
Happy reading ....
Annisa terkekeh melihat Ayah Adi yang kesulitan membuatkannya makan malam. Pria itu menolak saat Annisa menawarkan diri untuk membantunya.
Tanpa mereka sadari, ada tangan yang terkepal di ruang makan rumah utama. Dialah Rianti, yang merasa geram melihat kedekatan Adisurya dengan Annisa.
Rianti kembali ke kamarnya dengan hati yang kesal. Tadi, ia terbangun dan terkejut manyadari suaminya tidak ada di kamar. Tapi apa ini, Adisurya sedang memasak? Sepanjang ia mengenal Adisurya, tidak pernah sekalipun pria itu memasak untuk dirinya. Tapi pada Annisa, mengapa sikap Adisurya berbeda?
"Apa benar dugaanku, Mas Adi selingkuh? Apa mungkin Annisa itu anak Mas Adi dengan j*lang selingkuhannya? Tapi, ah aku tidak percaya Mas Adi bisa berbuat begitu. Bisa jadi dia tergoda. Namanya juga laki-laki. Mungkin Mas Adi pernah khilaf atau semacamnya. Aargh, menyebalkan. Wanita seperti apa yang bisa membuat Mas Adi berpaling dariku." Rianti bermonolog sambil menggeram.
Membayangkan Adisurya pernah mengkhianatinya sudah sangat membuatnya terluka. Ditambah lagi anak selingkuhan itu ada di rumahnya.
"Kamu lihat saja nanti, Mas. Jangan harap aku bisa berbuat baik pada anak itu. Jika perlu, aku akan membuat Nisa mendapatkan hukuman atas apa yang sudah ibunya lakukan." Geramnya.
Sementara itu di dapur, Adisurya menatap Annisa yang sedang mengunyah nasi goreng buatannya. Sesekali Annisa memberinya senyuman kikuk membuat benak Adisurya penuh tanya.
"Enak nggak?" Annisa mengangguk pelan.
"Coba, ayah minta." Ujarnya sambil membuka mulutnya.
Annisa nampak ragu menyuapkan nasi goreng itu ke mulut Ayah Adi. Saat Adisurya mulai mengunyah raut wajahnya seketika berubah.
"Ini nggak enak, Sayang." Ujarnya sambil menuju ke wastafel dan membuang makanan dalam mulutnya.
"Ini enak kok, Yah. Hanya saja sepertinya ayah lupa memberi garam," sahut Annisa.
"Oh, iya. Kok ayah bisa lupa ya? Ayah grogi masaknya dilihatin anak ayah yang cantik," kilah Adisurya. Annisa hanya tersipu.
"Terus, mau digimanain dong? Bagaimana kalau kita delivery order aja, hmmm?"
"Nggak usah, Yah. Tinggal dikasih garam. Mumpung masih anget," sahut Annisa yang beranjak mengambil garam lalu menaburkannya di atas piring.
"Kamu yakin?" Annisa mengangguk. Setelah mengaduk-aduk, ia pun mencobanya.
"Hmm, enak. Coba deh, Yah."
Kali ini, Adisurya mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum. Ternyata sejuput garam bisa membuat nasi gorengnya yang hambar menjadi layak makan. Mereka pun menikmati sepiring nasi goreng itu sambil berbincang.
"Bagaimana hari pertamamu di sekolah, Nak?"
Ada rasa berbeda setiap kali Ayah Adi memanggilnya 'nak'. Annisa tidak menyangka ternyata dirinya memang anak Ayah Adi.
"Dia putriku ... dia putri Adisurya."
Annisa tidak tahu apakah ia harus bahagia atau sebaliknya dengan kenyataan itu. Yang pasti, saat ini ingin sekali ia berkeluh kesah pada almarhumah ibunya.
"Hey, kok melamun? Ayah boleh tahu tadi kamu bermimpi apa?" tanya Adisurya sambil mengusap punggung tangan Annisa yang berada di atas meja.
__ADS_1
"Nisa sudah lupa, Yah." Sahutnya pelan.
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Hari pertamamu sekolah," sahut Ayah Adi mengulang pertanyaan.
"Oh, itu. Senang, Yah. Nisa punya teman baru, namanya Isti ada juga Yuda."
Dengan raut wajah antusias Ayah Adi mendengarkan cerita Annisa. Gadis itu bahkan menceritakan tentang Rayhan dan teman-temannya yang ternyata idola di sana. Namun ia melewatkan bagaimana sikap Dita padanya. Annisa juga tidak menceritakan tentang dirinya yang ditinggalkan saat pulang sekolah.
"Kamu tidur ya. Besok jangan kesiangan. Besok ke sekolah diantar sama Mang Asep. Pagi sekali Ayah harus ke luar kota."
"Ayah mau ke luar kota?"
