
Happy reading ....
"Bukankah Raka berteman dengan anak Adisurya? Ooh, berarti dua orang yang berboncengan tadi adalah anak-anak Adisurya. Heh, pantas saja. Anak perempuan itu mirip dengan Rianti." Gumamnya dalam hati.
"Kalau tidak salah, itu putra Tuan Adisurya," ujar seseorang di sampingnya.
"Siapa?"
"Itu, anak laki-laki yang sedang duduk bersama teman perempuannya."
"Teman perempuan? Adiknya mungkin."
"Sepertinya Tuan Sandy tidak mengikuti berita. Coba lihat foto ini, jelas bukan anak itu. Putri Tuan Adisurya berkulit putih." Ujarnya sambil menunjukkan foto keluarga Adisurya di salah satu berita online agar lebih meyakinkan. Pria yang tak lain adalah Sandy itu mengamati foto anak perempuan tersebut. Wajahnya mengingatkan pada seseorang, tapi entah siapa. Yang pasti bukan Rianti.
"Tapi kok dia mirip sama Rianti ya?" Batinnya. Tatapan Sandy kembali terarah pada anak perempuan itu. Karena penasaran ia pun berniat menghampiri.
"Maaf, karena pembicaraan kita sudah selesai, saya permisi. Kebetulan salah satu dari mereka adalah putra saya, Raka." Ujarnya.
"Benarkah? Yanga mana, Tuan. Maaf saya tidak tahu."
"Tidak apa-apa. Sepertinya bukan hanya saya yang tidak mengikuti berita, tapi anda juga. Terima kasih, atas kerjasamanya." Sandy berlalu meninggalkan partner bisnisnya yang tersenyum masam. Pria itu berjalan menghampiri Raka dan teman-temannya.
"Nisa, bantuin dong," pinta Raka yang membawa nampan penuh dengan pesanan mereka. Di belakangnya menyusul Ghaisan yang membawa nampan berisi empat minuman soda.
"Cemen Lo, gitu aja minta tolong," ejek Rayhan.
"Ah, Lo. Tahunya makan doang," balas Raka.
"Papa?" gumam Raka pelan saat melihat sosok Sandy mendekati meja mereka. Ketiga orang yang berada di dekatnya pun menoleh. Setelah lama bersahabat dengan Raka, ini pertama kalinya mereka bertemu ayah Raka.
"Siang, Om." Rayhan dan Ghaisan menyapa ayah Raka, sementara Annisa hanya tersenyum dan mengangguk pelan.
"Selamat siang. Wah, Om terlambat ya. Kalian sudah pesan. Tadinya Om yang mau traktir," ujar Sandy basa-basi.
"Lain kali aja, Om. Ya nggak, Ka?" tanya Rayhan. Raka hanya tersenyum kikuk.
Sandy menarik kursi sambil menjelaskan bahwa ia kebetulan ada di tempat itu karena bertemu kliennya. Rayhan dan Ghaisan hanya tersenyum mendengarkan.
Ada yang berbeda terasa di sana. Tidak seperti seorang anak yang senang saat bertemu orang tuanya, Raka justru terlihat canggung dan salah tingkah seperti seseorang yang ketahuan bolos sekolah.
__ADS_1
Namun ternyata, bukan sikap Raka yang menjadi perhatian Sandy, melainkan Annisa. Sembari mengajak ngobrol Raka dan teman-temannya, lirikan Sandy lebih sering tertuju pada siswi perempuan yang tertunduk malu sambil mendengarkan.
"Kenalkan, Om. Ini adik kelas kita. Namanya Nisa," ujar Rayhan memperkenalkan.
"Halo, Nisa. Om papanya Raka. Adik kelas atau adik kelas?" goda Sandy.
"Adik kelas, Om. Kalau adik saya kebetulan lagi pergi sama mama," sahut Rayhan. Sandy hanya menyeringai tipis dengan tatapan yang tak lepas dari sosok gadis yang mengingatkannya pada cinta pertamanya yang bernama Rianti.
Tidak lama Sandy bergabung dengan Raka dan teman-temannya. Pria paruh baya itu, berpamitan karena akan berangkat ke luar kota sore nanti.
