Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
dilema Rianti-Adisurya


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Hilir mudik orang-orang sedikit banyaknya mengganggu kesenangan Raydita yang sedang asik berselfie. Hanya beberapa potret saja yang dirasa pas dengan latar belakang tempat itu.


Setelah melihat hasil jepretan kamera ponselnya, Raydita pun memutuskan untuk kembali ke meja. Sambil bermain ponsel, ia melangkah mendekati dua wanita yang terduduk membelakanginya.


"Dia ...."


"Dia putriku. Annisa Putri Adisurya. Dia bayi yang Kau dan Mas Adi tukar dengan Dita. Mas Adi sudah memberitahukan semuanya padaku. Rika, aku mungkin bukan ibu yang baik karena pernah menolak kelahirannya, tapi aku tidak akan membiarkan Nisa pergi untuk yang kedua kalinya."


Langkah Raydita terhenti di kalimat pertama yang diucapkan Mama Rianti. Ia tertegun, lalu membalikkan badannya. Membelakangi punggung mereka.


Tak ingin mendengar lebih jauh, Raydita menjauhi meja itu dengan lutut yang gemetar.


Dia putriku. Annisa Putri Adisurya. Dia bayi yang Kau dan Mas Adi tukar dengan Dita.


Kalimat Mama Rianti menggema di kepala Raydita. Wajahnya memucat, dengan tangan yang mulai terasa dingin.


Beruntung ada satu meja dengan kursi yang masih kosong. Raydita terduduk di sana sambil mencoba mencerna ucapan Mama yang baru saja ia dengar.


"Ditukar? Apa itu artinya ... aku bukan anak mama dan papa?" gumam Raydita dengan raut wajah yang bingung.


Raydita menoleh ke arah jembatan yang tadi dilewatinya. Terlihat jelas kehangatan yang diperlihatkan Papa Adi pada Annisa.


Jika sebelumnya ia merasa kesal dengan kedekatan mereka berdua, kali ini ia merasa sakit. Hati Raydita hancur tak ubahnya meja kaca yang dilempar Rayhan.


"Ja-jadi, aku ini anak siapa?" tanya Raydita terbata dan bibir yang bergetar.


Sementara itu di sisi lain ...


"Heh, Kau mau menerima Annisa karena keadaannya sudah berbeda. Kalau seandainya saja jalan operasi tidak pernah diambil dan kondisi anak itu masih tetap sama, apa kau tetap akan menerimanya?" Rika mencibir ekspresi wajah Rianti yang nampak gusar.


"Rianti, Annisa pastinya akan senang mengetahui dia anak kalian. Tapi coba bayangkan kalau saja Annisa tahu alasan dulu ia ditukar. Menurutmu, bagaimana reaksinya? Apa Annisa akan bisa menerima kenyataan itu?"


Rianti terdiam seribu bahasa dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Aku kasihan pada anak itu, bukan keinginannya terlahir tidak sempurna. Hanya saja, dia tidak beruntung terlahir dari orang tua yang tidak pandai bersyukur. Dengar, bukan aku yang meminta Adi menukar bayi kalian dengan bayi Rida. Tapi Adi sendiri, dan aku sudah memintanya berfikir ulang. Jadi jangan salahkan aku, jika sekarang aku tidak mau Raydita terluka. Kalian seenaknya saja mengambil dan membuang begitu seorang anak. Ini sudah 15 tahun lebih, tidak mudah untuk mereka menerima kenyataan ini."


Rika terlihat mengeratkan giginya melihat ekspresi Rianti yang terlihat lemah. Rianti benar-benar merasa gusar.


Mereka menoleh saat suara Rayhan dan Ghaisan terdengar. Ia dan Rika saling menatap sesaat dengan sorot mata yang canggung.

__ADS_1


"Sudah pesan, Ma? Ada menu lobster nggak, Ma?" tanya Rayhan yang terduduk di samping Rianti.


"Ada. Kamu mau yang mana?" tanya Rianti sambil menyodorkan buku menu.


Rayhan bisa merasakan nada suara Rianti yang berbeda. Ia mulai merasa bersalah karena berfikir mamanya masih memikirkan sikapnya tadi siang.


"Dita dimana?" tanya Adisurya yang kemudian melemparkan pandangan ke sekitar.


"Oh itu. Dia sedang apa di sana? Papa panggil dulu ya." Adisurya berlalu meninggalkan mereka.


Awalnya Ghaisan akan menarik kursi, namun kemudian menoleh pada Annisa yang sedang berada di sisi resto sambil menikmati pemandangan. Ghaisan pun menghampiri Annisa, dengan diiringi tatapan aneh dari mamanya.


"Woy! Jangan ngelamun di sini. Kesambet si manis jembatan ancol baru nyaho." Ujarnya. Ghaisan menekuk kedua sikunya pada pagar di tepi resto.


