
Happy reading ....
*
Selama dua malam Rayhan dan Isti menginap di hotel. Menikmati pelayanan hotel bagai raja dan ratu tanpa ada yang mengganggu. Namun ketika kembali dari hotel, Yuda dan Raydita yang kebetulan ada di rumah Adisurya pun siap sedia menggoda.
"Ciee ...." Goda keduanya.
"Sukses nggak belah durennya?" tanya Yuda pada Rayhan.
Isti yang duduk di samping Rayhan tersipu malu, dan Rayhan pun mengusap pucuk kepalanya sembari mengulumkan senyum.
"Kalau dilihat dari gelagatnya sih, pasti sukses. Iya, 'kan?" todong Yuda.
"Duren mana dulu nih?" Rayhan balik bertanya dengan santai.
"Duren pengkolan kalau kata si Engkong," kekeh Yuda yang disambut tawa pelan oleh Rayhan.
"Duren pengkolan? Pengkolan mana?" tanya Raydita pada Yuda dengan suara pelan.
"Pengkolan mana ya? Gue juga nggak tahu. Ntar deh kalau ketemu sama si Engkong, gue tanyain," seloroh Yuda seraya menggaruk tengkuknya.
"Idih, nggak jelas banget," delik Raydita.
"Hehe. Suka duren nggak, Yang?" tanya Yuda dengan tatapan menggoda pada Raydita.
"Nggak," tegas Raydita.
"Tapi aku suka loh," ucap Yuda sembari mencolek dagu Raydita.
"B*do amat," timpal Raydita ketus sambil beranjak dari sofa.
Rayhan tergelak melihat raut wajah Yuda yang masam. Begitu juga dengan Isti yang terkekeh dengan tingkah keduanya.
"Nisa kemana, Dit? Pagi tadi nganter Ghaisan ke bandara, nggak?" tanya Rayhan.
"Iya. Dari bandara, langsung ke kampus," sahut Raydita. "Aku mau siap-siap dulu ya," pamit Raydita seraya menaiki tangga.
Raka dan Yuli sudah kembali ke kota B, dan pagi ini Ghaisan kembali ke New York.
Adisurya dan Rianti juga tak ada di rumah. Mereka menghadiri acara khitanan putra salah satu teman sosialita Rianti.
"Yang, kayanya nanti malam kamu harus tidur di kamar Nisa deh," ujar Yuda sambil menatap langkah Raydita.
"Kenapa?" Raydita menghentikan langkahnya dan balik menatap Yuda.
__ADS_1
"Ya ... daripada malam-malam kamu tersiksa dengar suara-suara nggak jelas dari kamar Rayhan," seloroh Yuda.
"Emangnya Lo. Gue bisik-bisik aja udah h**ni," ujar Raydita dengan cueknya sembari meneruskan langkah.
Raydita tidak perduli jika kemudian Yuda jadi salah tingkah mendapat tatapan aneh dari Rayhan dan istrinya.
"Kalian nggak sampai ...." Rayhan seakan sengaja menggantung kalimatnya.
"Nggak mungkin lah, Kak," sela Isti cepat.
"Kamu yakin mereka belum pernah ...."
"Gaya pacaran mereka aja begitu. Bertengkar melulu setiap ketemu. Ya nggak mungki lah sampai begitu. Iya 'kan, Yud?" tanya Isti.
"Jangan salah loh. Bisa aja itu gimik. Aslinya mereka romantis abis. Gue benar, 'kan?" todong Rayhan pada Yuda.
"Eh? Hehe, benar nggak ya?" gumam Yuda seraya memperlihatkan deretan giginya.
"Dit! Yuda gimana kalau lagi berdua?" tanya Rayhan dengan suara yang keras.
"Ya gitu deh," sahut Raydita yang disusul suara pintu kamar yang ditutup.
"Awas, Lo. Kalau berani macam-macam." Rayhan mengarahkan telunjuknya pada Yuda dengan sorot mata yang tajam.
"Ck. Nggak lah, Ray. Bu Haji, tolong dong bilangin sama Pak Haji jangan suudzon," kelakar Yuda.
"Dia mau digr*pein sama lo?" tanya Rayhan. Suaranya sengaja dipelankan agar tak terdengar Raydita.
