Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
ciuman pertama


__ADS_3

Happy reading ....


*


Awalnya hujan benar-benar hanya terbawa angin. Sekilas saja menyirami tempat itu. Tapi beberapa menit kemudian, hujan kembali mengguyur dengan intensitas sedang. Hujan tentunya membuat taman itu ditinggalkan pengunjungnya, termasuk sepasang kekasih yang sempat mengukir kenangan meski hanya sesaat.


Dari balik kaca jendela sebuah kedai kopi ternama yang berada di dekat taman, Annisa menatap kosong ke luar. Sedari tadi ia hanya diam. Entah mungkin marah karena ciuman pertamanya dengan Ghaisan yang tiba-tiba, atau masih memikirkan ucapan Rika yang datang hanya untuk memintanya berpisah dengan cinta pertamanya. Annisa baru tersadar saat Ghaisan yang baru kembali dari toilet menarik kursi di hadapannya.


"Sayang, kok makanannya dianggurin? Ini diminum dulu biar kamu nggak kedinginan," ujar Ghaisan sambil menyodorkan satu mug huzelnut signature chocolate hangat.


Annisa hanya melirik minuman itu tanpa ekspresi. Selama Ghaisan mengenalnya, baru kali ini ia melihat Annisa segamang itu.


"Nisa ...." Ghaisan menggenggam tangan Annisa yang berada di atas meja, tapi cepat-cepat ditarik oleh Annisa.


"Sayang, aku minta maaf. Aku refleks melakukannya," ujar Ghaisan merutuki sikapnya yang mencium Annisa tiba-tiba.


"Kak, Nisa mau putus." Annisa menoleh dengan tatapannya yang sendu. Terlihat jelas dari raut wajahnya Annisa tidak benar-benar menginginkan hal itu.


"Enggak, Sayang. Kamu dengar ya ... pertunangan itu rencana mama termasuk tinggal bersama di Amerika. Aku juga baru tahu di hari pulang dari New York, Sayang. Kamu tahu, siapa perempuannya? Angel."


"Angel?"


Ghaisan mengangguk.


"Angel yang ...."


"Iya, Sayang. Angel yang pernah ditembak Raka." Ghaisan melihat raut wajah Annisa yang bingung. Ia menggunakan kesempatan itu untuk menggenggam tangan Annisa dan mencium jari-jarinya. Ghaisan manggenggamnya sangat erat, hingga Annisa tak bisa menariknya meski memaksa.


"Kamu percaya sama aku ya. Pertunangan itu nggak akan terjadi. Kalaupun mama memaksa dia tinggal di rumah kami yang di Amerika, aku akan tinggal di asrama, Sayang," ujar Ghaisan meyakinkan.


Annisa menatap Ghaisan sangat lekat. Ia ingin mencari keraguan di sorot mata kekasihnya itu. Namun semakin lekat ia menatap, hanya ada kejujuran di dalamnya.


"Tapi ... kalau Bu Dokter tetap nggak merestui kita, gimana?" tanya Annisa pelan.


"Semua butuh waktu, Nisa. Memangnya kamu mau kita nikah bulan ini ya? Kok buru-buru banget butuh restu mamaku?" tanya Ghaisan dengan tatapan menggoda membuat Annisa mendelik manja sambil membuang muka.


"Hei, aku beneran nanya. Kamu mau kita cepat-cepat nikah?"


"Enggak. Nisa nggak bilang begitu," sahut Annisa malu.

__ADS_1


"Ya memang nggak bilang, tapi kamu maunya begitu, kan?" godanya lagi.


"Enggak, Kak. Nisa cuma ragu aja," sahut Annisa pelan.


"Kok ragu sih? Kamu nggak cinta ya sama aku? Pantesan tadi dicium diam aja, nggak ngerespon sama sekali." Ghaisan tidak benar-benar menggerutu.


"Ish, Kak Agas. Oh, jadi kalau cinta mau diapa-apain gitu?" tanya Annisa kesal.


"Bukan gitu, aku kan pacar kamu. Kalau dicium itu ya balas dong," kilah Ghiasan.


"Itu kan ciuman pertama Nisa, Kak." Ujarnya pelan. Beruntung hujan semakin deras, hingga tak khawatir pengunjung lain mendengar obrolan mereka.


"Oh ya? Masa sih?" goda Ghaisan sambil memiringkan wajahnya menatap Annisa yang tersipu malu.


"Memangnya Kak Agas, udah sering," delik Annisa.


