
Happy reading ....
*
Pesona malam ini sangat memanjakan mata. Bulan yang bulat sempurna dengan bintang-bintang bertebaran menghiasi gulita.
Deru kendaraan di kejauhan tak lantas mengurangi dinginnya malam. Bahkan rokok yang sengaja dinyalakan pun tak mampu menghangatkan malam seorang Ghaisan.
Ghaisan membiarkan angin malam menyapu wajahnya dan membuat daun telinganya seakan membeku, begitu juga dengan ujung hidungnya. Saat ini, ia sedang bersandar pada dinding luar gerbang kediaman Adisurya.
Ghaisan menghisap kuat rokok yang berada diantara dua jarinya. Berharap apa yang menyesakkan dadanya ikut terbawa kepulan asap dan menghilang begitu saja di udara.
Sesekali ia menoleh pada rumah besar yang berada di belakangnya. Di dalam sana, ada seorang gadis cantik yang menjadi belahan jiwanya. Ghaisan tertunduk sangat dalam, seakan ingin meredam rasa yang tak menentu di hatinya.
Tadi, setibanya di rumah, Ghaisan dikejutkan dengan penyambutan sederhana ala sang mama. Makan malam dengan menu kesukaan Ghaisan, juga banyak menu lainnya yang jarang terhidang di meja. Tidak hanya ada mama dan juga tantenya, di rumahnya juga ada salah satu teman Rika lengkap dengan suami dan putri mereka. Meski tidak mengenal secara pribadi, Ghaisan tahu putri teman mamanya itu adalah Angel, siswi yang pernah jadi incaran Raka, sahabatnya.
Awalnya Ghaisan mengira makan malam itu ditujukan untuk keluarga teman Rika. Demi menghargai tamu, Ghaisan yang sebenarnya enggan pun akhirnya ikut makan juga.
Betapa terkejutnya Ghaisan, ketika di tengah perbincangan mereka, ibu Angel dan Rika membahas tentang pertunangan yang katanya akan digelar akhir pekan. Dan yang paling tidak masuk akal, Angel akan ikut bersamanya saat kembali ke New York dan menetap di kediamannya.
Ini keputusan tergila yang bahkan tidak ada dalam bayangan Ghaisan. Terjadi perdebatan panjang antara Ghaisan dan ibunya sepulangnya para tamu dari rumah mereka. Namun, Ghaisan berada dalam dilema setiap kali sang mama memperlihatkan kesedihan di wajahnya. Berbagai alasan diungkapkan Rika hanya untuk mengikat sang putra.
"Agas sudah punya pacar, Ma. Agas serius sama dia." Ucapnya ditengah perdebatan mereka.
"Tapi mama ingin kamu menikahi Angel, Sayang. Papanya Angel itu teman dekat papa kamu. Mama masih ingat betul, dulu papa selalau bilang, 'calon mantuku' setiap kali bertemu Angel waktu masih tugas di kota J. Kamu ingat nggak? Anak perempuan yang suka ngintilin kamu waktu itu, ya Angel. Please, Sayang. Mama cuma punya kamu. Mama berharap banyak dari kamu. Apa itu salah?"
"Tapi, Ma. Ini masalahnya hati. Agas nggak bisa."
Ghaisan merasa dilema yang luar biasa. Raut wajah mamanya terlihat amat sedih dan sejujurnya ia merasa bersalah sekaligus tak tega.
"Agas bicarakan dulu sama Angel ya, Ma. Bisa aja kan, Angel juga punya pacar seperti Ghaisan?" Ghaisan mencoba berkilah.
Ghaisan cukup percaya diri. Pasalnya, menurut Raka, Angel menyukai lelaki lain hinga tak bisa menerima ajakan Raka untuk pacaran saat itu.
Ghaisan kembali menoleh pada bagian depan rumah keluarga Adisurya. Ia bertekad mempertahankan cinta dan kebahagiannya bersama sang kekasih yang sedang terlelap di salah satu kamar di dalam sana.
__ADS_1
***
*Sepasang kekasih berjalan dalam kesunyian dengan langkah pelan. Si wanita bergelayut manja di lengan prianya dan mereka tampak bahagia. Sesekali tatapan mereka beradu, dari tatapan itu tersirat cinta yang teramat sangat pada keduanya.
Tiba-tiba ada tangan yang menarik paksa si wanita. Tangan itu menjauhkannya dari sang pria. Dalam usahanya kembali menggapai cintanya, seorang wanita menggandeng pria itu dan membawanya berlalu.
Sang pria berjalan sambil menoleh pada kekasihnya. Sorot matanya yang sendu mewakili hatinya yang pilu. Terus seperti itu, hingga sosoknya menghilang di kegelapan.*
Annisa terhenyak dari tidurnya. Dalam mimpi itu, ia merasa sedih hingga tanpa sadar ada air mata yang menetes.