"Kasih tahu nggak ya? Mmm gue kasih tahu, kalau lo juga cerita gimana malam pertama kalian. Gimana?"
"Iih, apaan sih? Enggak," tegas Isti.
Isti menatap tajam pada Rayhan yang refleks menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang mau cerita? Nggak akan, Sayang," ujar Rayhan cepat.
"Awas loh kalau berani cerita." Kini giliran Isti yang mengarahkan telunjuknya pada Rayhan yang dengan cepat menggelengkan kepala.
Isti beranjak dari sofa dan melangkah menuju ruang makan. Yuda menatap pasangan suami-istri itu bergantian lalu tertawa ringan.
"STI Lo, Ray. Suami takut istri," kelakarnya.
Rayhan membulatkan mata pada Yuda dan tentunya teman sekaligus pacar Raydita itupun tergelak menertawakan Rayhan.
Sementara itu, Isti menyapa Susi yang sedang memotong-motong buah untuk dijadikan salad.
__ADS_1
"Pengantin baru, mau makan sekarang, Neng?" tanya Susi.
"Sudah tadi di rumah, Bi. Terima kasih," sahut Isti.
Tempat pertama yang dituju Isti-Rayhan sekeluarnya dari hotel memanglah kediaman Dahlan. Hal itu lantaran mereka akan menginap di kediaman Adisurya.
"Neng Isti suka salad buah? Atau mau bibi buatkan camilan lain?" tawar Susi.
"Apa saja, Bi. Oh iya, nanti malam saya boleh pinjam dapurnya, Bi?"
"Boleh dong, Neng. Mau masak ya?" Isti mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Enaknya Den Ehan punya istri pintar masak," ujar Susi pada Rayhan yang sedang mendekati mereka.
Rayhan berdiri di samping Isti sembari merengkuh pundak istrinya tersebut. Tak lama, terdengar suara Raydita.
"Gue sama Yuda ke kampus dulu ya. Lo jangan malu-malu, ini juga 'kan rumah Lo," ucap Raydita seraya mengambil satu apel dari mangkok yang ada di depan Bi Susi.
"He-em. Gue juga nggak malu-malu," ucap Yuda.
"Lo sih malu-maluin," timpal Raydita sembari melempar apel yang sudah digigitnya pada Yuda.
"Kok nggak manggil kakak, Non?" tanya Susi.
"Dianya nggak mau," sahut Raydita dengan gerakan wajah menunjuk pada Isti.
"Kita pergi dulu ya. Assalamu'alaikum ...," pamit Raydita.
"Wa'alaikumsalam," sahut mereka bertiga.
Rayhan menatap langkah Yuda dan Raydita yang masih saja bercanda dengan berebut apel. Sejujurnya, ada rasa khawatir akan Raydita jika mengingat masa lalu mendiang ibunya. Memang tidak bisa disamakan. Akan tetapi sebagai seorang kakak, Rayhan ingin kedua adiknya terutama Raydita menjalani hubungan yang sehat dan sewajarnya saja.
Di perjalanan menuju kampus ....
Raydita yang sudah terbiasa dengan cara Yuda mengemudikan motor meletakkan dagunya pada pundak pria itu. Sesekali keduanya bertemu pandang di kaca spion.
Seketika ada rasa menyeruak manakala napas Raydita yang kini menggerakkan wajahnya mengenai tengkuk leher Yuda. Yuda bergidik dengan senyum terkulum dan entah sedang membayangkan apa.
"Ayang, mampir ke apartemen dulu, yuk," ajaknya. Apartemen yang dimaksud Yuda adalah apartemen milik Raydita yang merupakan peninggalan mendiang Rida.
"Pulangnya aja ya. Gue harus ketemu dosen," sahut Raydita lembut.
"Oke," angguk Yuda.
Raydita memasukkan tangan kanannya ke dalam saku hoodie yang dikenakan Yuda. Tak berselang lama, Yuda pun memasukkan tangan kirinya ke dalam saku yang sama dari sisi lain.
__ADS_1
Keduanya mengulumkan senyum, seiring dengan pergerakan tangan mereka di dalam saku itu.
_bersambung_