"Ka, kok kayanya Lo nggak dekat sama bokap. Canggung gimana gitu lihatnya juga," ujar Rayhan mengungkapkan rasa ingin tahunya.
Raka hanya menyeringai tipis dan menjawab, "Nggak semua bokap seperti bokap Lo, Ray." Ujarnya malas.
Rayhan dan Ghaisan sekilas bertukar pandang. Namun kemudian mereka kembali menikmati makanan. Dalam hati mereka tidak menyangka, keceriaan Raka berbanding terbalik dengan kehidupan keluarganya.
"Kak, di sini ada air putih nggak?" tanya Annisa ragu-ragu.
"Kenapa? Lo nggak minum cola? Heh, dasar udik," decih Rayhan.
"Beli aja di sana. Ada kok," timpal Raka yang menunjuk ke tempat tadi ia memesan makanan.
"Gue burger satu lagi dong, Gas," pinta Rayhan.
"Nggak salah Lo, Ray? Lapar apa lapar?" tanya Raka.
"Doyan," sahut Rayhan santai.
"Ini sih maruk namanya. Gas, gue satu fried fries-nya ya. Si Ray nih main comot aja," seru Raka sambil menepuk tangan Rayhan yang mengambil jatah makannya.
"Ah, pelit Lo. Gue minta punya Lo aja, Nis." Rayhan dengan cueknya mengambil satu persatu kentang goreng milik Annisa yang dengan senang hati menyodorkan pada kakaknya.
Sementara itu di tempat lain, terdengar tawa di salah satu meja di sebuah restoran ternama. Dua wanita dengan seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah. Siapa lagi jika bukan Raydita, Rianti dan juga Rika.
Sebelum nge-mall, mereka menikmati makan siang bersama.
"Sayang ya Rayhan sama Agas nggak ikut. Kalau ikut pasti seru," ujar Rianti.
"Kenapa nggak di ajak, Ma?"
__ADS_1
"Mana mau kalau ada latihan basket."
"Ooh."
"Rayhan sih masih mending mau di ajak ke mall. Kalau Agas anti banget. Kecuali kalau ke klinik, dia baru suka," sahut Rika.
"Calon dokter hebat seperti papanya dong ya?"
"Aamiin. Semoga aja dia bisa lebih hebat dari almarhum Mas Iyan." Rika terlihat bersemangat.
"Bagaimana dengan kamu, Sayang? Cita-cita kamu apa?" tanya Rika pada Raydita.
"Mmm jadi istrinya dokter," sahut Raydita sekenanya.
"Aah kamu, ada-ada saja." Rianti tergelak dengan jawaban Raydita. Begitu juga Rika yang menganggap itu candaan Raydita.
"Dita serius. Kalau Kak Agas jadi dokter, kan Dita jadi istrinya dokter." Sahutnya dengan wajah sumringah.
"Ooh, jadi ada maksudnya. Dengar tuh Rik, ada yang udah daftar jadi calon mantumu." Rianti terkekeh, sementara raut wajah Rika tak sesenang tadi. Rika menunduk menyuapkan makanan sambil menyembunyikan seulas senyuman masam.
"Ma, ini seger loh. Coba deh," ujar Raydita menyodorkan minuman squash yang dipesannya.
"Nggak ah. Mama nggak suka. Perut mama suka jadi nggak enak kalau minum yang ada sodanya," tolak Rianti.
"Hmm, Mama. Padahal ini enak banget. Tante Rika aja suka. Iya kan, Tante?"
"Iya. Ini seger banget. Vitamin C-nya juga banyak."
"Tuh, Ma. Selain segar, juga menyehatkan."
"Tetap aja, mama nggak mau. Memangnya kalau perut mama bermasalah, kamu mau tanggung jawab?"
"Enggak." Gelengnya.
"Ya udah makanya jangan maksa. Ayo cepat habiskan makannya. Kita shopping," ujar Rianti senang.
"Siap, Ma." Raydita tak kalah senangnya.
Rika tersenyum lega melihat kedekatan mereka. Seandainya diharuskan memilih, Rika yakin bahwa Rianti pasti akan lebih memilih Raydita dari pada Annisa.
__ADS_1
_bersambung_