Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
kepastian


__ADS_3

Happy reading ....


*


Mentari yang bersinar terang membawa harapan akan hari yang cerah. Cicitan burung terdengar saling bersahutan seakan tak ingin kalah dari dua pelayan yang sedang berbincang sambil menyiram tanaman.


Rupanya tak hanya mereka, karena di kamar Annisa pun ada obrolan yang tak kalah serunya. Annisa dan Yuli kembali merebahkan diri setelah selesai melaksanakan salat subuh. Mereka meneruskan cerita semalam yang sempat terpotong.


Sekalipun weekend, biasanya Annisa sudah keluar kamar meski hanya untuk sekedar menyapa beberapa pelayan. Tapi hari ini, putri Adisurya itu rupanya masih belum puas melepas rindu dengan sahabat masa kecilnya.


"Sebentar ya, aku mau ke kamar mandi dulu," ujar Annisa di sela obrolan mereka. Setelah mendapat anggukan dari Yuli, Annisa beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.


Sambil menunggu Annisa, Yuli menggapai ponsel yang belum lama ini diletakkan di atas nakas.


"Untung nggak jatuh. Kalau jatuh, terus hancur, bisa dimarahin Ayah," gumam Yuli.


Subuh tadi, Yuli terkejut mendapati ponsel barunya itu berada di tepi tempat tidur.


"Semalam Kak Raka nelpon," gumamnya heran. "Cukup lama juga. Kira-kira apa yang dia omongin ya? 'Kan aku tidur. Aku tidak ingat semalam bicara dengan Kak Raka," sambung Yuli bermonolog.


Tok ... tok ... tok.


"Neng Nisa, di depan ada Den Raka," ujar Bi Susi dari balik pintu.


"Kak Raka, mau apa dia pagi-pagi begini datang ke sini? Aduh, jangan bilang dia ke sini karena obrolan semalam. Ish, aku ngomong apa ya? Bisa malu kalau Bu Rianti tahu," gumam Yuli.


"Iya! Sebentar, Bi," sahut Yuli.


Yuli beranjak dari tempat tidur dan bergegas membuka pintu.


"Eh, Neng Yuli. Neng Nisa ada, Neng? Itu di depan ada Den Raka nungguin. Katanya mau ketemu Neng Nisa," ujar Bi Susi.


"Nisa sedang di kamar mandi, Bi. Biar saya saja yang menemui Kak Raka," sahut Yuli.


"Oh, iya. Silakan, Neng! Bibi mau ke dapur membuat sarapan dulu. Neng Yuli mau sarapan apa?"


"Apa saja, Bi. Terima kasih." Yuli menatap Bi Susi yang berlalu sambil tersenyum tipis. "Hmm, enak banget ya Nisa," batinnya.


"Oh, iya.Kak Raka," ujarnya pelan. Yuli berjalan cepat menuju ruang depan. Sebelum pintu ruangan itu dibuka Yuli menyempatkan untuk mengintip Raka di luar.


Raka terlihat sedang Berbincang dengan pria yang sedang mencuci mobil. Setelah berdehem pelan, Yuli pun membuka pintu yang sontak saja membuat Raka menoleh padanya.


"Selamat pagi, My sunshine," sapa Raka dengan wajah yang riang.


"Selamat pagi, Kak. Kak Raka cari Nisa? Nisanya lagi di kamar mandi," ujar Yuli.


"Nggak juga. Aku ke sini mau ketemu kamu," sahut Raka.

__ADS_1


"Ketemu Yuli, mau ngapain? Ini 'kan masih pagi, Kak," tanya Yuli heran.


"Aku datang ke sini memastikan perbincangan kita semalam. Hehe, aku nggak dipersilahkan nih?"


"Yuli 'kan bukan yang punya rumah, Kak. Jadi di sini aja ngobrolnya," sahut Yuli yang kemudian mempersilakan dengan gerakan tangan.


"It's ok. Dimanapun, asalkan sama kamu," seloroh Raka.


"Ish. Apaan sih?" Yuli tersipu malu.


Yuli merasa heran sekaligus geli melihat sikap Raka yang seperti salah tingkah dan bingung harus dari mana memulai pembicaraan.


"Kakak kenapa? Memangnya apa yang kita bicarakan semalam?" tanya Yuli dengan mimik polosnya.


Raka terkesiap mendengarnya. Kini raut wajah sahabat Rayhan itu semakin terlihat seperti orang bingung.


"Apa semalam Yuli tidur? Haiss, gimana ini? Mana gue udah buat pengumuman di grup chat. Udah dapat ucapan selamat dari teman-teman gue juga, malu dua kali lipat kalau gini," batin Raka sembari menggigit bibirnya sendiri.


"Mmm ... kamu beneran nggak ingat, Yul? Semalam kita 'kan jadian," ujar Raka pelan.


