Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
sahabat


__ADS_3

Happy reading ....


🌿


Rayhan benar-benar tak percaya. Bagaimana mungkin kedua sahabatnya ada di desa?


"Terima kasih, Pak," ucap Raka pada pria yang memberitahukan keberadaan Annisa.


"Sama-sama. Permisi."


Ghaisan memarkirkan motornya. Setelah itu ia terduduk di bangku teras.


"Huft. Lumayan pegal. Gila si Raka. Gue ajak istirahat nggak mau," keluh Ghaisan.


"Gue tanya, kenapa kalian ke sini?" Rayhan terlihat tak suka melihat kedua temannya.


"Kenapa? Nggak boleh? Gue kan kangen sama Nisa," jawab Ghaisan asal.


"He-em. Gue juga," timpal Raka sekenanya.


"Jadi kalian ke sini mau ketemu Nisa?" tanya Rayhan tak percaya.


"Iya. Tadi katanya Yuda ke rumah Lo. Dia bilang Nisa lagi balik kampung. Ya udah kita tanyain alamatnya sama Om Adi. Ke sini deh," kilah Ghaisan.


"Terus, dia?" Rayhan menunjuk pada Raka.


"Gue nggak mungkin sendiri dong, Ray. Mana ini udah malam," sahut Ghaisan.


Ketiga remaja tanggung itu menoleh ke arah pintu saat ada yang membuka dari dalam rumah. Ghaisan beranjak dan menyalami Pak Indra, begitu juga dengan Raka.


"Kok tamunya nggak disuruh masuk? Ayo masuk! Wah, mimpi apa bapak semalam, kedatangan anak-anak ganteng dari kota. Temannya Nisa?" tanya Pak Indra.


"Iya, Pak," sahut Raka sambil bersalaman dengan Bi Titin dan ibu Yuli. Baru saja mereka hendak duduk, ibu Yuli menodong dengan pertanyaan, "Kalian belum makan ya?"


"Ibu tahu aja," sahut Raka tersipu.


"Kelihatan pada lemas," ujar ibu Yuli setengah bercanda.


Raka dan Ghaisan tersenyum malu.


"Makan ya. Tapi seadanya nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa, Bu," sahut Raka yang terlihat antusias. Ia bahkan tak perduli pada Ghaisan yang menyenggol kakinya.


"Sebentar ibu siapkan ya." Raka mengangguk cepat, membuat Pak Indra tersenyum melihat tingkahnya. Raka menoleh saat mendengar suara pintu yang dibuka.


"Kak Raka, Kak Agas? Kalian ke sini? Kapan datang?" Tak jauh berbeda dengan Rayhan, Annisa juga nampak terkejut melihat mereka ada di rumah itu.


"Siapa, Nis? Wiih, ini sih rejeki nomplok," seloroh Yuli sambil menatap kedua sahabat Rayhan dengan tatapan berbinar.


"Teman Kak Ehan," sahut Annisa sambil mendekati mereka.


"Hai," sapa Raka melambaikan tangannya pada Yuli.


"Hai juga," balas Yuli.


"Raka."


"Yuli."

__ADS_1


"Ini Agas," tunjuk Raka pada Ghaisan.


"Hai, Kak Agas. Ganteng deh," ucap Yuli yang langsung berekspresi datar mendengar deheman ayahnya.


"Ayo sini makan dulu! Aduh, ibu jadi nggak enak nih. Benar-benar seadanya," ujar ibu Yuli.


"Datangnya telat sih. Padahal baru aja pada selesai makan," sahut Bi Titin sambil tersenyum.


"Ibu sih nggak nungguin kita," canda Raka.


"Kan nggak tahu, kalau mau pada datang. Ayo, jangan malu-malu," ujar ibu Yuli.


"Kalau malu-maluin boleh nggak?" tanya Raka sambil tersenyum lebar.


"Si Aden bisa aja. Awet muda Bibi kalau setiap hari begini," seloroh Bi Titin.


"Hehe, bisa aja ibu nih. Boleh mulai?"


"Boleh-boleh. Dihabiskan juga boleh," timpal ibu Yuli.


Tingkah Raka terlihat menggemaskan di mata dua wanita paruh baya itu. Ekspresinya yang ceria membuat mereka tak sungkan untuk bercanda.


"Ayo, Den. Mau Bibi ambilkan?" tawar Bi Titin pada Ghaisan.


"Tidak usah, Bi. Terima kasih," sahut Ghaisan tersenyum malu.


Bi Titin dan ibu Yuli mulai tak enak hati melihat dua remaja itu sangat lahap. Pasalnya mereka khawatir Raka dan Ghiasan masih belum kenyang, sedangkan nasi dan lauknya tak ada lagi.


Di sisi lain, Annisa dan Rayhan saling memberi isyarat mempertanyakan kehadiran mereka berdua. Rayhan menjawab pertanyaan tak terucap Annisa melalui pesan chat.


'Gue juga nggak tahu kalau mereka mau ke sini.'


Annisa mengulumkan senyum melihat balasan pesan Rayhan yang berupa emoji mendelikkan mata.


"Kenyang nggak?" tanya Pak Indra.


