
Happy reading ....
*
Lalu lintas di sekitar taman yang terletak di salah satu sudut ibukota selalu padat merayap oleh lalu lalang kendaraan dan orang-orang. Meski cuaca hari ini tidak terlalu terik, tapi anginnya berhembus cukup kencang menggoyangkan dedaunan.
Jejeran pohon dan keriangan anak-anak di area bermain menjadi pemandangan lumrah di setiap taman. Selain udaranya yang sejuk, keceriaan mereka terkadang menular pada siapapun yang melihatnya, termasuk Annisa.
Annisa tersenyum lebar bahkan terkekeh melihat tingkah anak-anak itu. Mereka mengingatkan Annisa pada Yuli dan teman-temannya di desa. Hanya saja ia dan teman-temannya mempunyai area bermain tersendiri. Entah itu di sungai, atau sawah kering, atau juga pohon jambu tetangga Yuli yang selalu menjadi tempat terasik untuk memanjat sambil makan jambu sekalipun itu masih mentah.
Saat ini pukul sepuluh, dan sudah hampir satu jam ia berada di tempat itu. Ia sengaja datang ke tempat itu untuk bertemu Ghaisan.
"Kak Agas mana sih? Tahu gini tadi ikut ibu aja nganterin Dita ke apartemen," gerutu Annisa.
Tadi Annisa memang nebeng pada mamanya yang mengantar Raydita. Setelah ini, ia berjanji akan menyusul dan diantar Ghaisan tentunya. Untuk sementara, Raydita akan tinggal bersama Rida di apartemen mereka.
Ponsel Annisa berdering. Annisa merogohnya dari dalam tas dan menautkan kedua alisnya saat melihat nama Ghaisan tertera di layar.
"Kok malah nelpon?" gumam Annisa heran. Namun tak ayal panggilan itu diterimanya juga.
"Halo, Kak! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Sayangku," sahut Ghaisan.
"Kamu sedang apa, Sayang? Maaf ya baru sempat nelpon. Oh iya, ikut ke apartemen Tante Rida nggak? Kalau kamu ikut, aku nyusul ke sana. Tadi Tante diantar supir sama mama. Aku lagi di rumah Raka sekarang," imbuh Ghaisan.
"Lho, kok Kak Agas di rumah Kak Raka sih? Bukannya dia yang minta aku datang ke sini?" batin Annisa heran.
"Yaaang ... sayang. Kok diam? Kamu lagi dimana sih? Kedengerannya rame," tanya Ghaisan di ujung ponselnya.
"Nisa lagi ... di taman." Sahutnya ragu.
" Di taman? Taman mana? Sama siapa di situ? Sharelock ya, Sayang. Aku ke sana."
"Sendirian. Di Taman JN," sahut Annisa pelan.
"Sendirian? Kok sendirian sih, Sayang?"
Annisa hendak menjawabnya, tapi ujung matanya menangkap sosok seseorang yang berjalan ke arahnya. "Bu Dokter?" batin Annisa setengah memekik.
Annisa teringat pada pesan chat yang diterimanya kemarin.
__ADS_1
'Annisa, besok kita ketemu di Taman JN jam sembilan.'
"Kak, Nisa pengen ke toilet dulu ya, kebelet nih. Assalamu'alaikum," tutup Annisa tanpa menunggu Ghaisan menjawab salamnya.
"Jadi Bu Dokter yang mengirimkan pesan itu," batin Annisa lagi.
Kini Annisa baru menyadari, bahasa pada pesan itu terlalu formal jika itu dikirim oleh Ghaisan yang terbiasa memanggilanya 'sayang'.
"Bu Dokter," sapa Annisa canggung sambil tersenyum kecut.
"Annisa, saya mau langsung pada pembicaraan kita. Tinggalkan Ghaisan. Saya tidak akan pernah setuju kamu ada hubungan dengan dia," tegas Rika.
"Tapi, Bu Dokter. Kami ...."
"Kamu nggak tahu kan, kalau Ghaisan punya pacar selain kamu. Dan mereka akan bertunangan sebelum Ghaisan berangkat ke New York. Bukan cuma itu, mereka juga akan tinggal satu rumah di sana," sambung Rika seakan sengaja tidak memberi kesempatan Annisa untuk bicara.
Rika berbicara dengan kedua tangan melipat di dada. Rika seakan ingin menunjukkan siapa dirinya pada Annisa yang wajahnya mulai memucat. Bagai tersambar petir, Annisa merasakan lututnya lemas seketika setelah mendengar ucapan Rika. Ghaisan akan bertunangan?
"Kamu dengar ya, Annisa. Ghaisan mungkin tidak tega mengatakan semua ini sama kamu. Dan sebagai ibunya, saya mengatakan ini karena tidak mau kamu semakin syok nantinya. Lebih baik kamu mengetahuinya sekarang dari pada nanti. Benar, kan? Jadi sebaiknya, akhiri hubungan kamu dengan Agas secepatnya." Rika menatap tajam pada Annisa, kemudian ia memutar badan dan berjalan menjauhi Annisa.
Annisa menjatuhkan bokongnya di kursi yang tadi ia duduki. Tanpa diminta, air matanya luruh begitu saja. Annisa terisak sambil menangkup wajah dengan kedua tangannya.
Satu-dua tetesan air mengenai kepalanya. Annisa beru tersadar ada hujan yang tiba-tiba tujun begitu saja. Hanya sekejap, hujan itu mungkin terbawa angin dan menjatuhkan airnya saat berada di atas taman tersebut. Saat Annisa hendak beranjak dari tempatnya, hujan itu sudah tak ada.
