Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
galau


__ADS_3

Happy reading ....


Keesokan harinya, Annisa kembali menghubungi Ghaisan. Sayangnya panggilan Annisa yang sudah kesekian kalinya itu tak diangkat Ghaisan, dan terkesan sengaja diabaikan. Hari berikutnya pun sama.


Selain menyesali sikapnya, Annisa juga mencoba untuk mengerti kesibukan Ghaisan dan memilih hanya mengirim pesan. Tapi ini sudah hari kedua. Mungkinkah Ghaisan masih kesal padanya?


Annisa menyandarkan punggungnya di sofa. Terdengar helaan napas yang dibuang kasar dari bibirnya.


“Kenapa?” tanya Raydita yang tanpa diduga menyembul dari arah belakang.


Annisa yang sempat terkejut pun kembali menghela napasnya, lalu berkata pelan, “Kak Agas. Dia marah sama aku.”


“Marah? Dia nggak ngangkat telpon lo?”


“He-em,” angguk Annisa.


“Nanti juga kalau sempat dia pasti nelpon balik. Dia nggak mungkin marah kali. Kecuali lo selingkuh. Tapi mustahil sih,” ujar Raydita sembari mengenakan sepatu. “Lo bawa motor atau mobil?” tanyanya kemudian.


“Motor. Kenapa, mau bareng?”


“Iya. Pulang kuliah gue mau ke makam mama sama Yuda, jadi sekarang gue nebeng sama lo,” sahut Raydita.


“Oke.”


“Udah deh. Pagi-pagi kok galau. Percaya sama gue, Kak Agas nggak mungkin marah. Positive thinking aja. Palingan juga lagi sibuk banget. Ini ‘kan tahun terakhir kuliah dia. Lo nggak tau sih, dia ngebet banget pengen nikahin lo,” ujar Raydita sembari beranjak dan menyambar tasnya. “Lo nggak lagi buru-buru, ‘kan?” tanya Raydita.


“Enggak,” sahut Annisa.

__ADS_1


“Lo udah pamit sama papa?” Annisa mengangguk sembari beranjak dari sofa.


“Ya udah. Yuk! Mana kuncinya? Gue yang bawa,” pinta Raydita.


Annisa merogoh ke dalam tas, lalu memberikan kunci motornya pada Raydita. Kedua gadis itupun berlalu ke halaman depan rumah mereka.


Pagi ini, Rianti bersama Marni belanja ke salah satu pasar modern yang ada di sekitar daerah tersebut. Entah sejak kapan Rianti suka melakukannya. Ia selalu terlihat antusias setiap kali menceritakan pengalamannya belanja bersama Marni atau ART lainnya. Sementara Adisurya baru akan ke kamar mandi saat Annisa berpamitan tadi.


**


Siang, sore, bahkan sampai malam belum juga ada satupun balasan dari pesan yang dikirimkan Annisa pada Ghaisan. Tanda centang dua berwarna biru itu jelas-jelas memberitahu bahwa pesan Annisa dibaca Ghaisan. Tapi kenapa tidak dibalas?


Annisa bahkan sengaja mengirimi Ghaisan pesan dan menelponnya saat status kontak pria itu ‘on line’. Tapi tetap saja tidak direspon. Kali ini, Annisa merasa benar-benar diabaikan oleh Ghaisan.


“Apa Kak Agas semarah itu sama aku?” gumam Annisa yang terlihat bingung dan jadi serba salah. “Maafin Nisa, Kak. Angkat dong telponnya,” gumamnya kemudian masih dengan ponsel menempel di telinganya.


Tok … tok.


“Iya, Mbak,” sahut Annisa.


Annisa menghela napas dalam dan berlalu keluar kamar dengan membawa ponselnya. Di ruangan makan hanya ada Adisurya dan Rianti. Pasangan itu menyambut hangat Annisa yang memaksakan senyum untuk mereka.


“Bagaimana hari ini, Sayang?” tanya Adisurya.


“Baik, Yah. Dita belum pulang?” tanya Annisa celingukan, dan meletakkan ponselnya di samping piring.


“Ke rumah Jeng Fany dulu. Katanya ada Raka, jadi mereka mau makan malam bersama,” sahut Rianti.

__ADS_1


“Ooh,” ucap Annisa pelan. Sekilas Annisa melirik pada ponselnya. Besar harapan Annisa ada pesan masuk atau panggilan dari Ghaisan.


“Kamu lagi nunggu telpon?” tanya Adisurya dengan tatapan menyelidik.


“Eh? Enggak juga, Yah,” kilah Annisa yang merasa kikuk mendapat tatapan lekat dari ayahnya.


Adisurya hanya tersenyum tipis dan mengalihkan tatapannya pada piring berisi nasi dan lauk yang disodorkan istrinya.


“Nis. Nikahan Dita nanti, gimana kalau kita undang keluarga Yuli ke sini? Jadi nggak cuma Yuli-nya aja,” ujar Rianti yang beranjak hendak menyendokkan nasi dan lauk untuk suaminya.


Annisa mengangguk seraya berkata, “Nanti Nisa bilangin sama Yuli, Bu."


“Bagaimana kabar tanah itu, Yah? Sudah deal, atau malah nggak jadi?” tanya Annisa.


“Nggak jadi. Ternyata Helmy itu punya kakak perempuan yang nggak setuju tanah orang tua mereka di jual. Jadi ya, daripada urusannya panjang, lebih baik dibatalkan," sahut Adisurya.


"Kalaupun yayasan itu nggak bisa diperluas, kita bisa buka cabang. Dengan begitu, akan banyak lowongan untuk tenaga pengajar dan juga pekerja," timpal Rianti.


"Betul, Bu. Nisa setuju."


Rianti tersenyum lebar. "Ibu ingin orang tua Yuli datang ke sini juga salah satunya untuk membicarakan itu. Ibu akan minta sama ibunya Yuli untuk mendata anak-anak di desa yang ingin melanjutkan sekolah. Terutama anak-anak yatim, dan anak berprestasi yang kurang beruntung," sambung Rianti yang juga mengambilkan nasi untuk Annisa.


"Nisa jadi terharu. Terima kasih, Bu. Nisa sayang sama ibu," ujar Annisa sembari memeluk pinggang Rianti yang sedang berdiri di sampingnya.


"Sama ayah enggak?" tanya Adisurya sembari mendelik manja.


"Jangan diragukan dong, Yah." Annisa yang masih memeluk Rianti pun mengulurkan satu tangannya pada Adisurya. Adisurya menyambutnya dan tanpa diduga mencium tangan itu.

__ADS_1


Rianti merasakan haru yang luar biasa. Jika saja dibiarkan, mungkin air matanya akan meluncur begitu saja.


_bersambung_


__ADS_2