
Happy reading ....
🌿
Lembayung senja yang nampak di langit sore ini menambah hangat suasana rumah Adisurya. Di halaman depan, Rayhan sedang bermain basket dengan Papanya. Sedangkan di teras, Annisa sedang melakukan panggilan video dengan dua sahabatnya.
Dari obrolanya, Annisa nampak sudah sangat rindu ingin sekolah. Namun saat Isti bertanya apakah besok ia akan ke sekolah, Annisa tidak tahu harus menjawab apa.
Rianti datang bersama Bi Susi yang membawa camilan berupa kue tradisional untuk mereka. Pada Rianti, Annisa bertanya: "Bu, besok Nisa boleh ke sekolah?"
Rianti menoleh pada suaminya yang juga menoleh pada mereka. Adisurya mengangguk kecil sambil tersenyum. Melihat hal itu, Annisa sangat senang. Annisa segara memberitahukannya pada Isti dan Yuda.
Annisa merasa ada yang kurang meski kebahagian mereka terlihat nyata. Tidak adanya Raydita di tengah-tengah mereka menjadi pemandangan yang tak biasa.
"Bu. Bagaimana keadaan, Dita?" tanya Annisa.
"Dia baik-baik saja," sahut Rianti datar. Baru saja Annisa akan bertanya lebih jauh, sebuah mobil yang berhenti di depan rumah mengalihkan perhatian mereka.
"Siapa, Mang?" tanya Adisurya pada Mang Asep.
"Bu Rida, Tuan." Sahutnya.
Adisurya menoleh pada Rianti, tapi istrinya itu nampak tak acuh. Adisurya pun mau tak mau , menghampiri Rida.
"Kak Adi," ucap Rida canggung.
"Mau bertemu Dita, Rid?" tanya Adisurya mencoba ramah.
"Iya, Kak. Itu juga kalau boleh." Sahutnya.
"Boleh dong. Ayo, masuk!"
"Terima kasih, Kak."
Adisurya mempersilakan Rida masuk ke rumahnya. Saat melewati Rianti dan Annisa, Rida menyapa tapi tidak diacukan. Hanya Annisa yang mengangguk sambil tersenyum.
Annisa merasa ada yang berbeda dengan sikap ibunya. Dalam hati Annisa bertanya, "Apa ibu sudah mengetahui yang sebenarnya? Tentang Dita yang ...."
"Bi! Tolong antarkan Bu Rida ke kamar Dita ya," pinta Adisurya yang memanggil Bi Susi.
"Iya, Tuan. Mari, silahkan Bu."
__ADS_1
Adisurya mempersilakan dengan isyarat tangan. Rida mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Sementara itu di kamar Raydita, mendengar nama Rida di sebut Papa Adi, ia langsung berlari ke pintu dan mengunci pintu itu dari dalam. Raydita merasa sedih, karena bukannya sang Mama yang datang ke kamar, tapi justru Rida-wanita yang tidak diharapkan kehadirannya.
Tok ... tok ... tok. "Non, ada tamu," ujar Bi Susi.
"Biar saya saja, Bi. Terima kasih," ucap Rida.
Bi Susi mengangguk kecil dan berpamitan ke dapur pada Rida. Sepeninggal Bi Susi, Rida mengetuk pintu dan memanggil nama Raydita.
"Dit, Dita. Ini, Tante." Ujarnya.
"Tante? Heh, setelah kebenaran yang diakuinya, dia bahkan tidak meng-ibukan diri," gumam Raydita dalam hati.
"Dita, Sayang ...." Rida mencoba memutar gagang pintu, membuat Raydita yang berdiri di belakang pintu itu terkejut. Raydita mengusap dada lega karena menyadari pintu itu memang terkunci.
"Rida, pintunya nggak dibuka?" tanya Adisurya dari lantai bawah.
"Dikunci, Kak." Sahutnya.
Mendengar suara papanya, Raydita ketar-ketir. "Please, Pa. Jangan biarkan dia masuk. Dita nggak mau," harap Raydita dalam hati. Namun gadis itu harus kecewa, karena tak lama terdengar suara Papa Adi memanggilnya.
"Mungkin sedang tidur, Kak," ujar Rida.
Ceklek. Raydita membuka pintu dengan wajah yang tertunduk.
"Kamu lagi ngapain sih? Dari tadi dipanggil kok diam aja. Ada yang mau jenguk kamu, pintunya malah dikunci," tegur Adisurya datar nyaris tanpa ekspresi.
"Tadi Dita di kamar mandi, Pa." Sahutnya berdusta.
