Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
kondisi Raydita (bagian 1)


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Rianti terlihat lega setelah melihat Annisa bersama Adisurya dan Rayhan. Wanita itu langsung menghampiri dan memeluk Annisa dengan manik yang berkaca-kaca.


Tiga perawat mempersiapkan perpindahan Raydita. Sebuah kursi roda disediakan untuk kemudian diduduki Raydita.


"Pa, mau papa yang ngedorongnya," pinta Raydita manja.


"Siap. Biar saya saja, Suster." Adisurya mengambil alih mendorong kursi roda. Tak hanya itu, Raydita juga menggenggam erat tangan Rianti seakan takut terpisah.


Dari belakang, Rayhan dan Annisa mengikuti langkah mereka. Annisa mencoba mengerti, walau ada sedih tersirat di dalam hati melihat perlakuan orang tuanya pada Raydita.


Mereka memasuki sebuah ruang VVIP. Setelah memposisikan Raydita di tempat tidur, Adisurya menghampiri Annisa dan Rayhan.


"Kita pulang, yuk! Nanti papa sama mama bergantian menjaga Dita. Kalian pasti lelah." Ucapnya sembari mengusap dagu Annisa yang masih saja diam seribu bahasa.


"Iya, Sayang. Kondisi Dita sudah stabil. Jadi kalian tidak usah khawatir. Istirahat di rumah, oke?" imbuh Rianti.


"Oke, Ma. Gue sama Nisa pulang ya, Dit. Semoga cepat sembuh. Kalau Lo kangen sama kita, cepetan pulang," kelakar Rayhan.


Adisurya tersenyum lebar sambil mengacak kasar rambut putranya. Ia melambaikan tangan pada Rianti dan Raydita sambil merengkuh pundak Annisa.


Rianti menatap kosong pada punggung Annisa sebelum pintu ruangan itu benar-benar tertutup. Terasa ada yang menggores hatinya melihat Annisa yang tanpa ekspresi. Jangankan mengucap rindu, Annisa bahkan tidak tersenyum sedikitpun saat ia menciuminya tadi.


"Ma, kok melamun? Bukannya Dita harus minum obat?" tegur Raydita.


"Oh iya ya. Sebentar mama ambilkan."


Rianti menuangkan air dan menyiapkan obat Raydita. Ada rasa hampa, seolah hatinya ikut pulang bersama Annisa.


Sementara itu di ruangan Sandy, Fany memarahi pria itu habis-habisan. Karena bermain api dengan Adisurya, nilai saham perusahaan yang dipimpinnya pagi ini anjlok.


"Aku tidak habis pikir, alasan apa yang membuatmu melakukan hal bodoh seperti itu. Aku tidak perduli hubunganmu dengan Adisurya seperti apa. Tapi itu perusahaan ayahku. Dia mempercayakannya padamu, untuk masa depan Raka. Dimana otakmu, hah?" pekik Fany dengan tatapan yang nyalang.


"Pelankan suaramu, Fany. Apa begitu caramu bicara padaku? Ada Aka di sini. Dia akan berpikir buruk tentangmu jika kau seperti itu," gerutu Sandy.


"Aku tidak perduli. Setidaknya aku tidak sepertimu, membuat masalah yang melibatkan putraku. Bukankah kau akan dipenjara? Sebelum mendekam di sana, kau harus menandatangani surat cerai kita. Jangan khawatir, aku akan secepatnya mengurus itu," tutur Fany datar.

__ADS_1


"Cerai? Bagaimana bisa seperti itu, Fany? Kau ingin kita bercerai hanya karena satu kesalahan yang kubuat? Tidak, aku tidak mau," tolak Sandy tegas.


"Oh ya? Kalau begitu kau akan membusuk di penjara, selamanya. Ceraikan aku, dan akan kusiapkan pengacara untukmu. Satu hal lagi, setiap satu rupiah dalam rekeningmu, hanya akan keluar atas izinku. Kau tahu kenapa? Karena semua aset dan uangmu, akan menjadi jaminan sementara untuk perusahaan. Paham?" desis Fany, kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu.


Sandy membuang kasar napasnya. Melihat Raka yang melangkah menuju pintu, Sandy cepat-cepat menghentikannya.


"Ka, Aka ... bujuk mamamu agar tidak menceraikan papa dan juga menyiapkan pengacara untuk papa. Dia pastia akan mendengarkanmu," pinta Sandy.


"Kenapa harus Aka?" tanya Raka datar.


"Ya karena kamu anak papa. Sekali-kali dong bantu papa. Ibu dan anak sama saja," dengus Sandy.


"Memangnya cuma Raka yang anak papa?"


"Maksud kamu apa sih?" tanya Sandy dengan raut wajah tak suka.


