Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
hati seorang ibu


__ADS_3

Happy reading ....


*


Lain Rika, lain pula adiknya Rida. Hari ini adalah jadwal kemoterapi Rida, dan Raydita selalu meluangkan waktu untuk menemaninya.


Jika biasanya mereka ditunggu supir, kali ini Rida meminta supir untuk pulang. Dan saat ini, Raydita sedang terduduk di sofa sambil sesekali menatap Rida yang terbaring dengan selang infusan di tangannya.


Sebuah notifikasi pesan masuk dari Raka membuat kening Raydita berkerut. Dengan enggan ia pun membaca pesan itu.


[Lo lagi dimana?]


Raydita menghela nafasnya dan membalas, [Di Rumah Sakit. Nemenin nyokap kemo.]


[Rumah Sakit mana?]


[Di kawasan T.]


[Oh, B Hospital ya.]


[He-em.]


[Gue ke sana ya? Masih lama nggak?]


[Mau ngapain? Nggak usah, masih lama.]


[Nanti gue tunggu di depan. Sekarang gue on the way ke sana.]


[Bomat.]


Raydita mendengus kesal. Raka pasti pulang karena Rayhan dan Ghaisan juga pulang.


Cukup lama mereka di sana. Setelah selesai, Rida tampak senang dan menggandeng tangan Raydita keluar ruangan.


"Kita mau kemana, Tante?"


"Tante punya kejutan untuk kamu," sahut Rida sambil tersenyum tipis.


"Apa itu? Dita kan nggak ulang tahun, Tante."


"Memangnya kalau kejutan, harus ulang tahun aja ya?"


"Hehe, nggak juga sih."


Keluar dari lobi, keduanya berniat hendak memanggil salah satu supir taksi yang berjejer di bagian luar rumah sakit. Baru saja Raydita akan memanggil, ujung matanya menangkap sosok Raka yang berjalan mendekati mereka.


"Kirain bo-ongan," batin Raydita.

__ADS_1


"Hai, Tante!" sapa Raka.


"Hai, Ka," sahut Rida. Awalnya, Rida kurang menyukai putra Sandy itu. Namun, Raydita sering membicarakannya dan diam-diam mengakui kehadiran Raka sedikit banyaknya mengurangi kekosongan akan sosok Rayhan dalam kesehariannya. Perlahan, Rida mulai menerima sosok Raka sebagai anak lelaki yang mempunyai hubungan darah dengan Raydita.


Raka memang sering pulang untuk sekedar bertemu mamanya. Dalam sebulan Raka bisa pulang tiga sampai empat kali. Karena kedua sahabatnya tidak ada, biasanya Raka hangout dengan Yuda. Ia selalu meminta bertemu Raydita dan memberikannya oleh-oleh walaupun itu hanya berupa makanan tak seberapa. Meski terkesan urakan, Raka sosok yang penyayang.


"Kamu sengaja ke sini, Ka?" tanya Rida.


"Kebetulan aja, Tante," kilah Raka.


"Idih, bohong," delik Raydita sambil bergumam. Rida mengulumkan senyum.


"Kalau begitu, kebetulan juga dong. Tante sama Dita nggak ada supir nih," ujar Rida.


"Siap, Tante. Raka akan antar kemanapun tujuan kalian. Yaa asal jangan ke akhirat aja, hehe. Masih jomlo soalnya, Tan." Selorohnya.


"Benar, nih?" Raka langsung mengangguk mengiyakan.


"Oke. Terima kasih ya. Antar ke kawasan CP dong, Ka," pinta Rida.


"Laksanakan. Ayo, Tante! Ke sebelah sini," tunjuk Raka.


Rida menggandeng tangan Raydita yang menekuk wajahnya. Keduanya mengikuti langkah Raka yang berjalan menuju tempat mobilnya diparkirkan.


"Tante nggak ganggu waktu kamu kan, Ka? Mama kamu nggak nungguin, kan?" tanya Rida.


"Enggak kok, Tante. Mama lagi ada peninjauan ke proyek di kota D," sahut Raka.


"Ya gitu deh," sahut Raka.


"Sukses ya. Buat mama kamu bangga," ujar Rida.


Raka mengangguk, lalu mengacungkan ibu jarinya dengan percaya diri. Setelah mereka masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Raka, Rida memberitahukan tempat yang akan ditujuannya.


Kurang lebih 30 menit di perjalanan, mereka tiba di depan gedung sebuah apartemen elit dekat pantai di ibukota. Rupanya, Rida sengaja membeli sebuah apartemen mewah lengkap dengan furniturnya untuk Raydita.


Saat mengetahuinya, Raydita sampai melongo tak percaya. Diam-diam, Raka mengabadikan moment itu dan pastinya ikut bahagia.


"Terima kasih, Tante." Ujarnya sambil memeluk Rida.


"Mama dong, Dit. Masa tante terus sih," celetuk Raka dan membuat Raydita mendelik manja.