"Main lagi, Ma." Terdengar rengekan seorang anak yang ingin kembali ke area bermain. Annisa menatap kosong sambil terduduk lagi di tempat tadi.
'Yang, kalau ada yang bicara aneh dan nggak jelas, jangan langsung di ambil hati ya.' Annisa teringat pada ucapan Ghaisan ketika meneleponnya. Apakah ini yang dimaksudkan kekasihnya itu?
"Benarkah Kak Agas akan tunangan? Sama siapa? Apa Kak Agas punya pacar selama di sana?" rentetan tanya dalam benak Annisa membuat dadanya terasa sesak. Untuk menenangkan hatinya, Annisa menutup kedua matanya sambil menghela nafas panjang.
Annisa tersentak merasakan ada tangan yang tiba-tiba menghalangi penglihatannya yang baru terbuka. Annisa terkesiap mendengar bisikan lembut dari seseorang yang sangat dikenalnya. "Nungguin aku ya?"
"Kak Agas?" tanya Annisa lirih.
"Ya aku dong, Sayang. Memangnya kamu nungguin siapa? Barusan hujan, kan? Kok kamu masih di sini? Kamu basah, Sayang," ujar Ghaisan sambil mengusap baju Annisa yang terkena air hujan.
"Basah sedikit, Kak. Hujannya juga cuma sebentar. Nisa kan di bawah pohon, jadi nggak terlalu kena hujan," sahut Annisa datar.
"Tapi kan dingin, Sayang," ucap Ghaisan sambil melepas jaket yang dikenakannya.
Ghaisan berniat mengenakan jaket itu pada Annisa. Keningnya berkerut saat mendapat penolakan dari Annisa.
__ADS_1
Annisa menggeleng pelan sambil menjauhkan jaket yang akan dipakaikan Ghaisan dengan sebelah tangannya.
"Kenapa, Sayang? Aku nggak apa-apa kok nggak pakai jaket juga. Kan ada kamu nanti yang meluk dari belakang," selorohnya setengah menggoda.
"Kak Agas tahu nggak kenapa Nisa ada di sini?" tanya Annisa dengan suara yang mulai terdengar berat.
"Enggak. Memangnya kamu ngapain di sini?" Ghaisan balik bertanya dengan tatapan yang heran. Ada apa ini? mengapa Annisa terlihat seperti akan menangis?
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ghaisan sembari menggerakkan tangannya yang akan mengusap pipi Annisa. Tapi lagi-lagi Annisa menepisnya.
"Kak, apa benar Kak Agas akan tunangan?" tanya Annisa dengan air mata yang menetes di pipinya.
"Siapa yang bilang itu, Sayang?"
"Bu Dokter, Kak," sahut Annisa sambil kembali menepis tangan Ghaisan yang hendak mengusap air matanya.
"Mama? Kapan kamu ketemu mama?" Ghaisan menatap bingung pada Annisa yang sedang membuka sandi ponselnya.
"Nisa kesini karena ini, Kak. Karena kakak minta ketemu, makanya Nisa ke sini. Tapi ternyata ...," Annisa terisak dan mengusap wajahnya berulang-ulang.
Annisa membiarkan ponselnya diambil Ghaisan yang langsung membaca pesan chat-nya. Ghaisan merogoh ponselnya dan melihat apakah pesan yang sama ada pada riwayat chat-nya. Tapi berkali-kali ia memastikan, pesan itu tidak ada.
Angin berhembus semakin kencang. Taman itu mulai ditinggalkan pengunjung lain. Ghaisan yang menyadari kemungkinan akan turun hujan lagi pun mengajak Annisa meninggalkan taman itu.
"Sayang, kita bicara di tempat lain ya. Di sini anginnya gede, mau hujan lagi kayanya. Yuk, kita cari makanan yang hangat. Aku nggak mau kamu sakit," pinta Ghaisan lembut.
"Kakak lagi pura-pura care ya sama Nisa? Padahal sebenarnya kakak mau ninggalin Nisa, kan?" tanya Annisa dengan suara berat dan sorot mata yang mencoba menatap lekat pada Ghaisan.
"Itu nggak benar. Aku akan jelaskan, Nisa. Tapi jangan di sini. Ayo, Sayang," pinta Ghaisan.
"Nisa nggak mau, Kak. Kak Agas cuma ingin menyakiti Nisa pelan-pelan. Kalau memang benar Kak Agas mau tunagan, kita putus," ujar Annisa dengan suara bergetar.
"Apa? Kamu ngomong apa sih? Jangan pernah ngucapin kata itu, Nisa. Aku nggak akan pernah mau," tegas Ghaisan.
"Terus Kak Agas maunya apa? Mau tetap pacaran sama Nisa dan tunangan sama perempua lain, begitu? Kakak mau baik-baikin Nisa, padahal kakak tinggal satu atap sama tunangan kakak di sana. Kak Agas egois! Kak Agas tega ya ngelakuin ini sama Nisa. Salah Nisa apa, Kak? Nisa, mmpt."
Nisa tak mampu meneruskan kalimatnya. Ghaisan dengan gerakan cepat membungkam mulut Annisa dengan bibirnya.
Annisa tersentak dengan kedua mata yang terbelalak. Di saat yang bersamaan, hujan mengguyur taman. Hujan itu seakan ingin memadamkan api kemarahan yang sedang membakar hati Annisa.
_bersambung_
__ADS_1