"Hah! Jadian?" pekik Yuli spontan, dan langsung menutup mulutnya serta tersenyum malu pada pria yang baru selesai mencuci mobil itu.


"Iya," angguk Raka.


"Masa sih?" Kini giliran Yuli yang terlihat bingung.


"Begitu ya?" tanya Yuli pelan.


"Heem," angguk Raka.


"Ya mau gimana lagi," gumam Yuli.


"Beneran?" tanya Raka.


"Iya, Kak." Yuli tersenyum lebar.


"Alhamdulillah," ucap Raka sembari menengadahkan kedua tangannya. Di sampingnya, Yuli mengulumkan tawa.


***


Kehidupan percintaan Annisa, juga kerabat dan sahabat-sahabatnya tidak jauh berbeda dengan kaula muda seusia mereka pada umumnya. Yang pasti, dengan gaya dan sifat mereka tentunya.


Bedanya, jika Annisa-Ghaisan dan Rayhan-Isti menjalani hubungan jarak jauh antar negara. Maka Yuda-Raydita, dan Raka-Yuli, menikmati masa pacaran mereka yang kental dengan nuansa anak kuliahan.


Seperti saat ini, Raydita sedang menikmati cappucino ice-nya bersama Yuda yang tengah asik makan bakso di salah satu gerai yang ada di kantin kampus mereka. Keduanya bersikap tak acuh pada beberapa pasang mata yang menatap mereka. Tapi lama kelamaan Raydita merasa tidak nyaman juga.


"Mereka kenapa sih?" gumamnya sambil membalas tatapan yang tertuju padanya.

__ADS_1


"Cuekin aja. Paling juga iri," sahut Yuda tanpa menoleh.


"Iri kenapa?" Raydita menoleh pada Yuda.


"Iri lihat kamu punya pacar seganteng aku," selorohnya.


"Ck." Raydita mendelik pada Yuda yang memberinya senyuman lebar.


"Kebalik ya? Hehe," tanya Yuda sambil nyengir kuda.


"Pikir aja sendiri," sahutnya ketus. "Ish! Nggak gitu juga, Yud," protes Raydita sedang tatapan aneh pada Yuda yang sedang menyendok kuah bakso sampai tak bersisa.


"Kenapa, Sayang? Makan apapun itu memang harus habis, 'kan?" tanya Yuda santai sambil menyeruput air teh dingin dalam kemasan botol.


"Terserah lo deh," dengus Raydita pelan. Raydita pun melakukan hal yang sama terhadap minumannya. Raydita mendelik dengan senyuman pada Yuda yang memberinya tatapan menggoda.


Drrttt .... Ponsel Raydita yang tergeletak di meja bergetar. Raydita mengerutkan keningnya melihat nama perawat Rida pada layar ponselnya.


"Ada apa ya?" gumamnya, dan langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"Halo, Sus! Ada apa?" tanya Raydita yang sudah memperlihatkan kecemasan. Yuda menatap penuh tanya sembari mengarahkan tangannya untuk menggenggam tangan Raydita yang berada di atas meja.


"Ibu, Non ...."


"Mama kenapa?" Seketika Raydita panik. Di saat yang bersamaan, Yuda mengeratkan genggaman tangannya. Raydita mendengarkan dengan seksama penuturan perawat ibunya.


"Oke," ujarnya kemudian dengan suara sangat pelan.


"Ada apa, Dita?" tanya Yuda tenang sambil menuangkan botol air mineral ke dalam gelas.


"Mama di rumah sakit, Yud," sahutnya masih dengan raut cemas.


"Minum dulu, Sayang," ujar Yuda lembut. Raydita menatap Yuda yang menyodorkan gelas itu padanya, lalu mengambilnya.


Setelah beberapa teguk, Raydita kembali meletakkan gelas itu, dan mengajak Yuda segera ke rumah sakit. Yuda menggenggam tangan Raydita dan memintanya untuk tidak terburu-buru.


"Yuda. Ayo, cepat ...," rengek Raydita sambil menarik tangan Yuda.


"Oke," sahut Yuda pelan. Bukan tanpa maksud, Yuda hanya ingin memberi Raydita kesempatan untuk meredam rasa paniknya.


"Yud! Lo nggak masuk kelas?" tanya teman Yuda yang berpapasan dengan mereka.


"Nggak deh. Info ya kalau ada tugas," sahut Yuda. Raydita yang mulai kesal melepaskan genggaman tangannya dan bergegas menuju ke tempat parkir.


"Hmm mentang-mentang pacar lo cantik, kerjaan lo jadi pacaran mulu," cibir temannya dengan mimik menggoda.


"Kapan lagi ya, 'kan? Yuk, ah. Bye!" pamit Yuda sambil berlari kecil menyusul Raydita.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2