"Kenapa papa tidak meminta Dita membujuk Om Adi membatalkan tuntutannya, bukankah dia juga anak papa?" tanya Raka ketus.


Raut wajah Sandy seketika memucat. Ia akan berkilah, namun Raka mendahuluinya bicara.


"Maaf, Pa. Aka akan mendukung keputusan mama. Mungkin mama bukan wanita sempurna di mata papa, tapi tetap saja, papa tidak berhak mengkhianati, apalagi menyakitinya," tegas Raka, kemudian melanjutkan langkah meninggalkan ruangan itu.


***


Rida sangat bersyukur dirinya tidak mengalami cidera parah. Pada seorang perawat yang sedang mengganti perban di kepalanya, Rida menanyakan perihal Raydita.


"Oh, putri Tuan Adisurya itu ya, Bu." Ujarnya. Maklum saja, Adisurya cukup ternama di negara ini.


"I-iya. Bagaimana keadaannya?"


"Sudah membaik. Tadi kalau tidak salah sudah dipindahkan ke ruangan. Di lantai ini juga kok, Bu." Jawabnya.


"Oh, begitu ya. Syukurlah," ucap Rida.


Setelah perawat itu berpamitan. Rida mulai beringsut dari tempat tidur. Ia berniat melihat Raydita dan memastikan keadaannya.


Dengan langkah sangat pelan, Rida menyusuri setiap ruangan sambil mengintip dari kaca kecil yang ada di pintu. Wanita itu terlihat menghela napasnya beberapa kali dan meneruskan langkahnya lagi.


Sebuah senyuman terlihat di wajahnya, saat dari salah satu kaca pintu terlihat Raydita sedang berbaring dengan sangat lelap. Tanpa permisi, Rida mengendap masuk dan berjalan mendekati tempat tidur Raydita.

__ADS_1


Ceklek. Rida terhenyak. Wajahnya memucat melihat Rianti yang keluar dari kamar mandi sedang memergokinya.


"Mau apa kamu kesini, heh?" tanya Rianti ketus sambil menarik lengan Rida.


"Kak, tolong izinkan saya melihat keadaan Dita. Rida mohon," Pintanya dengan raut memelas.


"Tidak boleh. Dia anak saya, jadi jangan pernah mengganggunya. Pergi!" titah Rianti penuh penekanan.


"Tapi, Kak. Rida benar-benar tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi 15 tahun lalu. Sungguh, itu bukan keinginan Rida." Jelasnya.


"Lalu, apa artinya sekarang kamu mau mengatakan kebenarannya pada Dita? Saya tidak akan pernah mengizinkan kamu melakukan itu. Dan lagi, bukannya kamu belum menikah? Kalau Dita memang anak kamu, lalu siapa ayahnya, hmm?" tanya Rianti dengan tatapan menyelidik.


Rida menundukkan kepalanya. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa yang menculik Raydita adalah ayahnya sendiri, yakni Sandy.


"Jawab!" bentak Rianti tertahan. "Heh, bagaimana kamu akan menjelaskan semua pada Dita? Ayahnya aja nggak tahu," cibir Rianti.


"Apa kamu mau, Dita menanggung malu karena tidak punya ayah? Kamu mau jawab apa kalau dia tanya siapa ayahnya? Kamu mau jawab, mungkin si A, atau si B, atau si C?" cibir Rianti dengan ekspresi mengejek.


"Tidak, Kak," geleng Rida.


"Lalu mau kamu apa? Sudah sana pergi!" usirnya.


"Rida ingin melihat Dita sebentar saja, Kak. Please ...."


"Heh, oke. Tapi jawab dulu pertanyaanku, ada hubungan apa kamu dengan Sandy? Malam kejadian kamu kecelakaan adalah malam yang sama saat Dita ditemukan. Apa kamu sekongkol dengan dia? Benar begitu?" desak Rianti dengan tatapan penuh amarah.


"Tidak. Demi Tuhan, itu tidak benar." Rida menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia meremas sendiri jari-jarinya menahan rasa sakit di bagian kepalanya yang terus digelengkan.


"Lalu apa?" tanya Rianti geram.


"Sandy ... Sandy ayah bioligis Dita, Kak. Sandy ayahnya Dita, hiks ... hiks." Rida menangkup wajahnya sambil terisak.


"Apa? Baj*ngan itu ayah Dita?" Rianti menatap nanar pada Rida. Ia tidak menyangka selama ini telah membesarkan anak dari pria yang dibencinya.


Prang!


Keduanya terperanjak, dan cepat-cepat menoleh. Manik keduanya membulat melihat wajah pucat Raydita yang menatap dengan bola mata yang bergetar.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2