Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
pernyataan Agas (bagian 1)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Annisa langsung menoleh saat melihat Ghaisan menyembul dari dalam ruangan. Gerakan matanya mengikuti Ghaisan yang duduk santai di sampingnya.


"Kak Agas nggak main?"


"Enggak. Giliran Raka," sahut Ghaisan pelan.


"Ooh."


"Nis, Lo tahu kan, kalau gue suka sama Lo?" tanya Ghaisan to the point.


"Enggak. Memangnya Kak Agas suka sama Nisa, sejak kapan?"


"Masa sih Lo nggak tahu? Nggak peka banget," ujar Ghaisan pelan.


"Nggak usah becanda deh. Di sini nggak ada Bela, Kak. Nggak akan ada yang nge-bully Nisa. Sekalipun Kak Agas teriak bilang suka. Paling juga diketawain sama bapak-bapak itu," tunjuk Annisa pada Leo dan berapa security yang sedang mengobrol di dekat pintu gerbang.


"Gue beneran suka sama Lo, Nis," aku Ghaisan sambil menatap lekat pada Annisa.


Annisa memalingkan wajahnya. Tatapan Ghaisan membuatnya salah tingkah.


"Nisa, Lo dengar gue, kan?"


"Nisa dengar, Kak. Lalu Kak Agas mau Nisa bagaimana? Nisa nggak mau pacaran. Nisa mau serius belajar. Kita kan bisa jadi teman, nggak harus pacaran. Lagi pula, Nisa nggak tahu, apa Nisa suka Kak Agas atau enggak. Masa iya pacaran yang sukanya cuma sepihak? Nggak mungkin, kan?" tutur Annisa.


"Lo nggak suka sama gue? Masa sih?" gumam Ghaisan.


"Kenapa? Apa karena Kak Agas cakep, hmm?"


"Nah, itu tahu."


"Ke-PD-an. Yang cakep banyak, Kak. Kak Ehan, Kak Raka, Kak Juna, Yuda, terus kakak siapa itu ya yang kelas dua? Lupa, agak belibet namanya. Blesteran kali ya? Terus, siapa lagi? Ah, iya...!"

__ADS_1


"Stop! Udah. Kalau lo nolak gue? Oke. Tapi jangan gitu juga ngomongnya. Ngebandingin gue sama cowok lain, nggak lucu," ujar Ghaisan kesal sambil mendelik pada Annisa yang tersenyum tipis padanya. Ghaisan tak ingin merasa lebih malu lagi dan memutuskan kembali ke dalam.


"Memangnya siapa yang melucu? Kak Agas tuh yang lucu, marah-marah nggak jelas," gumam Annisa.


Tak berselang lama setelah Ghaisan meninggalkan Annisa, sebuah mobil terlihat berhenti di depan rumah. Sosok Raydita terlihat menyembul dari dalam mobil itu dan Annisa pun beranjak mendekatinya.


"Tante nggak masuk dulu?" tawar Raydita dari jendela mobil yang terbuka.


"Lain kali aja ya, Sayang. Tante juga akan menemui teman untuk konsultasi. Ingat ya, sebelum berangkat liburan, kita belanja." Ujarnya.


"Oke, deh," sahut Raydita sambil mengacungkan jempolnya.


Rupanya Raydita bercerita banyak hal pada Rida. Mulai dari keseharian hingga rencana liburan setelah ujian. Rida tentu senang mendengarnya, meskipun ada rasa sedih karena tak bisa menemani putrinya. Rida cukup puas dengan kesediaan Raydita saat diajak berbelanja.


"Hai, Nisa!" sapanya.


"Hai juga, Bu Rida. Masuk dulu, Bu."


"Terima kasih. Ibu masih ada perlu," sahut Rida.


"Kok kamu manggil semua 'ibu' sih, Nis? Panggil aja 'tante'," protes Raydita.


Raydita merasa grogi dan langsung melingkarkan tangannya pada lengan Annisa. "Hati-hati ya, Tante. Bye!" ujarnya sembari menarik Annisa menjauhi mobil Rida.


"Ko manggilnya, Tante?" tanya Annisa pelan.


"Sstt, bawel. Nanti aku ceritain," geram Raydita yang kemudian menoleh sambil tersenyum pada Rida yang masih menatap langkah mereka.


