
Happy reading ....
*
Setelah selesai makan malam, Adisurya dan rombongan berangkat ke bandara. Sambil menggenggam tangan istrinya, Adisurya tersenyum lebar mendengar tawa mereka.
Tak hanya Rayhan dan Isti yang sesekali saling mencuri pandang, tapi Ghaisan juga. Saat tatapannya bertemu dengan Annisa, sambil mengulumkan senyuman keduanya pun membuang muka.
Isti dan Annisa tidak bisa menutupi keterpanaan mereka. Apalagi Annisa, ini adalah pengalaman pertamanya naik pesawat terbang. Namun begitu, ia menyimpan kekaguman hanya di dalam hatinya.
Fasilitas yang ada di dalam pesawat membuat mereka merasa sangat nyaman. Perjalanan udara Jakarta -Tokyo, jadi tidak terasa membosankan.
Setelah kurang lebih tujuh jam perjalanan udara, pesawat yang mereka tumpangi mendarat di bandara kota Tokyo. Kedatangan mereka di sambut seorang teman Adisurya yang sengaja menyiapkan dua mobil beserta supirnya untuk mengantar Adisurya dan keluarga. Rasa kantuk mereka seketika hilang tersapu angin pagi kota Tokyo yang cukup dingin.
"Terima kasih, Tuan Yama. Saya mohon maaf telah merepotkan Anda," ujar Adisurya basa-basi.
"Ini keberuntungan bagi saya bisa menjamu Anda dan keluarga, Tuan Adi. Silahkan," ujar Tuan Yama dengan hormat.
Kedelapan anak itu memberi salam dengan membungkukkan badan. Setelah memperkenalkan diri, mereka pun menaiki mobil yang akan membawa ke sebuah hotel tempat menginap.
"Anak-anak, jam berapa kita akan mulai petualangan?" tanya Adisurya sesaat setelah mereka tiba di lobi hotel.
"Secepatnya, Om," sahut Yuda.
"Jam berapa, Yud? Harus jelas, mereka orangnya tepat waktu lho," ujar Adisurya.
"Hehe, nggak tahu, Om. Terserah aja," jawab Yuda malu.
"By the way kita mau ke Kyoto, kan?" tanya Rianti memastikan.
"Up to you, Tante. Kita sih ayo-ayo aja," seloroh Raka.
"Yah, kalau naik kereta aja gimana? Biar lebih berasa di Jepang-nya. Kereta cepat itu lho, apa ya namanya?" usul Annisa.
"Shinkansen? Boleh. Gimana, kalian setuju?" tanya Adisurya.
"Setujuu," sahut mereka kompak.
"Oke, kalau begitu. Kita minta tolong Tuan Yama memesankan tiketnya biar nggak antri," ujar Adisurya yang kemudian menghampiri temannya tersebut.
Beberapa pegawai hotel mengarahkan mereka ke kamar masing-masing. Dua 'kamar keluarga mewah' telah disiapkan untuk kedelapan anak yang datang bersama Adisurya.
Setiap kamar dilengkapi empat tempat tidur dan sebuah sofa, juga fasilitas lainnya. Di ruangan itu juga terdapat empat kaca jendela besar untuk memberikan pemandangan cakrawala Tokyo yang indah.
__ADS_1
Berbeda dengan dua kamar itu, Adisurya dan Rianti tentunya mendapatkan kamar dengan tipe yang berbeda. Setelah Tuan Yama meninggalkan tempat itu, Adisurya mengumpulkan anak-anak di kamar putra.
"Kalian dengar ya, kita akan berangkat dengan kereta pukul delapan pagi. Jadi ada sekitar dua jam untuk kalian bersiap dan istirahat. Kita juga harus sarapan dulu. Perjalanan ke Kyoto sekitar dua jam-an dari stasiun. Kita akan seharian di sana, dan malam hari di jam delapan, kita pulang lagi ke hotel ini. Besok, kalian baru akan jalan-jalan di Tokyo. Mau shopping, atau ke taman hiburan, terserah kalian. Rencanakan aja. Setiap orang boleh mengutarakan keinginan, jadi kalian nggak punya unek-unek atau rasa penasaran setelah pulang nanti. Jadi jangan sungkan ya," tutur Adisurya panjang lebar.
"Siap, Om. Terima kasih," sahut Raka mewakili teman-temannya.
"Oke. Kalian istirahat dulu. Sebentar lagi sarapan kalian datang. Kami ke kamar dulu, dan kalian ladies, go to your room."
"Iya, Pa. Ngapain juga di sini dengan para laki-laki ini. Mendingan di kamar kita sendiri. Kecuali ... siapa ya?" delik Raydita menggoda Isti.
"Siapa? Kamu ada-ada saja," ujar Adisurya mengacak kasar rambut Raydita.
"Hehe," cengir Raydita.
Isti boleh lega, karena Adisurya tak menaruh curiga. Namun begitu ia sangat khawatir setiap kali Raydita bicara.
***
Pemandangan sepanjang perjalanan terlihat sangat menyejukkan. Dari balik kaca jendela kereta, mereka bisa menikmati indahnya musim gugur kota Jepang yang mengagumkan.
Di sepanjang jalan, daun-daun berwarna cerah memanjakan mata dan membuat terpana. Dedaunan yang semula hijau itu berubah warna menjadi kemerahan, jingga, atau pun kuning sebelum akhirnya jatuh berguguran. Perubahan daun tersebut diberi istilah koyo, atau lebih dikenal momiji oleh warga lokal.
