
Happy reading ....
🌿
Untuk sesaat, Annisa bisa mengalihkan kesedihannya. Kelakaran Rayhan membuatnya tertawa di ruang makan.
Mereka tak menyadari, sedari tadi Bi Susi diam-diam memvideokan kebersamaan keduanya. Tawa Rayhan dan Annisa menular pada sang ayah yang sedang melihat video live disela waktu menunggu Dokter yang sedang memeriksa di ruangan Raydita.
Setelah panggilan video sepihak itu di akhiri, Adisurya kembali termenung sembari menatap taman yang berada di bagian tengah rumah sakit itu.
Satu helaan napas dibuang kasar Adisurya. Banyak yang harus ia pikirkan setelah peristiwa yang menimpa Raydita. Terlebih menyangkut keamanan dan kenyamanan ketiga anaknya. Ia bahkan meminta beberapa orang dari kepolisian berjaga di sekitar rumahnya. Hal itu dilakukan Adisurya untuk menjauhkan keluarganya dari incaran awak media.
***
Pukul delapan malam, Adisurya datang bersama Rianti dan Raydita. Tak hanya mereka, seorang perawat juga turut serta.
Adisurya membopong Raydita ke kamarnya. Hal itu lantaran Raydita masih merasakan sakit di bagian kakinya yang terkilir di malam ia ditemukan.
"Ma, temanin Dita ya," pinta Raydita manja saat mereka sudah tiba di kamar Raydita.
"Mama capek, Dita. Dari pulang belum istirahat. Di pesawat juga nggak bisa tidur karena kepikiran kamu. Malam ini ditemani suster ya," ujar Papa Adi.
"Nggak mau, Pa. Dita takut ...," ucap Raydita dengan mata yang berkaca-kaca.
Rianti memaksakan senyum dan mengangguk pelan. Raydita mengusap kedua matanya dan tersenyum tipis sambil berkata, "Terima kasih, Ma."
"Sama-sama, Sayang. Mama mau ganti baju dulu ya," ujar Rianti.
"Iya, Ma. Jangan lama-lama," ucap Raydita manja.
"Iya, Sayang. Sebentar kok." Sahutnya sambil mengusap surai Raydita.
Rianti berjalan mendekati Annisa dan membuka lebar kedua tangannya. Ia berharap Annisa masuk ke dalam pelukannya. Namun Rianti harus menelan saliva. Sebelum ia sampai di depan Annisa, putrinya itu mendahului pamit ke kamarnya.
"Nisa juga mau ke kamar. Permisi," ujar Annisa pelan dan berlalu meninggalkan ruangan.
Wajah Rianti terlihat kecewa. Rayhan dan Adisurya sampai tak tega melihatnya. Sementara Raydita hanya menyeringai tipis. Diantara mereka, hanya dirinya yang mengetahui alasan dibalik sikap Annisa.
__ADS_1
"Nisa lagi kangen ibunya, Ma," ujar Rayhan mencoba meluruskan.
"Han ...." Rianti menatap sendu putranya.
"Maksud Ehan, mendiang ibunya yang di desa. Tadi Nisa bilang begitu sama Ehan," sahut Rayhan cepat. Ia tak ingin mamanya salah mengartikan.
"Tapi kan harusnya kalau kangen Asih, dia semakin dekat sama mama, bukan sebaliknya," ujar Rianti pelan sambil berlalu meninggalkan kamar Raydita.
Rianti menyusul Annisa dan berjalan cepat sambil memanggil namanya.
"Nisa, Sayang. Tunggu sebentar, ibu mau bicara," panggil Rianti yang mempercepat langkahnya. Dari belakang, Adisurya mengikuti Rianti.
"Ck, cari perhatian," dengus Raydita.
Rayhan menghampirinya dengan tatapan tak suka.
"Semoga Lo cepat sembuh, Dit."
"Terima kasih, Kak." Raydita nampak senang.
"Lo tahu kenapa? Karena Lo harus menjelaskan banyak hal sama gue. Gue yakin, Lo alasan dibalik sikap Nisa yang seperti itu." Rayhan berucap tanpa ekspresi dan berlalu meninggalkan Raydita yang juga menatapnya tanpa ekspresi.
