
Happy reading ....
*
Sebelumnya ....
Dengan mengendarai motor matic-nya, Annisa menuju bandara. Beberapa saat yang lalu, Annisa menjemput Isti dan mempertemukannya dengan Rayhan di salah satu resto pizza. Mereka berencana makan siang bersama. Sesampainya di bandara, ternyata Ghaisan sudah menunggu. Annisa berlari kecil menghampiri sambil tersenyum tipis.
"Nisa telat ya,Kak?" tanyanya.
"Enggak, Sayang. Aku juga baru duduk," sahut Ghaisan.
Annisa mengulurkan tangannya hendak menyalami dan langsung disambut oleh Ghaisan. Namun ketika Annisa akan mencium punggung tangannya, Ghaisan justru menarik dan memeluknya sangat erat.
"Aku kangen," ujar Ghaisan manja. Annisa hanya tersenyum tipis sambil membalas pelukan Ghaisan.
"Kalau aku pulang lagi, kamu ikut ya," ujar Ghaisan pelan. Berkali-kali ia menciumi bagian kepala Annisa yang menempel dengan wajahnya.
"Nisa kan sekolah, Kak," jawab Annisa.
Ghaisan mendengus pelan dan semakin mengeratkan pelukannya. "Kita mau kemana?" tanyanya.
"Ke resto pizza langganan Kak Ehan," sahut Annisa.
"Oh."
"Sekarang yuk, Kak!" ajak Annisa yang mulai merasa risih dengan tatapan orang lain yang melewati mereka.
"Kamu kok nggak pake jilbab lagi?" Ghaisan mengusap lembut dagu Annisa yang tersipu berulang-ulang.
"Ya udah, yuk!" Ghaisan menggandeng tangan Annisa ke tempat parkir motor. Ia pun meminta kunci motor dan memakaikan helm Annisa.
Keduanya berboncengan keluar dari bandara. Mereka tidak menyadari keberadaan Rika yang membuntuti.
Sementara itu di resto pizza, Rayhan sengaja memilih posisi di salah satu sudut dan membelakangi pengunjung lain. Sedari tadi posisi duduknya tidak bisa tegak. Selalu condong, bersandar di bahu Isti.
"Gimana kuliah di sana, Kak? Pasti seru, iya kan?"
Rayhan mengangguk pelan. Ia lebih suka memainkan jemari Isti dari pada harus membicarakan hal lain.
"Yang, ke toilet yuk," ajak Rayhan pelan.
"Masa berdua sih, Kak. Memangnya mau ngapain?"
Rayhan memajukan bibirnya, dan Isti tersipu sambil membuang muka.
__ADS_1
"Ayo, Yang. Bibir kamu kering tuh," seloroh Rayhan.
"Masa sih? Enggak ah," kilah Isti sambil mengulumkan senyum.
"Beneran, Yang. Ayo," rengek Rayhan manja.
"Enggak, Kak. Ini tempat umum. Tuh ada Mbak-nya. Duduk yang benar," pinta Isti. Ketika menoleh ke belakang Isti melihat pelayan menuju meja mereka sambil membawakan pesanan.
Rayhan tidan mengindahkan, ia justru semakin bersandar pada Isti sambil bermain ponsel. Isti tersenyum kecut pada pelayan yang mengulumkan senyum. Setelah pelayan itu pergi, Isti kembali meminta Rayhan untuk membetulkan posisi duduknya.
"Ish, kamu. Nggak tahu apa kalau aku kangen banget," gerutu Rayhan.
"Isti tahu, Kak. Tapi kan harus tahu tempat. Malu dong," sahut Isti sembari mulai menyiapkan alas untuk Rayhan.
Rayhan melingkarkan tangannya sambil meletakkan dagu di pundak Isti. "Di mobil ya." Pintanya.
"Kalau Kak Ray begini, Isti nggak percaya loh di London Kakak setia," ujar Isti setengah bercanda.
"Kok gitu? Aku begini cuma sama kamu," sahut Rayhan yang menatap dengan ekspresi kesal.
"Benar ya."
"I swear," sahut Rayhan cepat.
"Iya, percaya. Isti bercanda kok, Kak. Serius banget." Isti mengulumkan senyumnya.
"Uluu marah, a ...." Rayhan mau tak mau membuka mulutnya. Keduanya menoleh saat dirasa ada yang berjalan mengarah pada mereka.
"Kak Agas, apa kabar?" sapa Isti riang.
"Baik," sahut Ghaisan datar.
Isti tersenyum kikuk sedangkan Annisa hanya nyengir kuda.
