
Happy reading ....
🌿
"Huft." Rayhan mengibas-ngibaskan tangannya karena debu yang lumayan tebal menyelimuti bagian atas koper.
Rayhan mulai membuka dan melihat isinya. Lembaran kertas HVS berserakan di dalam koper itu. Dari sekian banyak, ada beberapa yang memuat gambar anak berbibir sumbing.
"Untuk apa papa mengumpulkan informasi tentang ini. Apa papa bermaksud mengadakan operasi gratis untuk mereka yang tidak mampu?" gumam Rayhan sambil mengambil satu persatu kertas itu dan di letakkannya lagi.
Rayhan bersikap tak acuh dan hendak menutup koper itu lagi. Namun kemudian ia melihat sesuatu berwarna merah muda di bagian paling bawah.
Ternyata itu sebuah map. Rayhan membukanya, dan tak lama keningnya berkerut.
Annisa? Ini punya Annisa? Batinnya.
Di dalam koper itu ada gelang identitas bayi baru lahir berwarna merah muda. Di sana juga ada foot print dan surat keterangan lahir atas nama Annisa Putri Adisurya.
Rayhan terhenyak saat membaca nama yang tertera pada gelang itu. Rianti, Ny?
"Apa maksudnya ini? Kenapa ada nama mama? Dan ini juga ...." Rayhan nampak sangat bingung melihat nama kedua orang tuanya ada pada surat keterangan lahir Annisa.
Annisa yang mana? Apa Annisa yang sama dengan yang baru saja ia temui di dalam rumah?
"Tapi kalau dilihat tanggal lahirnya, sama dengan Dita. Ini maksudnya apa sih?" gumam Rayhan.
Dia itu adik kamu, Han. Kok bisa adiknya pergi dibilang bagus.
Rayhan kembali teringat ucapan Mama saat Annisa pergi dari rumah. Saat itu mama sedang khawatir, dan bisa saja mama jujur tentang hal itu.
Apa mungkin Annisa itu adik gue? batin Rayhan. Kelebatan sikap manis dan tatapan hangat papanya pada Annisa melintas dalam benak Rayhan. Juga perubahan sikap mamanya yang belakangan ini berubah 360 derajat.
"Ini ada apa sih?" Rayhan tak mau tebak-tebakkan. Diambilnya map itu dan keluar dari sana dengan tergesa-gesa.
"Den, sudah ...." Mang Asep tidak melanjutkan kalimatnya. Rayhan berjalan lurus tanpa menghiraukan dirinya.
"Den Ehan kenapa, Pak?"
"Tidak tahu, Bu. Kenapa ya?"
Mang Asep dan Bi Susi terlihat bingung. Mang Asep berlalu ke gudang dan masih terlihat bingung dengan sikap Rayhan.
Sementara itu Rayhan mengetuk kamar orang tuanya. Putra Adisurya itu tak bisa menahan rasa penasaran dan tanda tanya besar dalam benaknya.
"Han, ada apa, Sayang?"
"Boleh Ehan masuk, Ma?"
"Tentu. Apa itu?"
__ADS_1
Rianti menatap map yang dibawa Rayhan sambil menutup pintu kamarnya.
"Papa di mana, Ma?"
"Di ruang baca. Ada apa, Han?"
Rayhan berlalu ke ruang baca tanpa menghiraukan pertanyaan sang mama. Rianti mengikuti langkah putranya dengan tatapan yang bingung.
"Pa."
Adisurya mengerutkan kening melihat raut wajah putranya yang tak biasa. Dilepasnya kaca mata baca yang ia kenakan sambil menatap Rayhan datar.
"Ada apa?"
"Apa artinya ini semua, Pa?"
Rianti menghampiri dan melihat map yang diletakkan Rayhan di atas meja. Awalnya Adisurya terlihat biasa, namun kemudian pria itu nampak terkejut.
"Kenapa ada nama mama dan papa di surat keterangan lahir Annisa. Annisa yang mana, Pa? Apa itu Nisa? Apa dia adik Ehan?" tanya Rayhan dengan suara yang terdengar bergetar.
Adisurya menggigit bibir bawahnya. Raut wajahnya agak memucat dan terlihat bingung akan menjawab apa.
Sementara itu Rianti mengusap satu persatu kertas tersebut. Hatinya gemetar manakala ia mengusap foot print Annisa saat baru lahir.
"Pa. Jawab Ehan!"
"Apa, Pa?"
"Nisa adik kamu. Dia adik kandung kamu," lirih Rianti.
Rayhan menatap tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar dari bibir mamanya. Begitu juga Adisurya yang tidak menyangka Rianti akan mengatakannya.
