Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
kejutan


__ADS_3

Happy reading ....


Siang mulai terik saat jam mata kuliah terakhir Annisa hari ini selesai. Dari kelas, Annisa melangkahkan kakinya menuju taman sambil sesekali menyapa dan membalas sapaan beberapa teman yang berpapasan dengannya.


Kening Annisa berkerut melihat kerumunan yang didominasi para mahasiswi di sekitar lapangan basket yang ada di sisi lain taman itu. Namun ia terlalu malas untuk mencari tahu ada apa di sana. Pesannya yang masih belum dibalas Ghaisan membuat Annisa merasa tak bersemangat.


Annisa mendaratkan bokongnya di kursi panjang yang ada di bawah sebuah pohon berdaun rindang. Gadis berparas ayu itu hanya bisa menatap nanar ponselnya yang tak memperlihatkan notifikasi satupun dari kekasihnya.


Ada apa dengan Ghaisan? Semarah itukah pada Annisa? Tidakkah Ghaisan mengerti bahwasanya marah tanpa alasan itu biasa dilakukan oleh para kaum hawa? Tidak bisakah ia memakluminya sekali saja? Toh tidak setiap hari Annisa seperti itu.


"Huft." Annisa membuang kasar napasnya. Dan di saat yang bersamaan ....


Dug.


Annisa terperanjat. Sebuah bola mengenai kursi yang sedang ia sandari, bahkan mungkin hampir mengenai kepalanya.


Annisa mulai kesal. Pikirnya, jarak lapangan basket ke tempatnya saat ini cukup jauh, dan lapangan itu juga dikelilingi penghalang yang lumayan tinggi. Jadi bagaimana bisa ada bola nyasar hingga hampir mengenai dirinya?


"Sorry, ya. Sengaja."


Annisa tertegun. Suara itu terdengar tak asing baginya.


"Ah nggak mungkin," batin Annisa yang langsung menoleh ke belakang.


"Kak Agas?" Annisa tersenyum lebar dengan kedua mata yang tiba-tiba saja terasa basah. Ia terpaku di kursi masih dengan tatapan tak percaya pada pria yang dilihatnya sedang berjalan menghampiri.


"Kamu nggak kangen ya sama aku? Kok malah bengong?" ucap Ghaisan sembari duduk di samping Annisa.


Tanpa diduga Annisa tiba-tiba saja memeluk Ghaisan, dan membenamkan wajahnya di ceruk leher kekasihnya tersebut.


Ghaisan tersenyum lebar. Tapi kemudian tersentak saat merasakan ceruknya basah.


"Sayang. Kamu nangis?" Ghaisan coba mengangkat wajah Annisa agar bisa menatapnya. Tapi Annisa menggeleng pelan sambil mengeratkan pelukan.


"Aku tuh ngasih kamu kejutan biar kamu senang. Tapi ternyata kamunya malah sedih. Gagal deh," gumam Ghaisan sembari mengusap rambut Annisa.


Annisa melonggarkan lingkaran tangannya. Sambil menunduk Annisa mengusap pipinya yang basah.


"Ciee! Ada yang temu kangen nih," goda seorang mahasiswi yang merupakan teman sekelas Annisa.


Annisa tentu merasa malu. Gadis itu semakin menundukkan kepalanya.


Menyadari hal itu, Ghaisan meminta kepada mereka yang ada di sana untuk meninggalkannya berdua dengan Annisa.


"Mereka sudah pergi, Sayang. Angkatlah wajahmu. Aku ingin melihatnya. Apa kau tidak tau betapa aku sangat merindukanmu?" tanya Ghaisan lembut.

__ADS_1


Ghaisan kembali dibuat terkejut karena Annisa memukul pelan dadanya sembari berucap, "Kak Agas jahat. Nisa telpon nggak diangkat. Di chat juga nggak dibalas. Nisa 'kan sedih, Kak. Nisa kira kakak nggak maafin Nisa."


Ghaisan tersenyum tipis. Ia tak menyangka Annisa akan berfikir demikian.


"Maaf, Sayang. Aku benar-benar sibuk. Aku mengisi shift temanku beberapa hari ini agar mendapat izin untuk cuti," jelas Ghaisan.


Annisa mengangkat wajahnya. Gurat kelelahan terlihat jelas di wajah tampan Ghaisan.


"Kak Agas kenapa memaksakan pulang sih? Nisa cuma mau Kak Agas menjawab telpon, dan membalas pesan Nisa, Kak. Nisa mau minta maaf karena marah-marah nggak jelas waktu itu. Maafin Nisa ya, Kak," sesal Annisa yang kembali menundukkan kepala.


