Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
S2-maskeran


__ADS_3

Happy reading ....


*


Hembusan angin yang menerpa lembut surai Rianti tak membuat si empunya merasa terganggu. Wanita cantik itu nampaknya sedang tenggelam dalam lamunannya sendiri.


Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa kini putranya-Rayhan sudah harus meninggalkan rumah.


Akhir pekan ini, Rayhan akan berangka ke London. London Business School jadi pilihan Rayhan untuk mengenyam pendidikan selanjutnya. Rianti mendukung sepenuhnya, akan tetapi sebagai ibu, ia belum terbiasa jauh dari putra kesayangannya.


Tok ... tok ... tok. "Ma!"


Rianti menoleh ke arah pintu balkon sambil menjawab, "Masuk, Dit."


Raydita masuk ke kamar Rianti dan langsung berjalan menuju balkon. Wajahnya terlihat segar dengan rambutnya yang masih basah.


"Baru selesai mandi?"


"Hehe, iya." Raydita mendudukan bokongnya di kursi dekat Rianti.


"Sudah sarapan?"


"Udah. Ma, sebentar lagi Dita mau nemenin Tante Rida kemo ya."


Rianti mengangguk sambil tersenyum tipis. "Bagaimana perkembangannya?"


"Dita kurang paham, Ma," sahut Raydita pelan sambil menundukkan kepala.


Rianti mengusap punggung Raydita. Ia mengerti bagaimana perasaan Raydita saat ini.


Metode kombinasi yang dijalani Rida membuatnya terlihat cukup mengkhawatirkan. Beberapa bulan ini Rida menjalani kemoterapi yang dikombinasikan dengan terapi radiasi. Selain terlihat kurus dan lemas, Rida juga sudah kehilangan rambut indahnya karena rontok. Hal itu akibat obat kemoterapi berdosis cukup tinggi mengingat kanker yang dideritanya sudah stadium lanjut.


"Ma, boleh nggak malam ini Dita menginap di rumah Tante Rika?" tanya Raydita.


"Boleh dong, Sayang," sahut Rianti lembut.


"Terima kasih, Ma."


"Oh iya, Agas kapan berangkat ke Amerika? Mama lupa belum tanya sama Agas waktu kemarin dia ke sini," ujar Rianti.


"Dengar-dengar sih besok," sahut Raydita.


"Lebih dulu dari Rayhan berarti ya. Kalau Raka gimana? Hehe anak itu, dia selalu paling lucu."

__ADS_1


Raydita menyunggingkan senyum tipis. Meski ia sudah mengerti posisi Raka, tetap saja ada rasa canggung diantara mereka.


"Kak Raka kuliah di Bandung. Katanya mau ngambil jurusan arsitektur," sahut Raydita kikuk.


"Kenapa nggak di sini aja?"


"Katanya sih pengen jauh dikit dari mamanya. Kak Raka nggak mau ke luar negeri karena akan jarang pulang, tapi juga nggak mau di sini karena pengen ngerasain ngekost. Aneh emang, ya mungkin nggak luar negeri, luar kota pun jadi," sahut Raydita datar.


Rianti menatap haru pada Raydita. Banyak yang berubah dari diri putrinya itu. Rianti melemparkan tatapanya ke sembarang arah. Tidak hanya Raydita, Rayhan dan kedua temannya juga membuatnya berdecak kagum dengan perubahan mereka.


Jika Rayhan akan mengambil jurusan ekonomi dan bisnis di kampusnya nanti, Raka jurusan arsitektur, maka Ghaisan dapat dipastikan mengambil jurusan kedokteran. Selain lahir dari orang tua yang berprofesi sebagai dokter, Ghaisan juga sudah memperlihatkan ketertarikannya pada bidang tersebut.


Di sisi lain dari rumah itu, Annisa juga sedang tenggelam dalam lamunannya. Rencana keberangkatan Ghaisan yang tinggal menghitung jam membuat Annisa merasa berat untuk berpisah.


Annisa membuang kasar nafasnya. Bersamaan dengan deringan ponselnya di atas nakas.


"Kak Agas?" gumam Annisa yang tersenyum senang.


"Assalamu'alaikum." Sapanya riang.


"Wa'alaikumsalam, Sayang," sahut Ghaisan di ujung ponsel Annisa.


Cukup mendengar kata 'sayang', Annisa sudah merasa senang. Walaupun kata itu sering didengar dari kedua orang tuanya, namun terasa berbeda saat Ghaisan yang mengucapkannya.


"Lagi nelpon sambil ngebayangin wajah kamu. Video call ya?"


"Enngak ah," sahut Annisa pelan.


"Kenapa, Sayang?"