"Apa? Nisa adik kandung Ehan? Maksudnya gimana sih, Ma? Lalu, Dita anak siapa?"
Rianti tertunduk sangat dalam, begitu juga dengan Adisurya. Rayhan menatap bingung pada keduanya.
"Duduklah." Rianti meminta putranya duduk di kursi tepat berhadapan dengan Adisurya.
"Han, begini sayang." Rianti menoleh pada Adisurya yang mengusap punggung tangannya. Sambil tersenyum kecil, Rianti mengangguk pelan.
Perlahan, Rianti menceritakan tentang Annisa sebagaimana yang ia dengar dari Adisurya. Meski terkadang Rianti menjeda kalimatnya, namun susah payah istri Adisurya itu meneruskan ceritanya meski dengan terbata.
Rayhan terdiam mendengarnya. Ada rasa sakit di bagian dada mendengar apa yang harus dilewati adiknya. Putra Adisurya itu bahkan meneteskan air mata mengetahui alasan Annisa dijauhkan dari mereka.
"Kenapa Pa? Kenapa Papa tidak lebih cepat menemukannya? Apa kalau wanita itu tidak meninggal, papa tidak akan mencari Nisa?"
"Han, tidak seperti itu, Nak."
"Lalu kenapa? Apa karena selama ini papa bisa membesarkan Dita tanpa rasa bersalah pada Nisa, jadi papa merasa itu baik-baik saja? Sesayang apapun papa dan mama pada Dita, sesempurna apapun Dita, dia bukan anak kalian. Dia bukan adik Rayhan!" Tegasnya, lalu bangkit dan berlalu meninggalkan orang tuanya.
__ADS_1
Adisurya menahan langkah Rianti yang akan menyusul putranya. Rianti hanya bisa terisak di dada suaminya.
"Bagaimana kalau Rayhan mengatakan semuanya pada Nisa dan Dita, Pa? Mama takut. Mama takut mereka berdua akan membenci mama," ucap Rianti di sela isakannya.
Rayhan bergegas menuruni tangga. Dadanya terasa sesak karena menahan air mata.
Dibukanya kamar Annisa. Adiknya itu sedang terlelap. Ditatapnya wajah Annisa sangat lekat. Rasa bersalah menghinggapi saat mengingat apa yang telah ia lakukan pada Annisa.
"Maafin gue." Lirihnya sambil mengusap air mata.
Rayhan berlalu dari kamar itu, karena tak mungkin ia menangis dan membangunkan Annisa. Ia kembali berlari ke arah tangga dan menepis kasar lengan Adisurya yang mencoba menghentikannya.
Ditutupnya kasar pintu kamar dan menguncinya. Tak lama terdengar teriakan dan bunyi sesuatu yang pecah dari dalam kamar.
Adisurya bergegas menuju kamar Rayhan, begitu juga dengan Rianti. Mereka mengetuk pintu dengan perasaan cemas.
"Kak Ehan kenapa, Ma?" tanya Raydita yang keluar dari kamarnya. Raut wajah Raydita terlihat bingung karena baru saja bangun tidur.
"Han, buka!"
Adisurya bergegas turun dan mencari Mang Asep. Ia memanggil pelayan pria lain untuk membantu mendobrak pintu kamar Rayhan.
Annisa yang juga mendengar suara panik Rianti bergegas naik dan menghampiri. Ia ikut mengetuk dan memanggil kakaknya.
"Kak! Buka, Kak!" Serunya.
"Kak Ehan kenapa, Bu?"
"Lo banyak tanya, sana turun!" hardik Raydita.
Ceklek.
Rianti segera menoleh dan memeluk Rayhan. Adisurya yang baru tiba kembali di sana terlihat lega melihat Rayhan baik-baik saja.
Adisurya segera masuk dan melihat keadaan kamar Rayhan. Kemudian memanggil Mang Asep untuk membersihkan pecahan kaca dari meja yang dilempar Rayhan dengan hoverboard-nya.
"Kamu nggak apa-apa kan, Sayang?"
"Nggak apa-apa, Ma." Sahutnya pelan sambil menatap Annisa yang juga sedang menatapnya.
"Kak Ehan marah sama siapa?" tanya Raydita heran setelah melihat Mang Asep yang datang membawa sekop yang juga plastik besar.
"Ehan mau tidur sebentar, Ma." Ujarnya sambil berlalu tanpa menghiraukan Raydita.
"Kita jadi shopping kan, Ma?" tanya Raydita sambil melingkarkan tangan di lengan Rianti.
Rianti mencoba tersenyum tipis dan menganggukkan kepala. Melihat hal itu, Annisa mundur perlahan dan meninggalkan mereka.
_bersambung_
__ADS_1