Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
balap liar - part 1


__ADS_3

Happy reading ....


Heningnya malam, tak lantas membuat Annisa merasa tenang. Baru saja ia merasa bahagia, namun seketika rasa itu sirna.


Kamar barunya memang indah, namun apa artinya jika membuat hati Annisa gelisah. Ia tak bisa menutup mata, apalagi telinga, mengetahui ketidaksukaan Raydita atas apa yang didapatkannya. Terlebih Rayhan juga sepertinya tak menyukai kehadirannya.


"Nisa harus bagaimana, Bu?" Lirihnya.


Annisa teringat pada Rayhan yang menginap. Setahunya jika menginap, biasanya akan mengobrol sampai larut malam. Maka Annisa pun berinisiatif mengirimkan pesan pada Rayhan.


Nisa : [Kak Ehan ... Kakak marah ya sama Nisa? Maaf ya, Kak.]


Annisa termenung menunggu notifikasi pesan masuk sebagai jawaban dari Rayhan, namun yang ditunggu tidak datang juga.


"Apa mungkin Kak Ehan sudah tidur?" Gumamnya.


Baru saja Annisa akan meletakkan ponselnya di atas nakas, ponsel itu berbunyi.


"Kak Ehan menelepon? Aduh, gimana ini? Apa dia akan memarahiku?" gumam Annisa bingung sambil menyandarkan punggungnya.


Nisa : "Assalamu'alaikum, Kak."


Rayhan : "Wa'alaikumsalam. Ada apa, Sayang? Kamu kangen ya?"


Annisa terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka Rayhan akan bertanya seperti itu.


Nisa : "Bukan begitu, Kak. Nisa hanya mau meminta maaf sudah membuat kakak tidak nyaman. Karena Nisa, kakak jadi menginap di rumah Kak Raka."


Terdengar gelak tawa di ujung ponsel Annisa.


Rayhan : "Emang Lo pikir, Lo itu siapa, hah? Lagian siapa bilang gue nginep di rumah Raka gara-gara elo. Itu cuma alibi. Lo ngerti alibi nggak? Gue nginep di si Raka, karena mau nge-drag. Jadi nggak usah ke-GRan ya."


Nisa : "Drugs? Kak Ehan, jangan, Kak. Nanti masa depan kakak bisa hancur. Drugs itu bisa merusak pikiran, Kak."


Rayhan : "Lo ngomong apaan sih? Drag, woy drag. Bukan drugs."


Nisa : "Oh, beda ya, Kak?"


Annisa tersenyum kecut sembari menggigit bibirnya sendiri.


Rayhan : "OMG, Lo b*go banget sih. Nge-drag itu ngetrek, Sayangku. Balapan liar, tapi nanti jam satu malam. Nunggu orang-orang pada tidur. Jadi Lo jangan mimpiin gue ya. Nggak akan ketemu, gue belum tidur."


Nisa : "Balapan liar? Jangan Kak Ehan, itu bahaya."

__ADS_1


Rayhan : "Bodo amat, siapa elo ngelarang-ngelarang gue? Udah ah, bye."


Nisa : "Kak Ehan."


Rayhan : "Apa lagi sih? Lo Rese juga ya."


Nisa : "Hati-hati. Kakak balapan di mana?"


Rayhan terdiam, ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak mendengar ucapan Annisa yang mengkhawatirkannya.


Rayhan : "Di jalan RH. Lebih baik Lo tidur. Udah malam, bye."


Rayhan menutup panggilannya. Putra Adisurya itu masih terdiam, tidak menyadari tatapan aneh kedua sahabatnya. Saat ia hendak meminta rokok yang disesap Agas, barulah ia tahu, kedua sahabatnya itu menatap aneh padanya.


"Kalian kenapa?"


"Lo itu yang kenapa?" Raka balik bertanya.


"Lo suka ya Ray, sama Nisa?" tanya Ghaisan.


"Enggak. Siapa bilang?"


"Lo sadar nggak sih, kalau Lo itu aneh," ujar Raka.


"Baru sedetik Lo bilang sayang sama si Nisa, eh sedetik kemudian Lo bilang dia b*go, rese. Terus Lo bilang sayangku, kan aneh."