Rida tersenyum tipis sambil mengusap punggung Raydita.


"Maaf ya, Sayang. Ini kurang besar. Kamu bisa tinggal di sini kapan saja. Tapi kalau boleh tante minta, beberapa bulan ini, mau kan kamu tinggal di sini sama tante? Tante akan minta izin sama mama kamu," ujar Rida pelan.


Raydita nampak ragu, namun begitu ia tetap mengangguk pelan. Ia ragu jika Mama Rianti akan mengizinkannya tinggal di sini.

__ADS_1


"Mau dipeluk juga dong. Ish, bikin iri aja," seloroh Raka.


Tanpa diduga, Rida membuka lebar tangannya. Raka yang awalnya hanya niat bercanda pun mau tak mau menghampiri juga. Dipeluknya tubuh ringkih Rida dengan rasa haru yang tiba-tiba saja menyeruak.


"Titip Dita ya," ujar Rida lirih. Raka sempat tertegun. Ia tersadar saat Rida melepaskan pelukannya. Rida hanya tersenyum tipis dan berlalu mendekati Raydita yang melihat-lihat setiap bagian di apartemen barunya.


"Suka?" tanya Rida.


"Suka banget." Sahutnya tersenyum lebar. Terlihat jelas rasa puas di wajah Rida dengan hanya melihat ekspresi bahagia Raydita.


***


Senja mulai menyapa, ketika Annisa tiba di rumah. Raut wajahnya terlihat senang dan itu membuat Rianti dan Raydita yang juga baru datang menggodanya habis-habisan. Adisurya yang memergoki mereka menatap penuh tanya. Maklum saja, Rianti belum sempat memberitahukannya pada Adisurya.


Ketika mereka di kamar, Adisurya yang baru keluar dari kamar mandi menghampiri Rianti di walk-in closet. Keningnya berkerut melihat raut wajah istrinya yang sendu.


"Kok kaya yang sedih gitu? Tadi papa lihat, mama happy tuh sama anak-anak. Kenapa?" tanya Adisurya sambil menerima pakaian yang disodorkan Rianti.


"Pa, mama itu ... gimana ya?" ucapnya bingung.


"Gimana apanya?"


"Ssstt tapi janji ya, jangan bilang sama Nisa," ujar Rianti pelan seakan ada orang lain di sana.


"Nisa? Kenapa memangnya?"


Rianti menghela nafasnya, kemudian berkata, "Nisa pacaran sama Agas."


"Oh ya? Lalu, mama nggak setuju gitu? Udahlah ma, biarkan saja. Kalau memang Nisa-nya happy ya oke-oke aja. Namanya juga lagi masa-masanya," sahut Adisurya enteng.


"Memang sih, mama kurang sreg. Tapi bukan karena Agas-nya, melainkan karena Rika. Nggak tahu kenapa, mama merasa Rika itu gimana gitu, Pa. Tapi sebenarnya bukan karena itu juga sih," ujar Rianti bingung.


"Terus, karena apa? Yang jelas ngomongnya."


Adisurya telah selesai mengenakan pakaian rumah. Ia mengajak Rianti duduk di sofa agar lebih santai mengutarakan maksudnya. Setelah duduk berdampingan, Adisurya pun meminta Rianti bicara.


"Pa. Minggu kemarin, sebelum mama tahu Nisa pacaran sama Agas, Jeng Sofy bilang ... katanya Jeng Rani sebentar lagi besanan sama Rika. Mereka mau menjodohkan Agas sama Angel. Katanya sih mau tunangan dulu dan akan tinggal satu atap di Amerika. Kalau itu ternyata benar, gimana dong, Pa? Nisa pasti akan sedih dan pastinya patah hati. Mama mau bilang juga nggak tega," ujar Rianti.


Adisurya terdiam sesaat. Ekspresinya tak kalah bingung dengan Rianti. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan menuju nakas. Adisurya tidak menghiraukan pertanyaan Rianti, "Kita harus gimana, Pa?"


Adisurya mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Ia kemudian menelepon seseorang dan berkata, "Temui Om besok di kantor."


"Pa, siapa itu? Agas?" tanya Rianti sambil menghampiri suaminya.


Adisurya kembali meletakkan ponselnya. Sekali lagi, ia tak menghiraukan pertanyaan Rianti. Adisurya justru menggandeng istrinya menuju pintu sambil berkata, "Kita makan malam dulu. Anak-anak sudah menunggu. Papa nggak lihat mobil Ehan, kemana dia jam segini belum pulang?"


"Nganter Isti pulang," sahut Rianti pelan.

__ADS_1


"Oh." Adisurya tidak menampakkan sedikitpun rasa curiga akan hal itu. Rianti merasa cukup lega. Biarkan saja dulu, sementara ini mereka akan memikirkan jalan keluar untuk Annisa jika saja apa yang ia dengar benar-benar terlaksana.


_bersambung_


__ADS_2