
Happy reading ....
*
Lain di rumah Annisa, lain pula suasana di dalam mobil Rayhan. Saat ini mobil itu sedang menepi di jalur satu arah yang cukup sepi.
Ketika mengetahui kedua orang tua Isti tidak di rumah, Rayhan langsung mengajak kekasihnya bertemu. Ia sengaja mengendarai mobilnya yang selama ini hanya jadi pajangan di garasi.
Sedari tadi tangan Rayhan menggenggam tangan Isti yang sesekali di kecupnya. Sahabat Annisa itu tersipu malu saat Rayhan mencuri kesempatan mencium pipinya beberapa kali. Mereka nampak sangat bahagia. Meski hampir setiap hari bertemu di sekolah, keduanya jarang punya kesempatan berdua seperti saat ini.
"Kita mau kemana, Kak?"
"Mmm kemana ya? Nonton?" tawar Rayhan.
Isti mengangguk cepat dan bertanya, "Sama Kak Agas?"
"Iya."
"Sama Nisa juga?"
"Iya dong, Sayang. Kalau sama Agas ya pasti sama Nisa. Mana mau dia jadi nyamuk," sahut Rayhan sambil mengecup punggung tangan Isti.
"Nisa kok nggak cerita ya? Apa mungkin dia malu karena sebelumnya pernah cerita kalau udah nolak Kak Agas?" gumam Isti.
"Oh ya? Agas pernah ditolak?"
"He-em," angguk Isti.
"Berarti dia nembak dua kali," ujar Rayhan.
"Tiga kali dong, Kak. Yang di kantin waktu itu nyatain juga, kan?"
"Oh iya, benar."
"Apa itu artinya Kak Agas cinta banget sama Nisa?"
"Dia sih pernah bilang begitu," sahut Rayhan.
"Kalau Kak Ray, gimana?" Isti membetulkan posisi duduknya agar menghadap pada Rayhan.
"Gimana apanya?" tanya Rayhan heran.
"Kalau Isti nolak, apa Kak Ray bakal nembak lagi?"
"Enggak laah," sahut Rayhan enteng.
"Jadi Kak Ray nggak serius suka sama Isti?" tanya Isti sembari berusaha melepaskan genggaman tangan Rayhan.
"Bukan begitu, Sayang. Maksudku, kamu nggak akan nolak aku. Iya, kan?"
"Kak Ray ke-PD-an," delik Isti.
"Hehe. Waktu aku mulai ada rasa suka sama kamu, aku tahu kamu juga suka sama aku. Jadi ya nyatain aja dulu, diterima enggaknya urusan belakangan. Dari pada nanti aku gigit jari, ya mendingan aku gigit kamu," seloroh Rayhan.
"Kucing kali ah," timpal Isti.
__ADS_1
"Kak, kakak beneran cinta sama Isti?" tanyanya pelan.
"Kok nanyanya gitu sih? Aku nggak suka ah. Kamu itu sedang meragukan aku, Yang," protes Rayhan.
"Kak Ray jawab dulu," pinta Isti.
"So much. Aku suka, cinta, dan sayang sama kamu, Istiqomah binti Dahlan," sahut Rayhan.
"Udah kaya orang ijab kabul aja," ujar Isti tersipu malu.
"Lulus SMA aku halalin, mau?"
"Lulus siapa? Kak Ray apa Isti?"
"Ya lulus kamu dong, Sayang. Kalau lulusnya aku kan sebentar lagi. Kamu baru kelas dua. Kalau kamu tek-dung gimana? Masa iya udah halal nggak ***-***," seloroh Rayhan.
"Lagian juga nggak akan mungkin diizinkan sama Abi," sahut Isti.
"Nah, itu tahu. Sabar ya, kamu lulus nanti insyaAllah aku lamar." Ujarnya sembari mengusap dagu Isti.
Isti menatap lekat pada Rayhan. Ia ingin melihat kesungguhan di mata kekasihnya yang tampan.
"Kak Ray yakin?" tanyanya. Rayhan pun mengangguk pasti.
"Maksud Isti, Kak Ray yakin bisa LDR-an? Gimana kalau di sana ternyata perasaan kakak sama Isti berubah?" tanya Isti pelan dengan pandangan yang tertuju ke bawah.
"Yang ... kita jalani aja dulu ya?"
"London Business School kan tempat berkumpulnya anak-anak orang kaya dunia. Yang memang disiapkan untuk menjadi pengusaha muda. Mahasiswi di sana selain kaya, cantik, pastinya juga banyak yang seksi. Kak Ray juga ganteng, dan pasti akan banyak yang suka. Kalau misalnya nanti kakak ternyata beru- mmpth."
Isti sempat terbelalak dan menolak. Namun, kali ini Rayhan sepertinya tak ingin mendapatkan penolakan.
Rayhan meletakkan sebelah tangannya di belakang tengkuk leher Isti. Ia terus menekan walaupun Isti masih diam dan tubuhnya menegang.
