Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
ingin pulang


__ADS_3

Happy reading ....


Mobil yang dikemudikan Mang Asep memasuki halaman rumah. Rianti yang sengaja menunggu anak-anaknya pulang di teras segera beranjak dari duduknya.


Kening Rianti berkerut melihat hanya ada Mang Asep dan Annisa yang turun dari mobil itu. Rianti pun cepat-cepat bertanya, "Mana Dita?"


"Non Dita katanya mau pulang diantar sama ayah Den Raka, Nyonya," sahut Mang Asep yang mulai merasa tidak enak dengan aura majikannya yang tak ramah.


"Apa maksudnya ini, Mang? Kenapa Raydita dibiarkan pulang dengan orang lain, heh!" bentak Rianti.


"Dita memaksa, Bu," sahut Annisa.


"Diam kamu! Saya tanya sama dia, bukan kamu. Awas saja ya, kalau sampai terjadi apa-apa." Rianti mengeratkan katupan bibirnya dengan tatapan yang menajam pada Mang Asep. Ia pun segera menghubungi Raydita.


"Halo, Sayang. Kamu di mana? Sama siapa?"


"Sama Om Sandy, Ma. Dita mau minta anter sebentar."


"Om Sandy siapa? Kenapa nggak minta antar supir sih?" Rianti mendelik pada Mang Asep yang masih tertunduk tak jauh darinya. Rianti juga mengalihkan panggilan ke panggilan video.


"Hai, Rianti! Apa kabar?" Sapa Sandy. Rupanya Raydita langsung mengarahkan kamera ponselnya pada pria itu.


"Sandy? Dia ayahnya Raka?" batin Rianti heran.


"Hai, San. Kabarku baik, bagaimana kabarmu?"


"Kabarku baik. Aku culik anakmu sebentar ya. Haha aku bercanda." Sandy cepat-cepat berkilah saat melihat sorot mata Rianti yang menajam padanya.


"Ma, Dita cuma minta diantar ke mall MG kok. Janji cuma sebentar."


"Janji ya. Mama beri waktu hanya satu jam dari sekarang."


"Ih, Mama. Kok cuma satu jam sih?" rengek Raydita.


"Ya udah satu jam setengah, titik."


"Oke-oke, Mama Sayang. Bye!"


"Bye."


"Sudah sana! Merepotkan saja." Gerutunya.

__ADS_1


Mang Asep mengajak Annisa ke belakang, sementara Rianti menghubungi Heru, asisten Adisurya.


"Heru, suruh anak buah kamu mengikuti Dita di mall MG. Sekarang! Tuan tidak usah tahu, mengerti?"


Rianti tak menunggu jawaban dari Heru. Ia juga tak mau berbicara panjang lebar karena khawatir Heru sedang bersama Adisurya.


Rianti tidak menyadari ada Annisa di balik pintu garasi. Annisa bisa meresakan kecemasan yang dirasa ibunya.


Apa ibu pernah megkhawatirkanku? Batinnya. Tak lama Annisa menyeringai tipis seakan sedang mengejek dirinya sendiri. Tidak mungkin Bu Rianti mengkhawatirkan aku, baginya aku ini bukan siapa-siapa. Batinnya lagi.


Annisa menghela nafas dan hendak berlalu ke kamarnya. Ia berharap buku-buku Yuda dan Isti segera sampai di tangannya. Hanya dengan belajar Annisa bisa mengalihkan kegundahan hatinya.


"Makan, Neng," tawar Mang Asep yang sedang mencuci tangan.


"Silahkan, Mang. Saya masih kenyang, tadi jajan di sekolah." Dustanya.


Annisa jarang jajan di sekolah. Selain ada bekal Isti, ia juga sengaja menyimpan uang jajannya untuk kebutuhannya sendiri. Ia tak ingin merepotkan keluarga barunya itu.


Annisa menggantungkan tasnya. Besok adalah akhir pekan dan sekolahnya pun libur. Annisa menyingkap tumpukan bajunya. Di bagian ujung lemari itu, ada satu gepok uang lima puluh ribuan pemberian Ayah Adi sebagai uang jajan selama satu bulan. Baru dua lembar ia ambil, itupun masih ada sisa di saku tasnya.


"Apa sebaiknya aku pulang dulu? Aku bisa bertanya pada Bibi jalur angkutan umum ke desa. Aku bisa beralasan ingin mengunjungi makam ibu. Walau sebenarnya itu bukan alasan," gumam Annisa pelan sambil menatap nanar lembaran uang yang menyembul dari amplopnya.


"Pulang jangan ya?" gumam Nisa bingung.


Di sisi lain, Raydita terlihat riang memasuki mall yang ditujunya. Gadis itu langsung mengajak Sandy ke tempat yang diinginkannya.


Sandy mengikuti dengan senyuman miring di wajahnya. Ia masih berpikir keras, wajah Raydita mengingatkannya pada siapa.


"Ayo, Om!" Ajaknya.


Sandi mengernyitkan kening, melihat papan nama toko yang mereka masuki. Toko aksesoris dari salah satu brand yang terkenal akan mutiaranya.


"Gila. Dasar emang anak borju. Gue kira bakalan ke tempat aksesoris biasa," gumam Sandy dalam hatinya, sambil memperhatikan Raydita yang sedang memilih.


"Ini bagus nggak, Om?" Tanya Raydita yang memperlihatkan sebuah kalung emas putih dengan satu mutiara hitam berada di bagian tengah.


"Bagus. Cocok dengan kulit kamu yang putih."


"Ya udah ini aja, Mbak."


"Nggak milih yang lain?"

__ADS_1


"Nggak ah, kata mama kan jangan lama-lama."


"Silahkan, di bagian kasir."


"Dita, biar om yang bayar," ujar Sandy saat melihat Raydita mengeluarkan dompetnya.


"Nggak usah, Om. Dita punya kok."


"Om saja, anggap saja hadiah pertemanan kita."


"Pertemanan?" Raydita menautkan alisnya.


"Iya. Kita berteman?" Sandy mengulurkan tangannya.


"Oke, teman. Tapi beneran kok, Om. Dita bayar sendiri aja."


"Udah nggak apa-apa. Kamu bisa pilih yang lain, mungkin ada yang kamu inginkan. Gelang atau bros mungkin," tawar Sandy.


"Enggak, Om. Terima kasih."


"Oke, Om bayar dulu ya."


Sandy mendekati kasir dan bertanya, "Berapa, Mbak?"


"14.899.000 rupiah, Pak." Sandy berdehem menutupi keterkejutannya. Hanya kalung dengan satu mutiara hitam berukuran tak seberapa sudah membuatnya syok. Sandy menoleh pada Raydita yang sedang menunggu sambil mengulumkan senyuman.


"Baru aksesorisnya aja udah segini, gimana perhiasannya?" gumam Sandy yang mau tak mau membayarnya juga.


"Terima kasih, Om," ujar Raydita senang.


"Dita traktir Om makan siang ya? Masih ada waktu kok. Dita juga lapar." Ujarnya setelah memasukkan aksesoris yang diinginkannya ke dalam tas.


"Yakin mau traktir Om nih?" Raydita mengangguk pasti.


"Om makannya banyak loh."


"Dita juga. Yuk, Om."


Oke," sahut Sandy pada akhirnya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2