"Siapa bilang? Aku juga baru pertama," sahut Ghiasan.


"Bohong. Baru pertama kok udah bisa," gerutu Annisa.


"Itu naluri, Sayang. Hmm kamu nggak tahu aja, apa yang ada di otak laki-laki," sahut Ghaisan sambil tersenyum tipis.


"Ada deh, rahasia kaum laki-laki," seloroh Ghaisan.


"Ya udah kalau nggak mau bilang. Nanti Nisa tanyain sama Kak Ehan," sahut Annisa.


"Jangaaan, yang ada kamu malu sendiri," ujar Ghaisan.


"Kok Nisa yang malu? Ya Kak Ehan dong," protes Annisa.


"Si Ray mana ada urat malunya? Udah putus." Ghaisan tersenyum lebar sambil menyodorkan makanan yang dipesannya. Melihat delikan mata Annisa yang tidak suka ia mengatakan hal itu tentang Rayhan, Ghaisan pun berucap, "Maaf, Sayang. Aku sama Rayhan udah biasa begitu. Jadi, keceplosan. Hehe, maaf ya."


Annisa pun tersenyum dan merogoh ponselnya yang berbunyi di dalam tas.


"Siapa?" tanya Ghaisan.


"Dita," sahut Annisa yang langsung menerima panggilan dari Raydita.


"Assalamu'alaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Lo dimana, Nis? Dari tadi mama khawatir. Tapi gue bilang, jangan ganggu orang pacaran kaya nggak pernah muda aja. Hehe, lo nggak lagi check in, kan?" seloroh Raydita di ujung ponselnya.


"Check in?" Annisa mengerutkan keningnya sambil menatap Ghaisan seakan bertanya. Ghaisan hanya terkekeh pelan menanggapinya.


"Ya ... kali aja lo sama Kak Agas dingin-dingin gini kesambet s*tan gitu, hahaha." Annisa mencoba mencerna ucapan Raydita. Setelah ia memahaminya, Annisa membulatkan matanya pada Ghaisan yang masih terkekeh seakan menertawakannya.


"Sembarangan kalau ngomong. Aku sama Kak Agas lagi neduh di coffee shop dekat taman," ujar Annisa dengan nada kesal. Annisa bahkan mengalihkan panggilan telpon itu pada panggilan video agar Raydita percaya.


"Oke-oke, canda kali ah. Lo serius banget nanggepinnya. Ya udah, kalau hujannya udah reda ke sini ya. Tuh lihat, ada Kak Raka juga." Raydita mengarahkan ponselnya pada Raka yang sedang berkelakar dengan Rida dan Rianti.


"Iya. Semoga aja cepat reda," sahut Annisa pelan.


"Kirain kamu bakal bilang, semoga aja nggak reda-reda hahaha. Woi, Kak Agas! Duduknya jangan jauhan gitu dong. Dempetan biar anget," kelakar Raydita yang diacungi jempol oleh Ghaisan.


"Ish. Kalian apaan sih? Udah ah. Assalamu'alaikum," pungkas Annisa.


"Wa'alaikumsalam," tutup Raydita masih dengan kekehannya.


Annisa menatap heran pada Ghaisan yang terkekeh pelan.


"Kak Agas kenapa?"


"Nggak apa-apa," geleng Ghaisan.


"Kok ketawa? Emang ada yang lucu?"


"Enggak, nggak ada." Ghaisan menggeleng masih dengan kekehannya.


"Kalau nggak ada, kenapa ketawa? Ngetawain Nisa ya?" tanyanya kesal.


"Bukan, Sayang. Aku ngetawain omongannya Dita. Hheheh, check in yuk!" selorohnya.


"Apaan sih?" Annisa terlihat mulai marah. Sementara itu Ghaisan justru terbahak melihat raut wajah Annisa yang kesal. Annisa yang benar-benar kesal pun memasukkan paksa kroisan ke dalam mulut Ghaisan yang menganga.


"Aah, Yang. Kamu kasar deh. Pelan-pelan dong masukinnya. Ini kan gede," ujar Ghaisan dengan tatapan menyiratkan sesuatu.


"Ish. Kak Agas ngomongi apa sih? Itu kan makanan," ucap Annisa.


"Emang makanan. Hayo, kamu mikir apa? Hujan gini imajinasinya mulai traveling ya," goda Ghaisan yang kemudian terbahak melihat wajah Annisa yang merona karena malu.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2