
Happy reading ....
🌿
Pagi ini Rianti terlihat lebih sibuk dari biasanya. Selain membangunkan Rayhan dan Raydita, Rianti juga berkemas untuk kepergiannya bersama Adisurya.
Rianti memasuki satu persatu kamar kedua anaknya yang ada di lantai atas. Setelah memastikan mereka beranjak untuk mandi, Rianti pun turun dan masuk ke kamar Annisa.
"Sayang ... anak ibu memang paling rajin," puji Rianti saat mendapati Annisa terduduk di depan meja rias sedang menyisir rambutnya. Rianti memang tidak membangunkan Annisa. Ia tahu benar, putrinya ini pasti sudah bangun sejak azan subuh berkumandang.
"Sini, biar ibu yang menyisirnya," pinta Rianti.
Annisa memberikan sisir pada Rianti. Keduanya tersenyum ketika beradu pandang di cermin yang berada di hadapan mereka.
"Bu, Nisa agak mirip sama ibu ya."
"Bukan agak lagi, tapi mirip banget," sahut Rianti sambil menerima ikat rambut yang disodorkan Annisa.
"Nisa, hari ini ibu sama ayah akan pergi. Kamu baik-baik di rumah ya. Jangan lupa untuk selalu membalas pesan, juga mengangkat telepon ibu." Pintanya.
"Iya, Bu."
"Bagaimana pelajaranmu? Ada kesulitan?"
Annisa menggelengkan pelan.
"Syukurlah. Apa yang kamu suka, Sayang? Kamu bisa les sesuai minatmu," ujar Rianti.
"Apa ya? Nisa belum menemukan minat dan bakat Nisa, Bu."
"Kalau begitu pikirkan lagi, setelah itu kamu bilang sama ibu mau les apa, oke?"
"Iya, Bu," angguk Annisa.
"Ibu buatkan bekal ya? Kamu mau apa?" Tawarnya.
"Apa saja," sahut Annisa senang.
"Oke, ibu ke dapur dulu. Ibu bakalan kangen sama kamu," ucap Rianti sembari mencium gemas pipi Annisa, lalu pamit keluar.
Annisa tersenyum tipis. Bahagia, itu pasti. Akan tetapi, Ibu Asih tetaplah ibu yang terbaik dalam hatinya. Seandainya Ibu Asih masih ada, Annisa sangat ingin membahagiakannya di hari tua.
Terbayang sulitnya hidup mereka di masa lalu. Ibu bekerja keras demi lembaran rupiah agar ia bisa tetap berangkat sekolah. Saat sakit pun ibu memaksakan diri, dan hal itu yang menambah buruk kondisinya.
"Terima kasih, Bu," ucap Annisa lirih.
***
Di jam istirahat, Annisa dan kedua sahabatnya menikmati bekal di dalam kelas. Sementara itu Mela dan Tasya kebingungan mencari Raydita.
Beberapa saat yang lalu, Raydita pamit ke toilet saat mereka menuju kantin. Namun sampai waktu istirahat hampir habis, Raydita belum terlihat juga.
Ketika bel masuk berbunyi, para siswa bergegas menuju kelas masing-masing. Tak terkecuali Rayhan dan kedua sahabatnya.
"Kalian duluan ya, gue mau ke toilet," ujar Raka sembari berbelok ke lorong toilet.
"Aah, sial. Isi semua. Cepetan, woy!" seru Raka yang sudah tak tahan dengan panggilan alam.
Saat satu pintu terbuka, cepat-cepat Raka masuk. Cukup lama ia di sana. Suasana sudah sangat sepi ketika Raka keluar dari bilik toilet.
__ADS_1
Derap langkah terdengar menuruni tangga. Raka yang mengira langkah itu milik bebera orang guru pun memutuskan untuk bersembunyi.
"Pokoknya Lo atur ya, kita pasti ke sana."
"Pasti. Gue udah nggak sabar lihat muka dia yang shock."
"Oke. Bye, sampai ketemu di sana."
Hening, seiring langkah yang sudah berlalu. Raka yang sempat tertegun pun keluar dari persembunyiannya.
"Mereka merencanakan apa?" Gumamnya.
***
Seperti biasa, Rayhan Cs. selalu berada di lapangan basket. Sambil istirahat sejenak, Rayhan membaca pesan chat yang dikirim Raydita.
"Ck, ada-ada aja," gerutu Rayhan.
"Kenapa?" tanya Raydita.
"Dita mau ke vila, sama Annisa," sahut Rayhan datar.
"Kita gabung yuk," timpal Raka.
"Ya iya lah, masa iya gue biarin mereka begitu aja. Bisa kena amuk papa," ujar Rayhan.
"Kapan?" tanya Ghaisan.
"Hmmm ada yang nemu moment PDKT nih," sindir Raka.
"Sore ini. Balik yuk!" ajak Rayhan.
"Ayo. Kita naik motor apa gimana?" tanya Raka.
"Siap," jawab Raka.