"Iya. Ada pekerjaan yang harus ayah urus. Sebentar kok, cuma dua hari."
Annisa mengangguk pelan dan berucap, "Hati-hati ya, Yah."
"Iya, Sayang. Kalau ayah pulang mau dibawakan apa?"
Annisa menggeleng. "Nisa mau ayah." Ucapnya sambil tersenyum tipis.
Adisurya terkesiap mendengarnya. Digenggamnya tangan Annisa dan dikecup berkali-kali. Semakin sakit hatinya bila mengingat masa lalu yang tidak seharusnya terjadi.
"Dari mana, Mas?"
"Astagfirullah. Kamu membuatku hampir jantungan." Ujarnya sambil mengusap dada.
"Kenapa? Mas seperti maling yang tertangkap basah saja," delik Rianti.
"Hush, kalau bicara itu dijaga."
"Terus, Mas kenapa kaget begitu? Memangnya dari mana barusan?"
"Aku mengambil minuman dingin di bawah. Tumben kamu bangun?"
Heh, sudah berani berbohong. Decihnya dalam hati.
"Kebetulan saja. Barusan dari kamar mandi." Dustanya.
"Oh, ya sudah. Tidur lagi ya."
Adisurya mengecup kening Rianti dan mengusap surainya. Ditatapnya wajah wanita yang teramat dicintainya itu. Wanita yang membuatnya mampu berbuat dosa dengan menjauhkan Annisa dari kasih sayang mereka.
***
__ADS_1
Setelah mengantar suaminya sampai pintu gerbang, Rianti kembali ke dalam dan memanggil Annisa. Tanpa ragu, Rianti meminta Annisa mencuci kamar mandi di kamarnya.
Pagi yang cerah, nyatanya tak secerah hari Annisa. Pagi-pagi sekali ia sudah disuguhi omelan Rianti yang memperhatikannya dari ambang pintu kamar mandi.
"Kamu itu jangan ngelunjak. Kemarin, masih sore sudah tidur. Nggak ada bantu-bantunya sama sekali. Jangan mentang-mentang suami saya menyayangi kamu, lalu kamu jadi tidak tahu diri. Nggak ada yang gratis di dunia ini. Dengar itu!" Omelnya.
"Iya, Bu," sahut Annisa pelan sambil terus menyikat lantai kamar mandi.
"Panggil saya 'nyonya'. Saya bukan ibu kamu," decih Rianti kemudian berlalu.
"Yang bersih. Awas kalau masih licin," imbuh Rianti lagi.
Annisa mengangguk pelan. Sekilas ia menatap nanar nyonya itu. Hatinya bergetar saat mengingat ucapan Ayah Adi pada Dokter Rika.
"Biarkan Rianti tahu Annisa itu bayi yang dulu dilahirkannya."
Bu ... panggil Annisa dalam hatinya.
Annisa sontak menunduk, saat Rianti menoleh kepadanya. Ia mempercepat gerakan tangannya yang sedang menyikat untuk mengalihkan hatinya berdebar kencang.
Terdengar pintu yang diketuk. Tak lama, Annisa melihat Bi Susi dari kamar mandi yang dibiarkan terbuka itu.
"Ada apa, Bi? Ehan sama Dita sudah bangun?"
"Sudah, Nyonya."
"Lalu?" Rianti melihat gelagat Bi Susi yang tak biasa. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan ART-nya tersebut.
"Itu, Nya ... e, Neng Nisa sebentar lagi harus berangkat ke sekolah." Ujarnya gugup.
"Heh, maksud Bibi apa? Jangan bilang kalau sekarang Bibi sudah berani mendikte saya harus apa dan bagaimana," ucap Rianti ketus.
"Tidak, Nya. Saya tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja kasihan Neng Nisa kalau sampai kesiangan."
Brakk.
Tidak hanya Bi Susi yang terperanjat. Bahkan Annisa sampai tersentak oleh suara dari meja rias yang di gebrak Rianti.
"Dia itu cuma pembantu. Masih saja dipanggil Neng ... Neng ... Neng. Panggil namanya saja. Paham, Bi? Sekarang Bibi kembali ke dapur. Pagi-pagi sudah membuat saya darah tinggi." Gerutunya.
Bi Susi mau tak mau meninggalkan kamar majikannya. Sekilas ia melihat pada Annisa yang sedang berusaha menyelesaikan pekerjaannya.
Awalnya ia ingin menawarkan diri menggantikan Annisa. Terlebih, kamar mandi itu baru kemarin ia bersihkan.
"Nggak usah cepat-cepat. Nanti malah nggak bersih. Itu cerminnya juga harus di lap. Bathtub-nya keringkan." Cecarnya.
"I-iya, Nya ...."
__ADS_1
_bersambung_