Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
jadi tiga


__ADS_3

Happy reading ....


Suasana kamar Adisurya seketika hening, seiring berakhirnya kisah masa lalu Annisa yang diceritakan pada Rianti. Pasangan suami istri itu tertunduk sangat dalam dengan isakan yang tertahan.


"Maafkan aku. Saat itu egoku terlalu tinggi untuk terlihat lemah di hadapan para pelayan, terutama Asih yang menurutku sangat lancang. Aku menutup hatiku untuk Nisa. Aku menutup telingaku dari setiap panggilannya dalam mimpiku. Aku sudah bersalah, Rianti. Aku sudah membuat putri kita menderita."


Adisurya tersedu mengakui semua itu. Seakan saat ini fase terendah dalam hidupnya. Rianti terisak sambil mengusap air matanya.


"Lalu kita harus bagaimana, Mas?" Tanyanya dengan suara yang parau.


"Kita mulai lagi semua dari awal. Pelan-pelan saja, agar tidak mengejutkan siapapun juga, terutama Raydita." Sahutnya sambil mengusap air mata.


"Satu hal lagi, Rika sudah mengetahui kebenarannya."


"Apa?" Adisurya mengangguk.


Terdengar klakson mobil dan suara motor yang sangat bising. Adisurya melihat dari balkon. Ternyata anak-anak sudah pulang sekolah. Tidak hanya anak-anaknya, tapi juga dua teman Rayhan yang membawa masing-masing motor mereka.


"Rianti, minta Bibi menyiapkan makan siang. Anak-anak pasti lapar."


Rianti mengangguk, dan berlalu ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Sebelum keluar dari kamar, ia menyempatkan untuk bertanya, "Apa Bi Susi dan Mang Asep sudah mengetahuinya?"


"Sudah. Mang Dayat dan Bi Marni juga. Sayang, kamu harus bisa membagi kasih sayangmu dengan adil. Aku tahu ini tidak mudah, minimal untuk saat ini jangan menyakitinya. Tidak akan ada yang berubah, kecuali satu."


"Apa itu, Mas?"


"Anak kita jadi tiga," sahut Adisurya sambil tersenyum.


Rianti mengulumkan senyumnya, dan berdehem sebelum keluar kamar. Sementara Adisurya melangkah menuju kamar mandi. Pria itu menyunggingkab senyum mendengar suara Raydita yang menanyakannya.


"Papa sudah pulang, Ma?" Raydita membuka pintu kamar dan memutarkan pandangan.


"Papamu di kamar mandi. Turun yuk, kita lihat papa bawa apa. Ada Agas sama Raka juga ya?"


"Iya. Mama duluan deh. Dita mau ganti baju."


"Oke, nanti turun ya."


"Iya, sama papa turunnya," sahut Raydita sebelum menutup pintu kamarnya.


Rianti menunduk sesaat sambil mengatur emosinya. Gelak tawa Rayhan dan dua sahabatnya menggema di teras belakang rumah.


Hari ini, Annisa ikut pulang bersama mereka. Tidak mungkin Raydita meninggalkan Annisa, saat Rayhan yang memintanya. Apalagi Mang Asep sepertinya sengaja menunggu Annisa agar pulang bersamanya.


"Tuan bawa apa, Bi?"


"Ini, Nya. Tadi Mas Heru yang membawakan."


"Sekarang Heru di mana?"


"Sudah pamit pulang barusan, Nya."


"Oh, ya sudah. Siapkan makan siang ya."


"Baik, Nya."

__ADS_1


Sekilas Rianti melirik pada Bi Susi yang sedang menata piring tambahan untuk dua sahabat Rayhan. Setelah Bi Susi meninggalkan ruang makan, dengan ragu-ragu Rianti menambahkan satu piring lagi untuk Annisa.


Rayhan dan teman-temannya terlihat sangat senang. Mereka tertawa sambil menatap layar ponselnya. Entah apa yang mereka tertawakan, Rianti hanya bisa menggeleng pelan sambil mengulumkan senyuman.


"San, sini aku aja yang bawa ke dalam. Lumayan kan bisa cuci mata, lihat cowok-cowok ganteng," ujar Hani.


"Kamu bawa ini aja, Han. Masih ada kok yang harus dibawa. Nggak usah ngerebut yang mau dibawa Santi," tegur Bi Susi.


"Iya, iya ...."


"Ada yang bisa Nisa bantu, Bi?"


"Heh, kalau mau bantu ya bantu aja? Nggak usah sok-sokan menawarkan diri. Nggak niat banget," delik Hani.


"Dari pada kamu, niat bantu karena ada udang dibalik batu. Mau lihat cowok ganteng," timpal Santi.


