Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
temu kangen


__ADS_3

Happy reading ....


*


Sebelumya ....


Annisa tidak sengaja mendengar percakapan Raydita dan Raka di telepon yang membicarakan kedatangan Ghaisan. Awalnya Annisa hendak menghibur Raydita yang tidak diacuhkan Rianti. Tapi saat mendengar nama Ghaisan disebut, ia menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar Raydita. Annisa pun kembali ke kursi di ruang keluarga karena tak ingin mengganggu percakapan Raydita dan Raka.


Adisurya melihat kesedihan di mata putrinya. Ia pun menghampiri dan mendesak Annisa mengatakan apa yang mengganggu pikirannya.


"Kalau kamu mau menemui Agas, ayah bersedia mengantar," tawar Adisurya.


Annisa terlihat ragu, meskipun dalam hati ia sangat mau. Adisurya yang mengerti akan hal itu merengkuh pundak Annisa dan mengecup kepalanya.


"Temui saja, Sayang. Agas pasti sangat membutuhkan dukungan kamu di saat seperti ini," saran Adisurya.


"Ayah nggak marah sama Kak Agas?" tanya Annisa pelan sambil menatap sendu pada wajah Adisurya.


"Kenapa ayah harus marah sama Agas? Dia nggak salah apa-apa," sahut Adisurya.


"Ayah beneran mau nganter Nisa ke rumah Kak Agas?" tanya Annisa ingin lebih meyakinkan.


"Iya dong, masa bohong. Ayo, sana! Ambil jaket dulu," titah Adisurya sambil menatap gemas pada wajah Annisa yang merona.


Diperjalanan menuju rumah Rika, Heru menelepon dan memberitahukan perkembangan kasus pencemaran nama baik itu. Adisurya sesaat menoleh pada Annisa yang sedang menatap ke luar jendela. Adisurya pun berinisiatif menemui Heru dan meninggalkan Annisa di rumah Rika.


"Sayang, setengah jam lagi ayah jemput ya. Jangan kemana-mana! Tunggu ayah datang," pesan Adisurya saat menurunkan Annisa di depan rumah Rika.


"Iya, Yah," angguk Annisa.


"Masuk, Nak. Sepertinya mau hujan lagi," ujar Adisurya. Kebetulan security yang memang sudah mengenali wajah Annisa sedang membukakan pintu rumah itu. Dan saat ini ....


Aroma maskulin tercium dari jaket yang dikenakan Ghaisan. Aromanya masih sama, dan sudah lama dirindukan Annisa. Annisa mengeratkan tautan tangannya, untuk sesaat ia ingin menyalurkan kerinduan melalui pelukan.


Sedangkan Ghaisan menundukkan kepala untuk meredam degup jantungnya sambil menatap tautan tangan Annisa. Ingin rasanya ia berbalik dan membalas pelukan Annisa. Bahkan Ghaisan sangat ingin menatap kedua manik Annisa yang selalu dirindukannya.


"Kak Agas masih marah sama Nisa?"


Deg. Ghaisan tidak menyangka Annisa punya pemikiran seperti itu.


"Maafkan Nisa, Kak," imbuhnya pelan.


Ghaisan memberanikan diri melonggarkan tautan tangan di pinggangnya. Ghaisan berbalik dan menatap Annisa yang juga sedang menatapnya.

__ADS_1


"Aku nggak mungkin marah sama kamu, Sayang," ujarnya. Ghaisan tak bisa lagi menahan keinginannya menangkup wajah Annisa dan mengusap pipinya dengan ibu jari.


Annisa tersenyum dan kembali mengeratkan pelukannya. Ghaisan mencium kening Annisa bertubi-tubi dan membalas pelukan Annisa dengan senyuman yang lebar.


Untuk beberapa menit, mereka berpelukan tanpa mengucapkan apa-apa. Lingkaran tangan yang semakin erat, cukup untuk menunjukan kerinduan yang teramat besar pada keduanya.


"Sudah makan?" tanya Ghaisan. Annisa mengangguk pelan.


"Mau duduk?" tanya Ghaisan lagi.


Annisa kembali mengangguk dan melepaskan pelukannya. Namun tidak dengan tangannya yang digenggam erat oleh Ghaisan.


Keduanya berjalan menuju ruang keluarga sambil bergandengan tangan. Ghaisan yang tak melepaskan tatapannya, membuat Annisa jadi salah tingkah. Ghaisan menarik tangan Annisa agar melingkar di pinggangnya. Satu tangannya menarik pinggang Annisa. Saat Ghaisan hendak mencium pipinya, Annisa menggoda dengan menjauhkan wajahnya ke samping. Alhasil, bibir Ghaisan mendarat di leher Annisa.


Annisa terkekeh pelan merasakan geli karena Ghaisan justru mendusel di lehernya. "Udah, Kak. Geli ih," kekehnya.


"Buat tanda merah ya?" tanya Ghaisan menggoda.


"Enggak!" tolak Annisa sambil menjauhkan wajah Ghaisan yang bersiap kembali mencium dengan tangannya.


Ghaisan tertawa pelan sambil terus menggoda Annisa hingga tiba di sofa. ART (asisten rumah tangga) yang ada di sekitar ruangan itu sampai melengoskan wajah dan berlalu ke dapur tapi Ghaisan memanggilnya.


"Mbak, buatkan coklat hangat dua ya," pintanya.


"Iya, Den," sahut ART itu.