"Nisa ...."
"Ada apa, Bu? Nisa mau belajar." Kilahnya.
"Ayah kan sudah bilang, jangan dulu sekolah," ujar Adisurya.
"Kalau begitu antarkan Nisa ke desa, Yah. Nisa ingin pulang," ucap Annisa dengan suara yang mulai berat.
"Pulang? Kenapa harus ke desa? Rumah kamu di sini, bukan di desa, Nak," ucap Adisurya.
"Sayang, nanti kalau Dita sudah sembuh kita sama-sama ke sana ya. Ibu juga ingin berziarah ke makam Asih. Bagaimanapun juga, dia sangat berjasa telah merawat kamu," ujar Rianti mencoba merayu putrinya. Rianti bermaksud menggenggam tangan Annisa namun Annisa mundur dan menjauhkan tangannya.
"Apa hanya sebatas itu penghargaan ibu terhadap ibu Nisa?" tanya Annisa.
"Ini, ibu Nisa. Bukan Asih," tegas Rianti menunjuk pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Bukan. Ibu mamanya Dita, bukan ibu Nisa. Ibu Nisa udah nggak ada. Ibu Nisa udah meninggal!" seru Annisa dengan air mata yang berderai.
"Nisa. Jangan begini sama ibu." Rianti mencoba menghentikan langkah Annisa dengan menahan lengannya.
"Ibu ingin Nisa bagaimana? Kalau benar Nisa anak ibu, kenapa Nisa ditukar?"
"Bukan ditukar, Sayang. Tapi-."
"Ayah bohong! Nisa ditukar. Ayah menukar Nisa dengan Dita hanya karena Nisa terlahir cacat, kan?"
Adisurya langsung terpaku. Pria itu langsung menunduk, tak berani menatap wajah Annisa yang menatapnya dengan mata yang berlinang.
"Kalian tidak mengharapkan kehadiran Nisa, lalu kenapa Nisa di sini? Nisa mau pulang." Pekiknya sambil memutar badan dan masuk ke dalam kamar sambil menutup pintu kamarnya.
Suara pintu kamar itu menghenyakkan Rianti.
Rianti membiarkan tubuhnya luruh ke lantai. Adisurya yang terkejut langsung menghampirinya. Bahkan Rayhan yang melihat semuanya langsung bergegas menuruni tangga.
Tangis Rianti pecah. Ia bersimpuh di depan kamar Annisa sambil menangis tersedu-sedu.
"Ma ...." Adisurya mencoba membangunkan Rianti. Namun istrinya itu menggeleng dan terus tersedu.
"Ini salah mama, Pa. Mama yang salah, hiks. Nisa ... ibu minta maaf," raung Rianti.
Adisurya menundukkan kepala sambil mengusap air matanya. Ia tak pernah melihat Rianti seperti ini. Hal serupa juga dilakukan Rayhan. Meski ia tak ingin melihat keadaan mamanya yang seperti itu, ia juga tak bisa menyalahkan Annisa.
Rayhan dan Adisurya memapah Rianti agar terduduk di sofa. Adisurya mengetuk kamar Annisa berkali-kali sampai pintu itu terbuka.
"Nisa, dengarkan ayah dulu, Nak." Adisurya menarik lengan Annisa yang hendak memutar badan. Ia menarik paksa gadis remaja itu ke dalam pelukannya.
Annisa menolak. Ia mendorong tubuh Adisurya, namun kalah tenaga dengan sang Ayah.
"Ayah minta maaf, Sayang. Ayah ...."
"Nisa mau istirahat, Yah. Nisa mau sendiri dulu." Pintanya.
"Oke. Tapi pintu kamarnya jangan di kunci ya, Sayang. Please ...." Adisurya masih mendekap Annisa. Ia mencoba mengerti meski sangat ingin menjelaskan semuanya. Tapi menjelaskan apa?
__ADS_1
Adisurya sadar betul ia salah. Bahkan untuk dimaafkan pun, ia tak pantas menerimanya. Tapi kali ini saja, ia ingin berusaha. Meski masa lalu tak bisa diubah, Adisurya ingin menata masa depan yang bahagia bagi keluarganya.
_bersambung_