
Happy reading ....
Beberapa saat sebelumnya ....
Tiga mobil menepi di depan resto, salah satunya mobil Rida. Ia dan teman-temannya berencana makan siang di sana.
Rida menautkan alisnya saat melihat mobil Rika terparkir tak jauh dari posisi mobilnya. Ia sangat yakin mobil itu milik kakaknya.
Kak Rika juga ada di sini? batin Rida sambil menoleh ke arah restoran.
"Ayo, Rida!" ajak seorang temannya.
"Duluan ya. Nanti aku menyusul," sahut Rida.
Teman-teman Rida pun masuk ke dalam resto. Sebelumnya, mereka sudah melakukan reservasi sebuah ruangan khusus yang ditawarkan pihak resto.
Cukup lama Rida celingukan ke sekitar area resto. Saat sosok yang dicari tidak juga terlihat batang hidungnya. Rida pun memutuskan menyusul teman-temannya.
Sebuah lorong menjadi pemisah deretan private rooms yang ada di tempat itu. Rida berjalan perlahan sembari mencari keberadaan teman-temannya.
"Kau tahu kan siapa Dita?"
Langkah Rida sontak terhenti. Ia mengenali suara wanita di dalam ruangan yang baru saja dilewatinya.
Kak Rika. Bertemu dengan siapa dia di sini? Batinnya.
Rida melangkan mundur dua langkah. Rupanya mungkin pelayan resto yang keluar tidak menutup pintu ruangan itu dengan benar. Dari celah pintu, ia dapat melihat Rika sedang bersama Rianti.
"Maksudmu? Dita yang merupakan putri saudarimu-Rida?"
"Iya."
Rida tertegun. Gerakan tangannya yang akan membuka pintu langsung membeku.
Putriku? Siapa yang mereka maksud? Dita ..., batin Rida. Ia merasakan lidahnya tiba-tiba kelu.
Rida menggeser pelan kakinya. Ia pun mendengarkan pembicaraan dua wanita yang sedang membicarakan masa lalu dengan tidak tahu malu.
Mereka merasa benar dengan pemikirannya di masa lalu, juga saat ini. Jangankan melibatkan Rida dalam pembicaraan itu, bahkan mungkin mereka tidak menganggapnya ada. Padahal yang mereka bahas adalah anak yang katanya putri Rida.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Rida menetes, saat mendengar punuturan Rianti yang panjang lebar. Rida merasakan dadanya sesak, bagai tertekan beban yang sangat berat. Wajahnya memucat dengan ujung-ujung jari yang terasa dingin.
Dengan langkah gontai, Rida meninggalkan tempat itu. Bukan meneruskan mencari ruangan dimana teman-temannya berada, melainkan kembali ke mobilnya.
"Jadi ... Kak Rika akan menitipkan anakku di panti asuhan?" gumam Rida.
Rida sadar betul kehamilannya saat itu disembunyikan dari anggota keluarga lainnya. Selain mencoreng nama baik keluarga, kondisi ibunya juga tidak memungkinkan untuk menerima kenyataan itu.
Tapi kebohongan yang diciptakan Rika, benar-benar di luar dugaannya. Diakuinya, saat itu ia tidak terlalu memperdulikan kehamilannya. Meski tak berniat menggugurkan, Rida juga tidak mengharapkannya. Jadi saat Rika mengatakan anaknya meninggal tak lama setelah dilahirkan, Rida percaya begitu saja.
"Maa ... mama."
Panggilan anak dalam mimpi itu kembali terngiang di telinga Rida.
"Anakku ...," lirih Rida dengan air mata yang menetes begitu saja.
"Apa itu artinya Dita adalah putriku?" Gumamnya.
Rida langsung teringat pada kejadian kemarin, saat ia melihat Sandy bersama dengan Raydita. Pikirnya, tidak mungkin Sandy mengetahui remaja itu putrinya. Atau jangan-jangan benar dugaannya ... Sandy berniat buruk pada Raydita karena Adisurya? Jika itu benar, artinya ....
Rida tersentak oleh pikirannya sendiri. Cepat-cepat ia menyalakan mesin mobil dan berlalu meninggalkan tempat itu. Tujuannya saat ini adalah sekolah, mengingat sebentar lagi waktunya pulang sekolah.
Lagi-lagi langkah Rida terlihat gontai. Lalu lintas yang macet tidak mengizinkannya bertemu Raydita di sekolah. Ia lega mengetahui dari security, anak itu dijemput supir, bukan Sandy.
Rida terduduk di sofa, menunggu kepulangan Rika. Hatinya benar-benar berkecamuk dengan kebenaran yang baru saja ia dengar.
