
Happy reading ....
🌿
"Pa, kok diam?"
Adisurya tersenyum tipis sembari menatap wajah Raydita. Dengan lembut Adisurya berkata, "Kalian anak papa, dan papa menyayangi kalian dengan sepenuh hati papa."
"Tapi Nisa bukan ...."
"Ssstt. Jangan pernah menanyakan hal seperti ini lagi. Paham?" Adisurya menatap lekat pada Raydita. Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hati Raydita, karena tidak biasanya Raydita mempertanyakan kasih sayangnya sebagai seorang ayah.
Mau tak mau Raydita mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk menyembunyikan rasa kecewa yang mendalam. Untuk saat ini saja, ia ingin mendengar Papa Adi mengatakan bahwasanya rasa sayang terhadapnya lebih besar dibandingkan Annisa.
"Pa!" Terdengar seruan Rayhan yang memanggil sambil menggerakkan tangan.
"Kesana yuk!" Ajaknya sambil merengkuh pundak Raydita. Keduanya pun berjalan menghampiri meja.
Raydita bergelayut manja di lengan Adisurya. Ada rasa puas di hatinya saat melihat tatapan sayu Annisa ke arah mereka walau hanya sekilas. Pikirnya, Annisa pastilah sedang merasa cemburu pada kedekatannya dengan sang papa.
Mereka menikmati makan malam di dua meja berbeda. Keduanya terpisah jarak sekitar dua meter saja. Satu meja ditempati Rika, Rianti, Adisurya, dan Raydita. Sementara di meja lain ada Rayhan, Annisa, dan Ghaisan.
Gelak tawa terdengar dari Rayhan dan Ghaisan yang saling mengejek sambil bercanda. Dua sahabat itu juga menertawakan Annisa yang tidak mengetahui cara menikmati menu hidangan kepiting.
Adisurya bahkan sampai terkekeh melihat kelakuan Rayhan yang terus saja menggoda adiknya. Terlihat jelas kebahagiaan pada sorot mata putranya itu.
Adisurya sebenarnya ingin membantu Annisa mengajari cara menikmati hidangan kepiting. Namun ia tahan, demi melihat keakraban kedua anaknya tersebut.
Suasana berbeda dirasakan Raydita, Rika dan kedua orang tuanya terlihat anggun dan elegan saat menikmati hidangan.
"Ish, norak. Dasar kampungan." Decihnya dalam hati saat melirik Annisa yang kebingungan membuka cangkang kepiting.
"Eh, Dita! Lo b*go sih. Diajak makan bareng kita di sini, nggak mau. Serasa makan di kuburan kan kalau sama ortu di situ," seloroh Ghaisan.
"Kak Agas ngomongnya asal. Ya enggak lah, dari pada malu-maluin." Sahutnya sambil mendelik pada Annisa yang belepotan di bagian mulutnya karena digoda Rayhan dengan capit kepiting.
"Yang penting asik. Ya nggak, Ray?" tanya Agas sambil menyenggol siku Rayhan yang sedang membelah kepiting di piring Annisa.
"Terserah Lo deh, Gas." Sahutnya tanpa menoleh.
"Sama Nisa aja, Kak."
"Ah Lo, lama. Lo mau ditinggalin gara-gara beginian? Lagian kan ada yang lain. Ngotot banget pengen ini," gerutu Rayhan.
"Nisa kan ingin tahu rasanya, Kak. Kalau di desa kepitingnya kecil-kecil, yang ini gede. Makanya Nisa penasaran, sama nggak rasanya."
"Emang di kampung ada kepiting?" cibir Rayhan.
__ADS_1
"Ada dong. Di sawah ada, di sungai juga ada. Nggak banyak sih. Kecuali di sawah bapaknya Yuli, karena memang sengaja di budidayakan. Banyak banget deh, Kak. Tapi kecil-kecil, apa ya disebutnya? Mmm yuyu sawah," celoteh Annisa pelan.
"Lo sering makan? Emang nggak geli kalau yang kecil begitu?" tanya Rayhan.
"Pernah sekali, itu juga dikasih Pak Indra-bapaknya Yuli. Aah, jadi kangen." Sahutnya sambil tersenyum tipis dengan tatapan menerawang.
Entah kenapa Rayhan melepaskan pisau dan garpu begitu saja. Suara detingannya mengagetkan Annisa juga beberapa orang di sana.
"Nih, punya gue aja," ujar Rayhan sembari menukar piring miliknya dengan milik Annisa.
"Kak Ehan gimana?" tanya Annisa bingung karena Rayhan lebih memilih menu lain dan menyisikan kepiting yang sudah hampir terbelah itu. Sementara di piring yang berada di depannya, kepiting siap santap sudah tersedia.
"Lo makan aja dulu yang itu. Kalau masih pengen nanti gue bukain kepiting yang ini. Gue lapar," sahut Rayhan yang mulai menyuap dengan suapan yang besar.
Entah mengapa Rayhan merasakan dadanya sesak bila mendengar kesulitan Annisa dimasa lalu walau hanya satu kalimat. Mengingat betapa lusuhnya Annisa saat pertama datang ke rumah, tak terbayang kesulitan yang mau tak mau harus dijalani adiknya itu.
"Lo kesurupan, Ray. Pelan-pelan dong. Santai, Bro," tegur Agas saat melihat mulut Rayhan yang seperti memaksakan suapan padahal mulutnya penuh dengab makanan yang sedang ia kunyah.
"Kak Ehan, makannya jangan buru-buru. Nanti keselek," ujar Annisa. Benar saja, Rayhan tersedak dan batuk beberapa kali.
Cepat-cepat Annisa menyodorkan air minum. Begitu juga dengan Rianti yang mendengar Rayhan terbatuk-batuk.