"Astagfirullah. Kenapa aku mimpiin Kak Agas seperti itu ya?" gumamnya sambil mengusap cairan di ujung matanya. Tak lama kemudian, terdengar azan subuh berkumandang. Annisa pun segera beranjak turun dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi.
Selesai salat, Annisa membuka jendela kamar. Ada rasa berbeda dalam hatinya yang sulit diartikan. Annisa berbalik untuk mengambil ponselnya. Sambil duduk di tepi tempat tidur, ia pun menelepon Ghaisan.
"Kok nggak aktif? Apa lagi di cas?" gumam Annisa.
"Ah, sudahlah. Mungkin aku berlebihan. Ini pasti karena mimpi tadi," imbuh Annisa sambil meletakkan ponselnya.
Annisa hendak berdiri saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Wajah cantik Isti terlihat pada panggilan ponselnya. Annisa pun mengangkatnya sambil kembali berbaring di tempat tidur.
"Wa'alaikumsalam."
Annisa mengernyit heran mendengar suara Isti yang parau.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Annisa.
"Nisa," ucap Isti lirih dan kemudian terisak. Annisa terkejut dan langsung menanyakan apa yang terjadi.
Annisa tertegun mendengar penuturan Isti yang sangat pelan. Sejujurnya, ia membenarkan sikap ayah Isti. Akan tetapi, tidak mungkin juga bila ia harus menyudutkan Isti dengan cara menasehatinya. Karena Isti sendiri sudah menyadari letak kesalahannya.
"Jangan bilang sama Kak Ray ya. Aku nggak mau dia merasa bersalah. Aku cerita begini karena cuma kamu yang bisa aku ajak bicara." Ujarnya pelan.
"Oke. InsyaAllah ya. Terus gimana selanjutnya? Kamu akan pindah? Jangan dong, Isti."
"Aku nggak tahu, Nis. Aku juga nggak mau pindah. Mungkin aku bakalan putus sama Kak Ray."
__ADS_1
"Nggak ada pilihan lain sih ya. Bingung juga," ujar Annisa.
"Aku mundur pelan-pelan aja, Nis. Menghindar, sampai Kak Ray bosan sendiri."
Annisa bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya. Tapi Annisa juga tidak tega jika Rayhan tidak diberi kepastian.
"Isti, apa nggak sebaiknya dibicarakan dengan Kak Ehan? Biar jelas. Kalau putus ya putus. Jangan digantung Kak Ehan-nya," usul Annisa.
"Aku nggak mau putus sama Kak Ray, Nis."
Annisa menggaruk kepalanya yang memang gatal. Kalau seperti ini, ia bingung harus memberi saran apa.
"Ya terserah kamu deh. Gimana baiknya aja. Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya. Tapi jujur, aku setuju dengan abi kamu. Maaf ya, Isti. Aku tidak bermaksud menyudutkan kamu. Karena mungkin aku sendiri juga belum tentu bisa menjauhi hal seperti itu. Karena emang sih, kalau lagi sama pacar, setannya banyak, hehe."
"Iya, Nis. Aku mengerti. Justru aku mau bilang terima kasih. Aku semakin yakin dengan keputusanku. Umi pernah bilang, teman yang baik, adalah yang bisa mengingatkan kita pada kebaikan. Bukan teman yang mendukung kesalahan kita hanya karena ingin disebut setia kawan. Terima kasih ya, Nis. Tolong jangan beri aku kabar apapun tentang Kak Ray. Karena aku nggak mau menyesali keputusanku dan memuat abi kecewa lagi. Udah dulu ya."
"Tapi kamu nggak jadi pindah, kan?" tanya Annisa.
"Enggak kayanya. Tanggung setahun lagi."
"Syukur deh. Kita masih sahabat, kan?"
"Iya dong, pasti."
"Oke. Tenangin diri kamu ya. Kalau Kak Ehan memang jodoh kamu, pasti dipersatukan lagi di saat yang tepat. Tapi kalau bukan, akan ada jodoh terbaik untuk kamu nanti. Jangan sedih ya. Yakin aja, semua akan indah pada waktunya," hibur Annisa.
"Iya, Nis. Udah ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullah," pungkas Annisa.
Annisa merenungi apa yang baru saja di dengarnya dari Isti. Apakah mimpinya itu merupakan isyarat untuk hubungan Isti dan Rayhan?
"Tapi dalam mimpiku, ada cewek lain deh. Dan jelas-jelas itu Kak Agas. Aaah, apaan sih? Itu kan cuma mimpi," ujar Annisa bermonolog sambil menggaruk tengkuk lehernya.
Annisa pun berlalu keluar dari kamarnya untuk menikmati suasana pagi sambil membantu Bi Susi menyiram tanaman.
__ADS_1
_bersambung_