
Happy reading ....
🌿
Hari berlalu begitu cepat, para siswa sudah mendekati Ujian Tengah Semester (UTS). Banyaknya tugas praktik yang harus mereka selesaikan membuat waktu di sekolah terasa cepat berlalu.
Annisa sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolahnya. Ia juga mulai lancar bicara dalam bahasa Inggris. Teman-teman dan gurunya banyak membantu jika masih ada salah grammar dan lainnya. Kini Annisa mulai menikmati cara belajar di sekolah ini yang tentunya berbeda dengan sekolah SMA biasa.
Annisa semakin giat belajar. Banyak hal baru yang harus ia pelajari. Termasuk penguasaan bahasa asing yang lain. Annisa jadi lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya, apalagi diakhir pekan seperti ini.
Annisa keluar dari kamarnya. Hanya Raydita yang ia lihat di ruang keluarga. Annisa menghampiri Raydita sambil celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
"Dit, Kak Ehan nggak kelihatan. Kemana?" tanya Annisa pada Raydita yang sedang terduduk di sofa.
"Nggak tahu. Mungkin lagi hangout," sahut Raydita tanpa menoleh.
"Ayah sama ibu, kemana?"
"Pergi." Jawabnya singkat. "Eh, Nis. Jalan yuk!" ajak Raydita.
"Kemana?"
"Ke mall. Refreshing otak sebentar. Gue suntuk," keluh Raydita.
"Ayo. Kapan?"
"Tahun depan. Ya sekarang laah," delik Raydita.
"Maksudku, jam berapa?"
"Setengah jam lagi, gimana? Gue mau mandi dulu," ujar Raydita.
"Oke. Sana kamu mandi. Aku mau izin dulu sama ibu."
"Oke deh. Tapi kita naik taksi ya. Biar seru."
"Naik angkot aja sekalian," usul Annisa.
"Ogah."
"Yee katanya biar seru."
"Ya nggak naik angkot juga," ujar Raydita sambil berlalu ke kamarnya.
Annisa tersenyum tipis melihat langkah Raydita yang tergesa-gesa. Ia pun menelepon Rianti untuk meminta izin pergi bersama Raydita.
__ADS_1
Di tempat lain ....
Suara langkah dari heels yang dikenakan Rika terdengar jelas di koridor rumah sakit yang nampak sepi. Rika menghentikan langkahnya dan bersandar di salah satu tiang yang menghadap ke taman.
Wajahnya nampak lesu, tatapannya juga sayu. Bukan karena lelah bekerja, namun karena apa yang baru saja didengarnya.
Rida, mengapa menyembunyikan semua ini darinya?
Rika meneruskan langkahnya. Ia kembali ke rumah karena tugasnya sudah selesai sedari tadi.
Sesampainya di rumah, Rika berseru memanggil Rida. Melihat mobil adiknya di garasi, Rida pastilah ada di rumah.
Rika berjalan menuju kamar Rida. Tepat saat Rida membuka pintu kamarnya, Rika tiba di sana.
"Ada apa, Kak?"
"Aku mau bicara," ujar Rika yang menerobos masuk ke kamar Rida.
Rida menatap heran, dan menerka-nerka apa yang akan dibicarakan sang Kakak.
"Bagaimana bisa kamu menyembunyikan ini dariku, heh?" todongnya.
"Menyembunyikan apa?" Rida balik bertanya.
"Kalau Dokter Veli tidak mengatakannya padaku, mau sampai kapan kamu menyembunyikannya? Rida-."
"Itu untuk kebaikanmu, Rida. Tidak ada maksud lain," kilah Rika.
"Benarkah? Tapi aku tidak merasa baik-baik saja dengan apa yang kakak putuskan untuk hidupku," sahut Rida dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Oke. Kakak minta maaf. Tapi sekali ini lagi saja, dengarkan kakak. Kamu harus menjalani pengobatan."
"Aku tidak mau," tegas Rida.
Rika menatap nanar pada adiknya. Kanker serviks stadium 3, itu yang didengarnya dari Dokter Veli, salah satu kenalan yang juga teman Rida.
