
Happy reading ....
*
Beberapa hari kemudian ...
Suasana di kediaman Rika diramaikan oleh kehadiran keluarga besar Darma. Angel terlihat cantik dan seksi dengan tube dress yang dikenakannya. Karena di keluarga Rika didominasi wanita, Reni dan keluarganya memutuskan untuk datang ke rumah Rika, bukan sebaliknya.
Di rumah itu juga ada Rida dan Raydita. Angel dan sebagian anggota keluarganya terlihat bingung saat Rika menyebutkan bahwa Raydita merupakan putri Rida. Pasalnya, selama ini semua orang tahu jika Raydita merupakan putri Adisurya. Mereka pun mulai berspekulasi kalau Raydita merupakan hasil dari perselingkuhan Adisurya dengan Rida.
Sambil menunggu Ghaisan, mereka bercengkrama. Tidak hanya di dalam rumah, cuaca malam yang cerah juga memungkinkan mereka bersenda gurau di teras, juga di taman.
Raydita menyadari tatapan tidak menyenangkan para tamu yang diarahkan padanya. Karena memang tak ada teman bicara, ia pun memutuskan memisahkan diri di kursi taman.
Sebelumnya ia sempat berdebat dengan Ghaisan perihal acara malam ini di kamar sepupunya itu. Tapi Ghaisan kemudian berhasil meyakinkan dirinya.
"Hei, anak haram. Kok sendirian sih? Sadar diri ya? Malu gitu," cibir Angel.
"Kenapa gue harus malu? Harusnya lo tu yang sadar diri. Tampang model lo, nggak pantes sama Kak Agas," delik Raydita.
"Gue kurang apa memangnya?"
"Kurang micin," ujar Raydita sembari beranjak dan langsung menoleh saat Angel menarik tangannya.
"Lo jangan belagu ya," geram Angel.
"Terus, lo mau apa? Di sini yang jangan belagu itu lo," tunjuk Raydita pada wajah Angel.
"Lo mau gue sebarin kebenaran tentang lo, heh? Asik juga ya ngebayangin lo kehilangan muka di sekolah. Dasar anak haram," geram Angel sambil menghempaskan lengan Raydita.
__ADS_1
"Terserah. Kalau lo ngelakuin itu, gue bakal ngelakuin hal yang sama," desis Raydita.
"Heh, sorry ya. Gue bukan anak haram," ujar Angel bangga.
"Lo lihat aja nanti. Sekarang lo boleh tertawa sepuasnya. Tapi asal lo tahu, ketawa lo itu nggak akan kelihatan lagi saat lo pulang dari sini," seringai Raydita, kemudian berlalu meninggalkan Angel yang merasa bingung.
"Ck, ah. Bodo amat. Paling juga gertak doang. Dasar lo kebanyakan gaya. Awas lo ya, besok gue bakal sebar kebenaran tentang lo. Kenapa nggak sekarang aja ya? Hmm itu karena gue lagi senang. Malam ini, berita utamanya ya pertunangan gue dong. Gue bakal post foto and video pertunangan gue sama Kak Agas. Hihi seru! Angel is the winner! Gue cewek paling beruntung yang bisa memiliki Kak Agas," celoteh Angel bermonolog.
Sementara di sisi lain rumah itu, Ghaisan sedang video call bersama kedua sahabatnya. Kekehan ringan terdengar saling bersahutan, dan entah apa yang mereka bicarakan.
"Jangan bilang lo h*rny, Ka," seloroh Rayhan.
"Lumayan sih, tapi kurang hot goyangannya," sahut Raka.
"Coba bayangin lo yang jadi cowoknya, mau lo apain dia?" tanya Rayhan masih dengan sisa tawanya.
"Gila lo," umpat Ghaisan.
"Agas, udah selesai belum!" Terdengar suara Rika mendekati kamar Ghaisan.
Ghaisan sontak melompat dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi. Selain mengakhiri panggilan videonya, Ghaisan juga memutar semua kran air di kamar mandi.
"Agas! Kok lama sih?" tanya Rika dari luar kamar mandi.
"Sebentar lagi, Ma." Ghaisan kini menutup semua kran itu.
"Hmm mama kira kamu udah selesai," dengus Rika.
"Maaf, Ma. Agas sakit perut," sahut Ghaisan berdusta sambil mengejan dan membuat Rika memperlihatkan ekspresi jijik pada pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Cepat sedikit ya, Sayang." Pungkasnya.
"Oke, Ma."
Rika meninggalkan kamar putranya. Tak lama kemudian, Ghaisan keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega. Ghaisan pun melangkah ke lemari pakaiannya. Ghaisan memilih kemeja abu-abu muda polos untuk dipadukan dengan jeans yang saat ia kenakan saat ini.
Setelah merapikan diri, Ghaisan keluar dari kamar dengan percaya dirinya sambil memegang ponsel. Melihat Ghaisan menuruni tangga, beberapa wanita muda nampak terpesona dan mulai berdecak kagum. Mereka seakan tidak perduli pada tatapan Angel yang terlihat kesal.
Ghaisan mulai menyapa satu-persatu para orang tua yang ada di ruangan itu. Pak Darma yang merupakan pensiun tentara masih nampak gagah di usianya yang sudah tidak muda lagi.
Sikap Ghaisan yang terlihat mengakrabkan diri dengan keluarga itu menghadirkan tanya di benak Raydita. Jika Ghaisan mengingkari ucapannya, Raydita bersumpah akan menyiramkan minuman yang berjejer di meja itu pada wajah Ghaisan. Rida yang menyadari ekspresi Raydita, meggenggam tangan putrinya dan tersenyum tipis dengan gerakan mata yang mengedip pelan. Ha itu diartikan Raydita agar dirinya tetap tenang.
Lain halnya dengan Angel. Ia merasa menang dengan apa yang dilakukan Ghaisan. Angel menyeringai bangga pada Raydita yang juga melirik tajam pada dirinya.
"Tante, acara intinya mau kita mulai sekarang?" tanya seorang kerabat Angel yang bertugas menjadi pembawa acara.
"Boleh. Gimana, Jeng?" tanya Rika pada Reni.
"Tentu boleh dong, Jeng. Lebih cepat, lebih bagus." Sahutnya senang.
Ghaisan terlihat menatap ponselnya. Jemarinya berjerak-gerak seperti sedang mengirimkan pesan pada seseorang. Tak lama ia kembali fokus pada pembawa acara yang sedang berkelakar. Saat ujung matanya menangkap pergerakan tangan Angel, Ghaisan menyeringai tipis.
Perhatian Angel teralihkan oleh getaran ponselnya. Ia tersenyum senang saat melihat notifikasi pesan itu dari Ghaisan. Saat ia membukanya, kedua manik Angel terbelalak melihat bagian depan video yang dikirimkan Ghaisan.
Angel langsung membalik layar ponselnya dan menoleh pada Ghaisan. Meski tidak balik menoleh padanya, Angel dapat melihat seringaian Ghaisan ditujukan padanya.
"Sial! Dari mana dia dapat video ini," batin Angel mengumpat geram.
_bersambung_
__ADS_1