
Happy reading ....
*
Beberapa hari kemudian ....
Sinar mentari yang menghangatkan pagi menjadi penyemangat untuk memulai hari. Annisa dan teman-teman sekolahnya merasa lega karena ini hari terakhir pelaksanaan ujian tengah semester.
Adisurya dan Rianti sudah pulang dari perjalanan mereka dua hari yang lalu. Dan seperti biasa, pekikan Rianti terdengar menggema di dalam rumah.
Satu persatu anggota keluarga berkumpul di ruang makan. Moment pagi seperti ini sayang untuk dilewatkan mengingat jarang sekali mereka bisa berkumpul, karena Adisurya tidak selalu bisa menyempatkan diri untuk makan siang ataupun makan malam di rumah.
Setelah saling menyapa, mereka pun duduk di posisi seperti biasa kemudian memilih sarapan yang diinginkan.
"Masih semangat, kan?" tanya Adisurya.
"Semangat dong, Pa," sahut Rayhan.
"Kapan kita berangkat, Pa?" tanya Raydita.
"Mungkin lusa. Papa baru pagi ini akan menyuruh Heru meminta kru memeriksa kesiapan pesawat," sahut Adisurya.
"Memangnya pakai pesawat siapa, Yah? Kok harus disiapkan," tanya Annisa polos.
"Punya kita dong, Sayang," sahut Adisurya.
"Beneran, Yah?" Annisa terlihat antusias.
"Biasa aja kali mukanya," delik Rayhan.
"Dih Kak Ehan. Nisa kan baru tahu. Mmm coba kalau boleh ngajak Isti, pasti lebih seru," gumam Annisa.
"Ide bagus tuh. Seribu persen Kakak setuju. Boleh ya, Pa?" tanya Rayhan dengan sangat antusias.
"Boleh apa, Han?" tanya Papa Adi membuat Rayhan yang kemudian menyadari sikapnya jadi salah tingkah.
"Boleh ajak teman gitu Pa maksudnya. Ehan juga kan pengen ngajak Agas sama Raka," kilah Rayhan.
Papa Adi mengangguk-angguk pelan dan berkata, "Boleh aja, asalkan orang tua mereka mengizinkan dan tentunya persyaratan perjalanan ke luar negeri terpenuhi."
"Itu sih gampang, paling juga tinggal ngurus visa. Paspor kan udah pada punya," sahut Rayhan. "Tapi Isti udah punya belum ya?" imbuh Rayhan dalam hatinya.
"Pa, gimana kalau kita liburannya ke negara yang bebas visa? Biar nggak lama aja nunggu prosesnya, Pa," usul Rayhan.
"Setuju. Yang dekat aja. Misalnya ke Jepang," imbuh Raydita.
"Boleh juga. Auntum di sana indah lho," ujar Rianti.
"Kalau gitu, Dita juga mau ngajak Tasya sama Mela," timpal Raydita.
"Oke. Nisa, Yuda diajak ya. Ayah suka sama anak itu, lucu."
"Iya, Yah. Tapi nggak tahu juga mau ikut atau enggaknya," sahut Annisa.
"Ajak aja dulu," ujar Adisurya dan diangguki Annisa.
"Jadi ini judulnya bukan liburan keluarga lagi dong," ujar Rianti.
__ADS_1
"Ganti judul, Ma. Jadinya, ngasuh," seloroh Adisurya sambil tersenyum.
"Gak kebayang deh kalau mereka bisa ikut semua." Rianti mengulumkan senyumnya. "Ladies, nanti sepulang sekolah kita belanja ya?"
"Sorry, Ma. Dita udah janji sama Tante Rida," sesal Raydita.
Rianti tersenyum tipis dan berkata, "It's ok, Sayang. Kita berdua aja ya, Nisa?" Annisa mengangguk kecil.
"Terima kasih, Ma." Rianti tersenyum. Ia pun meminta mereka menyelesaikan sarapannya dan berangkat ke sekolah.
***
Ada pemandangan yang tak biasa di kantin siang ini. Rayhan tidak hanya berkumpul dengan dua sahabatnya, tapi juga dengan sahabat dua adiknya.
Tidak biasanya, Rayhan mengambil posisi duduk di sisi kiri Isti. Ia mencoba menutupi 'udang dibalik batu' dengan gayanya yang santai agar tidak ada yang menaruh curiga.
Mereka sedang membicarakan rencana liburan ke Jepang besok lusa. Jika kedua sahabat Rayhan sudah tentu bisa ikut, sahabat Raydita hanya Tasya yang bisa. Karena Mela akan menjenguk nenek dan kakeknya di Camberra.
Lalu bagaimana dengan dua sahabat Annisa?
Saat ini Yuda sedang menunggu balasan chat dari Yopi—kakaknya. Sedangkan Isti, tidak berani meminta izin melalui pesan chat. Isti harus berbicara langsung pada kedua orang tuanya.
"Yes!" seru Yuda.
"Boleh?" tanya Raka dan diangguki langsung oleh Yuda.
"Tinggal Lo, Isti. Kira-kira dibolehin nggak?" tanya Raydita.
"Aku nggak tahu," sahut Isti tersenyum kecut.
