Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar
ma ...


__ADS_3

Happy reading ....


*


Libur kenaikan kelas telah berakhir. Annisa dan teman-temannya kembali pada rutinitas belajar mereka. Begitu juga dengan Rayhan dan kedua sahabatnya. Rayhan sudah kembali ke London, Ghaisan ke New York, dan Raka sudah lebih dulu kembali ke kota B.


Meski masa liburan mereka diselipi beberapa kejadian yang tidak mengenakkan, setidaknya ada semangat baru yang menyeruak. Bagi Rayhan dan Ghaisan, mereka ingin memantaskan diri untuk bisa bersanding dengan sang kekasih. Sedangkan bagi Raka, tentu saja ingin membanggakan sang mama.


Di sisi lain, Annisa dan teman-temannya bersiap dengan kesibukan di kelas 3. Berbeda dengan sekolah nasional yang hanya ada ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS), di sekolah internasional juga ada ujian resmi dari IB (International Baccalaureate) di akhir masa pembelajaran. Ujian berupa makalah yang harus dijawab secara esai juga membuat mereka harus belajar extra agar mendapat nilai memuaskan.


Sudah hampir satu bulan Raydita tinggal bersama Rida. Selama itu juga ia rutin menemani Rida menjalani terapi radiasi, juga kemoterapi. Akan tetapi, Raydita tidak benar-benar menyimak apa yang disampaikan dokter. Alhasil, selain apa yang terlihat secara kasat mata, Raydita tidak tahu apa-apa.


"Tante, ayo dimakan? Tante lemas banget lho kelihatannya," ujar Raydita sambil menaruh lauk pada piring Rida.


Kemoterapi memang sering berefek pada menurunnya ***** makan. Rida hanya tersenyum tipis. Wajahnya yang tak bermake-up terlihat sangat pucat.


Ponsel Rida berdering. Rupanya Rika menanyakan keberadaan Rida saat ini. Setelah pembicaraannya selesai, Rida kembali menatap malas pada makanan yang tersaji.


"Tante Rika mau ke sini?" tanya Raydita. Sepulang dari rumah sakit, mereka membeli makanan dan menikmatinya di apartemen. Rida merasa risih dengan tatapan orang-orang jika harus makan di luar.


"Iya," sahut Rida pelan.


Melihat keadaan Rida yang seperti itu, Raydita menarik kursinya agar lebih dekat. Raydita mulai menyendokkan makanan Rida dan mengarahkannya pada mulut wanita itu. Rida yang semula enggan, akhirnya menurut saat melihat tatapan Raydita yang seakan memelas padanya.


"Tante harus mau makan. Dita lihat obatnya semakin banyak," ujar Raydita pelan.


Rida menelan makanannya dengan susah payah. Sorot matanya yang sayu menatap lekat wajah Raydita.


"Sayang, boleh tante minta sesuatu?" tanya Rida dengan suara yang bergetar.


"Tentu boleh dong, Tante. Apa itu?"


"Bo-boleh nggak sekali aja, tante mau dengar kamu manggil mama," pinta Rida dengan mata yang berkaca-kaca.


Raydita tertegun saat mendengarnya. Tatapan mengiba Rida bagai sembilu yang menusuk hatinya. Sudah lama permintaan ini ditunggu Raydita. Setelah Rianti, Annisa, bahkan Raka memintanya memanggil Rida dengan panggilan 'mama', Raydita masih bergeming. Entah mengapa, ia ingin Rida sendiri yang memintanya. Dan setelah cukup lama mereka bersama, mengapa baru kali ini Rida meminta hal itu?


"Kalau kamu tidak mau juga tidak a-."


"Ma ...," lirih Raydita.


Rida yang semula salah tingkah karena merasa sudah mengutarakan permintaan berlebihan seketika terkesiap. Butiran bening menetes begitu saja seiring tatapan tak percaya Rida pada apa yang baru saja didengarnya.


