Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
pergi kemping


__ADS_3

Happy reading...


🌿


Kebersamaan itu tak berlangsung lama. Nisa berpamitan karena ingin ke kamar mandi.


Walau sesaat, sudah cukup membuat Adisurya bahagia. Pria paruh baya itu senyum-senyum sendiri mengingat ramaja lugu yang baru saja berlalu.


"Pagi, Om."


"Pagi juga, Gas. Baru bangun?"


"Iya, Om. Wah, enak nih. Ini cangkir siapa, Om?" tanya Ghaisan.


"Cangkir bekas Nisa. Sebentar ya, Om panggilkan Bibi untuk membawakan cangkir."


"Nggak usah, Om. Di sana ada kan? Biar Agas yang ambil sendiri."


Ghaisan beranjak menuju ruang makan. Sesaat kemudian, ia datang dengan cangkir di tangannya. Dua pria beda generasi itupun menikmati minuman untuk sekedar menghangatkan tubuh.


Anak-anak sepakat untuk mulai kemping sore hari ini. Walau hanya satu atau dua malam, mereka ingin menikmati liburan dengan cara mereka sendiri. Rencana tersebut diawali dengan rafting (arung jeram). Kebetulan di kawasan itu terkenal dengan berbagai wisata alamnya.


***


Hangatnya sinar mentari berpadu dengan segarnya hembusan angin gunung pagi ini. Di halaman belakang vila, Rayhan, Dita dan kedua temannya bermain basket, sedangkan Rianti menikmati teh herbal kesukaannya di teras. Sesekali ia melirik pada suaminya yang sedang berbicara dengan seseorang di ujung ponselnya.


"Ma, sepertinya kita harus meninggalkan anak-anak di sini." Ujarnya.


"Memangnya kenapa, Pa?"


"Klien Papa mengundang kita nanti malam ke resepsi pernikahan putrinya di kota B," sahut Adisurya sembari menoleh pada anak-anaknya yang sedang tertawa.


"Memangnya nggak apa-apa kalau ditinggal, Pa?" tanya Rianti ragu.


"Nggak apa-apa. Papa akan meminta Heru menjemput kita. Biar Mang Asep stand by di sini."


"Oke deh."


Sambil menunggu asistennya yang bernama Heru datang, Adisurya mengisi waktu dengan melihat-lihat koleksi hewan peliharaannya. Begitu juga dengan Rianti yang asik mengajak ngobrol Bi Marni yang sedang menyiram tanaman.


Bi Marni dan Mang Dayat sudah sangat lama mengabdi pada keluarga Adisurya. Awalnya pasangan suami istri itu bekerja di rumah, namun karena faktor usia mereka di minta menjaga vila. Dengan pertimbangan pekerjaannya lebih santai dan tidak terlalu berat.


Mereka menjadi saksi perjalanan cinta Rianti dan Adisurya. Bahkan sejak keduanya masih duduk di bangku SMA. Maka tak heran jika pada Bi Marni, Rianti sudah sangat akrab dan tidak bersikap arogan.


"Bi, apa Bibi sama Emang tidak ingin tinggal di desa? Berkumpul dengan anak-cucu."


"Bibi sama Emang mah di sini saja, Neng. Di kampung juga anak-anak sudah pada berkeluarga. Biarkan mereka yang datang ke sini kalau memang ingin bertemu," sahut Bi Marni.

__ADS_1


"Tapi mereka suka datang ke sini kan, Bi?"


"Suka, Neng. Tadinya juga cucu Bibi ingin liburan ke sini. Tapi karena ada acara dari tempat kerja anak Bibi, nggak jadi." Sahutnya.


"Ikah sudah berapa Bi anaknya? Saya ingat dulu dia suka sekali pakai baju-baju pemberian saya, padahal cuma baju bekas." Rianti tersenyum tipis sambil mengenang.


"Dua, Neng. Setiap ke sini, selalu menanyakan kabar Neng Rianti."


Rianti mengangguk pelan. Melihat Bi Marni, mengingatkannya pada almarhum mertuanya. Orang tua Adisurya itu memang sangat dermawan. Hampir semua anak dari pelayan dan pegawai restoran dibantu biaya sekolahnya. Termasuk anak-anak Bi Marni dan Mang Dayat. Mereka disekolahkan sampai jenjang yang cukup tinggi. Hingga bisa bekerja maoan seperti sekarang.


Melihat sikap suaminya selama ini, Adisurya mewarisi kebaikan orang tuanya. Tidak aneh jika pria itu ingin menyekolahkan Annisa yang merupakan keponakan Mang Asep, supir sekaligus suami Bi Susi.


***


"Nisa, nanti temani Dita ke tempat kemping ya. Jangan jauh-jauh dari mereka. Bisa-bisa nanti kamu hilang," pesan Adisurya sebelum meninggalkan vila.


