
Happy reading ....
*
Televisi di ruang apartemen itu dibiarkan menyala tanpa ada yang menontonnya. Dua insan yang berada di sana tengah bercengkrama tanpa suara di atas sofa.
Salah satu dari mereka melepas pagutan bibir yang sedari tadi tertaut tanpa jeda. Seraya menatap wajah wanita yang berada di atas tubuhnya, ujung jari si pria mengusap lembut sisa saliva di sekitar bibir kekasihnya.
"Dit, pertimbangkan lagi permintaanku. Please ...."
"Yud, kita mau makan apa? Gue nggak mau kalau nikah nanti masih nyusahin Mama-Papa," ujar Raydita sembari meranjak dari atas tubuh Yuda.
"Ayang, aku udah dapat tempat untuk dijadikan bengkel. Kalau usahaku udah jalan, aku akan punya penghasilan."
"Masih kalau, 'kan?" tanya Raydita sembari menatap nanar wajah Yuda.
Beberapa bulan setelah mereka jadian, Yuda memang sudah mengutarakan niatnya untuk serius. Seiring berjalannya waktu, keinginan itu semakin sering diutarakan Yuda pada Raydita. Dan selalu mendapat penolakan dari Raydita dengan berbagai alasan. Salah satunya perihal ekonomi mereka setelah berkeluarga. Alhasil, Yuda menggunakan semua uang tabungannya untuk mencari tempat agar bisa membuka usaha bengkel sesuai dengan apa yang sedang ditekuninya di bangku kuliah.
"Dit, kamu nggak tahu 'kan, setengah mati aku nahan diri kalau lagi sama kamu. Kamu seenaknya aja elus sana-sini, goda-godain imanku, kalau beneran aku khilaf gimana? Aku tuh pengen khilaf, Dita. Tapi takut dosa. Ya kali, bunt*ngin anak orang. Bisa dicoret dari KK (kartu keluarga) sama Bang Yopi," gerutu Yuda seraya menatap gemas pada Raydita.
"Terus mau Lo sekarang apa?" tanya Raydita ketus dengan tatapannya yang menajam.
"Kawin. Eh salah, nikah maksudku, Yang."
"Gimana kalau nanti gue hamil? Berabe tahu nggak. Gue itu pengen nyelesein kuliah dulu, Yud. Nggak mau cuti hamil lah, cuti melahirkan, yang ada kapan selesainya kuliah gue?"
"Yaa ... jangan dulu hamil. Kita bisa tunda," sahut Yuda.
"Gampang banget lo ngomong. Dasar muka sang*an!" umpat Raydita seraya beranjak dari sofa dan berlalu ke dapur.
"Aku gitu juga 'kan karena kamu," kilah Yuda dengan suara pelan.
Raydita memutar bola mata malas. Lalu berkata, "Pesen makanan! Lo mau gue kelaparan?"
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kamu mau makan apa?" tanya Yuda sembari mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.
"Pizza," sahut Raydita.
"Aku mau pesan nasi sama ikan bakar. Kamu mau nggak?"
"Lo selalu gitu deh," protesnya.
"Bukan gitu, Sayang. Kalau kamu mau, aku pesan dua porsi. Pizza juga pesan kok. Topingnya yang biasa kamu pesan, kan?" sahut Yuda.
Raydita mencebik seraya mendelik pada Yuda. Pria itu terkekeh pelan melihat apa yang dilakukan Raydita.
"Lo mau badan gue melar?" tanyanya menggerutu.
"Ya nggak apa-apa. Biarin gendut, biar nggak ada yang mau," selorohnya.
"Enak aja,"delik Raydita sembari meletakkan botol minuman yang diambilnya dari lemari pendingin.
Raydita tak pernah bisa berlama-lama kesal pada Yuda. Selain memang hanya hal sepele, pria itu selalu bisa mengembalikan mood-nya dengan candaan. Yuda juga bisa membuat Raydita merasa sangat nyaman. Tak perlu jaga image seperti kebanyakan wanita seusianya saat bersama dengan sang pacar.