"Dita sayang mama," ucap Raydita pelan sambil menggenggam tangan Rida. Raydita merasa haru melihat Rida mengusap air mata yang luruh begitu saja.

__ADS_1


Rida mengulumkan senyum dan meminta sebuah pelukan yang langsung dikabulkan Raydita. Keduanya berpelukan dan tangis Rida tumpah membasahi helaian rambut Raydita.


"Terima kasih, Sayang." Ucapnya di sela tangisannya.


Raydita menganggguk pelan sambil mengusap-usap punggung Rida. "Mama harus kuat ya. Mama harus sehat lagi," ujar Raydita lirih.


Rida pun mengangguk dengan kedua ujung bibir yang dinaikkan. Rida melepas pelukannya. Ditatapnya Raydita dengan tatapan cinta yang luar biasa. Rasa sedih kembali menyeruak, membuat kedua matanya kembali berkaca-kaca.


Raydita mengusap air mata Rida dengan ujung ibu jari. Rida kemudian menciumi setiap bagian wajah Raydita bertubi-tubi hingga Raydita terkekeh pelan.


"Maafkan mama, Sayang," lirih Rida yang kembali memeluk Raydita.


Bel pintu apartemen berbunyi. Keduanya melepaskan pelukan dan menoleh pada pintu.


"Mungkin Kak Rika," ujar Rida sambil mengambil tisu makan untuk mengeringkan sisa air mata di wajahnya.


Raydita beranjak dari kursi dan melangkah menuju pintu. Setelah pintu terbuka, tanpa basa-basi Rika langsung menerobos masuk dan mendekati Rida.


"Kak Rika dari klinik atau dari rumah sakit?" tanya Rida sambil tersenyum.


"Rida, kakak dengar dari Dokter Edwin kalau ka-."


Mimik wajah Rida memberikan isyarat agar Rika tidak melanjutkan ucapannya. Rida beranjak dari kursi dan langsung menggandeng tangan kakaknya.


Raydita hanya mengangguk kecil. Raydita menatap datar langkah kakak beradik yang sedang menuju kamar Rida tersebut.


Dita kembali ke kursinya semula. Ia meraih ponsel dan bertukar pesah dengan Mela dan Taysa di grup chat.


Sementara itu di kamar ....


Rida menggandeng tangan Rika dengan manja. Ia bahkan meletakkan kepalanya di bahu sang kakak sambil berjalan pelan menuju tempat tidur.


Sesekali Rika menoleh pada pucuk kepala Rida dengan tatapan yang sulit diartikan. Rida pun meminta Rika duduk bersamanya di tepi ranjang.


"Rida, kakak akan buat kelengkapan surat untuk pengobatan kamu di Singapura," tegas Rika to the point.


Rida menggeleng sambil tersenyum.


"Rida, Dokter Edwin sudah mengatakan kondisimu dari hasil pemeriksaan tadi. Dan ...."


"Tolong, Kak. Untuk kali ini, biarkan aku memutuskan sendiri apa yang akan kujalani," ujar Rida sembari menggenggam tangan Rika. Rida menatap lekat pada wajah sang kakak yang diyakini teramat menyayangi dirinya.


"Tapi-,"

__ADS_1


"Sekarang aku hanya ingin bersama putriku. Hanya itu, Kak. Sekalipun Tuhan memanggilku besok, aku tidak akan menyesalinya," ucap Rida dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


Kondisi Rida semakin hari bukannya membaik. Efek obat kemoterapi yang dikonsumsinya sudah mulai terasa di organ vital pada tubuhnya. Kinerja jantung, paru-paru, dan ginjal mulai tenggangu. Rida benar-benar sudah pasrah. Ia hanya ingin menghabiskan sisa umurnya bersama Raydita.


Rika hanya bisa menghela nafasnya yang terasa berat. Ia menatap wajah sendu Rida sambil mengusap rahang adiknya itu.


"Kamu pulang ya. Kakak sendirian di rumah. Sama anakmu juga," pinta Rika lembut.


