
Happy reading ....
*
Pegawai resto yang tak lain adalah Yuli itu tertegun, kemudian berseru, "Aah, iya!" Yulii langsung tersadar dengan sikapnya yang mengundang perhatian pengunjung lain, cepat-cepat ia tertunduk dengan perasaan takut ditegur oleh atasan.
"Kamu ingat sama aku, 'kan?" tanya Raka percaya diri.
"I-ingat. Kak ... Ray, 'kan?" Yuli balik bertanya dengan suara pelan.
"Kok Ray sih? Aku Raka, Yul. Masa iya kamu lupa?" Raka menekuk wajahnya sambil mendelik pada Yuli. Tapi tak lama kemudian sikapnya kembali seperti semula dengan bertanya, "Sejak kapan kamu kerja di sini?"
"Sejak satu minggu yang lalu. Maaf, Kak. Saya bekerja dulu ya," ujar Yuli kikuk sambil melirik pada Raydita.
"Oh iya, hehe. Kebetulan aku lapar banget. Yang enak ya masaknya," seloroh Raka. Yuli hanya nyengir dan berlalu meninggalkan mereka.
"Bukan dia kali Kak yang masaknya. Koki. Dia cuma pramusaji," ujar Raydita dengan seringaian tipis di wajahnya.
"Benar juga ya, hehe."
"Ish, Kak Raka mendadak ogeb. Siapa sih, kok bisa kenal sama Kak Ray juga?"
"Temannya Nisa, namanya Yuli."
"Oh, ya? Teman di mana?" Raydita mengernyitkan keningnya mencoba mengingat apakah dia pernah bertemu dengan Yuli.
"Teman di desanya. Kamu ingat nggak waktu Nisa kabur? Nah aku sama Agas kan nyusul tuh, ngineplah kita semua di rumah Yuli itu. Siapa ya nama bapaknya? Lupa," sahut Raka yang menggaruk pelan kepalanya.
"Ngapain juga nama bapaknya di ingat, Kak? Ada-ada aja."
"Eh, jangan salah. Kalau ijab kabul nih ya, salah nyebut nama bapaknya, nggak sah," selorohnya.
"Hah? Kok jadi ngomongin ijab kabul? Bodo amat ah, pusing mikirinnya juga. Ini mana lagi, lama banget. Keburu lapar kalau gini," gerutu Raydita.
"Yee ... nggak asik," delik Raka.
"Bodo, ah. Lagian juga ngapain ngomongin yang begitu. Nggak nyambung banget," sahut Raydita masih terdengar menggerutu.
Raka terlihat tak acuh dan mulai melayangkan pandangan mencari sosok Yuli. Kening Raka berkerut melihat pegawai resto yang menghampiri meja mereka bukanlah sosok yang ia cari.
"Mbak-nya kok ganti? Yuli mana, Mbak?" tanya Raka pada pegawai resto itu.
"Ada di belakang, Mas. Mau ke kamar mandi katanya," sahut pegawai itu.
"Eh, jangan bikin mood makan saya hilang karena ucapan kamu itu," tegur Raydita.
"Maaf, Non." Pegawai itu langsung menundukkan kepala sambil menata hidangan pesanan Raka. Selanjutnya, pegawai itupun pamit.
"Jangan begitu dong, Dita. Kasian, 'kan?"
__ADS_1
"Bomat. Lagian, ada makanan ngomongin kamar mandi. 'Kan jadi traveling otak Dita," sahut Raydita kesal.
"Sekarang udah balik belum?" tanya Raka.
"Apanya yang balik?" Raydita balik bertanya.
"Otak kamu. Katanya tadi traveling," sahut Raka asal.
"Iih, Kak Raka gitu deh," rengek Raydita.
Raka terkekeh pelan, lalu mencubit gemas dagu Raydita sambil berkata, "Sorry. Becanda, Dek."
"Udah, ah. Lapar," ucap Raydita manja.
"Iya-iya. Mari, makan!" ujar Raka riang. Raydita tersenyum tipis melihat raut Raka yang terlihat lebih ceria dari biasanya.
Sementara itu di sisi lain ....
"Kayanya benar deh perkiraan kamu, kalau cewek itu pacarnya," ujar teman Yuli setengah berbisik.
