
Happy reading ....
*
Sementara Adisurya menikmati makan malam bersama istri dan dua putrinya, Rayhan baru sampai di depan rumah Isti. Sebelum Isti turun, Rayhan mencondongkan badannya dengan tangan meraih dagu kekasihnya. Sebuah ciuman didaratkan Rayhan sebelum mereka mengakhiri pertemuan. Isti tersipu dengan posisi Rayhan masih menatapnya dengan jarak yang sangat dekat.
Sorotan lampu mobil dari arah berlawanan yang berbelok masuk ke halaman rumah menyilaukan keduanya. Pasangan itu spontan menoleh sambil berusaha menghalangi silaunya cahaya.
Raut wajah Isti memucat saat menyadari itu mobil ayahnya. Seketika rasa takut menghantui kalau-kalau ayahnya melihat apa yang dilakukan mereka.
"Aduh, gimana ini? Abi lihat nggak ya?" gumam Isti dalam hatinya.
"Itu abi kamu, Yang?" tanya Rayhan dan diangguki Isti.
"Aku turun ya," imbuh Rayhan yang bersiap akan melepas seatbelt-nya.
"Jangan sekarang deh, Kak," cegah Isti sembari tersenym kecut.
"Kenapa? Aku nggak mau ya kalau sampai abi kamu mengira aku nggak gentle," ujar Rayhan yang berniat memperlihatkan keseriusannya.
"Abi nggak akan berfikir begitu, Kak. Isti turun ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," sahut Rayhan pelan. Ditatapnya Isti yang turun dari mobil dan masuk ke halaman rumahnya dengan langkah tergesa-gesa. Rayhan pun mulai memutar kemudi dan mengarahkannya ke rumah Raka.
Sementara itu, Isti nampak ragu memasuki rumahnya. Ia sangat takut bertemu kedua orang tuanya. Isti melemparkan pandangannya ke setiap sudut rumah. Tidak ada siapa-siapa, dan kemungkinan orang tuanya berada di kamar mereka.
Isti memasang kuda-kuda, kemudian berlari cepat ke arah tangga dan menuju kamarnya. "Aman, ngumpet ah," gumam Isti sambil menutup pintu kamarnya dengan sangat hati-hati.
"Yakin bisa sembunyi?" Sebuah tanya dari suara yang sangat dikenalnya membuat Isti terperanjat.
Seketika lutut Isti terasa gemetar menyadari tatapan ayahnya yang menajam.
"A-abi," gumam Isti yang tersenyum masam.
"Kamu tahu kan kalau Allah itu Maha Melihat?" tanya Dahlan penuh penekanan. Terlihat jelas rasa geram yang sedang ia tahan.
Isti mengangguk lemas. Ia sangat mengerti maksud dari ucapan ayahnya.
"Apa abi sudah salah mendidik kamu? Oke. Abi yang salah, memasukkan kamu ke sekolah umum. Abi juga terlalu sibuk bekerja dan kurang memperhatikan kamu. Sampai-sampai kamu berzina di luar sana. Kemasi barang kamu, besok kita akan ke pesantren abah. Abi akan mengurus kepindahan kamu dari sekolah," ujar Dahlan lembut tapi sangat tajam.
__ADS_1
Dahlan berlalu dari kamar putrinya dengan perasaan kecewa yang luar biasa. Niatnya yang ingin memberi kebebasan putrinya dalam hal pengetahuan, nyatanya berujung penyesalan. Meski ia tidak besar di pesantren, Dahlan selalu menjadikan agama sebagai landasan dari setiap perbuatannya. Tapi Isti, bisa-bisanya dia berci–. Dahlan tidak bisa lagi mentolerir kesalahan putrinya.
"Abi, sebaiknya dibicarakan dulu. Isti pasti syok dengan keputusan yang tiba-tiba ini," usul Ikah.
Bukan Ikah mendukung apa yang dilakukan putrinya. Hanya saja, ia mengerti bagaimana remaja seusia Isti yang cukup rentan dalam pencarian jati diri.
Sayangnya Dahlan bergeming. Ia sudah pada keputusannya. Bagi Dahlan ini sudah cara paling lembut untuk menegur putrinya sebelum terjerumus dosa besar yang lebih dalam.
Sementara itu, Isti terisak sembari membenamkan wajahnya di bantal. Kata-kata sang ayah bagaikan sambaran petir yang menghenyakkan dan juga membuatnya tersadar. Apa benar kini ia seorang pezina? Na'udzubillah.
Ketika Isti mendengar pintu kamarnya dibuka seseorang, ia yakin itu ibunya. Isti mengangkat wajah dan langsung menghambur pada Ikah.
"Umi, maafkan Isti." Isaknya.
"Maafkan juga umi sama abi ya," timpal Ikah.
Isti menggeleng cepat dan menanggis tersedu di ceruk leher Ikah. Ucapan ibunya membuatnya semakin malu dan merasa bersalah.
"Isti yang salah, Umi. Isti sudah mengecewakan umi sama abi."
Ikah terdiam dan hanya mengusap lembut bagian kepala Isti yang masih tertutup kerudung. Ia sangat yakin, putrinya sudah menyadari kesalahannya.