"Dari kantor polisi," sahut Ghaisan sambil mengambil remot tv. Sebelum Ghaisan mendudukkan bokongnya di samping Annisa, ia menyempatkan mencium kilat bibir gadis itu.


"Ish," desis Annisa sambil menepuk pundak Ghaisan.


"Bagaimana keadaan Bu Dokter?" tanya Annisa kemudian.


"Baik," sahut Ghaisan sambil menoleh pada Annisa dan bersiap mengarahkan bibirnya kembali, namun urung karena Annisa yang menyadari gelagatnya mencubit gemas pinggang Ghaisan.


"Mmuach, i love you," ucap Ghaisan sambil menggerakkan bibir seakan sedang mencium Annisa.


Annisa tersenyum tipis sambil menatap lekat wajah Ghaisan. Wajah itu terlihat sangat lelah.


"Kak Agas belum istirahat ya," tanya Annisa pelan sambil mengusap bagian samping wajah Ghaisan dengan punggung jarinya.


"Belum sempat, Sayang."


"Nisa ganggu dong?"

__ADS_1


"Enggak lah. Justru aku senang kamu datang." Ghaisan mengangkat kakinya kebagian kursi yang kosong. Annisa tak kuasa menolak saat Ghaisan merebahkan diri dengan posisi kepala di pangkuannya.


"Aku kangen banget, Yang. Udah lama ya kita nggak ada kontak sama sekali?" tanya Ghaisan sambil memijit tombol 'power' pada remot tv.


"Baru juga beberapa hari," sahut Annisa enteng.


"Masa sih? Kok aku ngerasanya udah bertahun-tahun," seloroh Ghaisan.


"Hmm lebay," gumam Annisa sambil mencubit pipi Ghaisan. Annisa langsung tertunduk malu saat menyadari ART yang membawakan dua mug cokelat panas memergoki aksinya.


"Terima kasih," ujar Annisa pelan.


"Sama-sama, Non. Saya permisi," pamitnya. Annisa mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.


"Yang, kepalaku pijitin dong," pinta Ghaisan.


Tanpa menunggu diminta dua kali, Annisa sudah menggerakkan jemarinya di kepala Ghaisan.


"Enaknya ...," gumam Ghaisan.


Annisa memijit gemas hidung Ghaisan dan menoleh pada televisi yang sedang menyiarkan breaking news.


'Pemirsa, saat ini saya sedang berada di kantor kepolisian untuk mengetahui perkembangan kasus aborsi yang dilakukan Dokter R terhadap pasiennya yang berinisial AD. Beredar kabar adanya pencabutan tuntutan terhadap Dokter R yang justru berimbas pada ditetapkannya korban AD menjadi tersangka. Alasan dibalik pencabutan berkas tuntutan ini cukup menarik, Pemirsa. Karena AD mengakui, bahwa dirinyalah yang telah meminta Dokter R menggugurkan kandungannya. Tentu saja pihak kepolisian akan mendalami kasus ini. Mengingat AD masih dalam pantauan dokter dan untuk memastikan tidak adanya tekanan atau ancaman dari pihak tersangka terhadap saudari AD. Bagaimana perkembangan selanjutnya? Kami akan kembali mengabarkan satu jam dari sekarang.'


"Untung aja waktu aku di sana nggak di'todong' wartawan," ujar Ghaisan pelan.


"Semoga cepat selesai ya, Kak," ujar Annisa. Ia tidak ingin terlalu membahas kasus yang dialami Rika.


Ghaisan membuang kasar nafasnya, lalu berkata, "Tetap saja, mama harus mempertanggung jawabkan perbuatannya."


"Berapa lama itu, Kak?"


"Mungkin 10 tahun," ujar Ghaisan. "Aku harap kali ini mama benar-benar menyadari kesalahannya. Walaupun sebenarnya aku nggak tega melihat mama seperti itu," sambungnya.


"Sabar ya, Kak. Mudah-mudahan Bu Dokter kuat dan diberi kesehatan selama di sana."


"Aamiin. Sayang, boleh aku meminta maaf atas nama mama?" tanya Ghaisan sambil meraih tangan Annisa yang sedang memijit kepalanya.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Annisa heran.


"Kesalahan mama di masa lalu, juga di masa sekarang. Aku sudah tahu semuanya, Sayang. Awalnya aku bertanya pada Dita hanya karena ingin mengetahui alasan kamu yang ngajak kita break. Tapi nggak nyangka, Dita menceritakan semuanya. Aku malu sama kamu, Nisa. Tapi cintaku lebih besar dari rasa maluku itu. Dan aku nggak bisa berpisah dengan kamu, Sayang. Nggak bisa," tutur Ghaisan sambil menatap lekat wajah Annisa.


"Nisa sudah melupakan permasalahan di masa lalu, Kak. Memang takdir Nisa harus seperti itu. Ya walaupun sejujurnya, Nisa tidak mengerti alasan dari ketidak sukaan Bu Dokter terhadap Nisa di masa sekarang ini. Nisa juga nggak sanggup pisah sama Kak Agas. Selama ini kita bisa bertahan meskipun jarak memisahkan. Tapi kalau pisah dalam artian harus memutuskan hubungan dan melupakan Kak Agas, Nisa juga nggak bisa," ujar Nisa yang juga menatap lekat pada Ghaisan.

__ADS_1


Kedua pasang mata itu saling menatap penuh cinta. Ghaisan menggerakan tangannya pada tengkuk Annisa. Ghaisan menekan tengkuk Annisa bersamaan dengan kepalanya yang terangkat untuk mempertemukan bibir mereka.


_bersambung_


__ADS_2