Menurut Dokter Veli, Rida menolak pengobatan yang seharusnya dilakukan jauh-jauh hari. Veli tidak bisa lagi membujuk Rida dan akhirnya memutuskan memberitahu Rika.
"Aku tidak hidup untuk siapapun juga. Tidak ada yang mengharapkanku tetap ada di dunia. Jadi untuk apa aku menjalani pengobatan itu? Aku sudah terbiasa menahan sakit seorang diri. Jadi biarkan aku pelan-pelan mati," ujar Rida pelan sambil mengusap air mata yang menetes di pelupuk mata.
Rika tertegun mendengarnya. Selama ini Rika berpikir, Rida menikmati kebebasan yang dimilikinya. Namun dibalik sikap tak acuhnya, kali ini Rika melihat betapa rapuhnya Rida.
Rida berlalu keluar dari kamar. Ia tak ingin melihat ekspresi Rika yang kasihan padanya.
Ya, setelah Sandy, Raydita, kini penyakitnya. Rida sudah pasrah, lebih tepatnya putus asa. Jangankan pengobatan, Rida bahkan sudah enggan memeriksakan keadaannya.
__ADS_1
Rika terduduk lesu di tepi tempat tidur Rida. Menatap kosong sebuah foto di atas nakas. Ada Raydita dan Rida di sana. Bersama dalam bingkai yang merupakan sebuah rekayasa.
Sebegitu inginkah Rida bersama Raydita, sampai-sampai sengaja mengedit foto dirinya dan foto Raydita agar terlihat serasi sebagai sebuah keluarga. Rika menghela napasnya. Kemudian menelepon seseorang, "Bisa tante bicara sama kamu?"
"...."
"Kita akan bertemu di sana." Rika mengakhiri panggilannya. Ia bergegas berjalan meninggalkan kamar Rida.
***
"Siapa, Dit?" tanya Annisa.
"Tante Rika. Katanya mau bicara sama gue," sahut Raydita malas.
Annisa tidak bertanya lebih lanjut. Mobil yang dikemudikan Mang Asep memasuki basement sebuah mall besar di ibukota.
Mereka harus kecewa, karena Rianti tidak mengijinkan anak-anaknya menggunakan transportasi online apalagi transportasi umum. Tidak hanya itu, Leo juga mengawal mereka kemana-mana.
Raydita dan Annisa mulai menjelajah di area pusat perbelanjaan. Dengan senangnya, Raydita mengajak Annisa belanja di toko beberapa brand ternama.
Annisa terlihat ragu membeli barang-barang yang berharga fantastis itu. Namun karena Raydita ingin mereka menggunakan barang yang serupa, Annisa pun menyanggupinya.
Ponsel Raydita berbunyi. Melihat nama Rika, Raydita dengan malas menjawab panggilan itu, "Iya, Tante. Mau ketemuan dimana?"
Raydita menghela napasnya, lalu berkata : "Oke." Panggilan pun diakhiri.
"Ke McD, yuk. Ketemu Tante Rika, sekalian makan siang," ajak Raydita pada Annisa.
"Ayo. Bu Dokter udah di sana?" Raydita mengangguk malas.
"Kamu kenapa?"
"Kayanya, Tante Rika mau ngomongin dia deh," sahut Raydita.
"Dia? Oh, maksud kamu Bu Rida?"
"Ya, siapa lagi." Deliknya.
Annisa menggenggam tangan Raydita, sedangkan Raydita hanya bisa menghela napasnya. Di belakang mereka, Leo masih mengikuti sambil menenteng belanjaan.
"Gimana kalau ternyata dia juga ada di sana? Bisa aja, kan?" tanya Raydita pelan.
"Ya nggak apa-apa. Kalau Bu Dokter sama saudarinya, kamu juga kan sama aku," sahut Annisa santai. Membuat Raydita mendelik sambil mengulumkan senyumnya.
"Iya deh. Terserah Lo mau ngomong apa. Tapi jujur, gue belum siap ngomong baik-baik sama dia. Sejak kejadian waktu itu, Tante Rika nggak pernah lagi nelpon gue. Tiba-tiba nelpon ngajak ketemuan," ujar Raydita pelan.
__ADS_1
"Udahlah. Temui aja dulu," saran Annisa, dan diangguki kecil oleh Raydita.
_bersambung_