Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
rencana kedatangan Yuli


__ADS_3

Happy reading ....


*


Raka yang mengetahui hanya tinggal dirinya diantara sahabat-sahabatnya yang masih berstatus jomlo, tentu semakin gencar melakukan pendekatan pada Yuli. Akan tetapi sahabat Annisa itu rupanya 'jinak-jinak merpati', hal tersebut karena Yuli memegang janji pada orang tuanya untuk serius kuliah. Namun dari gelagatnya, Raka sangat yakin bahwa Yuli menyukainya.


Di waktu senggang, Raka selalu menyempatkan mampir ke kafe tempat kerja Yuli. Tidak hanya itu, Raka bahkan rela mengantar jemput Yuli ke kampus meskipun tidak ada jadwal kuliah.


Seperti saat ini, Raka tersenyum lebar dengan gerakan mata mengikuti pergerakan Yuli yang berjalan menuju mobilnya. Gadis manis itu terlihat ayu dalam balutan outfit casual yang dikenakannya.


"Kak Raka, maaf menunggu lama," ujarnya sembari mendudukkan bokong di kursi samping kemudi.


"Nggak lama kok, cuma dua puluh menitan," sahut Raka santai.


"Maaf ya, Yuli tadi sakit perut. Padahal udah tinggal berangkat. Sampai dua kali ke kamar mandi," ujar Yuli berterus terang dengan polosnya.


"Hehe. Emang sih, paling kesel kalau begitu. Apalagi nih ya, kalau kitanya itu udah terlambat, beuh rasanya nano-nano. Masa iya ditahan, kalau brojol di jalan gimana? Mending kalau ada bidan," kelakar Raka.


"Eeh, memangnya melahirkan? Udah ah, jadi ngomongin yang begitu. Jalan, yuk!" ujar Yuli sambil memasangkan sabuk pengaman.


"Siap. Let's go!" serunya pelan sambil terkekeh.


Yuli mengulumkan senyum melihat sikap Raka. Sejujurnya ia menaruh hati pada Raka. Ia bahkan sudah menceritakan perihal kehadiran Raka di kesehariannya pada orang tuanya di desa.


"Pak, Bu ... jangan khawatir. Di sini Yuli ada teman kok. Ingat Kak Raka nggak? Yang pernah nginep di rumah kita dulu, teman kakaknya Nisa. Dia senior Yuli. Kak Raka baik deh," ujarnya seuatu hari saat melakukan video call dengan orang tuanya.


Meski setelah itu, orang tua Yuli memberondongnya dengan nasihat, tak ayal Yuli bercerita lagi, dan lagi mengenai Raka.


"Kamu suka ya sama, Raka?" todong ibunya Yuli di suatu hari.


"Hati-hati, jaga diri dalam pergaulan, Yul. Seperti halnya Bapak tidak keberatan kamu bekerja, Bapak sama ibu juga tidak keberatan kalau itu teman Nisa, asal ingat tujuan awalmu di sana, belajar yang serius. Oh iya, seingat Bapak, Raka itu lucu orangnya. Iya, 'kan? Hehe," kekeh ayah Yuli menimpali.


Lampu hijau sudah diberikan orang tuanya. Yuli hanya tinggal melihat keseriusan itu pada diri Raka. Meski hubungan mereka sebatas pacaran, Yuli ingin melihat keseriusan akan perasaan Raka padanya.


"Hei, kok melamun? Aku masih kelihatan, 'kan?" canda Raka.


"Ya kelihatan dong. Kak Raka 'kan manusia, bukan jin," seloroh Yuli.


"Hehe. Yul, besok ikut ke Jakarta, yuk!" ajaknya.


"Ke Jakarta? Mau ngapain, Kak?"


"Ketemu Nisa," sahut Raka cepat.


"Nisa? Mmm pengen sih, tapi ...."


"Jangan ada tapi, ayo aja gitu," timpal Raka.


"Yuli izin dulu sama Bapak ya."


"Bo-boleh," angguk Raka ragu.

__ADS_1


Raka merasakan dirinya tiba-tiba menegang saat Yuli berbicara dengan ayahnya untuk meminta izin. Raka mulai merasa lebih baik melihat wajah Yuli yang sumringah.


"Diizinkan?" tanya Raka penasaran. Yuli mengangguk senang.


"Yes!" seru Raka dengan penekanan. "Kok bisa?" tanyanya lagi.


"Bisa laah, 'kan mau ketemu Nisa," sahut Yuli.


Raka mangut-mangut, dan raut wajahnya terlihat sangat bahagia.


***


Keesokan harinya ....


Annisa menikmati pagi yang cerah di teras rumahnya. Gadis itu sedang menelepon Ghaisan yang baru saja tiba dari tempat magang. Suara yang terdengar sangat pelan itu membuat penasaran siapa saja yang melihatnya, tak terkecuali Rianti yang sempat mengintip dari balik kaca jendela.


Rianti ikut terkekeh pelan ketika dilihatnya Annisa terkekeh sembari menutup mulutnya.


"Hari ini mau ada Yuli, Kak," ujar Annisa manja dengan suara sangat pelan tentunya.


"Menginap?" tanya Ghaisan di ujung ponsel Annisa.


"Iya."


"Aku cemburu, Sayang ...." Nada suara Ghaisan terdengar lucu.


"Mmmppth, kok cemburu?"


"Hehe. Ada-ada aja. Kak Agas udah makan malam?"


"Udah, tadi sama teman sebelum pulang," sahut Ghaisan.


"Kak Agas gitu deh, Nisa jadi cemburu," candanya.


