
Happy reading ....
Bel istirahat pun berbunyi, para siswa berhamburan ke luar kelas. Viola, Anya, dan Raydita pun meninggalkan tempat persembunyian mereka. Dengan leluasa ketiganya masuk ke kelas masing-masing tanpa merasa bersalah.
"Dita, serius Lo ada di atas?" tanya Mela heboh, membuat Tasya membungkam mulut sahabatnya itu. Mela dan Tasya mengetahui keberadaan Raydita dari berbalas pesan chat.
"Bawel Lo ah," sahut Raydita dengan gerakan bola mata yang malas.
"Lo temenan sama mereka?" tanya Mela lagi.
"Iya. Memangnya kenapa?" Raydita balas bertanya dengan ketusnya.
"Ya ... nggak kenapa-napa," sahut Mela pelan. Tasya menyiku lengan Mela sebagai isyarat agar tak banyak bertanya.
"Tumben kalian nggak ke kantin? Sana pergi, gue lagi nggak mood ngobrol sama kalian," ujar Raydita ketus.
Tasya menggandeng tangan Mela dan menariknya perlahan. Mela yang terlihat enggan pun akhirnya meninggalkan Raydita sendirian.
Raydita menatap malas punggung dua sahabatnya. Ia kemudian menghubungi seseorang.
Sikap Raydita yang tak biasa menghadirkan tanya di benak dua sahabatnya, terutama Mela.
"Kok gue nggak suka ya, waktu tahu Dita kumpul sama Vio dan Anya," ujar Mela pelan.
"Ya mau gimana lagi? Itu kan maunya Dita," sahut Tasya. Mereka berpapasan dengan Isti dan Annisa yang baru kembali dari toilet.
"Nisa. Menurut kamu Dita kemana ya?" tanya Isti sangat pelan.
"Aku juga nggak tahu, Is." Sahutnya. Keduanya pun masuk ke dalam kelas.
Tak ada siapapun di kelas, kecuali Raydita yang menghadap dinding dengan posisi kepala di atas lipatan tangan. Sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang di ujung ponselnya.
"Mmm gimana kalau pulang sekolah?"
"...."
"Oke."
Raydita meletakkan ponselnya di meja. Merasa ada seseorang yang berdiri di dekatnya, Raydita mengangkat kepala untuk memastikan itu siapa.
__ADS_1
"Mau apa Lo?" tanya Raydita sinis pada Annisa yang berdiri kemudian duduk di kursi di depan meja Raydita.
"Dit, kamu tadi kemana?" tanya Annisa pelan.
"Apa urusan Lo?"
"Aku khawatir, takut kamu kenapa-napa. Aku kira kamu sakit perut karena tadi pagi ke toilet. Tapi aku cari ke sana, kamunya nggak ada," tutur Annisa.
Raydita menarik satu ujung bibirnya ke atas, rasanya geli mendengar apa yang diucapkan Annisa barusan.
"Mau gue kemana. Sama siapa. Itu urusan gue. Lo nggak usah sok perhatian sama gue. Ngerti Lo? Dan satu hal lagi, Lo bukan siapa-siapa gue. Buat gue, cuma Kak Ehan saudara gue. Paham?" ujar Raydita dengan penekanan di setiap kata.
Wajah Annisa terlihat sendu. Yuda yang baru masuk ke kelas dan mendengar percakapan mereka merasa tak suka. Ia langsung menghampiri keduanya.
"Eh, Dita. Lo jangan songong ya. Bukan cuma Nisa, tapi semua anak di kelas juga menanyakan hal yang sama. Lo nyangkut dimana, hah?" cibir Yuda.
"Lo itu yang songong. Lo kira gue layangan? Sana-sana! Ganggu aja," usir Raydita kesal.
Raydita mendelik pada dua orang yang berlalu meninggalkannya. Raydita merasa tak nyaman berada di kelas. Ia pun memutuskan ke kantin menyusul dua sahabatnya.
"Udah lah, Nisa. Jangan hiraukan dia. Hmm, padahal yang aku dengar dari nenek, Tuan Adi dan istrinya itu orang baik. Kok bisa ya, anak mereka jutek begitu? Kak Ehan juga baik," ujar Isti.
"Aah, boda amat. Yang penting bekal Lo selalu enak," sahut Yuda sambil menyuapkan bekal yang belum lama ini dibuka Isti. Ia tak perduli jika kedua temannya memberi tatapan aneh.