"Alhamdulillah. Kenyang, Pak. Enaak banget," sahut Raka sembari mengusap perutnya.


"Lo sih apa aja enak," delik Rayhan.


"Betul itu, Pak. Ray tahu banget gimana saya," seloroh Raka.


"Ck, PD banget," decih Rayhan.


"Nah itu juga betul, Pak. Saya orangnya PD, hehe. Thanks Ray, Lo emang yang terbaik," ujar Raka sambil mengacungkan dua ibu jarinya.


"Apaan sih? Nggak jelas," gumam Rayhan kesal.


Pak Indra terkekeh melihat sikap mereka. Nampaknya Pak Indra mulai menangkap apa yang terjadi pada keduanya.


"Kalian pasti dekat banget ya. Kelihatan dari wajahnya. Nggak ketemu sehari aja kayanya kangen baget," ujar Pak Indra santai.


"Nggak juga," sahut Rayhan bersamaan dengan Raka yang berucap, "Betul banget, Pak."


Keduanya saling menatap, kemudian Rayhan melengoskan wajah.


"Mana yang benar nih? Enggak apa betul?" tanya Rayhan.


"Enggak salah, Pak. Alias betul," sahut Annisa sambil tersenyum menggoda pada sang kakak yang menekuk wajah.

__ADS_1


Tak berselang lama, Pak Indra pamit ke kamar. Seakan ingin memberi ruang pada Rayhan dan kedua sahabatnya, Annisa mengajak Yuli yang masih belum puas menatap ketiga cowok ganteng itu ke kamar.


Tinggallah mereka bertiga. Seketika suasana menjadi canggung.


"Ray, gue sengaja datang ke sini mau minta maaf sama Lo. Masalah kemarin gue beneran nggak tahu, Ray," Raka memberanikan diri mencairkan suasana.


Memang Raka yang berinisiatif mengajak Ghaisan ke desa itu. Setelah berbalas pesan dengan Yuda, ia mengajak Ghaisan dengan alasan menginap di rumahnya.


Raka merasa tak nyaman didiamkan oleh Rayhan. Ia pun bertekad akan melakukan apa saja asalkan Rayhan mau memaafkan.


"Ray ...."


"Iya, gue tahu. Bawel Lo," gerutu Rayhan sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamar tamu rumah itu.


"Lo maafin gue kan, Ray?" tanya Raka antusias menyusul Rayhan ke kamar.


"Berisik, Lo."


"Dimaafin, kan?"


"Dibilangin berisik, malah sengaja."


Rayhan menoyor kepala Raka, namun berhasil menghindarinya. Membuat Rayhan mencoba lagi dan Raka mengejeknya, "Nggak kena."


Ghaisan tersenyum melihat keduanya yang kembali bercanda ala mereka. Canda keduanya bahkan mendapat pekikan dari Annisa yang berada di kamar sebelah, "Kak, jangan berisik ih!"


"Sstt, udah ah. Gue capek. ****** gue pegel," ujar Raka yang kemudian berbaring menelungkup.


"Yee apalagi gue yang bawanya. Lo sih nggak mau diajak berhenti," delik Ghaisan.


"Ya sorry, hehe. Besok pulang jam berapa, Ray?" tanya Raka.


"Nggak tahu. Gimana Nisa aja," sahut Rayhan.


"Sore ya. Di sini suasananya enak," ujar Raka.


"Suasana apa suasana? Gue lihat Lo merhatiin Yuli. Iya, kan? Ngaku Lo," todong Rayhan.


"Kok tahu? Lo bener-bener best friend gue, Ray."


"Terus, gue bukan?" tanya Ghaisan.


"Ya Lo juga dong. Biar adil, malam ini gue tidur di tengah deh. Kalian bebas mau ngapain gue juga. Raba-raba boleh, peluk juga boleh," seloroh Raka sekenanya membuat dua sahabatnya itu menatap horor padanya.


"Kenapa? Kan biar adil," ucap Raka heran.


"Idih najis. Gue masih normal," sahut Rayhan yang melempar bantalnya pada wajah Raka.


"Ya udah kalau Lo nggak mau, Agas aj-."


"Sorry, gue lebih baik tidur di sofa. Ngeri," delik Ghaisan sambil memungut bantal yang tadi dilempar Rayhan dan berlalu ke luar kamar.


"Idih, dia serius. Lo nggak gitu kan, Ray? Yaaa, Lo juga mau tidur di sofa, Ray?"


"Gue takut ntar malam ada yang gerayangin. Hiii. Bye, Lo tidur sendiri." Raka menatap heran pada Rayhan yang berlalu. Namun kemudian bersorak karena tak harus berdempetan tidur di kasur yang tidak terlalu besar itu.


Raka menjatuhkan dirinya di kasur. Manatap langit dengan senyum yang terkulum.


Raka boleh lega, karena persahabatannya kini masih terjaga. Tak perduli sebesar apa masalah yang dihadapi sang papa. Karena masalah itu ada akibat dari ulahnya. Yang terpenting, Raka tidak kehilangan sahabat terbaiknya.

__ADS_1


_bersambung_


__ADS_2