"Iya, Yah," jawab Nisa sangat pelan. Ia sepertinya takut jika yang lain mendengar panggilannya pada ayah angkatnya tersebut.


"Bye, Sayang. Hati-hati di sana ya. Han, jaga adikmu."


"Iya, Ma. Kalau dia nyusahin, Ehan akan telepon Mang Asep untuk jemput."


"Ish. Jangan dong, Kak." Deliknya.


"Ya sudah, Mama sama Papa pergi dulu ya. Agas, Raka... Tante nitip Dita ya. Jangan digodain," pesan Rianti setengah bercanda.


Anak-anak itupun mengantar kepergian Adisurya dan istrinya dengan lambaian tangan.


"Mbak, bantu aku beresin barang-barang," pinta Dita pada Hani dengan nada yang ketus. Sebelum berlalu, gadis itu mendelik pada Nisa yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sepertinya ia menerima keputusan papanya dengan berat hati.


***


Hamparan perkebunan teh yang dilalui memanjakan mata siapa saja yang melihatnya. Annisa nampak terkagum-kagum dibalik senyum tipisnya.


"Enak banget kamu diajak jalan-jalan. Sedangkan aku, hanya diam di vila menemani Bi Marni."


Mungkin ini maksud ucapan Hani tadi. Beruntung sekali dirinya bisa menikmati langsung alam seindah ini.


"Stop di depan itu, Mang. Eh Bro, benar kan dari sini jalannya?" tanya Rayhan pada kedua sahabatnya.


"Iya, benar. Jalan lurus ke sana," sahut Raka sambil menunjuk.


"Kalau begitu, yuk turun." Dengan semangat Dita mendahului mereka.


"Semangat banget Lo, Dit?" tanya Raka.


"Iya dong, kapan lagi. Mama nggak akan ngizinin kalau bukan sama kalian." Sahutnya.

__ADS_1


Mang Asep yang turun dibantu oleh Agas mengeluarkan satu persatu ransel mereka.


"Punya aku berikan ke dia, Mang. Biar dia yang bawa," ujar Dita menunjuk pada Nisa.


Mang Asep terlihat ragu, namun Nisa dengan senyum di wajahnya meraih ransel itu juga ransel miliknya. Ransel milik Dita ia kenakan di belakang, sedangkan miliknya di bagian depan. Beruntung ranselnya tidak berat. Sehingga Nisa tidak terlalu kesulitan saat harus membawa dua ransel sekaligus.


"Yuk, Kak Agas." Ajaknya sembari melingkarkan tangan di lengan Ghaisan.


"Nggak usah gandengan gini deh. Lo nggak lihat, jalannya sempit gitu?" tolak Agas yang melepaskan tangan Dita.


"Truk kali ah gandengan," kelakar Raka, yang disambut tawa oleh Rayhan.


Dita menekuk wajahnya melihat mereka berlalu begitu saja. Gadis cantik itu mendelik pada Nisa yang berdiri dibelakangnya sambil berucap dengan ketusnya.


"Cepetan! Kalau lelet ditinggalin."


"Kak Ehan! Tunggu..." Pekiknya kemudian.


Annisa mengekor di belakang Dita. Berjalan diantara hamparan pohon teh yang berjajar sangat rapi. Dengan sabar ia mengikuti langkah saudari angkatnya yang belum terbiasa jalan di jalanan seperti itu.


"Hati-hati, Non." Ucapnya saat Dita hampir saja terjatuh. Masih basah bibirnya yang memberi peringatan, tiba-tiba Dita terdengar mengaduh.


"Aww! Aduh..." Ringisnya.


"Non Dita tidak apa-apa?"


"Awas! Jauh-jauh dari Gue," pekik Dita yang menolak uluran tangan Nisa yang hendak menolongnya.


"Kamu nggak apa-apa, Dit?" tanya Rayhan yang datang dan membantu adiknya berdiri.


"Gue bilang juga apa? Nggak usah ikut deh," ujar Rayhan terlihat agak kesal.


"Semua ini gara-gara dia, Kak. Bawel, bicara terus. Berisik tahu," bentak Raydita.


"Maaf," lirih Nisa.


"Eh, kalian berdua. Para wanita yang lemah dan tak berdaya. Kalau nyusahin... Gue kasih ini nih, taraa!"


Dita dan Nisa sontak berteriak melihat ulat yang berada di ujung ranting. Raka terbahak sedangkan Rayhan merasa kesal karena Dita menelusup ke bagian dadanya.


"Sialan Lo. Buang! Yang ada makin nyusahin," hardik Rayhan.


"Oke-oke, haha... Asik juga ya bawa cewek. Ada objek hiburan," kelakar Raka.


"Ke dia aja dong, Kak. Jangan Dita juga yang dikerjain," delik Raydita.


"Siap. Tenang aja," sahut Raka dengan seringainya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2