
Happy reading ....
🌿
Hening, tak terdengar lagi suara Raka dan Rida yang bersitegang. Meski begitu, Annisa belum memberanikan diri keluar dari kamar. Namun, Bi Marni sudah pamit ke luar.
Saat mendengar suara pintu gerbang terbuka, Annisa langsung melihat dari kaca jendela.
"Tante Rida pergi?" gumam Annisa.
Baru saja ia hendak membalikkan badan, suara mobil kembali terdengar hingga bagian depan vila.
"Itu siapa?" gumamnya lagi.
Tak lama kemudian, terdengar seruan seorang wanita di dalam vila.
"Ka, Aka! Sayang ... Aka!"
Annisa membuka pintu kamarnya, bertepatan dengan Raka yang keluar dari kamar yang ditempatinya.
"Mama?"
Mama Kak Raka? batin Annisa.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang. Ini kenapa, kok biru-biru begini? Siapa yang mukul kamu?" Rida meraba setiap bagian wajah putranya.
"Aka nggak apa-apa, Ma."
"Nggak apa-apa gimana? Ini pasti sakit. Apa ini ulah teman kamu? Anaknya Adisurya itu, kan?"
"Ray nggak salah, Ma," bela Raka.
"Oke, ini salah papa kamu. Ayo pulang sama Mama!"
__ADS_1
"Papa bilang apa, Ma? Aka mau bicara dulu sama Papa," pinta Raka.
"Janji, setelah bicara sama papa kamu. Pulang." Tegasnya.
Mau tak mau Raka mengangguk pelan. Meski berat meninggalkan teman-temannya, ia juga butuh waktu untuk sendiri. Mencerna apa yang terjadi.
"Mas, kamu di mana? Apa untungnya kamu melakukan ini, hah?" tanya Fany ketus. Raka cepat-cepat meminta ponsel mamanya.
"Halo, Pa. Dita baik-baik aja, kan? Please, Pa. Beritahu Aka dimana Dita. Kasian Rayhan, dia sangat khawatir."
"...."
"Bukan Dita yang Aka perdulikan. Masa bodoh dengan dia. Tapi Ray sahabat Aka, Pa. Pa!" Melihat Raka yang seperti itu, Fany mengambil alih ponsel.
"Dengar ya, Mas. Aku nggak akan tinggal diam kalau kamu macam-macam sama Aka. Kembalikan anak itu, atau hak perwalian kamu terhadap Aka di perusahaan aku cabut. Aku tidak perduli sekalipun kamu jadi gembel. Camkan itu." Tegasnya.
Mendengar ancaman Fany, Sandy mengacak kasar rambutnya. Saat ini ia sedang menunggu Rida di pinggir jalan.
Sebuah mobil menepi, Sandy tersenyum lebar mengetahui itu Rida.
"Aku tinggalkan di sana." Tunjuknya. Pada Rida, Sandy beralasan mobilnya mogok dan sedang menuju ke tempat Raydita.
"Aku yang nyupir ya. Biar cepat sampai," pinta Sandy. Rida turun dari mobilnya. Rida yang kini terduduk di samping kursi kemudi, menatap penuh selidik pada Sandy yang mulai mengemudi.
Di tempat lain ....
Rayhan sangat lega mengetahui Raydita sudah di temukan. Menurut Heru, kondisi Raydita sangat mengkhawatirkan. Heru pun membawa Raydita ke dokter terdekat untuk pertolongan pertama.
Rayhan menghubungi Annisa dan memberitahukan keberadaan Raydita. Mang Asep akan menjemput Annisa dan memintanya untuk menemani Raydita.
Sementara itu, setibanya di vila tempat Raydita disekap, Rayhan harus kecewa karena tak menemukan Sandy. Alhasil, Rayhan meluapkan amarahnya pada dua pria yang tertangkap.
Rayhan yang bersama Ghaisan, Yuda dan Juna serta teman-temannya meninggalkan vila itu. Meninggalkan dua penjaga itu dalam penyiks*an anak buah Heru.
__ADS_1
***
Rida menautkan alisnya. Entah mengapa ia meragukan Sandy.
"Kita mau kemana, Sandy? Ini bukan ke tempat Dita, kan? Kamu menipuku?" tanya Rida penuh selidik.
"Mau ngapain ketemu Dita, hmm? Sudah banyak orang yang mencarinya. Jadi kamu nggak usah ikut-ikutan nyari dia," sahut Sandy santai.
"Jadi benar kamu tidak membawaku ke tempat Dita? Kamu pembohong, Sandy! Pembohong!" pekik Rida sambil memukul-mukul Sandy.
"Cukup! Aku nggak suka kamu ikut mengkhawatirkan anak Adisurya. Jangankan kamu, aku juga nggak tahu dia dimana. Dia kabur. Kamu dengar? Ka-bur," tutur Sandy sambil terus mengemudi.
"Apa? Jahat kamu, San! Dita itu anak kamu. Dia anak kamu! Anak kita." Rida yang histeris, terus memukuli Sandy.
Sandy yang terganggu dengan apa yang dilakukan Rida, mulai tidak fokus pada kemudinya. Belum lagi apa yang baru saja didengarnya. Raydita, putrinya?
Tiiiin ....
Bunyi klakson panjang menyadarkan Sandy. Sorot lampu pada mobil yang berada tepat di depannya menyilaukan pandangan Sandy.
"Sandy, awas!" pekik Rida.
Brakk.
Mobil yang dikemudikan Sandy menabrak pembatas jalan dan terus melaju hingga terperosok. Seketika bunyi klakson kendaraan yang berada di tempat kejadian terdengar saling bersahutan.
Di sisi lain, Annisa tengah berada dalam ambulance yang membawa Raydita. Dokter merujuk Raydita ke rumah sakit karena mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh secara drastis yang berpotensi berbahaya).
Ambulance itu sempat diminta berhenti oleh beberapa warga yang tengah berkerumun. Namun karena kondisi pasien kritis, supir mengabaikannya.
"Itu ada apa ya, Dok?" tanya Annisa pada dokter yang menemaninya di dalam ambulance.
"Sepertinya ada kecelakaan." Sahutnya. Tak lama, terdengar sirine mobil polisi dan ambulance melintas dari arah yang berlawanan dengan mereka.
__ADS_1
_bersambung_