"Sayang, aku pulang karena rindu sama kamu. Memangnya nggak boleh?"


"Ya boleh, Kak. Tapi 'kan-."


"Ssstt. Seneng nggak aku pulang?"


"Seneng laah, Kak. Seneng banget malahan," aku Annisa malu-malu.


"Kalau gitu peluk dong," pinta Ghaisan setengah menggoda.


"Ish, malu. Di sini banyak orang," tolak Annisa dengan wajah merona.


"CK. Barusan aja nggak malu," delik Ghaisan. "Aaww!" Ghaisan memekik pelan saat merasakan cubitan kecil di perutnya. Wajah Annisa yang memerah membuatnya merasa gemas.


Ghaisan mengulurkan tangannya dan Annisa langsung menyambut dengan senang hati.


"Memangnya Kak Agas dari jam berapa di sini?"


"Dari jam sepuluh, Sayang," sahut Ghaisan sembari mengacak lembut rambut Annisa.


"Baru dua jam. Gimana kalau harus nunggu sampai kuliah Nisa selesai?" gumam Annisa seraya melengoskan wajah.


"Itu beda lagi dong. Nanti dulu, yang lagi ditunggu kuliahnya selesai bukan kamu loh, tapi aku. Kita nikah setelah kuliahku selesai, Sayang. Kalau nunggu kamu selesai, waah bisa gawat."


"Gawat kenapa?" Annisa mengerutkan kening sambil menatap Ghaisan.


"Yaa ... gawat aja. Nggak enak solo karir. Enakan duet. Berdua gitu," sahut Ghaisan asal.


"Eh, maksudnya?"


"Ya berdua, Yang. Masa nggak ngerti sih. Misalnya makan berdua lebih nikmat, kan?"


Annisa mengangguk cepat.


"Nah, bobo berdua apalagi. Hehe," cengir Ghaisan.

__ADS_1


"Diih, menjurus ke sana ternyata. Nisa cubit lagi ya?"


"Eits. Jangan dong. Daripada nyubit, mendingan nyium. Ridho dan ikhlas Abang, Neng," seloroh Ghaisan sembari menyodorkan pipinya.


"Itu sih maunya Kak Agas," delik Annisa seraya mengulumkan senyum dan menjauhkan wajahnya dari Ghaisan.


"Kamu juga mau ya, kan?" godanya.


"Udah ah. Kita mau pulang ke mana nih?" tanya Annisa sambil membuka bagasi motornya untuk mengambil helm cadangan.


"Ke rumahku? Nanti malam baru ke rumahmu."


Annisa mengangguk. "Tapi Nisa cuma nganter ya. Habis itu pulang."


"Yaa, kok pulang? Temenin aku dong, Nisa," pinta Ghaisan sembari menerima helm yang diberikan Annisa.


"Kak Agas tuh butuh istirahat. Mendingan tidur," ucap Annisa yang kini sedang mengenakan helmnya.


"Aku memang mau tidur, Yang."


"Ya terus maksudnya nemenin tidur, gitu? Ish. Kak Agas sejak kapan sih pikirannya ngeres?" tanya Annisa dengan ujung mata yang disipitkan.


"Sejak kapan ya?" Ghaisan menggaruk tengkuknya lalu berkata, "Kayanya efek keseringan dengerin omongannya Rayhan sama Raka deh."


"Kok jadi nyalahin mereka?"


"Ya, gimana ya? Kadang omongan mereka itu kaya bisikan syaiton gitu, Yang. Hehe," cengir Ghaisan.


Annisa mendelik horor. Ghaisan terkekeh melihat Annisa bergidik sembari mulai duduk di motor.


"Jadi aku dibonceng nih?" tanyanya.


"Ya iya lah, Kak. Kakak 'kan capek." Annisa mulai menyalakan mesin motornya.


"Ayang memang paling pengertian deh. Peluk boleh ya?" goda Ghaisan sambil mulai duduk di belakang Annisa.


"Nggak boleh!"


"Ayang gitu," gerutu Ghaisan.


Annisa mengulumkan senyum melihat mimik wajah Ghaisan yang cemberut. Ia tentu tahu itu hanya pura-pura. Terbukti, Ghaisan tersenyum lebar saat menyadari Annisa sedang menatap dirinya di kaca spion motor.


Annisa mulai melajukan motornya dan meninggalkan area kampus. Raut wajah keduanya tak mampu menyembunyikan rasa bahagia yang tentu saja sangat kentara. Ghaisan bahkan tak bisa menahan diri untuk tidak melingkarkan kedua tangannya di pinggang Annisa. Meski tak memeluk erat, tapi cukup membuat jantung Annisa berdegup hebat.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2