"Ish, kamu. Nyamber aja." Dengan kesal Hani mengantarkan makanan ke ruang makan. Bi Susi membuang kasar nafasnya, sementara Annisa hanya tersenyum simpul menanggapinya.


Di dalam rumah, Adisurya baru turun dari arah tangga bersama Raydita yang bergelayut manja. Wajah pria itu terlihat senang, mungkin karena kini hatinya sudah tenang.


Adisurya pun memanggil anak-anak untuk makan. Rayhan dan kedua sahabatnya masuk ke dalam dan menuju ruang makan.


"Weess, asik nih. Tante tahu aja menu favorit Raka."


"Ah, Lo. Apa aja juga jadi favorit," sahut Rayhan dan ditanggapi kekehan oleh mereka.


"Makan yang banyak ya."


"Siap, Tante."


"Untuk siapa, Ma?" tanya Raydita.


"Untuk Annisa, Sayang. Tolong panggilkan Nisa ya," pinta Adisurya pada pelayannya.


"Baik, Tuan," sahut Santi.


Dua pelayan itu kembali ke dapur setelah menata semua menu di meja. Bi Susi datang dengan panci berisi sayur kesukaan majikannya.


"Eh, Nis. Tuh dipanggil Tuan," ujar Hani.


"Saya, Mbak?"


"Ya iya lah, Kamu. Memangnga siapa lagi. Sok polos." Deliknya.


"Iya kamu, Nisa. Mungkin kamu diminta makan bareng sama mereka," sahut Santi.


"Ah masa sih, Mbak."


"Udah sana, pake pura-pura nggak mau segala."


Annisa melangkah menuju rumah utama dengan perasaan bingung.


"Nisa, sini duduk, Nak," pinta ayah Adi menunjuk pada posisi piring yang berada di samping Raydita.


"Kak Ehan di sini dong. Gantian, dia yang di sana," rengek Raydita, meminta Rayhan bertukar posisi dengan Annisa.

__ADS_1


"Ah, makan aja ribet Lo." Rayhan terlihat kesal, namun menuruti keinginann Raydita.


"Nisa, sini." Adisurya menepuk pelan kursi yang berada di sisi kanannya.


Annisa merasa ragu, apalagi sedari tadi Rianti tidak bersuara dan pastinya membuat Annisa salah tingkah. Rianti mulai menyendokkan nasi untuk suaminya, juga untuk dirinya sendiri. Setelah itu, giliran Raydita yang menyendokkan nasi.


"Dit, Gue dong. Lapar," pinta Rayhan.


"Kak Agas mau Dita ambilkan?" Tawarnya sambil menyendokkan nasi untuk Rayhan, namun Ghaisan menggeleng pelan.


"Aku mau, Dit." Raka menyodorkan piringnya.


"Kak Raka ambil saja sendiri, manja."


"Dih. Rayhan dikasih, Agas ditawarin, aku dikacangin." Selorohnya, yang mengundang tawa di meja itu.


Setelahnya, tempat nasi itu diberikan Rianti pada Nisa. Rianti memberikannya nyaris tanpa ekspresi.


"Kak Raka mau Nisa ambilkan?"


Raka dengan senang hati menyodorkan piringnya lagi. Namun kali ini bersamaan dengan Ghaisan yang juga menyodorkan piringnya.


Adisurya mengulumkan senyumnya melihat tingkah mereka. Sedangkan Rianti memilih untuk berpura-pura tidak melihatnya.


Satu persatu Nisa menyendokkan nasi. Adisurya menyendokkan setiap lauk yang terjangkau tangannya dan menaruh di atas piring Annisa.


"Sudah banyak, Yah."


"Habiskan ya."


"Terima kasih."


"Ayo silahkan, jangan lupa berdoa sebelum makan ya."


"Oke, Om," sahut Raka dengan semangatnya.


"Lagak Lo. Emang tahu doa mau makan?" tanya Rayhan.


"Tahu dong. Bismillah kan?"


"Yee, itu sih orok juga tahu," delik Rayhan.


"Iya nggak apa-apa cuma bismillah juga," ujar Adisurya.


"Dengar tuh. Rese' Lo."


"Ssstt, kalian berisik deh," protes Raydita.


"Nggak ada kita, nggak rame ya Ray?"


"Sip." Rayhan mengacungkan ibu jarinya, lalu ber-tos ria dengan Raka.


Mereka pun mulai makan dengan lahapnya. Adisurya tersenyum lega memperhatikan raut wajah ketiga anaknya. Keluarganya kini sudah lengkap dengan kehadiran Annisa.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2