di ruangan itu. Sampai Rika dan Edwin datang untuk pemeriksaan.
"Tante," lirih Raydita.
"Doakan yang terbaik, Dita. Dokter James baru saja take off. Semoga Rida diberi kekuatan agar bisa bertahan," ujar Rika pelan sambil merengkuh pundak Raydita.
"Aamiin. Dita keluar dulu ya, Tante. Permisi Om Dokter." Pamitnya. Edwin mengangguk kecil.
Raydita kembali pada teman-temannya. Mereka pun memutuskan untuk meningalkan tempat itu karena takut mengganggu.
Annisa menggeleng dan meminta Raydita menerima panggilan itu tanpa memberitahukan keberadaan dirinya pada Ghaisan. Meskipun Ghaisan berhasil membatalkan rencana pertunangannya dengan Angel, kenyataan bahwa Rika tidak menyukainya mengusik hati Annisa. Bahkan tadi pun Rika membuang muka saat melihat dirinya.
Annisa dan Ghaisan memutuskan untuk break. Meski awalnya Ghaisan menolak, Annisa bersikeras menjaga jarak dengan Ghaisan. Ia akan mengutamakan pendidikan. Meski terkadang, Annisa sangat merindukan Ghaisan.
Raydita dan Ghaisan bicara panjang lebar. Semalam, Ghaisan bahkan menemani Raka meski dalam panggilan telpon yang sangat panjang. Rika melarang Ghaisan pulang. Mengingat pemuda itu baru saja kembali dan jadwal praktikum yang sudah menanti di semester ini.
Sementara itu di rumah Raka ....
Raka baru saja bangun saat sang mama mengetuk pintu dan memintanya untuk makan siang.
"Kamu juga harus jaga kesehatan, Ka. Kalau kamu sampai sakit, mama nggak ngasih izin kamu ikut-ikutan ngurusin mamanya Dita," ujar Fany.
"Mmm jangan gitu dong, mama sayang. Raka nggak apa-apa kok."
__ADS_1
"Semalam baru aja datang kamu udah nungguin di rumah sakit. Tadi pulang langsung tidur. Kata mbak kamu belum sarapan. Nggak begitu sayang," protes Fany.
"Iya deh Raka bangun dan mau ke kamar mandi dulu. Mama jangan ngintip ya," kelakar Raka sambil beranjak menuruni tempat tidurnya.
Fany tersenyum tipis dan berkata, "Mama tunggu di bawah ya, Nak."
"Oke, Ma." Sahutnya sambil menutup pintu kamar mandi.
Fany sangat tahu, Raka mendamba sebuah keharmonisan keluarga. Satu hal sederhana yanh tidak bisa diwujudkannya. Meski ia sempat merasa cemburu dengan perhatian Raka pada Rida dan Raydita. Fany berusaha mengerti saat Raka menuturkan kondisi Rida padanya. Sekarang ia bisa merasa bangga dengan tingginya empati yanh diperlihatkan Raka. Selain itu, Raka juga bisa meyakinkannya bahwa Fany tetaplah yang utama dalam hidupnya.
***
Operasi yang dijalani Rida berhasil dilakukan. Kondisi Rida mulai stabil, namun belum juga sadarkan diri. Kemungkinan Rida mengalami koma. Namun begitu, masih ada harapan untuk sadar kembali. Para dokter pun intens mengawasi mengingat kondisi Rida yang cukup kompleks.
Raydita sudah mulai terbiasa dan bisa menerima dengan lapang dada. Begitu juga Rika yang bergantian dengan rekannya dalam menjaga Rida saat malam tiba.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa Rida sudah koma hampir satu bulan lamanya. Rika baru saja kembali dari rumah sakit. Ia bersiap untuk ke klinik.
Setibanya di klinik, Rika disapa rekan sesama dokter yang selama ini bekerja sama dengannya. Dokter itu merasa kasihan karena Rika sepertinya kurang istirahat dan memintanya untuk mengambil cuti bekerja.
Hari ini jadwal check up salah satu pasien prioritasnya. Rika berjanji setelah check up pasien itu selesai, ia akan kembali pulang dan beristirahat.
Setelah pasiennya pulang, Rika bersiap melepas jas putih yang biasa dikenakannya. Saat ia hendak beranjak dari kursi, terdengar ketukan di pintu ruangan tersebut.
"Maaf, Dok. Ada yang ingin bertemu, Anda," ujar seorang perawat.
"Siapa?" tanya Rika heran.
"Tante Rika," sapa seseorang dari balik pintu.
"Angel?" Rika mengerutkan keningnya sesaat dan mempersilakan dengan gerakan tangan.
Angel duduk dihadapan Rika yang menatapnya dengan tatapan tidak suka. Setelah pintu ditutup perawat, Angel berkata dengan mimik mengiba, "Tante tolong aku. Please ...."
__ADS_1
_bersambung_