"Maksud abi baik, Sayang. Kamu mengerti, kan?"
"Bukan soal pelajaran," timpal Ikah.
"Kak Ray juga nggak di sini kok. Kebetulan aja dia pulang kemarin. Umi, tolong bujuk abi. Isti nggak mau pindah." Rengeknya.
"Sejak kapan kalian pacaran? Sudah sejauh mana?" tanya Ikah datar.
Isti benar-benar merasa malu saat ini. Kemana Isti yang tadi begitu terbuai ciuman Rayhan ketika di tengah perjalanan menuju rumah? Ah, Bukan. Kemana gadis yang selalu menanamkan pada hati bahwa setiap tindakannya diawasi Sang Ilahi?
Bertahun-tahun kedua orang tuanya menanamkan pendidikan agama dengan baik, dan semua itu rusak dengan mudahnya hanya karena perasaan cintanya pada seorang Rayhan.
Isti hanya bisa merutuki diri atas sikapnya yang tidak terpuji.
"Umi, Isti janji akan melakukan apapun keinginan Abi. Tapi jangan pindah sekolah." Pintanya dengan wajah memelas.
"Lupakan Rayhan. Abi tidak izinkan kamu menjalin hubungan dengan siapapun jika caranya seperti itu," tegas Dahlan dari ambang pintu.
__ADS_1
Isti terkejut dengan kehadiran ayahnya yang tiba-tiba. Gadis itu tertunjuk sangat dalam untuk menyembunyikan wajahnya yang sembab.
"Abi tidak melarang kamu berteman dengan Yuda, atau teman laki-laki yang lain. Karena abi percaya mereka hanya teman, dan kamu tahu batasan. Tapi abi tidak menyangka kamu bisa melakukan hal seperti itu dengan Rayhan. Kalau dia punya niat baik, tahan keinginannya sampai kamu halal untuk dia. Datang pada abi dan minta untuk tidak menerima pria lain selain dia. Bukan begini caranya," imbuh Dahlan.
"Tapi Isti masih mau sekolah, Abi. Isti belum siap menikah," sahut Isti pelan.
"Belum siap menikah, tapi sudah siap menanggung dosa zina. Begitu? Bagi abi, lebih baik menambahkan satu piring di meja makan, dari pada membiarkan anak perempuan berzina di luar. Paham!" tegas Dahlan.
Isti tertunduk semakin dalam. Ia tidak berani menatap ayahnya yang memang benar dengan ucapannya. Bagaimana bisa ia lupa pada semua ajaran dan nasihat orang tuanya serta pesan-pesan abah.
"Renungkan kesalahan kamu dan beristigfar sebanyak mungkin. Besok, abi tunggu keputusan kamu." Dahlan berbalik dan meninggalkan kamar putrinya.
Ikah memeluk Isti sambil berkata, "Sayang, rasa cinta itu suatu anugrah. Akan tetapi, jangan jadikan itu alasan bagi kita berbuat dosa." Isti mengangguk pelan dan Ikah pun berpamitan.
Di tempat lain, Rayhan dan Raka sedang menikmati reuni ala mereka sambil menyesap sigaret. Kepulan asapnya menemani dinginnya malam di teras depan rumah Raka.
Mereka sedang menunggu Ghaisan. Entah mengapa, sahabatnya itu belum juga datang dan ponselnya tidak bisa dihubungi.
"Tumben si Agas telat banget. Dia nggak lagi jalan sama Nisa, kan?" tanya Raka.
"Enggak. Nisa udah di rumah. Ka, lo cari cewek dong, biar kita bisa tripel date. Jangan bilang lo belum bisa move on dari Angel. Udahlah, cari yang lain," ujar Rayhan.
"Nggak semudah itu, Ray. Gue suka Angel dari dia kelas 1. Anaknya asik. Tapi ya itu, gue kalah ganteng sama Agas," seloroh Raka.
"Agas? Apa hubungannya?" tanya Rayhan bingung.
"Dia nolak gue karena yang dia suka itu Agas. Dia bilang, selama ini baik sama gue, karena gue ini teman si Agas. Gitu lho cerita lengkap waktu gue ditolak sama Angel."
"Kok lo nggak pernah bilang ke gue? Agas tahu nggak?"
"Nggak lah, ngapain juga gue ngasih tau. Bukan gue nggak bisa move on, tapi gue lagi ingin fokus sama karir dulu. Habis semester ini, gue mau ikut magang. Lumayan kan buat nambah-nambah pengalaman," ujar Raka.
"Setuju. Si Agas kemana sih?"
"Lo nginep, kan?" tanya Raka.
"Sorry, nyokap nyuruh pulang. Besok ya, biar rame sama Agas. Yuda juga besok ke sini, kan?"
"Oke deh," ujar Raka pasrah.
__ADS_1
Yuda memang sedang touring dengan Juna dan teman-temannya. Sejujurnya, Raka juga merasa heran, ada apa dengan Ghaisan? Tidak biasanya Ghaisan tidak memberi kabar pada mereka.
_bersambung_