Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
Rida-Raydita (bagian 1)


__ADS_3

Happy reading ....


*


Pagi ini cerah, secerah hati Isti yang sedang menunggu Annisa di dekat pintu gerbang sekolah. Benarkah cucu Bi Marni itu , menunggu Annisa? Tentu saja. Tapi bukan hanya Annisa, melainkan menunggu Rayhan juga.


Isti sempat kecawa karena sang arjuna tak terlihat turun dari mobil yang membawa Annisa dan Raydita. Namun Isti tetap memaksakan senyum saat Annisa menyapanya.


"Hai, Isti! Kamu sengaja nungguin aku?" tanya Annisa yang tersenyum tipis.


"Iya, hehe." Sahutnya.


Annisa berjalan beriringan dengan Raydita. Di depan pintu utama, Mr. Thomas menyambut para siswa dengan antusias.


"Selamat pagi, Anak-anak!" sapa Mr. Thomas.


"Selamat pagi, Mister!" sahut mereka hampir bersamaan.


"Bagaimana kabar kalian? Especially for you, Raydita?" tanya Mr. Thomas.


"I'm fine. Thank you, Mister," sahut Raydita.


Mr. Thomas mengangguk kecil dan mempersilakan mereka masuk.


"Dita!"


Raydita menoleh. Ia tersenyum pada Mela dan Tasya yang datang bersamaan.


"Hai, Mister!" sapa keduanya.


Mr. Thomas membalas dengan gerakan tangan. Tasya langsung menggandeng tangan Raydita. Sementara Mela berjalan di samping Raydita sambil bertukar pesan dengan seseorang.


"Mr. Thomas happy banget ya. Dengar-dengar dia akan menggantikan mantan kepala sekolah," ujar Tasya pada Raydita.


"Oh ya?" Raydita mengerutkan keningnya. Tasya mengangguk pelan.


"Ssstt, Viola tuh," ujar Mela pelan sambil menyiku pelan lengan Raydita.


Raydita dan Tasya menoleh pada Viola dan Anya yang sepertinya sengaja mendekati mereka.


"Eh, si anak pungut. Masih punya muka Lo sekolah di sini? Jangan belagu ya, karena Lo bukan siapa-siapa selain cuma anak pungut," ejek Viola yang disambut kekehan pelan oleh Anya.


"Masih mending Dita dong. Nah, Lo? Anak mantan kepsek yang belagu. Kasian deh, Lo. Mulai sekarang nggak akan ada lagi yang takut sama Lo. Lagian juga, jadi anak kepsek aja belagu. Heran gue," delik Tasya.

__ADS_1


"Lo benar, Sya. Dan kabar baiknya adalah ... mulai sekarang, siapapun bisa dekat dan jadi pacar Kak Ray. Oke nggak tuh?" tanya Mela dan diacungi jempol oleh Tasya.


Viola menahan kesal sambil mengepalkan tangan. Anya menarik lengan Viola agar tak berbuat onar di sana.


Raydita dan kedua sahabatnya mendelik puas pada Viola. Sementara itu, Isti yang mendengarnya langsung merasa tak suka.


"Nis, kok Kak Ray belum datang?" tanya Isti.


"Kak Ehan bangun kesiangan," sahut Annisa datar.


"Ooh."


Annisa dan yang lainnya langsung menuju ruang kelas. Ketika hendak melangkah masuk, terdengar seruan Raka dari lantai atas.


"Ray!"


Isti menoleh pada Raka yang melambai dari lantai atas yang berseberangan dengan kelasnya. Tak lama, terlihat Rayhan berlari kecil di tangga.


"Woy! Kamu nungguin aku ya? So Sweet," ujar Yuda menyadarkan lamunan Isti.


"Ciee ... ehhem!" goda seorang siswa lain yang melewati mereka.


"Apaan sih, Yud?" tanya Isti sambil mendelik. Yuda berjalan santai di belakang Isti sambil cengengesan. Membuat Isti kesal, dan beberapa teman sekelas mereka menatap dengan tatapan menggoda.


Bel pulang terdengar berbunyi. Satu persatu para siswa meninggalkan ruang kelas mereka. Isti yang dijemput ayahnya sudah pulang lebih dulu. Begitu juga dengan Annisa.


Rayhan harus menelan rasa kecewa karena tak sempat melihat wajah kekasihnya. Mata pelajaran kelas tiga yang memang lebih banyak, membuat Rayhan keluar kelas sedikit terlambat. Untuk mengalihkan perasaannya, Rayhan bermain basket bersama Raka.