"Kamu nggak usah nanya dia. Yang ada kamu gini nih," ujar Rayhan sambil meletakkan kepalan tangannya di leher. Annisa tersenyum sambil terduduk di dekat kaca.
"Heran gue, kok bisa sih Nisa mau jadi pacar lo," imbuh Rayhan.
"Bisa dong, kenapa enggak?"
Rayhan menyeringai melihat Ghaisan meletakkan potongan pizza yang diambilnya di atas piring Annisa. Sahabatnya itu juga menyiapkan saus sambal dan saus tomat di piring miliknya dan menyodorkannya pada Annisa.
"Terima kasih," ujar Annisa.
"Piring buat lo mana dong?" tanya Rayhan.
__ADS_1
"Kalau cukup dengan satu piring, kenapa harus make piring lain?" sahut Ghaisan enteng.
Rayhan sampai melongo mendengarnya. Sedangkan Isti mengacungkan jempolnya dengan semangat '45 sambil berucap, "Mantap."
Rayhan refleks menoleh, lalu menumpuk piringnya di atas piring Isti yang masih kosong.
"Mantap apanya? KIta juga bisa," ujar Rayhan.
"Iih, nggak mau. Isti nggak suka saus tomat," protes Isti yang kembali meletakkan piring Rayhan.
"Kamu yang nyampur itu, Yang," kilah Rayhan.
"Pokoknya nggak mau," tandas Isti.
Rayhan menoleh pada Ghaisan dan Annisa yang terkekeh pelan melihatnya. Sambil mendelik, Rayhan berkata : "Apa, Lo? Ngetawain."
Isti yang juga terkekeh mengusap-usap punggung Rayhan. Sementara Ghaisan dengan sengaja malah menyuapi Annisa.
"Kak Raka pulang nggak?" tanya Annisa di sela kunyahannya.
"Katanya sih mau pulang. Nanti malam kita ngumpul di rumahnya," sahut Ghaisan.
"Jadi nggak, Ray?" tanya Ghaisan kemudian.
"Jadi dong," angguk Rayhan.
Di sisi lain tempat itu, Rika terlihat geram sambil menatap tajam pada bagian depan restoran. Ia pun memutuskan untuk pulang dengan perasaan yang kesal tak karuan. Pikirnya, apa-apaan ini, Ghaisan pulang bukannya memberi kejutan padanya, malah lebih dulu menemui Annisa. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata mereka pacaran.
Bukan tanpa alasan Rika tidak menyukai Annisa. Melihat Annisa, mengingatkan Rika pada kenangan tidak mengenakkan dengan Ryan, suaminya.
Sejak awal, Ryan menentang keputusan Rika menitipkan bayi Rida di panti asuhan. Dan saat mengetahui bahwa bayi Adisurya yang akan dioperasinya adalah bayi yang ditukar dengan bayi adiknya, Ryan sangat murka.
'Apa kau tidak punya hati? Kau melakukan itu hanya untuk menutupi rasa malu keluargamu. Kau mengorbankan masa depan anak itu.'
'Jangan hanya menyalahkanku. Salahkan juga Adisurya, ini idenya.'
'Dan kau mengiyakan,' timpal Ryan.
Sejak saat itu, rumah tangganya tidak baik-baik saja. Ryan jarang pulang. Sampai kemudian tersebar isu perselingkuhan antara Ryan dan seorang perawat di rumah sakit tempat mereka bekerja. Ryan menepis isu itu. Namun begitu, terjadi pertengkaran hebat antara mereka yang kemudian berakhir dengan talak yang dijatuhkan Ryan terhadap Rika.
Ryan memang sangat idealis. Keputusan Rika sudah melewati betas toleransinya. Ryan bahkan menasehati Adisurya, namun sepertinya gagal, karena Adisurya tetap pada pendiriannya.
Ryan memutuskan akan mengadopsi Annisa setelah operasinya selesai. Tentu saja Rika menolak dengan alasan apapun juga. Tidak lama setelah operasi selesai, Rika mendapat kabar Ryan sangat tertekan dan sering mabuk-mabukkan hingga akhirnya sakit, lalu meninggal.
'Aku kecewa padamu, Rika. Kau tidak pantas menyandang gelar apapun juga. Sebagai seorang manusia, dokter, ataupun wanita yang berstatus sebagai ibu.'
__ADS_1
Kata-kata yang tidak akan pernah Rika lupakan dari mendiang mantan suaminya. Rika bersikeras dirinya tidak bersalah karena ia sudah meminta Adisurya untuk mempertimbangkan keputusannya saat itu.
_bersambung_