Terik mentari siang ini, tak seberapa jika dibandingkan panas yang membakar hati Sandy. Di ruang kerjanya, Sandy tengah merasa geram. Lagi-lagi perusahaannya kalah saing dengan perusahaan Adisurya dalam memenangkan tender pemerintah yang nominalnya sangat besar.
Tangannya terkepal kuat hingga memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih. Seringaian terlukis saat menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Oke. Aku punya cara lain untuk menghancurkan Adisurya. Nona muda itu akan kujadikan mangsa yang sempurna." Desisnya.
Sandy menyambar ponselnya dan berlalu ke luar ruangan. Siang ini ia sudah berjanji menjemput seseorang yang istimewa.
Di tempat lain, Rida juga keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya. Ia merasa penasaran dengan sosok putri Adisurya, Raydita. Rida mengarahkan kemudinya ke sekolah.
Waktu pulang sekolah pun tiba. Para siswa itu satu persatu meninggalkan kelas mereka. Melihat Raydita yang sudah membawa tasnya, Annisa berpamitan pada Isti dan Yuda. Ia bergegas menyusul Raydita.
"Kasian ya, Nisa. Raydita arogan banget," ujar Isti pada Yuda yang kemudian menaikkan bahu sedikit dengan ekpresi pasrah.
Sementara itu ....
__ADS_1
"Dit, Dita. Tunggu, Dit," panggil Annisa.
Raydita menulikan pendengarannya. Ia bahkan memasang earphone pada telinganya. Langkah besarnya mengarah ke luar sekolah.
Tak jauh dari gerbang sekolah, Mang Asep sudah menunggu. Namun Raydita justru celingukan mencari seseorang.
"Yuk, Dit! Kita pulang," ajak Annisa saat ia berada tepat di samping Raydita.
Raydita mendelik dengan ekspresinya yang datar. Ujung matanya menangkap sosok orang yang ditunggu. Raydita cepat-cepat menoleh dan tersenyum lebar sambil berkata, "Hai, Om Sandy!"
Sandy membalas dengan senyum yang tak kalah lebarnya. Raydita menghampiri Mang Asep dan berkata pelan : "Mang, jangan bilang sama mama, kalau aku pergi sama Om Sandy. Bilang aja aku pergi sama Mela dan Tasya. Ngerti?"
Mang Asep terlihat bingung. Sekali lagi Raydita memberi penegasan dengan tatapannya yang menajam, "Ngerti nggak?"
"I-iya, Non," sahut Mang Asep gugup.
Raydita mendelik pada Annisa yang menghampiri mereka. "Awas Lo kalau ngadu," ancam Raydita pada Annisa.
Annisa menatap nanar langkah Raydita yang berlalu dengan riangnya. Tak hanya Annisa, dua sahabat Raydita juga menatap dari kejauhan.
"Mel, itu kan om-om yang waktu di Resto. Bokapnya Kak Raka," ujar Tasya.
"He-em. Dita kok sama dia ya? Bukankah nyokapnya Dita nggak suka kalau Dita dekat-dekat Om itu?"
"Iya, ya."
"Eh, kalau nggak salah gue punya nomernya Tante Rianti. Gue videoin aah, terus kirim ke Tante Rianti. Biar tahu rasa tu si Dita, seharian ini belagu banget," geram Mela.
"Jangan, Mel. Kasian nanti kena marah," cegah Tasya.
"Bodo amat. Kita ini udah temenan lama, Sya. Mentang-mentang dia punya teman baru, seenaknya aja nyuekin kita."
Mela mengarahkan kameranya pada Sandy yang sedang membukakan pintu mobilnya untuk Raydita. Kemudian mengitari bagian depan mobil.
Di sisi lain, Rida menautkan alis melihat Sandy ada di sana. Kedua maniknya terbelalak melihat siapa siswi yang duduk di kursi depan mobil Sandy.
Saat Sandy masuk ke dalam mobil, cepat-cepat Rida memasangkan lagi kaca mata hitamnya. Sandy dan Raydita terlihat sekilas tersenyum lebar. Kemudian Sandy mulai memutar kemudi.
Rida menundukkan kepala saat mobil yang dikemudikan Sandy akan melewati mobilnya. Ia menoleh ke belakang sesaat dan cepat-cepat menyalakan mesin mobil. Rida berbelok dan melaju kencang berusaha mengikuti mobil Sandy.
__ADS_1
"Jangan-jangan benar firasatku. Sandy punya niat buruk pada putri Kak Adi. Apa ini maksud dari mimpiku semalam?" Gumamnya.
_bersambung_