Sementara itu, Raydita dan Ghaisan yang berboncengan sedang menuju rumah Rika. Raydita merasa canggung karena Ghaisan tidak banyak bicara.


Degup jantung Raydita semakin cepat ketika motor yang dikemudikan Ghaisan memasuki halaman sebuah rumah. Raydita sempat tertegun, dan baru tersadar saat Ghaisan menyuruhnya untuk turun.


"Lo turun sana. Gue mau balik lagi ke sekolah. Santai aja, nyokap gue nggak ada di rumah kok. Nanti kalau Lo mau pulang bilang aja," ujar Ghaisan.


Raydita pun turun dari motor Ghaisan. Ia menatap ragu pada bagian pintu utama rumah itu.


Di sisi lain, Rida tengah berbaring di sofa di dalam kamarnya. Akhir-akhir ini ia sering di rumah. Selain karena memang tidak punya aktivitas rutin, Rida juga jadi merasa mudah lelah.


Kanker serviks stadium 3, jadi hal terburuk dalam hidup Rida setelah peristiwa lainnya. Berawal dari perbincangan santai dengan tamannya-Veli yang seorang dokter umum. Rida mengeluhkan sering mengalami nyeri dibagian panggul, juga saat berkemih.


Keesokan harinya, Veli memeriksa kondisi Rida, kemudian merujuknya ke spesialis kulit dan kelamin. Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan ....


Tok ... tok. "Non, ada tamu." Suara seorang ART membuyarkan lamunan Rida.

__ADS_1


"Tamu, siapa?" gumamnya. "Iya, Mbak. Disuruh tunggu sebentar!"


Rida beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu. Dari lantai atas, Rida melihat Raydita sedang terduduk dengan wajah tertunduk dan kaki yang digerak-gerakkan.


"Dita," batin Rida.


Bukankah seharusnya Rida merasa senang dan berlari untuk memeluk Raydita? Lalu mengapa yang dirasakan Rida justru berbeda?


Rida merasakan lututnya gemetar, akan tetapi langkahnya terus melaju menuruni tangga. Kata-kata Raydita tempo hari seakan menggema di telinga. Rida berusaha menguatkan hati dan menyiapkan diri untuk mendengar ucapan Raydita yang mungkin saja akan menyakiti perasaannya.


"Hai, Sayang! Kesini sama siapa? Apa sama Agas?" tanya Rida ramah sembari melenggang anggun mendekati Raydita.


Raydita spontan berdiri dan menjawab dengan ekspresi canggung, "Iya, Tante."


"Sudah makan belum? Kita makan yuk," ajak Rida sambil tersenyum dan berbelok arah ke ruang makan.


"Ayo sini, Dita!" ajaknya lagi.


"Agas! Mbak, tolong panggil Den Agas ya," pinta Rida pada ART-nya.


"Kak Agas nggak ada, Tan. Dia balik lagi ke sekolah," ujar Raydita ragu.


"Oh ya? Jadi Agas cuma nganter kamu?"


"Iya," angguk Raydita pelan.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo duduk, Sayang. Temani tante makan." Pintanya.


Raydita menurut. Ia memperhatikan setiap gerakan tangan Rida yang menempatkan nasi dan lauk di piring milik Raydita.


"Udah, Tan. Kebanyakan," cegah Raydita.


Rida menyodorkan piring alas Raydita. Setelah mengambilkan untuk dirinya sendiri, Rida mulai menyuapkan makan siangnya.


Hening, tak ada yang memulai pembicaraan. Raydita dapat melihat bahwasanya Rida terlihat enggan dan tidak menikmati makanannya. Sepertinya wanita di hadapannya itu tidak berselera makan.


"Tante, mmm sebenarnya ... aku kesini atas permintaan Tante Rika," ujar Raydita memberanikan diri untuk memulai pembicaraan. Ia tidak tahu apakah keterusterangannya ini akan menyinggung perasaan Rida. Karena sejujurnya, Raydita merasa bingung harus memulai dari mana.


Raydita langsung terdiam saat melihat gerakan tangan Rida yang sedang menyendok makanan terhenti. Meski tatapan Rida tertuju pada piringnya, namun pertanyaan yang dilontarkan ditujukan untuk Raydita.


"Apa yang dia katakan padamu?" tanyanya datar dan terkesan dingin.


Raydita mulai merasa ragu untuk meneruskan niatnya. Ekspresi Rida membuatnya enggan untuk meneruskan pembicaraan.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2