Yuli nampak murung sambil menghela nafasnya. "Ya, sudahlah. Nggak mungkin juga Kak Raka akan menganggap aku istimewa hanya karena mengingat namaku. Dia menyapaku, ya karena aku ini temannya Nisa," gumam Yuli.
"Aku kasih tahu ya, Yul. Jangan pacaran sama cowok kaya. Kebanyakan, mereka baik itu karena ada maunya. Apalagi kamu baru merantau ke kota. Hati-hati, jangan mudah percaya sama gombalan mereka. Jangan ke-GR-an juga," pesan teman Yuli.
"Iya, Mbak. Terima kasih, aku akan mengingatnya," sahut Yuli sambil menoleh sesaat pada Raka. Kebetulan, Raka juga tengah memperhatikan sekitarnya. Saat tatapan keduanya tanpa sengaja beradu ... deg. Cepat-cepat Yuli melengoskan wajahnya.
Setelah makan malam selesai, Raka membayar di kasir. Raka memesan satu porsi makanan lagi untuk dibawa pulang.
"Kak, ayo dong!" panggil Raydita.
"Yee ... malah ngerokok," imbuhnya.
Raka menghampiri Raydita yang sudah duduk di kursi kemudi. "Sebentar ya, ngabisin dulu ini. Nggak enak kalau udah makan nggak ngerokok dulu," ujarnya.
"Iya deh. Tapi di sana ah," tunjuk Raydita.
Raka pun menunggu pesanannya selesai di dekat pintu masuk berteman kepulan asap rokoknya.
Beberapa menit kemudian ....
"Kak. Ini pesanannya," ujar Yuli yang membuat Raka langsung menoleh.
"Thank you," ucap Raka sambil menerima pesanannya.
"Sama-sama," angguk Yuli.
"Eh, tunggu." Yuli menoleh dan keningnya bekerut saat Raka meraih tangannya.
"Untuk kamu. Terima kasih ya. Semangat kerjanya. Lain kali kalau lewat sini aku pasti mampir lagi," ujar Raka yang langsung berlalu dan tak membiarkan Yuli untuk menolak pemberiannya.
__ADS_1
"Tapi ini ...." Yuli terlihat bingung sembari menatap lembaran uang dan Raka secara bergantian.
"Bye!" seru Raka saat meninggalkan halaman restoran.
"Bye. Terima kasih, " sahut Yuli pelan.
"Kenapa Kak Raka memberiku uang?" gumamnya heran. Tak mau berpikir yang bukan-bukan, Yuli memasukkan uangnya ke dalam saku celana dan kembali meneruskan pekerjaannya.
Sementara itu di dalam mobil ....
"Itu untuk siapa? Memangnya kakak belum kenyang?" tanya Raydita heran.
"Yaa ... buat siapa aja. Buat security juga bisa 'kan?"
"Aneh. Kalau udah kenyang kenapa mesti beli lagi sih," delik Raydita.
"Hehe. Kata orang, yang nggak peka itu cowok. Ternyata cewek juga ternyata ada ya," seloroh Raka.
"Oh ya? Siapa?" tanya Raydita.
"Siapa ya? Mmm mungkin yang otangnya masih traveling," sahut Raka sambil berlagak memikirkan sesuatu.
Raydita berpikir sejenak. Kemudian ....
"Maksud Kak Raka, aku?" tanya Raydita sembari menunjuk ujung hidungnya.
"Kamu bukan ya?"
"Iih, Kak Raka gitu!" pekik Raydita pelan.
"Memangnya aku nggak peka tentang apa?" tanyanya kemudian.
Raka menghela nafasnya, lalu menjawab, "Ada deh."
"Ish. Kalau kakak suka sama Yuli, ya ngomong dong sama dia. Lagian gitu aja kok dipusingin," delik Raydita.
"Nah, itu ngerti. Udah balik lagi otaknya?" kelakar Raka.
"Kak Raka!"
"Becanda, becanda .... sorry. Fokus ya, kalau ada apa-apa nanti berabe urusannya," bujuk Raka sembari mengusap-usap lengan atas Raydita dengan mimik lucu yang dibuat-buat.
"Besok kalau shopping, kakak yang traktir deh. Jangan marah ya, jelek mulutnya kalau manyun begitu," bujuknya lagi.
"Beneran ya?"
"Ya iya lah, masa bohong," sahut Raka cepat.
"Asiik. Uang dari papa aman," ujar Raydita senang. Raka mendelik pasrah sambil menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
_bersambung_