Annisa terdiam. Ia tidak ingin Ghaisan melihat kesedihan di wajanya dan membuatnya berat untuk meninggalkan Annisa.


"Nisa lagi di masker, malu. Kan nggak boleh sambil ngomong juga." Dustanya.


Annisa cepat beranjak turun dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju meja rias dan terduduk di sana. Annisa menyambar tube masker instan miliknya. Melihat panggilan dialihkan ke video, cepat-cepat ia mengeluarkan isinya dan mengoleskan ke wajah.


Annisa sudah dapat menduganya. Ghaisan memang agak keras kepala. Walaupun Annisa menolak panggilan video, tetap saja Ghaisan akan mengalihkannya.


Setelah berdehem pelan, Annisa menerima panggilan itu.


"Kak Agas apaan sih? Dibilangin Nisa lagi maskeran," gerutu Annisa.


"Oh My God! Kaget aku, Yang." Ghaisan kemudian terkekeh pelan melihat Annisa mengerucutkan bibirnya karena kesal.

__ADS_1


"Aku baru tahu kamu suka maskeran. Tapi kok jadi jelek ya? Bukannya kalau pakai masker muka jadi fresh? Kamu kok abu-abu begitu mukanya? Wah, kamu nggak cocok maskeran, Yang." Kelakarnya.


"Ish, Kak Agas. Ini kan belum di basuh. Wajarlah warnanya abu-abu, namanya juga arang."


Ghaisan terbahak melihat delikan mata Annisa yang nampak lucu dengan wajahnya berwarna abu.


"Charcoal, Sayang. Jangan arang banget dong. Kesannya gimana gitu," protes Ghaisan.


"Cuci, Yang. Aku kan pengen lihat muka kamu yang cantik. Lagian juga ngapain maskeran segala sih? Kamu itu nggak cuci muka juga cantik," seloroh Ghaisan kemudian.


"Iya cantik, tapi bau. Bau jigong. Nggak mempan ngerayu Nisa, Kak."


Lagi-lagi Ghaisan tergelak. "Masa sih? Itu mukanya kok merah begitu?" godanya.


"Mana merah? Ini kan abu-abu. Idih, jangan-jangan Kak Agas buta warna?" cengir Annisa.


"Enak aja. Eh kalau lagi maskeran jangan nyengir lho, tuh lihat ada kerutannya."


"Iya juga ya. Kak Agas kok tahu? Nah loh suka maskeran juga ya?" todong Annisa.


"Nggak lah. Tapi kalau kamu yang maskerin, aku mau. Kapan-kapan ya, Yang. Maskernya jangan yang begitu, kan ada yang langsung ditempelin. Lebih praktis itu, Yang. Kalau mau digituin, pakainya bahan alami, telur dicampur madu," tutur Ghaisan.


"Siap, Pak Dokter. Ini sih jadinya Nisa yang dimaskerin sama Kak Agas, hehe."


"Dibilangin jangan nyengir. Udah sana cuci muka ah. Nggak usah maskeran lagi. Nanti kalau kamu perawatan muka, makin kinclong, yang ada aku makin nggak tenang kuliah di sana. Udah nggak apa-apa jelek juga. Toh kamu udah punya aku," tegas Ghaisan yang membuat Annisa diam-diam terharu mendengarnya.


"Kalau Nisa jelek, yang ada Kak Agas selingkuh," delik Annisa sambil berjalan ke kamar mandi.


"Enggak dong, Sayang. Paling juga selingkuhku sama stetoskop. Ya mau gimana lagi, maaf ya. Jangan cemburu," seloroh Ghaisan.


Annisa berusaha menahan senyuman. Ia tak mau mendengar ocehan Ghaisan tentang wajahnya yang maskeran.


"Udah dulu ya, Kak."


"Kok udahan? Aku kan mau ikut ke kamar mandi," ujar Ghaisan dengan nada menggoda.


"Yee, bintitan nanti matanya. Udah ah." Ghaisan terkekeh lagi.


Annisa merasa senang melihat sikap Ghaisan yang seperti itu. Kekasihnya itu pasti sangat senang bisa masuk universitas impian.


"Yang ... Nisa, besok ikut ke bandara ya sama Ray. Aku ingin lihat kamu sebelum check-in. Please," pinta Ghaisan lirih.


"Tapi kan ada Bu Dokter, Kak." Annisa menundukkan kepalanya. Tentu saja ia sangat ingin mengantar kepergian Ghaisan, tapi ia juga tak bisa membohongi hatinya yang mengetahui bahwa Rika tidak terlalu suka padanya, meski ibu dari Ghaisan itu belum tahu perihal hubungan mereka.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2