"Nggak lucu tahu. Kamu itu nggak bakat cemburu-cemburuan begitu. Temanku cowok, Sayang," jelasnya.


"Iya, percaya. Kak Agas udah tahu, Dita sama Yuda jadian?"


"Udah. Si Yuda sama Raka heboh di video call tempo hari. Rayhan sampai melongo waktu tahu. Rayhan marah, katanya kenapa nggak minta restu dia dulu? Hehe, becanda aja sih. Tapi jadinya lucu, Yuda sampai minta maaf plus ada janji-janji segala," tutur Ghaisan sambil terkekeh.


"Oh ya? Sebentar lagi mereka mau ke sini, mungkin lagi di jalan," ujar Annisa.


Ghaisan menghela nafasnya, lalu bertanya, "Bagaimana kuliah kamu, Nisa? Jangan nakal ya, Kesayanganku," ujar Ghaisan lembut.


"InsyaAllah enggak, Kak. Gimana Nisa bisa nakal, kalau hati dan pikiran Nisa dipenuhi Kak Agas," selorohnya.


"Hehe. Aku ge-er, Yang. Kalau deket aku cium deh," kelakar Ghaisan.


"Yee. Udah ah. Malu, takut kedengaran Ibu," ujar Annisa sambil celingukan.


"Oke deh. Salam buat mereka ya. I love you, Sayang."

__ADS_1


"I love you too, Kak. Istirahat ya, assalamu'alaikum," pungkas Annisa.


"Wa'alaikumsalam, bye."


Annisa mengulumkan senyum sambil memandangi ponselnya. Ia dikejutkan oleh deheman Rianti yang memberinya senyuman lebar.


"Ciee yang LDR. Kangen nih yee," godanya.


"Ibu bisa aja. Ibu sama Ayah juga sedang LDR-an," kilah Annisa.


"Beda dong, Sayang. LDR-nya Ibu sama Ayah itu cuma dua hari. Besok juga Ayah pulang," sahut Rianti. Adisurya memang sedang ke luar kota bersama Mang Asep dan Heru.


"Sabar ya. Setelah kalian menikah nanti, puas-puaskan deh untuk membayar empat tahun masa LDR-an," seloroh Rianti.


"Masih lama, Bu," ujar Annisa bergumam.


"Ciee. Kenapa nggak bilang kalau udah ingin nikah? Kamu bisa ikut Agas kuliah di New York."


"Siapa yang ngebet nikah?" kilah Annisa dengan wajah merona.


"Ya kamu, Nisa. Ehan juga sih. Nggak tahu Dita, dia ngebet juga nggak ya?" gumam Rianti dengan gaya yang menerawang.


Di tempat lain ....


Kekesalan Raydita rasanya sudah di ubun-ubun. Bagaimana tidak, perjalanan dari rumah Rida ke rumah Adisurya biasa ditempuh sekitar sepuluh sampai dua puluh menit saja. Tapi saat ini, sudah hampir setengah jam, belum sampai juga.


Penyebabnya bukan karena macet, melainkan cara Yuda mengemudikan motornya yang seperti kura-kura.


"Woy! Lo gila ya? Bisa-bisa sampai rumah udah lumutan," geram Raydita sambil menoyor kepala Yuda yang mengenakan helm. Raydita kini merutuki dirinya yang menuruti keinginan Rida agar pergi bersama Yuda.


"Ah, Lo. Nggak peka banget. Kapan lagi bisa begini?" sahut Raka pelan. Lirikan mata Raka tertuju pada kedua tangan Raydita yang berada di atas paha gadis itu. Saat jalanan memungkinkannya untuk menarik tuas gas motornya, dengan tiba-tiba .... Ngeeng!


"Oh, God! Lo emang gila ya," umpat Raydita yang spontan melingkarkan tangannya di pinggang Yuda. Saking kesalnya dengan ulah Yuda, Raydita meminta pria itu menepikan motornya. Lalu setelah itu ... dengan geram Raydita memukuli Yuda.


"Lo itu cari mati ya, heh? Gimana kalau tadi gue kejengkang, b*go," geram Raydita.


"Sorry, Dit. Gue nggak ada maksud begitu. Gue kira lo nggak akan sekaget itu. Hehe, sorry."


Melihat senyum Yuda, semakin membuat Raydita kesal. Ia pun turun dari motor, dan dengan tegas meminta Yuda untuk menggeser duduknya ke belakang. Raydita mengambil alih kemudi dengan kecepatan sesuai perkiraannya.


"Dit. Pelan-pelan, Dit. Jangan dulu almarhum, kita belum married," ujar Yuda mengingatkan Raydita yang mulai menambah kecepatan.


"Lo nggak lihat, heh? Jalanan sepi, Yud. Bawel lo ah," gerutu Raydita.


"Emang kenapa kalau jalanan sepi. 'Kan biar romantis, jalannya pelan-pelan ... kita nikmati hembusan udara pagi yang sejuk dan menyegarkan ini." Dari kaca spion motor, Raydita mendelik jengah pada Yuda yang sok puitis. Raydita yang sudah terlanjur kesal pun melajukan motor itu dengan kecepatan tinggi.


Sialnya, hal itu justru dijadikan kesempatan oleh Yuda untuk melingkarkan kedua tangannya di pinggang Raydita. Di saat Raydita merasa kesal, Yuda mengajaknya tersenyum saat tatapan mereka beradu di kaca spion.


"Aneh," gumam Raydita menggerutu. Setiap kali ia melirik spion, senyum Yuda selalu terihat di sana. Dan senyum itu pula yang menemani selama sisa perjalanan mereka ke rumah Adisurya.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2