"Oh, ya sudah. Masuk aja, Rid. Aku ke bawah lagi ya," ujar Adisurya.
"Terima kasih, Kak. Maaf sudah merepotkan," ucap Rida kikuk.
"Nggak apa-apa." Adisurya hendak berbalik, namun tangannya ditahan Raydita yang memberi tatapan mengiba.
"Kamu kenapa? Di suruh masuk dong," ujar Adisurya.
"P-papa temani Dita ya."
"Ditemani? Hehe, kamu ada-ada saja," ucap Adisurya sambil melepaskan tangan Raydita yang sempat menahannya. Tanpa menoleh lagi, Adisurya melangkah menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Meninggalkan Raydita yang salah tingkah di depan Rida.
__ADS_1
Sementara itu, Annisa ke dapur dan mengambil alih nampan berisi minuman yang akan dibawa Bi Susi ke kamar Raydita. Annisa tidak mau jika siapapun selain anggota keluarganya mengetahui kebenaran tentang Raydita. Cukup ia saja yang pernah merasakan sakitnya disudutkan.
Raydita masuk ke dalam kamar tanpa menghiraukan tamunya. Tanpa diminta, Rida mengikuti langkah Raydita dan berdiri memperhatikan kamar yang terlihat sangat nyaman dengan dekorasi ala remaja perempuan.
"Kamu suka warna pastel ya?" tanya Rida pelan sambil memperhatikan warna kamar yang didominasi warna peach dan putih.
"Mau ngapain kesini?" tanya Raydita ketus, tanpa berniat menjawab pertanyaan Rida.
"Mau menjenguk kamu, Sayang. Sebentar ya, tadi Ta-tante bawain kamu boneka. Tapi karena takut nggak diijinkan masuk, jadi masih di dalam mobil." Langkah Rida yang hendak berbalik terhenti mendengar ucapan Raydita.
"Nggak usah sok perhatian deh. Tante nggak lihat, aku punya segalanya. Jadi nggak usah repot-repot, dan sebaiknya tante pulang aja."
"Tante-."
"Aku harap kita nggak akan pernah ketemu lagi, dimanapun." Tegasnya.
"Tapi, Sayang ...."
"Apa? Tante kesini ada maksud, kan? Apa tante mau bilang kalau Tante itu mama kandung aku? Mama yang sudah mengandung dan melahirkan aku? Sekalian aja bilang, kalau tante juga tidak mengharapkan kehadiranku. Tapi nggak apa-apa juga sih, setidaknya Tuhan kasih aku Mama dan Papa yang sempurna. Meski aku terlahir dari seorang j*lang, dunia tetap akan mengenalku sebagai Raydita Adisurya," ujar Raydita kesal dengan raut wajah mengejek.
Rida terperanjat mendengar ucapan Raydita. J*lang ... sehina itukah dirinya di mata Raydita?
Rida tertunduk menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas menahan air mata. Ia meremas jemarinya yang tiba-tiba terasa dingin. Rida merasa malu sekaligus pilu. Jangankan diberi kesempatan untuk mengucap kata rindu, putrinya itu justru tak ingin bertemu.
"Kenapa masih di sini? Tante masih belum ngerti juga, hah?"
"Dita, sekali aja, sebelum tante pergi. Tante ingin memeluk kamu. Boleh ya?" pinta Rida dengan wajah mengiba.
"Oh My God." Raydita terlihat jengah dengan ekspresi Rida yang memohon belas kasihan.
"Bisa nggak sih Tante pergi aja gitu? Selama 15 tahun ini Tante nggak pernah ingin meluk aku. Terus kenapa sekarang tiba-tiba ingin meluk? Jangan bilang Tante merasa bersalah karena sudah memberi aku seorang bapak baj*ngan. Aku nggak perduli. Kalian mungkin pasangan yang serasi, j*lang ketemu b*jingan. Tapi maaf ya, sampai kapanpun aku adalah Raydita Adisurya." Tegasnya dengan tatapan yang nyalang.
Rida menatap wajah Raydita dengan mata yang bergetar. Air matanya berderai tanpa bisa ditahan lagi.
"Tega sekali kamu bicara seperti itu sama mama, Dita." Isaknya.
"Mama? Ciih. Seorang j*lang tidak akan pernah menjadi mamaku." Decihnya.
"Dita!" bentak seseorang dari ambang pintu.
Raydita dan Rida menoleh bersamaan. Rida pun berlalu dari kamar itu sambil mengusap air matanya dengan kepala yang tertunduk.
__ADS_1
_bersambung_