
Happy reading ....
🌿
**"Mama ... mama ... hiks."
"Anakku. Dimana kamu, Nak?" Rida berlari kesana kemari di ruang hampa dan tak ada siapa-siapa.
Lagi-lagi isakan pilu itu terdengar. Rida yang merasa panggilan itu ditujukan padanya, terus berlari sambil mencari suara tak bertuan yang entah datangnya dari mana.
"Maa ... hiks, hiks."
Rida menoleh ke belakang. Ia tertegun mendapati seorang anak perempuan sedang menunduk sambil memeluk kedua lututnya.
Rida membalikkan badannya dan berjalan mengjampiri anak itu. Aneh, bukannya semakin dekat, justru jarak keduanya semakin jauh ... dan jauh saja.
"Anakku ..," lirih Rida yang menghentikan langkah dan mengulurkan tangannya.
Anak itu berhenti terisak. Ia mengangkat kepala, lalu menoleh kepada Rida.
Deg. Rida terbelalak. Anak perempuan itu nyaris serupa dengannya.
"Maa ...." Panggilnya lirih.
"Anakku." Rida berlari ke arah anak itu. Namun anak yang terlihat tak jauh itu sangat sulit ia gapai.
"Maa ...." Panggilan itu menggema.
"Anakku! Anakku!"**
"Anakku," ucap Rida yang terhenyak dari tidurnya dengan nafas terengah.
Rida mengusap kasar wajahnya. Diambilnya gelas air minum yang berada di atas nakas. Sambil berusaha mengatur napasnya, Rida bergumam, "Mimpi apa ini? Kenapa anak itu terasa sangat nyata? Siapa dia? Kenapa memanggilku mama?"
Rida menyandarkan punggungnya, kemudian terhenyak saat teringat wajah foto remaja yang bersama Rika. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya yang berada di laci nakas. Rida menjelajahi internet demi melihat foto keluarga Adisurya.
"Anak ini, sama persis seperti anak kecil dalam mimpiku tadi. Ke-kenapa aku memimpikan putri Kak Adi? Ada apa sebenarnya ini? Kenapa hatiku sakit saat mendengar isakannya?" gumam Rida bermonolog.
Rida pun beranjak turun dari tempat tidurnya dan melangkah ke kamar mandi. Mungkin mencuci wajah bisa sedikit meredakan perasaannya yang entah kenapa.
Di tempat lain, Raydita tak dapat memejamkan kedua matanya. Sesekali ia melirik pada jam dinding yang sedari tadi menemani dengan detaknya.
Ada rasa yang mengganjal dalam hatinya. Meski ia tak meragukan ketulusan papa dan mama, tetap saja kenyatannya dirinya bukan anak mereka.
"Aku ini anak siapa? Ma, Pa ... kenapa kalian menitipkanku pada pelayan itu? Kenapa kalian tidak mengharapkan kehadiranku?" Lirihnya. Tanpa terasa air mata Raydita menetes. Raydita membenamkan wajahnya pada bantal.
Tak mudah bagi Raydita menerima kenyataan ini. Di saat Annisa mendapatkan orang tuanya, dirinya justru mempertanyakan keberadaan mereka.
***
Angin pagi menerpa lembut wajah Raydita. Tapi bukan angin yang membangunkan remaja berusia 15 tahun itu, melainkan usapan lembut Rianti di kulit wajahnya yang mulus.
Raydita mengerjap, lalu tersenyum saat menyadari sang mama sedang menatap dengan senyuman di wajahnya. Pagi yang indah, karena biasanya mama akan memekik saat membangunkan dirinya.
"Kamu tidur larut malam?"
__ADS_1
"Iya, Ma. Dita susah tidur," sahut Raydita pelan sembari menggeliat.
"Kalau begitu sekarang bangun, lalu mandi. Mama akan buatkan sarapan, oke?"
"Iya, Ma."
Raydita menatap langkah mamanya dengan senyuman tipis. Ia berharap semua yang terjadi hanya mimpi buruk belaka.
Sementara itu pagi ini Rianti bangun pagi sekali. Ia membuat sendiri sarapan untuk suami dan anak-anaknya.
Di ruang tamu, Bi Susi membantunya nenyiapkan peralatan. ART yang sudah lama mengabdi itu merasa senang mengetahui akhirnya Annisa mendapatkan orang tuanya.
"Terima kasih, Bi," ujar Rianti pelan. Ia seakan mengerti akan apa yang ada dalam pikiran Bi Susi.
"Bibi tidak melakukan apa-apa, Nya. Alhamdulillah, akhirnya semua sudah pada tempatnya."
"Bibi sangat berjasa, begitu juga Mang Asep. Karena kalian, Asih ada untuk Nisa. Seandainya Asih masih hidup, saya ingin memberinya apa saja sebagai ucapan rasa terima kasih saya karena telah membesarkan Annisa."
"Asih orangnya tulus, Nyonya. Bibi yakin, Asih tidak menginginkan hal seperti itu." Mendengar hal itu, Rianti hanya menyunggingkan senyuman.