"Nggak tahu ah, gue juga bingung. Hari ini, gue lihat mama berubah. Yang tadinya nggak suka banget, jadi care banget sama Nisa. Gue juga gimana ya? Gue kesel tapi ya gitu. Nggak bisa marah yang gimanaaa gitu sama dia. Kadang ada perasaan kasihan, kadang ada perasaan pengen jagain dia, kadang juga kesel kalau lihat mukanya yang lugu itu. Apa gue juga udah kena peletnya dia?"


"Pelet, haha. Ada-ada aja Lo, Ray. Muka lugu kok ngeselin, bukannya bagus tuh kalau mukanya si Nisa lugu."


"Entahlah. Gue takut aja kalau ada yang manfaatin muka lugunya itu. Untung temenannya sama si Yuda sama si Bu Haji. Setidaknya mereka orang baik."


Raka dan Ghaisan semakin dibuat melongo mendengar ucapan Rayhan. Mereka saling menatap bingung satu sama lainnya.


Sementara itu di kamarnya. Annisa semakin merasa gelisah. Ia sering melihat berita tentang balapan liar yang di lakukan remaja seusia Rayhan di tv. Bahkan ada yang sampai kejar-kejaran dengan aparat kepolisian yang berpatroli.


"Bagaimana kalau ada apa-apa dengan Kak Ehan?" Gumamnya.


"Apa sebaiknya aku beritahu ayah?" Imbuhnya lagi.


"Ah tidak. Ayah pasti akan sangat khawatir. Sebaiknya aku menelepon Pak Heru." Gumamnya bermonolog.


***

__ADS_1


Pukul 00.15 WIB, alarm di ponsel Raka berbunyi berkali-kali. Raka mengerjap dan memaksakan kedua matanya untuk terbuka. Raka langsung tersentak dan cepat-cepat membangunkan kedua sahabatnya.


"Ray, bangun!" Rayhan menggeliat dengan malas.


"Apa sih, Ka? Lo ganggu tidur gue aja," ujar Rayhan sembari menarik bantal untuk dipeluk.


"Jadi nggak kita nge-drag? Udah mau setengah satu nih." Mendengar ucapan Raka, Rayhan sontak terbangun.


Raka turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Ghaisan yang tertidur di sofa. Seperti halnya Rayhan, Agas juga terlihat sangat malas dan sangat mengantuk. Namun kemudian memaksakan diri untuk terbangun.


Setelah mencuci wajah, mereka mengenakan jaket. Rayhan menyalakan sebatang rokok dan menyesapnya.


Dengan langkah sangat pelan, ketiga remaja itu keluar dari rumah tanpa ada halangan berarti, karena Fany-mama Raka, sudah terbuai mimpi. Mereka menuju garasi dan mengeluarkan motor masing-masing.


Suara bising motor ketiganya membuat penjaga terbangun dan menghampiri mereka.


"Maaf, Den Raka. Kalau Nyonya bertanya, saya harus jawab apa?"


"Bilang aja, kita mau nongkrong sama teman." Sahutnya.


Ghaisan dan Raka sudah mendahului dan menunggu di luar gerbang. Raka pun menyusul dan ketiganya berlalu dari rumah itu.


Baru saja penjaga itu akan menutup pintu gerbang, suara klakson sebuah mobil membuatnya kembali membukanya.


"Pak, itu Raka sama siapa?"


"Sama teman-temannya, Tuan."


"Mau kemana?"


"Katanya mau nongkrong."


"Nongkrong, jam segini?" Gumamnya.


"Tutup aja pintunya, Pak. Saya mau susul mereka."


"Baik, Tuan."


Sandy memutar kembali kemudinya. Pria itu baru pulang dari sebuah club malam. Keningnya berkerut, lalu tak lama ada seringaian di wajah Sandy.


"Sepertinya mereka akan bergabung dengan anak motor di jalan yang kulewati tadi. Heh, jadi mereka akan ikut balapan liar? Putra Adisurya pastinya ada bersama Raka. Ini kesempatan bagus untuk mengagetkan Adisurya besok pagi."


Sandy pun menghubungi seseorang. Setelah itu, dengan senyum miring di wajahnya, Sandy memutar kemudi menuju jalan yang tadi dilewati.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2