Sesal, haru, sedih, bahagia, semua bergelut dalam perasaannya.
Rida menyesali sikapnya dulu yang larut dalam kebencian pada Sandy, hingga mengabaikan kehamilannya. Ia tidak menyangka jika janin itu tumbuh menjadi remaja secantik Raydita.
Bahagia rasanya membayangkan dirinya bisa pergi kemanapun bersama Raydita. Namun, seketika raut wajah itu berubah sendu membayangkan Raydita yang menolak dirinya sebagai seorang ibu.
Ceklek.
Rida sontak menoleh ke arah pintu yang terbuka. Dengan santainya Rika melenggang seolah tanpa beban.
Rika menyadari tatapan adiknya. Keningnya berkerut sembari membalas tatapan Rida yang entah mengapa dirasa berbeda.
"Kamu kenapa? Kok ngelihatinnya gitu?" tanya Rika ketus. Ia mendudukkan bok*ngnya di sofa berhadapan dengan Rida.
__ADS_1
"Kakak dari mana?" tanya Rida tak kalah ketusnya.
"Sejak kapan kamu ingin tahu urusanku?"
"Sejak hari ini. Sejak aku tahu ada yang kakak sembunyikan dariku." Raut wajah Rida mulai menegang.
"Kamu ngomong apa sih?" Rika menaikkan satu kakinya menumpang di kaki satunya lagi. Ditatapnya lekat-lekat wajah Rida.
"Kak, jujur sama aku. Anakku masih hidup kan? Dia ada kan, Kak? Kenapa kakak tidak memberitahukannya? Dia anakku, Kak. Dia, putriku," cecar Rida dengan mata berkaca-kaca.
Rika mencoba menangkap maksud dari ucapan Rida. Keningnya berkerut sembari menatap Rida yang sedang mengusap air matanya.
"Maksud kamu?"
"Dita, Kak. Kenapa kakak tidak mengatakan kalau dia itu putriku. Tega sekali kakak mengatakan bayiku meninggal, padahal dia ada dan besar bersama Kak Adi."
Wajah Rika memucat. Bagaimana bisa Rida mengetahui hal itu?
"Siapa yang bilang begitu? Siapa yang memberitahukannya padamu? Siapa?" pekik Rika.
"Aku mendengarnya sendiri, Kak. Di restoran itu, kakak dan Kak Rianti membicarakan semuanya. Aku sudah mendengarnya. Tega sekali kakak memisahkan aku dengan anakku," sahut Rida dengan nada meninggi.
"Tega? Kenapa tidak, heh? Bukankah kau tidak menginginkannya? Setidaknya aku telah memberi kehidupan yang layak untuk anak itu. Tidak seperti dirimu yang bahkan tidak mau memeriksakan kandungan selama kehamilan. Kau memang tidak menggugurkannya. Tapi secara tidak langsung kau sudah mengabaikannya. Jadi dimana salahku? Memangnya apa yang akan kau lakukan jika anak itu kubiarkan bersamamu, hah?" tanya Rika dengan mimik kesal sekaligus mengejek.
Rida yang kini tertunduk pun membisu. Ia tak mampu mendebat kakaknya. Rida tahu benar saat ini Rika sedang menatap tajam padanya. Rida pun memberanikan diri mengangkat wajah menatap balik pada Rika.
"Sekarang aku harus bagaiamana, Kak?" tanya Rida pelan.
"Jangan lakukan apa-apa. Tempat Dita adalah di rumah Adisurya. Kau memang yang mengandungnya, tapi Rianti yang menyusui, merawat, dan membesarkannya. Apa kau pikir Dita akan datang padamu jika ia mengetahui kebenarannya? Tidak, Rida. Dia akan berbalik membencimu. Camkan itu," tegas Rika.
"Tapi aku juga ingin bersama putriku, Kak," ujar Rida dengan raut mengiba.
"Terserah. Lakukan apapun yang kau mau. Ingatlah ini setiap kali kau berfikir untuk memberitahukan kebenaran itu pada Dita. Jika dia bersamamu, apa yang akan kau berikan? Kau bahkan tidak terikat pernikahan dengan siapapun. Kuharap kau mengerti maksudku," geram Rika.
Rida terdiam seribu bahasa. Tatapannya terlihat kosong.
Di sisi lain, Rika beranjak hendak meninggalkan ruangan itu. Sebelum melangakah pergi, Rika menyempatkan untuk menoleh pada Rida sambil berkata : "Dia memang putrimu. Tapi baginya, Riantilah ibunya."
Rika berlalu begitu saja, meninggalkan Rida dengan tatapan kosong, dan air mata yang jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
_bersambung_