Satu persatu, anggota keluarga mulai berdatangan. Rayhan dengan santai meletakkan sembarang tasnya di sofa dan menghampiri mamanya.
"Han, masukkan bajunya. Kan kalau rapi kelihatannya lebih cakep," tegur Rianti.
"Enakkan gini, Ma." Sahutnya cuek.
"Pagi!" sapa Adisurya yang baru tiba di ujung tangga.
"Pagi, Pa," sahut Rayhan sambil menoleh. Rupanya Papa Adi menuju ke kamar Annisa.
"Jangan lari-lari di tangga, Sayang!" pekik Rianti.
Raydita dengan wajah yang ceria menghampiri ke ruang makan.
"Sarapan apa, Ma?" Tanyanya.
"Kamu maunya sarapan apa? Nasi goreng ada, roti lapis, sereal, salad juga ada," sahut Rianti.
"Cereal aja deh," ujar Raydita.
"Papa belum turun, Ma? Tadi kayanya Dita dengar suara papa."
Belum sempat Rianti menjawab, terdengar suara pintu kamar Annisa yang dibuka. Rianti pun menoleh, dan sambil tersenyum ia menunjuk ke arah kamar itu dengan mimik wajah.
Raydita menoleh ke arah yang sama. Seketika tubuhnya terasa lemas melihat senyum papa yang sedang berjalan sembari merengkuh pundak Annisa.
"Pagi, Sayang. Sarapan apa?" sapa Papa Adi yang kemudian menarik dua kursi, masing-masing untuk papa dan Annisa.
"Sereal, Pa," sahut Raydita pelan.
"Nisa mau sarapan apa? Mau sereal juga?" tawar Papa.
"Nasi goreng aja," sahut Annisa sambil mengambil piring untuk dirinya.
"Warga +62 sejati ya. Pagi, siang sore, makan nasi," kelakar Papa Adi.
__ADS_1
"Malam juga dong, Yah," timpal Annisa dan membuat Adisurya terkekeh pelan.
"Coba yang lain dong sekali-kali. Biar ada variasi," saran Ayah Adi.
"Lain kali aja, Yah. Nasi juga banyak variasinya, nggak cuma nasi goreng. Nasi kuning, nasi uduk, bubur, lontong, terus apalagi ya? Mmm Nisa lupa namanya yang pernah dibawa Isti ke sekolah, mmm ...." Nisa mencoba mengingat-ingat.
"Norimaki," sahut Rayhan santai tanpa menoleh.
"Aah, iya benar. Norimaki, enak loh Yah, Kak Ehan suka banget."
"Biasa aja," elak Rayhan.
"Masa? Kakak abis banyak loh," goda Annisa. Rayhan menyunggingkan senyuman disela kunyahan. Rayhan fokus pada ponselnya, tanpa menoleh pada Annisa.
"Kok Nisa tahu?" tanya Adisurya.
"Kan Nisa yang nyuapin Kak Ehan, hehe."
"Ooh, pantes." Adisurya tersenyum lebar, kemudian menyesap kopi yang belum lama dihidangkan istrinya.
"Ngomong-ngomong, waktu itu Lo udah tahu belum kalau gue ini kakak Lo?" tanya Rayhan. Kali ini ia menatap pada Annisa.
"Udah," sahut Annisa singkat.
"Oh, pantesan. Gue kira Lo naksir sama gue."
"Ya enggak lah. Yang naksir kakak kan Isti." Sahutnya cuek.
"Oh, ya? Teman kamu juga naksir Ehan?" tanya Ayah Adi. Annisa mengangguk sambil mengunyah.
"Papa nggak tahu ya, anaknya jadi idola. Isti itu suka bawa bekal ke sekolah?" Rianti ikut nimbrung pembicaraan mereka.
"Iya, Bu. Kata uminya biar nggak ngantri di kantin, dan lebih sehat."
"Bagus itu," ujar Papa.
"Kamu mau bawa bekal juga? Kalau bisa saling berbagi dan saling mencicipi pastinya lebih asik kan?" tanya Rianti.
"Boleh, Bu?"
"Ya, boleh dong sayang. Sekarang?"
"Nggak ah, besok aja." Tolaknya.
Pagi ini sangat berbeda, suasana ruang makan terasa lebih hangat dengan obrolan ringan mereka. Namun sayang, kehangatan itu tidak terasa oleh Raydita.
Tempat ini masih sama, tempat dimana belasan tahun ia tinggal di dalamnya. Orang-orangnya pun sama, mereka yang selalu mengisi hari-hari Raydita. Tapi mengapa sekarang terasa berbeda? Dan itu karena kehadiran satu Annisa diantara mereka.
Raydita merasa asing, merasa tersisih, dan sendiri.
"Dita. Ayo cepat habiskan, Sayang. Hari ini papa yang akan mengantar kalian."
"I-iya, Pa."
_bersambung_
__ADS_1