Rida menggeleng pelan. Ia tetap pada pendiriannya. Rika pun tak bisa berbuat banyak, apalagi saat Rida memintanya untuk tidak membaritahukan apapun pada Raydita.


Sebelum pulang, Rika menyempatkan meminum teh buatan Rida. Diam-diam ia memperhatikan raut wajah Rida yang selalu tersenyum saat mengobrol dengan Raydita. Ia pun memilih untuk membiarkan Rida dengan keputusan yang diambilnya.


***


Setiap hari, Raydita selalu dijemput Annisa dengan mobil yang dikemudikan Mang Asep. Begitupun jika pulang sekolah. Mereka nampak semakin akrab. Pada masing-masing hati terselip rindu karena hanya bertemu di sekolah. Tak ayal saat bertemu, banyak hal yang mereka bicarakan.


Sejak mengetahui kondisi Rida, Rika meminta salah satu pelayan di rumahnya untuk membantu di apartemen. Rika tak habis pikir, bagaimana mungkin Rida bisa melakukannya sendiri tanpa seorang pelayan. Ia juga meminta Rida menggunakan kursi roda elektrik agar tidak terlalu lelah saat ingin bolak-balik di dalam apartemen.


Mau tak mau Rida pun menerima bantuan itu, sebagai syarat bungkamnya Rika yang sempat mengancam akan memberitahukan kondisinya pada Raydita. Walaupun sejujurnya ia sangat tahu maksud Rika yang ingin selalu memastikan dirinya baik-baik saja.


Matahari mulai meninggi, saat ini Raydita dan teman-temannya mungkin sedang istirahat di sekolah. Rida menoleh pada pintu balkon apartemen yang sedikit terbuka karena pelayan itu sedang menjemur pakaian. Tak lama, ia mendapat notifikasi pesan chat dari Raydita yang memberitahukan bahwa Nisa akan main ke apartemen mereka.


"Mbak, untuk makan siang hari ini ada apa aja di kulkas?" tanya Rida saat melihat pelayan tiu menyembul dari luar.


"Maaf, Bu. Saya belum bilang, di kulkas hanya ada telur dan ayam beku."


"Oh iya ya. Kapan itu terakhir kali saya belanja. Udah lumayan lama. Mbak belanja di supermarket di depan gedung ini ya. Sekalian belanja bulanan. Saya akan tuliskan apa saja yang harus dibeli. Kalau belanjaannya terlalu banyak, bawa aja trolinya. Nanti bisa diantarkan sama security," ujar Rida yang kemudian menggerakkan kursi roda menuju kamar.


Tak lama, Rida kembali memanggil pelayan itu. Setelah menerima beberapa lembar uang dan kertas berisi daftar belanja, pelayan itu pamit pergi.


Rida hampir saja melupakan waktu minum obatnya karena larut dalam pencarian menu makan siang untuk anak-anak di internet. Ia pun mengarahkan laju kursi rodanya pada lemari P3K yang terdapat pada salah satu sisi di dekat kamar mandi.


Rida mencoba untuk berdiri menggapai lemari kecil berwarna putih dengan lambang '+' berwarna merah. Ia merasakan kakinya gemetar seakan tak mampu menopang tubuhnya sendiri.


Rida terduduk lagi. Ia mencoba mengumpulkan kekuatan pada sendi-sendi kakinya. Mungkin karena mulai terbiasa menggunakan kursi roda, kekuatan kakinya sudah mulai menurun karena jarang digerakkan.


Rida kembali mencoba berdiri. Ia tidak boleh sampai melewatkan waktu meminum obat yang sudah terjadwal. Susah payah digapainya knob handle pada lemari itu. Saat ia hampir berhasil menggapainya, kakinya gemetar hebat, dan ... brugh!


"Aww!" pekiknya kencang.


Rida terjatuh ke lantai dengan kepala terbentur keras pada dinding.


_bersambung_

__ADS_1


__ADS_2