Tujuan mereka saat ini adalah Kyoto. Kota yang terletak di pulau Honshu itu terkenal dengan berbagai situs sejarah juga terdapat banyak spot indah di musim gugur.
"Guys, pakai kimono yuk! Biar nuansanya Jepang banget," usul Raydita sambil menunjuk salah satu toko pakaian yang terdapat di area stasiun.
"Oke. Traktir ya," canda Tasya.
"Ah, Lo," delik Raydita.
"Ayo, nggak usah mikir lama. Kalian boleh beli apapun," ujar Adisurya menghampiri.
"Om yang bayarin, nih?" tanya Tasya yang bersorak riang saat Adisurya menganggu pasti. Mereka pun berjalan menuju toko yang dimaksud Raydita.
"Kalian juga ya," ujar Adisurya pada Rayhan dan ketiga temanya.
"Ehan nggak mau ah, Pa," sahut Rayhan yang merasa sayang jika harus mengganti outfit-nya dengan pakaian tradisional orang Jepang.
"Hmm anak mama, udah mulai malu-malu. Memangnya ada yang lagi kamu taksir ya?" goda Rianti pelan sembari merengkuh pundak putranya.
"Ada deh," sahut Rayhan yang mengulumkan senyum sambil membuang muka ke arah Isti yang juga tersenyum dengan tatapan ke sembarang arah.
Rianti tak sempat memperhatikan semua itu. Raydita sudah menariknya ke dalam toko.
__ADS_1
Pegawai toko merekomendasikan beberapa komon dengan motif yang indah. Komon biasa digunakan untuk acara santai seperti hangout bersama teman, makan malam atau menonton pertunjukkan. Berbeda dengan kimono yang biasanya digunakan saat acara-acara tertentu saja, seperti pernikahan, pemakaman, atau acara formal lainnya. Sementara itu Rianti lebih memilih Kurotomisode, pakaian yang biasanya digunakan oleh wanita yang sudah menikah.
Selain tersedianya ruang ganti, pegawai toko itu juga dengan sangat ramah memberikan panduan cara mengenakannya. Di luar toko, Adisurya dan Rayhan mencari informari mengenai bus tour yang akan membawa mereka menjelajahi keindahan kota itu.
"Woow, amazing." Suara kekaguman Yuda langsung mengalihkan perhatian yang lain. Penampilan Rianti dan keempat ladies itu terlihat anggun dalam balutan pakaian tradisional.
Namun kekaguman itu tak lama, karena Adisurya meminta mereka bergegas menuju bus yang akan membawa mereka.
Setibanya di salah satu tempat wisata, Adisurya sampai terkekeh melihat anak-anak yang asik berselfie. Yuda dan Raka bahkan saling melempar daun-daun yang mereka ambil. Beda dengan Ghaisan dan Rayhan yang lebih cool dan terlihat santai.
Dengan latar belakang warna-warna dedaunan yang mencolok, mereka mengabadikan kebersamaan. Terutama Raydita dan Tasya yang langsung membagikannya di media sosial.
Adisurya tersenyum lebar melihat Rianti berfoto dengan diapit kedua putrinya. Wajah Annisa benar-benar mengingatkan Adisurya pada Rianti semasa remaja. Tak lupa mereka juga membuat beberapa foto keluarga.
Di sela kebahagiaan mereka, diam-diam Ghaisan memotret Annisa. Putri Adisurya itu tersipu saat menyadari apa yang dilakukan Ghaisan.
Tak jauh berbeda dengan Ghaisan, Rayhan juga memenuhi galeri ponselnya dengan foto-foto Isti.
Rayhan yang sedang bersandar di pohon mengirim pesan pada Isti agar datang padanya.
"Sstt," desis Rayhan saat melihat Isti celingukan.
"Mau apa, Kak?" tanya Isti pelan sambil menghampiri dan memperhatikan sekitar.
Annisa dan yang lainnya sedang berada di jembatan. Adisurya terlihat santai mengikuti kemana mereka melangkahkan kaki.
"Sini, foto dulu dong sama aku," ujar Rayhan pelan sambil menarik lengan Isti agar mendekat padanya. Saat ini mereka berada di balik pohon besar dengan posisi membelakangi jembatan.
Isti yang gugup langsung tersenyum pada kamera ponsel yang diarahkan Rayhan. Ia sangat takut jika ada yang melihat kebersamaan mereka.
"Cantik," bisik Rayhan yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dari posisi mereka yang berdekatan.
"Gabung lagi yuk, Kak. Nanti di cariin," ujar Isti pelan sambil tersenyum kikuk. Isti terkesiap melihat jari Rayhan yang menunjuk pada pipi.
"Cium dulu dong. Cuma di sini kok," pinta Rayhan.
Isti menggeleng pelan dan membuat Rayhan merengut kecewa. Tapi tiba-tiba, satu ciuman di pipi Isti mendarat cepat hingga membuat Isti tak mampu mengelak.
"Ish," delik Isti sembari mengulumkan senyum di wajahnya yang merona.
Rayhan terkekeh dengan tatapan menggoda. Namun tawa itu seketika hilang saat ada suara seseorang yang bertanya, "Sedang apa kalian?"
_bersambung_
__ADS_1