Sementara itu, di kediaman Adisurya Annisa sedang menghubungi Isti untuk mengajaknya ke vila. Pikirnya, Isti pasti akan sangat senang bisa bertemu Bi Marni, neneknya.
"Maaf, Nisa. Weekend ini aku ke rumah abah. Di pesantren ada acara nanti malam. Besoknya, kami mau wisata religi sama para santri. Maaf ya."
"Iya, nggak apa-apa," sahut Annisa pelan.
"Yuda gimana? Diajak nggak?"
"Ajak jangan ya?"
"Ajak aja. Sama Kak Ray kan ke sananya?"
"Iya."
"Ya udah ajak. Kalau nggak bantuin abangnya di cafe, pasti dia mau banget."
"Oke deh. Ajak aja dulu, ikut enggaknya terserah dia," jawab Annisa, kemudian panggilan pun diakhiri.
***
Pukul empat sore, Annisa, Raydita, juga Rayhan dan kedua sahabatnya meninggalkan kediaman Adisurya. Mela dan Tasha menyusul diantar supir keluarga Mela, sedangkan Yuda baru bisa menyusul jika diizinkan oleh Yopi-kakaknya.
"Ehem, diem-diem bae. Dita, kalau Lo harus memilih antara gue atau Agas, Lo milih siapa?" tanya Raka iseng.
__ADS_1
"Kak Agas dong," sahut Raydita cepat.
"Kalau Lo, Nis? Pasti gue kan?" tanya Raka penuh harap.
"Nggak ada. Kenapa Nisa harus memilih satu diantara kalian?"
"Yaa kok gitu jawabnya. Emang Lo nggak ada suka-sukanya sama kita? Gini-gini juga kita cover boy di sekolah lho. Memangnya Lo suka sama siapa? Ooh, Lo suka sama si Kuya ya? Hayoo ngaku," goda Raka.
"Yuda, Kak. Bukan Kuya. Enggak kok, dia cuma sahabat Nisa, nggak lebih."
"Terus, siapa yang Lo mau jadiin pacar?" tanya Raka lagi.
"Nggak ada. Nisa nggak ada niat pacaran, Kak. Kalau udah ketemu jodoh, ya nikah aja. Kenapa harus pacaran?"
"Hehe, gitu ya. Hmm ada yang patah hati dong," sindir Raka. Ia yakin sedari tadi Ghaisan mendengarkan dengan seksama obrolannya dengan Annisa.
"Oh ya, siapa?" tanya Annisa polos.
"Siapa ya? Aww!! Gila, Lo. Nggak kira-kira kalau nyubit," umpat Raka sembari mengusap-usap pahanya yang dicubit Ghaisan.
Rayhan terkekeh melihat tingkah kedua sahabatnya. Begitu juga dengan Mang Asep. Sementara Raydita memilih membuang muka ke luar jendela.
***
Setibanya di vila, mereka disambut gembira oleh Bi Marni dan Mang Dayat. Bi Marni bahkan langsung menghidangkan jagung rebus panas di ruang tv.
"Mau Bibi buatkan apa untuk makan malam, Neng?" tanya Bi Marni pada Annisa yang kebetulan berada di dekatnya.
"Apa saja, Bi," sahut Annisa.
"Ada umpan ikan nggak, Bi? Kita mau mancing," tanya Rayhan.
"Mamang biasa bikin, Den. Bibi bilang sama Mamang ya."
"Oke kalau gitu. Guys, mancing yuk! Nanti malam kita bakar ikan," ajak Rayhan.
"Siap. Aww, panas." Raka meniup-niup jagung yang pegangnya.
"Aww! Bangs*t Lo, Agas!" pekik Raka yang langsung mengusap pipinya yang ditempeli jagung panas oleh Ghaisan. Raka pun mengejar Ghaisan dan bersiap membalasnya.
Udara malam di daerah ini terasa sangat dingin bila dibandingkan dengan udara malam di ibukota. Mela dan Tasya sudah tiba di vila satu jam lalu.
Setelah salat magrib, Annisa memilih menghampiri Bi Marni di rumah depan. Sementara di teras belakang vila, Rayhan dan yang lainnya sedang mempersiapkan acara barbeque.
"Ini dibawa juga, Bi?" tanya Annisa.
"Iya, Neng. Siapa tahu ada yang ingin lalapan. Neng Nisa suka nggak?"
"Suka, Bi."
Terdengar suara klakson di depan pintu gerbang. Tak berselang lama, Mang Dayat masuk ke dalam rumah.
"Siapa, Pak?" tanya Bi Marni.
"Teman Den Rayhan," sahut Mang Dayat.
Karena penasaran, Annisa mengintip dari kaca jendela. Dua orang turun dari mobil yang kemudian berlalu meninggalkan mereka. Mang Asep mempersilakan mereka masuk.
Annisa tertegun. Di keremangan lampu taman, ia masih bisa mengenali siapa yang datang.
__ADS_1
"Itu kan Viola." Gumamnya.
_bersambung_