Rianti langsung menghampiri meja mereka dan menepuk-nepuk pelan punggung atas putranya. "Pelan-pelan, Sayang." Ujarnya.
"Ehan udah nggak apa-apa kok, Ma. Mama makan lagi aja," kilah Rayhan.
"Nisa, coba yang lain juga dong. Enak-enak loh. Agas mau ini?" tawar Rianti yang menyendokkan menu seafood lain ke piring Annisa, lalu menawarkannya juga pada Ghaisan.
"Nanti aja, Tante." Tolaknya.
"Makan lagi, Han. Pelan-pelan ya," ucap Rianti sebelum meninggalkan meja mereka.
"Iya, Ma." Angguknya.
Rayhan kembali menyuapkan sisa makanan di piringnya. Setelahnya, ia kembali membukakan kepiting untuk Annisa dan meletakkan dagingnya di piring Annisa.
"Udah, Kak. Ini juga banyak," ujar Annisa.
"Enak nggak?" tanya Rayhan tanpa menoleh. Tangan Rayhan masih disibukkan mengeluarkan sisa daging kepiting dari cangkangnya.
"Enak banget. Terima kasih, Kak Ehan." Ujarnya sambil tersenyum tipis.
"Idih, sok imut." Ghaisan mencolek ujung hidung Annisa dengan capit kepiting yang tergeletak di dekat piring Rayhan.
"Iih, Kak Agas," delik Annisa sambil mengusap ujung hidungnya.
"Pa, tolong bukain punya Dita." Terdengar suara Raydita meminta Papa Adi untuk membukakan kepiting yang sengaja ia letakkan di piringnya. Raydita menyodorkan piringnya ke hadapan Papa Adi sambil mendelik dan menyeringai pada Annisa.
__ADS_1
"Tumben kamu mau makan ini. Biasanya nggak mau. Ribet lah ... belepotan lah," ujar Papa Adi sambil menggeser piringnya dan mulai mematahkan kaki kepiting itu.
"Ya lagi pengen aja, Pa. Memangnya nggak boleh?"
"Boleh. Papa yakin, kamu tergoda karena melihat Nisa juga memakannya kan? Ini enak, Sayang. Ya walaupun butuh usaha sedikit untuk membukanya," ujar Adisurya.
"Enggak kok. Dita sama teman-teman suka memakannya," kilah Raydita dengan ekspresi wajah tak suka karena dihubung-hubungkan dengan Annisa.
"Dita, coba yang ini, Sayang. Aa ...." Rika menyuapkan satu potong calamari dengan sumpitnya ke mulut Raydita.
"Enak, Tante." Sahutnya sambil mengacungkan ibu jari.
"Yang ini sudah coba belum?"
"Nggak ah, itu pedas." Tolaknya.
"Kalau yang ini?" Rika menawarkan satu persatu menu yang ada di meja mereka. Setiap kali Raydita mengangguk, Rika akan menyuapkan padanya.
Dalam diamnya, Rianti memperhatikan sikap Rika. Diantara mereka semua, mungkin hanya dirinya yang tidak menikmati hidangan.
Hembusan angin laut di malam hari mulai terasa menusuk. Setelah makan malam usai, mereka memutuskan untuk segera pulang.
Menyusuri jembatan cinta di malam hari terasa indah. Air laut yang memantulkan cahaya lampu menghadirkan suasana romantis bagi siapa saja yang melewatinya.
Hal itu juga dirasakan oleh Adisurya dan Rianti. Sikap Adisurya yang merengkuh mesra pundak istrinya, membuat Rika dan anak-anak tak hentinya menggoda.
Raydita melingkarkan tangannya di lengan Rika. Mereka sengaja menjaga jarak dari Adisurya dan Rianti.
Sementara Rayhan, Annisa, dan Ghaisan yang semula bertiga, terpisah karena Ghaisan menerima telepon dari seseorang. Meninggalkan Rayhan hanya berdua dengan Annisa.
Melihat Annisa yang mengusap-usap lengan atasnya, Rayhan melepas jaket dan memakaikannya pada Annisa. Ia bahkan setengah memaksa karena Annisa sempat menolak.
"Mas, Rianti senang melihat Ehan bisa menerima Nisa sebagai adiknya." Pasangan itu menatap kedekatan kedua anak mereka dari kejauhan.
"Ehan itu kakak yang baik. Dibalik sifatnya yang usil, dia seorang kakak yang care banget," sahut Adisurya.
"Iya ya, Mas. Seandainya saja Nisa juga tahu kalau Ehan itu kakak kandungnya." Rianti seakan tersenyum menerawang.
Kemudian ia berucap dengan capat, "Mas, bagaimana kalau kita memberitahukan yang sebenarnya pada Nisa? Biar dia nggak canggung lagi sama kita. Kita juga bisa memberi pengertian bahwa tidak hanya Ehan, tapi Dita juga saudarinya. Mereka kan satu susuan. Benar kan, Mas?"
"Memberitahukan yang sebenarnya, kamu yakin?" tanya Adisurya sembari menatap lekat pada Rianti.
"Yakin, Mas." Angguknya pasti.
"Bagaimana dengan konsekkuensinya, kamu sudah siap?" tanya Adisurya mencoba memastikan lagi.
Rianti terlihat mulai gusar. Adisurya kemudian merengkuhnya dan mengusap lembut surai Rianti yang terkena hembusan angin malam.
__ADS_1
"Kita akan membicarakan ini dengan anak-anak sesampainya di rumah. Kita akan pikirkan solusi terbaiknya. Oke?" Bisiknya, dan diangguki pelan oleh Rianti.