"Emang itu nyata, Kak? Kan cuma ada di tv."


"Mana gue tahu. Sepertinya sih nyata, buktinya bih lagi ngomong sama gue." Kelakarnya.


"Yee enak aja. Nisa bukan hantu, Kak."


Ghaisan tersenyum tipis sambil menatap lautan lepas. Dengan suara pelan, ia bertanya : "By the way, Lo suka sama Si Ray ya?" Selidiknya sambil menoleh pada Annisa.


"Maksudnya? Suka dalam arti apa, Kak?" Annisa merasa bingung dengan pertanyaan itu.


"Ya suka. Emang ada arti lain dari suka?"


"Ya, perasaan Lo gimana sama dia? Gue lihat kalian dekat belakangan ini. Kerin malam juga, kamu sama dia telponan. Aneh aja gitu," ujar Ghaisan berterus terang.


"Oh itu. Nisa sama Kak Ehan dekat ya sebatas adik kakak aja. Memangnya nggak boleh?"


"Tapi kalian kan adik kakak ketemu gede. Bisa aja kalian emang saling jatuh cinta, cuma nggak sadar aja." Deliknya.


"Idih, Kak Agas sok tahu. Nggak mungkin Nisa cinta sama Kak Ehan. Kalau sayang ya pasti, tapi sebagai kakak."


"Kalau sama gue, Lo sayang nggak?"


Ekspresi Annisa yang semula tersenyum lebar langsung berubah. Ia terkesiap mendengar pertanyaan Ghaisan.


"Haha, nggak usah dijawab sekarang. Ntar Lo ke-GR-an," ujar Ghaisan kemudian berlalu meninggalkan Annisa.


"Loh, kok jadi aku yang ke-GR-an? Kan Kak Agas yang nanyanya juga," gumam Annisa bingung.


Di waktu yang bersamaan, Adisurya memanggil Raydita yang sedang membelakangi, "Dita."

__ADS_1


Papa. Batinnya. Cepat-cepat Raydita mengusap wajahnya dan berusaha bersikap biasa.


"Sedang apa di sini, Sayang? Sepertinya kamu melamun." Adisurya menatap penuh selidik pada Raydita.


Raydita menghampiri dan memeluk Papa Adi.


"Pa, Dita sedih." Lirihnya.


"Sedih kenapa? Anak papa jangan sedih dong. Bilang sama papa, kamu mau apa?" tanya Adisurya sambil menangkup wajah Raydita.


Anak papa? Hmm papa bohong. Selama ini papa sudah membohongi Dita, batin Raydita.


"Eh, malah ngelamun. Sedih kenapa, Sayang?"


"Ada orang tua teman Dita yang meninggal. Dita sedih, membayangkan kalau itu terjadi sama Dita. Pa, Dita nggak mau jauh dari papa dan mama. Jangan tinggalkan Dita ya, Pa." Ujarnya setengah berdusta.


"Teman kamu yang mana, Mela atau Tasya? Papa akan minta Heru mengirimkan karangan bunga sebagai tanda ikut bela sungkawa."


"Bukan. Teman Dita yang lain," ujar Raydita pelan dan mengeratkan pelukannya.


"Papa baru tahu kamu punya teman selain Tasya dan Mela. Dita, setiap yang bernyawa pasti mati. Kita tidak tahu siapa yang lebih dulu, umur itu rahasia Sang Pencipta. Jadi jikalau perpisahan itu tiba, kita harus tabah dan kuat. Karena itu sudah menjadi takdir dari setiap mahluk. Tidak ada yang abadi di dunia ini." Tuturnya.


"Bagaimana dengan kasih sayang, Pa? Apakah tidak abadi juga?"


"Kalau kasih sayang menurut papa sih abadi. Buktinya, kalau ada orang yang kita sayangi sudah tiada, tetap terkenang, tetap merindukan masa-masa kebersamaan, ya intinya tidak akan terlupakan begitu saja. Akan ada saat dimana kita teringat pada orang tersebut. Terutama hubungan orang tua dan anak."


"Apa papa sayang Dita?"


"Kok nanyanya gitu?" Papa Adi mengerutkan keningnya.


"Ya nanya aja. Jawab dong, Pa."


"Sayang dong."


"Sayang aja, apa sayang banget?"


"Sayang banget."


"Sayang mana, Kak Ehan atau Dita?"


"Papa nggak bisa jawab. Kalian punya tempat yang sama di hati papa."


"Kalau begitu, sayang mana antara Dita atau Nisa. Nggak mungkin kan kalau Nisa juga punya tempat yang sama di hati papa. Nisa kan cuma anak angkat," ujar Raydita menatap lekat pada Papa Adi.

__ADS_1


Adisurya terlihat bingung harus menjawab apa. Tatapan Raydita membuatnya kesulitan menyembunyikan kebenaran tentang perasaannya.


_bersambung_


__ADS_2