Perlahan, Isti mulai memberi respon. Tak hanya mulai terasa rileks, Isti juga mencoba membalas ciuman Rayhan.
Merasa mendapat lampu hijau, Rayhan mulai berani memainkan indra pengecapnya. Rayhan merasakan sensasi luar biasa saat lidahnya menyusuri setiap bagian di dalam mulut Isti.
Nafas keduanya mulai memburu. Rayhan mel*mat bibir Isti sambil menarik pelan dengan gigitan yang membuat Isti mendesis seksi.
Ini gila. Benar-benar gila. Rayhan merasakan 'adik kecil'nya menegang dan sangat ter*ngsang. Ia ingin lebih dari hanya sekedar bertukar saliva. Rayhan terus memperdalam ciumannya sampai Isti kewalahan. Bahkan deringan ponsel Rayhan tidak diindahkan.
"Mmppth ... kak." Isti menepuk-nepuk punggung Rayhan. Karena diabaikan, Isti menekan giginya pada bibir bawah Rayhan yang tertaut di antara bibirnya.
"Aah. Pelan-pelan, Yang." Rayhan melepaskan tautan bibir mereka.
"Ada telpon, Kak," ujar Isti sambil membetulkan posisi duduknya kembali ke posisi semula. Rayhan mengulumkan senyum melihat Isti yang tertunduk sambil mengusap sisa saliva. Ia pun menyodorkan tisu sambil mengangkat telepon dari Ghaisan.
"Ray, jadinya kita mau kemana? Lo gimana sih? Gue tunggu dari tadi nggak nge-chat juga," ujar Ghaisan kesal di ujung ponsel Rayhan.
"Iya, sorry. Lagian lo klo ngedate ya ngedate aja, pake acara double date segala. Ganggu tahu," ucap Rayhan sambil mengusap sisa saliva di sekitar bibirnya. Isti yang mendengarnya semakin tertunduk dan mengatup-ngatupkan bibirnya.
"Ketemu di mall MD ya. Kita nonton, makan, atau apa aja lah," ujar Rayhan.
"Oke. Gue sama Nisa on the way ke sana. Awas lo kalau lama."
__ADS_1
"Iya, bawel," pungkas Rayhan.
Rayhan meletakkan ponselnya. Ditatapnya Isti dengan tatapan menggoda.
"Lagi?"
"Ish, Kak Ray. Ini juga udah bengkak," sahut Isti malu.
"Kamu mending yang bengkak bibir. Aku yang bengkak malah ini," tunjuk Rayhan pada bagian di bawah perutnya.
Isti langsung membuang muka dan Rayhan sampai terkekeh karenanya. Rayhan pun mencoba rileks untuk menurunkan hasr*t yang sudah terlanjur tersulut. Beruntung Rayhan mengenakan celana model cargo yang tentunya longgar. Jika saja ia mengenakan celana model lain, mungkin 'adik kecil'nya akan semakin tersiksa.
***
Sinar matahari mulai terik ketika Ghaisan memarkirkan motornya di basement mall MD. Annisa turun dari motor dan memperhatikan sekelilingnya.
"Kenapa?" tanya Ghaisan sambil melepaskan helm yang dikenakan Annisa.
"Kak Ehan sama Isti udah nyampe, Kak?" tanya Annisa.
"Belum. Mungkin sebentar lagi. Kita makan dulu ya. Kamu belum makan, kan?"
"Kalau mereka maunya nonton dulu, gimana?"
"Ya udah biarin aja. Yang penting perut kamu jangan kosong," sahut Ghaisan lembut.
Annisa menatap Ghaisan yang turun dari motornya, kemudian melepas dan meletakkan helm-nya. Ia mengulumkan senyum mengingat ini kencan pertama mereka setelah sekian lama.
"Yuk!" ajaknya.
Ghaisan mengulurkan tangannya. Annisa tersenyum tipis dan menyambut uluran tangan Ghaisan yang langsung menggengamnya.
"Mau makan apa?" tanya Ghaisan sambil mencium punggung tangan Annisa.
"Kak Agas mau makan apa?" Annisa balik bertanya.
"Aku nemenin kamu makan apa aja," sahut Ghaisan enteng.
"Mmm apa ya?"
"Biasanya juga menunya harus nasi. Iya, kan? Orang Indo banget," kelakar Ghaisan.
"Emang Nisa orang Indonesia. Kak Agas nggak suka?" delik Annisa.
"Justru karena itu aku cinta," bisik Ghaisan.
Annisa tersipu malu mendengarnya. Mereka meneruskan langkah menuju restoran cepat saji dan menunggu Rayhan-Isti di sana.
_bersambung ke season 2_
********
Hai, Readers!
Terima kasih sudah mengikuti 'Putri Yang Ditukar'. Mohon maaf jika tidak banyak pesan moral yang bisa diambil dari cerita ini🙏
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya🙂