"Daah," ucap keduanya sambil melambaikan tangan pada Rida.


Rida berlalu dengan hati yang berbunga. Ini hari yang istimewa. Haruskah dirinya berterima kasih pada Rika? Ah, nanti saja.


Setelah agak jauh dari kediaman Adisurya, Rida menelepon Veli dan meminta dibuatkan janji dengan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin yang beberapa waktu lalu pernah memeriksa kondisinya. Rida kini optimis. Bukan tentang pengobatan yang akan dijalaninya, melainkan tentang hubungannya dengan Raydita.


Sementara itu, Raydita merasa canggung saat tatapannya beradu dengan Raka. Tapi karena itu di rumahnya, Raydita mencoba bersikap tak acuh dan menganggap Raka tidak ada. Raydita berlalu ke ruang makan dan kembali dengan satu kotak susu UHT dingin dan gelas untuknya.

__ADS_1


"Lo pulang sama siapa?" tanya Ghaisan sambil menghindari tatapan Annisa yang masih saja tersenyum padanya.


"Tante Rida," sahut Raydita pelan.


"Kak Ehan mana?" tanya Raydita, karena di sana hanya ada Raka dan Ghaisan yang sedang bermain game.


"Ke kamar. Nggak tahu mau ngapain, ngunci pintu segala," sahut Raka.


Raydita memutar bola mata malas mengetahui Raka yang menjawabnya. Tak berselang lama, Raydita pun pamit ke kamarnya. Begitu juga Annisa. Mereka meninggalkan dua sahabat Rayhan yang masih asik bermain.


"Lo belum ngomong sama Dita?" tanya Ghaisan pelan.


"Dia nggak mau. Gue bisa apa," sahut Raka tanpa menoleh. "Lo sendiri, udah ngomong sama Nisa?"


"Gue ditolak."


"What! Yang bener?" Raka menganga tak percaya sambil menoleh pada pintu kamar Annisa. Tak lama Raka pun tertawa, karena pikirnya dengan begitu tidak satu pun dari mereka yang mempunyai pacar.


"Puas banget, Lo. Pulang yuk! Nggak enak nih, yang punya rumah pada hibernasi," seloroh Ghaisan.


"Ayo. Cup cup cup. Sayang, jangan sedih ya," gurau Raka sambil menggoda wajah Ghaisan yang muram.


"Sayang pala Lo peyang," gerutu Ghaisan sambil berusaha menendang bokong Raka.


"Ray! Kita berdua pulang ya! Nisa, Yayang Agas pulang dulu!" seru Raka yang langsung dibungkam oleh Ghaisan.


"Gila, Lo."


Raka tertawa puas menggoda Ghaisan yang mendapat penolakan. Rayhan melambaikan tangan pada mereka dari balkon kamarnya. Sepertinya dia sedang menelepon seseorang.


Sementara itu, Annisa jadi senyum-senyum sendiri mengingat pernyataan Ghaisan. Annisa jadi kesulitan untuk konsentrasi belajar. Meski suasana di luar tidak berisik seperti tadi, hati dan pikiran Annisa tidak lagi mau diajak memikirkan pelajaran. Alhasil, Annisa berbaring di kasur sambil memeluk bantal.


"Apa sebaiknya kucoba dulu ya? Ah, tapi kan pacaran bisa mengganggu pelajaran. Buktinya sekarang aku tidak bisa konsentrasi. Atau jangan-jangan, tanpa aku sadari, aku suka sama Kak Agas? Sebenarnya aku suka nggak sih?" gumam Annisa bermonolog.


Annisa beranjak dari tempat tidur dan berjalan tak tentu arah. Ia menuju ke meja belajar, saat mau duduk, Annisa mengurungkan niatnya dan justru menuju ke meja rias. Annisa memperhatikan wajahnya dengan seksama. Terlihat di atas bibirnya gurat samar bekas operasi 15 tahun yang lalu.

__ADS_1


Annisa tersenyum ketir. Gurat itu menyadarkannya akan sebuah tekad yang ingin membuat almarhumah ibunya bangga. Annisa pun mulai kembali bisa menata hatinya. Ia berjalan menghampiri meja belajar dan mulai mempelajari setiap goresan pena yang pernah ditulisnya.


_bersambung_


__ADS_2