Mungkin hal itu juga yang mengganggu pikiran Raydita selama ini. Meski terkesan tak acuh, Raydita selalu merasa takut kehilangan Yuda. Apalagi saat mengetahui gaya kekasihnya yang cuek dan suka bercanda itu memikat hati beberapa mahasiswi di kampus mereka.
Tok ... tok ... tok.
"Pa, boleh Dita masuk?" Raydita mengumpulkan keberanian untuk membicarakan apa yang mengganggunya itu pada Adisurya di ruang kerja.
"Masuk, Sayang."
Raydita membuka pintu perlahan, dan tersenyum pada Adisurya yang menatapnya heran tapi masih dengan wajah yang tersenyum.
"Pa, Dita ingin membicarakan sesuatu," ucapnya pelan dengan tatapan yang terarah ke lantai.
"Apa itu, Nak? Duduklah."
__ADS_1
Raydita mengangguk pelan dan menarik kursi di depan meja kerja Adisurya. Saat ini, Rianti dan Annisa sedang asik di halaman belakang rumah bersama Susi dan beberapa pelayan lainnya. Sedangkan pasangan pengantin baru sedang mengurung diri di kamar sejak Rayhan kembali dari kantor.
"Ada apa, Sayang?' tanya Adisurya lagi seraya menggenggam tangan Raydita yang diletakkan di atas meja. Adisurya merasa bingung dan pikirannya dipenuhi praduga. Tangan Raydita terasa dingin, mungkin karena rasa gugup yang teramat sangat.
"Pa. Mmm ... kalau Dita nikah, gimana?"
"Eh? Ni-nikah? Kamu mau nikah?" Adisurya sampai melongo mendengar pertanyaan Raydita.
"Ng-ng-nggak jadi deh. Dita cuma becanda, Pa."
Adisurya menahan tangan Raydita yang akan digerakkan. Ditatapnya wajah Raydita dengan seksama untuk melihat kesungguhan dari ucapan gadis tersebut. Raydita jadi salah tingkah dengan wajah yang merona. Ia tertunduk untuk menghindari tatapan Adisurya.
"Papa tidak keberatan, Sayang."
Raydita sontak mengangkat wajahnya dan menatap sang Papa. Adisurya mengangguk pasti dengan senyuman tipis terukir di wajahnya yang berkharisma.
"Pa. Di-dita ...."
"Sama Yuda, 'kan?" tanya Adisurya yang langsung diangguki Raydita dengan wajah yang bersemu.
"Papa setuju," tegas Adisurya.
"Tapi, Pa. Bagaimana kalau mama ...." Raydita tiba-tiba saja merasa gemetar. Senang, terkejut, bingung, dan khawatir bercampur dalam dada yang berdebar sangat kencang.
Raydita menatap bingung pada Adisurya yang beranjak dari kursi. Pria paruh baya itu menghampirinya sembari mengulurkan tangan dan berkata, "Kita bicarakan dengan Mama dan ketiga saudaramu."
"Dita malu, Pa. Apa kata Nisa dan Kak Ehan nanti?" Raydita nampak ragu menyambut uluran tangan Adisurya.
"Apapun kata mereka, itu terserah mereka. Yang terpenting, kita bicarakan dulu bagaimana baiknya, Sayang. Kita ini satu keluarga. Papa yakin semua akan saling mendukung jika itu sesuatu yang baik," ujar Adisurya lembut.
Raydita tentu mengerti akan hal tersebut. Sejujurnya, ia tidak bisa membayangkan kekecewaan Rianti terhadap dirinya. Kuliah kedokterannya belum selesai. Raydita meyakini Rianti akan menentang keputusannya yang tidak terduga itu.
_bersambung_
__ADS_1