"Minta aja mama yang ngomong sama nyokap Lo. Gue yakin diizinin," saran Raydita.
"Iya juga ya. Nanti aku coba minta ibu bicara sama umi kamu, Is," timpal Annisa cepat.
"O-oke, terima kasih," sahut Isti kikuk.
Mereka pun mulai membahas apa saja yang akan mereka lakukan di sana. Mengingat di Jepang saat ini sedang musim gugur.
"Isti, itu minumannya kenapa diaduk terus? Kalau nggak mau, untukku aja," ujar Yuda.
"M-mau kok." Isti langsung mengarahkan sedotannya yang sedari tadi ia putar-putar ke mulutnya. Teman-temannya tidak mengetahui sedari tadi ia susah payah bersikap wajar saat tangan Rayhan sedang menggenggam tangannya yang berada di bawah meja.
Rayhan mengulumkan senyum sambil menatap pada ponselnya. Wajahnya yang merona membuat Ghaisan menatapnya penuh tanya.
"Lo lagi chat-an sama siapa sih, Ray? Kok muka lo mencurigakan," selidik Ghaisan.
"Lo punya cewek ya, Ray?" todong Raka.
Uhhuk ... uhhuk.
Mereka sontak menoleh pada Isti. Kening mereka pun berkerut melihat tangan Rayhan yang menepuk-nepuk punggung Isti.
Rayhan langsung tersadar dan tersenyum kikuk sambil berujar, "Ini tangan tahu aja ya kalau yang lagi batuk cewek cantik. Hehe ...." Rayhan menepuk tangannya sendiri. Di sisi lain, Annisa menyodorkan botol air mineral miliknya pada Isti.
"Terima kasih," sahut Isti pelan.
Bel masuk kembali berbunyi. Para siswa kembali ke kelas masing-masing.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan mata pelajaran terakhir, siswa pun meninggalkan area sekolah dengan lambaian tangan dan sapaan Mr. Thomas yang berdiri di depan pintu utama. Pria berumur yang baru menjabat sebagai kepala sekolah itu memang ramah pada seluruh siswanya.
Di luar gerbang sekolah, Rida sudah menunggu Raydita. Tak lama kemudian mobil yang membawa Rianti juga tiba di sana. Begitu juga mobil Dahlan.
Rida menghampiri Rianti yang berada di dalam mobil dan menyapanya dari jendela mobil yang terbuka. Tak lupa ia juga berterima kasih sudah mengizinkan Raydita pergi bersamanya.
"Sudah mulai pengobatannya?" tanya Rianti.
"Baru pemeriksaan, Kak. Untuk kemoterapi nunggu jadwal dari dokter," sahut Rida canggung.
"Semoga lancar ya," ujar Rianti.
"Terima kasih, Kak."
Raydita, Isti, dan Annisa terlihat keluar dari gerbang sekolah mereka menghampiri mobil Rianti dan saling menyapa.
"Ma, Dita pergi duluan ya," pamit Raydita.
"Iya," sahut Rianti sambil menganggukan kepala.
"Bye!" seru Raydita pada Annisa dan Isti.
Rida pun berpamitan pada Rianti. Kemudian Dahlan menghampiri mereka dan menyapa Rianti. Annisa menyalami Dahlan. Setelahnya ia merasa heran melihat Rayhan berjalan menghampiri mereka.
"Kak Ehan mau ikut juga?" tanya Annisa.
"Enggak," geleng Rayhan.
"Siang, Om," sapa Rayhan yang kemudian mencium punggung tangan Dahlan.
"Siang juga. Ini kakak Annisa?" tanya Dahlan.
"Iya, Om," sahut Rayhan. "Calon mantu, hehe," imbuh batin Rayhan.
"Uminya Isti lagi sibuk apa?" tanya Rianti dari dalam mobil.
"Lagi ngepak pakaian Isti," sahut Dahlan.
"Memangnya mau kemana?" tanya Rianti lagi.
"Mau nitipin Isti ke ibu di vila. Kebetulan saya sama istri ada yang harus di urus di luar kota. Biasa ... ada masalah di pabrik. Jadi nggak bisa bawa Isti. Kalau ditinggal di rumah juga nggak tenang," tutur Dahlan.
"Mau dititipin sama Bi Marni?" Dahlan mengangguk.
"Kenapa nggak di rumah kami aja? ada Nisa, Dita. Oh iya, kita juga mau ada rencana liburan sama teman anak-anak. Ikut aja sekalian. Mau kan, Isti?" tawar Rianti.
"Ma-mau," sahut Isti grogi.
"Tuh, Isti-nya juga mau. Bagaimana, Pak?" tanya Rianti lagi.
"Saya bicarakan dulu dengan Umi-nya," sahut Dahlan.
"Oke, kalau begitu. Semoga bisa ya," ujar Rianti.
Dahlan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian berpamitan. Annisa terlihat senang, begitu juga dengan Isti. Apalagi Rayhan. Mereka berharap kedua orang tua Isti mengizinkan Isti tinggal sementara di rumah mereka dan bisa ikut liburan bersama.
_bersambung_
__ADS_1